Mag-log in"You have the hands of a goddess," he rasped, his blood staining my operating table. Even with three bullets in his chest, his grey eyes held nothing but command. He was Damian Volkov, the Bratva's heir, and I was the off-the-grid surgeon who just saved his life. "And you have a bill to pay," I told him, tying the final suture. His laugh was a dark, dangerous sound. "Oh, Doctor. I don't deal in cash." His hand closed around my wrist, not with force, but with the chilling certainty of ownership. "You belong to me now." He dragged me from the shadows of my clinic to his gilded cage high above the Vegas Strip. He thinks he's claimed a simple doctor. He has no idea I'm Evelyn Reed, daughter of a murdered senator, hiding secrets that could burn his entire world to the ground. He wants my submission. My skills. My body. But in this game of secrets and seduction, the most dangerous weapon isn't the gun in his hand. It's the scalpel in mine.
view moreKAKEK TUA itu SUAMIKU
Bab 1Aku mematut diriku di depan cermin, memperbaiki letak kerudung putihku yang sedikit tidak rapi, tak lupa juga aku rapikan kembali gamis putih yang aku gunakan. Kugunakan bedak bayi untuk wajahku dan kupoles bibirku dengan lipstik berwarna pink hadiah dari sahabatku satu tahun lalu."Nak, kalau kamu mau membatalkan nggak apa-apa, jangan berkorban demi kami," ucap Bapak. Bapak kemudian duduk di ranjang sempit milikku. Kemudian aku mendekati Bapak dan duduk disampingnya."Nggak Pak, Seva ikhlas. Seva mau, kita tetap lanjutkan pernikahan ini," jawabku. Jikapun dibatalkan akan banyak sekali resiko yang aku tanggung. Keputusanku sudah bulat tak ada yang perlu dirubah."Pak, itu penghulu dan lainnya sudah siap. Seva ... apa kamu siap, Nak?" tanya Ibu.Ibu mengenakan kebaya coklat sederhana, dengan jilbab yang dibelinya di pasar lebaran tahun kemarin."Bissmillah, Seva siap, Bu," jawabku pelan."Ya udah Bapak sama Ibu keluar dulu, nanti kamu ditemenin Bi Sani ya.""Iya, Bu."Sebelum ke luar kamar, bapak memelukku dan mengusap punggungku. Sungguh Pak, Seva ikhlas. Seva ikhlas meninggalkan semua dunia remaja Seva. Demi kalian, iya kalian keluargaku. Bapak, ibu, adikku Seno. Batinku.***"Saya terima nikah dan kawinnya Seva Lidya Dewi binti Suparjo dengan mas kawin seperangakat alat sholat, mas seberat 100gram dan uang tunai sebesar dua belas juta seratus dua puluh dua ribu dua puluh satu rupiah dibayar tunai.""Bagaimana para saksi? Sah?""Sah""Alhamdulilah"Acara pernikahan yang aku impikan tapi benar-benar hanya mimpi. Hanya ada segelintir orang yang datang dan mereka hanya saudara dekat saja. Bahkan aku yakin mereka terus berbisik membicarakan pernikahan anehku ini. Aku Seva Lidya Dewi usia dua puluh satu tahun lebih enam bulan menikah dengan Bambang Hendromoyo usia enam puluh tahun.Tidak usah kaget, memang seperti itu keadaannya. Jika ada yang bilang aku matre, aku jawab jujur iya. Aku menikah dengannya karena harta. Tidak ada pernikahan mewah, tidak ada pelaminan apa lagi menu makanan internasional, yang ada hanya pernikahan di bawah tangan di gubuk reot ini.Akupun dituntun ke luar kamar menemui suamiku. Ah, rasanya masih aneh. Satu minggu yang lalu aku masih duduk di bangku kuliah, aku masih belajar sebagaimana biasanya. Aku masih belajar sebagai mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di kotaku. Bukan hal yang mudah bagiku bisa kuliah, aku masuk dengan jalur bidik misi, dengan terseok aku mampu terus melanjutkan kuliahku.Jika kalian membayangkan seperti di cerita dengan CEO ganteng kalian salah! Postur tubuhnya tinggi, dengan pawakan sedikit berisi dan tidak ada bayangan seperti yang ada di cerita, yang mirip mungkin hanya hartanya. Rasanya aku jadi ingin tertawa, tertawa dengan nasibku.Tahan Seva, ayo senyum, bukankah kamu yang menyetujui pernikahan konyol ini. Aku bermonolog dengan diriku sendiri.Aku melihat Bapak mengusap sudut netranya dan Ibu yang berkaca-kaca, adikku hanya menatapku dengan tatapan yang entah seperti apa. Terlihat ada satu orang sahabatku, Riska. Riska tersenyum kepadaku, tapi air mata sudah turun ke pipinya. Aku yang menikah, kenapa mereka yang menangis? Dasar aneh!***"Ayo Nak, cium tangan suamimu," titah Ibu.Ada rasa enggan untuk melakukannya tapi jika aku menolaknya secara terang-terangan apa kata mereka. Ah, kuturuti saja toh hanya mencium tangannya. Aku meraih tangan yang terulur, lalu mencium tangan yang mulai keriput. Laki-laki itu kemudian mengusap kepalaku yang tertutup jilbab dan menciumnya. "Cie, yang sudah sah jadi suami istri, pipinya juga donk yang di cium."Sialan! Itu pasti suara dari mulut rombeng Bude Ratmi! Mereka yang hadir pun tertawa cekikikan mendengar ucapan Bude Ratmi.Awas aja, besok kalau minta cabe sama Ibu akan kulempar sekalian sama sambelnya!"Permisi, selamat siang," ucap seseorang yang memakai pakaian putih dan topi ala koki dari restoran. "Ini pesanan makanan di letakkan dimana ya?"Ibu dan Bapak sebagai tuan rumah saling berpandangan. Mereka merasa tidak memesan makanan apapun."Bawa masuk dan tata di dalam, sekalian layani mereka yang hadir!" Suara itu datang dari orang yang duduk di depanku. Jadi dia yang kini bergelar suami yang memesan makanan.Ternyata tidak hanya ada satu orang yang datang membawa makanan tapi ada lima orang dengan membawa menu yang berbeda-beda. Melihat pemandangan itu Bude Ratmi langsung senyum sumringah."Akhirnya, bisa makan enak juga, aku kira diundang ke nikahan cuma disuguhi mendoan doang." Bude Ratmi masih saja nyinyir tanpa pandang tempat."Kira-kira isinya apa ya, Rat?" Bu Jum tetangga sebelah rumah terus menatap kotak tertutup yang berisi makanan.Tak lama berselang makanan sudah siap, dari sate, prasmanan, siomay, bakso, soto, buah-buahan aneka kue bahkan es cendol juga ada.Terlihat mereka yang hadir, langsung berbaris antri bahkan Bu Jum dan Bude Ratmi sempat meminta kantong kresek pada ibu."Makanan segitu banyaknya daripada mubazir lebih baik Bude bawa pulang, iya 'kan?" Aku hanya mengangguk, terserah mereka saja daripada ribut."Va, kamu sudah ambilkan makanan buat suamimu belum?" tanya Ibu."Hah? Apa Bu? Iya nanti Seva ambilkan buat Bapak," jawabku sambil terus memperhatikan mereka yang terus memasukkan makanan ke dalam kantong plastik. Bugh!"Aduh! Ibu … kenapa aku di pukul?" Aku memegang lengan kananku yang dipukul Ibu."Bukan Bapak, tapi suamimu. SUAMI." Ibu memperjelas kalau aku sudah punya suami. "Males deh Bu, Ibu aja gimana?" Bukan jawaban yang aku dapatkan malah ibu melotot dan mengarahkan tangannya ke atas akan memukulku."Hisssshhh, Iya Bu, Iya" Kuhentakkan kakiku sambil melangkah.Aku menuju meja prasmanan. Kuambil nasi satu centong tapi kemudian kuambil lagi setengah takut nggak habis, kuambil sate lima tusuk, tapi nanti takut giginya nggak kuat kalau harus makan daging atau bisa-bisa gigi palsunya ikut kebawa sate saat menariknya. Aku kembalikan lagi sate ke tempatnya. Aku menuju tempat sayur, duh kok pedes semua nanti malah sakit perut, aki-aki kan perutnya mudah sakit. Nah itu dia, sayur sop! Aku siram saja nasi yang setengah centong dengan dua gayung sayur sop, eh salah maksudnya dua sendok sayur. Lalu atasnya aku taruh deh kerupuk udang, sengaja kerupuknya disuruh berenang dulu di kuah sop biar nggak keras. Kurang cerdas gimana lagi aku coba?Pelan aku membawanya ke tempat lelaki yang sedang duduk dengan bapak. Kira-kira nanti suamiku memanggil bapak apa ya? Secara, umurnya lebih tua dia daripada bapak. Apakah Dik Mertua? atau Dede Mertua? Lalu bapak panggil suamiku apa ya? Akang Mantu? Kaka Mantu? Abang Mantu? Hahahaha bisa gila aku memikirkannya."Kenapa jalan sambil senyum-senyum? Apalagi bawa piring, nanti kalau jatuh gimana?" tanya Bapak."Eh, nggak kok, Pak," jawabku. "Ini, makanlah!" Kusodorkan piring yang berisi makanan pada lelaki itu."Seva … yang sopan donk," ucap Bapak tak terima dengan caraku menyerahkan makanan itu."Nggak apa-apa, Dinda udah makan belum?" Dinda? What? Uhuk!Aku langsung batuk tersedak permen yang ada di mulutku begitu mendengar dia memanggilku 'Dinda'."Dinda … dimanakah kau berada ...." Riska justru menyanyi dengan suara sumbangnya. Langsung saja kutimpuk kepalanya. Bukannya sakit malah dia cengengesan. ***Akhirnya rangkaian acara sudah selesai.Aku masuk ke kamarku, lelaki tua itu sudah menungguku. Ah, kenapa aku jadi deg-degan gini? apa jangan-jangan akan seperti yang aku lihat di film-film? Lelaki itu menepuk kasur menyuruhku duduk. Akupun menuruti, duduk disampingnya."Tidurlah, ini sudah malam," ucapnya.Kuturuti permintaannya yang lebih mirip perintah ke cucunya. Memang aku lebih pantas jadi cucunya. Aku tidur dengan membelakanginya, pura-pura memejamkan mata, takut jika diam-diam dia berbuat sesuatu. Lalu kurasakkan ada yang membelai rambutku. Aku semakin memejamkan mata, dada ini rasanya sesak, jantungku berdetak lebih cepat. Aku merasakkan nafas hangat yang semakin mendekat. Oh Tuhan, bantu aku.CupDia mengecup keningku. Apa yang harus aku lakukan?Haruskah aku pasrah?***Time: Saturday, December 14, 2024 | Morning Location: The Pantheon Penthouse, The Olympus CasinoThe penthouse was unnaturally still.The only sound was the frantic, insistent buzzing of a tablet on the marble coffee table, vibrating against the cold stone like a trapped insect. A priority alert from Leo.Ava, wrapped in a black silk robe, picked it up. Her hands were steady. The screen’s cold light illuminated her face as it flooded with news alerts.Her eyes scanned the brutal headlines. They were a coordinated assault, a digital blitzkrieg launched across every platform, from Vegas gossip sites to legitimate financial news outlets.VEGAS VIPER IN HONEYTRAP FAIL: VOLKOV HEIRESS CAUGHT IN MONACO ATTACHÉ'S SUITETHE SERPENT'S SEDUCTION: Did Katya Volkova Try to Sleep Her Way into the Elysian Charter?VOLKOV-MONACO DEAL IN JEOPARDY? INSIDERS CLAIM FAMILY INFIGHTING AND SCANDAL THREATEN BILLION-DOLLAR PARTNERSHIP.Below the headlines was the photo. It was a masterpiece of humiliation. K
Time: Friday, December 13, 2024 | Early Afternoon Location: Private Dining Room, "Le Cirque" at the Bellagio -> Luc de la Fontaine's Penthouse Suite, The WynnThe private dining room at Le Cirque was an intimate cocoon of silk and velvet, a world away from the casino floor's desperate hum.Katya sat across from Luc, poised and deadly. She had chosen her outfit like armor: pristine white silk blouse and severe black pencil skirt. Every line calculated to project power and control.He was devastating. Dressed in a relaxed but flawlessly tailored suit, he guided their conversation with easy charm, speaking of art and finance with equal fluency. This was a man who understood power—not just how to wield it, but how to savor it.The lunch was an exquisite dance of courtship. He listened intently when she spoke, his dark eyes full of admiration. He laughed at her sharp, cynical jokes. He made her feel like the only woman in the world, a queen whose intellect captivated him as much as her bea
Time: Thursday, December 12, 2024 | Evening Location: The Onyx Room, The Olympus CasinoThe Onyx Room was a sanctuary of shadow and sin, hidden deep within the sub-basement of the Olympus.The air was thick with the scent of hand-rolled Cuban cigars, twenty-year-old scotch, and the quiet, electric desperation of men gambling away fortunes they couldn't afford to lose.The only sounds were the soft, hypnotic whisper of cards on fresh felt and the gentle, rhythmic clink of heavy poker chips, a sound like falling coins in a king’s tomb.Katya Volkova sat at the center of the table, a venomous orchid in a room full of dangerous men.She wore a deceptively simple, backless black gown that showcased the elegant, pale line of her spine.Her platinum hair was a sculpted marvel, catching the low light.Her expression was one of bored calculation as she watched the chips move across the table, her ice-blue eyes missing nothing.Across from her, Luc de la Fontaine leaned back in his chair, a pic
Time: Saturday, December 7, 2024 | Late Evening Location: The Pantheon Penthouse, Damian's StudyAn hour later, the study door opened without a sound.Damian sat behind his massive oak desk, a king on a throne of dark wood and polished steel.The only light in the room came from a single, low-angled desk lamp, casting long, stark shadows that swallowed the corners of the space.It illuminated the faint lines of concentration on his face as he reviewed financial reports on a tablet.The air smelled of old books, expensive leather, and his faint, clean cologne.He looked up as she entered.Ava wore a simple black silk robe, its belt cinched tight at her waist.Her hair, still damp from a shower, fell in loose waves around her shoulders, framing a face that was pale but resolute.His grey eyes swept over her, cool and assessing.He said nothing. He simply watched, waiting for her to make the first move.He had set the terms of their bargain.Now, he waited for her to honor the contract.
Time: Saturday, December 7, 2024 | Late Evening Location: The Pantheon Penthouse, The Olympus CasinoThe silent ride back to the penthouse was a suffocating ordeal.The armored SUV glided through the Vegas night, the city's glittering lights blurring into meaningless streaks of color against the th
Time: Saturday, December 7, 2024 | Evening Location: The Bellagio Hotel & Casino, Men's RestroomAva's heart hammered in the sudden quiet. The waltz had ended, but Damian's stare was deafening.She gave Jack a curt, dismissive nod—a performance for Damian's benefit—and turned.Her voice was steady
Time: Saturday, December 7, 2024 | Evening Location: The Elysian Charter Reception, The Bellagio Hotel & CasinoThe ballroom buzzed with predatory energy.Expensive perfume couldn't mask the scent of ambition.A string quartet played in the corner, their melancholy notes drifting through conversati
Time: Tuesday, December 3, 2024 | Late Morning Location: Private Secure Ward, Volkov Family Hospital, Las VegasThe air in the private hospital ward was cold, sterile, smelling of antiseptic and ozone.Bright, clinical light glared off the white walls and polished chrome, a harsh and unforgiving st
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Rebyu