LOGINYuhuuu bab-bab menuju ending, jangan sampai ketinggalan Guys. Tinggalkan jejak jika kalian suka ya.
"Akhir perjalanan yang satu akhirnya sampai juga, dan permulaan perjalanan baru bisa jadi akan dimulai lagi." Ryan menatap Arga lekat. “Bos masih ingat kan janji Bos? Fokus pada misi, tinggalkan urusan hati. Jangan sampai wanita ini bikin Bos oleng lagi.”Arga menghela napas, raut wajahnya mengeras. “Aku tahu. Cinta itu sudah aku kubur dalam-dalam, Ryan. Tidak akan ada yang bisa mengubah jalanku.” Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa kekosongan hatinya, luka yang ditinggalkan Maya dan Sando, akan menjadi perisai. “Wanita itu, siapa pun dia, tidak akan bisa mengganggu misiku. Aku tidak akan membiarkan hatiku terpancing lagi.”***Di Bumintara, mentari pagi bersinar cerah di atas rumah minimalis Maya dan Sando. Aroma kopi dan bunga melati memenuhi udara, menciptakan suasana damai yang sempurna. Maya tersenyum, meletakkan cangkir kopi di meja samping Sando yang sedang membaca berita di tabletnya.“Berita hari ini apa, Sayang? Pasti soal penumpasan Faksi Elang di Negara Bagian Timur y
"Kedamaian adalah mutlak sebagai syarat hidup lebih mempunyai makna meski tak mudah mempertahankannya."Maya menghela napas. “Aku tahu. Hanya saja aku berharap ia juga bisa merasakan kedamaian yang sama seperti kita. Kedamaian yang lengkap.”Sando menatap jauh ke cakrawala. “Mungkin definisi kedamaian baginya berbeda. Bukan dalam bentuk keluarga atau cinta. Tapi dalam bentuk dunia yang lebih baik, lebih adil. Dan ia sedang mewujudkannya, sedikit demi sedikit, di setiap sudut Bumi yang ia pijak.”“Aku tahu, San,” Maya bersandar pada bahu Sando. “Aku hanya tidak ingin ia kesepian. Ia pantas bahagia.”“Percayalah, Sayang. Ia akan bahagia dengan caranya sendiri,” Sando meyakinkan. “Dan kita, kita akan terus membangun Bumintara ini agar ia tahu, pengorbanannya tidak sia-sia.”***Jauh di markas pusat, Darren Kloghs dan Alan McAllistaire sedang meninjau peta konflik global yang sama. Titik merah di Negara Bagian Timur kini mulai memudar menjadi kuning.“Lagi-lagi Arga berhasil,” Alan beruja
"Cinta dan perang takkan bisa dipindahtugaskan semudah itu. Waktu menyembuhkan dan memulai akan terus berjalan." Kembali ke Negara Bagian Timur, Arga dan pasukannya sudah berada di dalam sarang Faksi Elang. Suara tembakan semakin dekat, jeritan dan ledakan bergema di lorong-lorong sempit. Arga tidak ragu, ia tahu betul apa yang harus dilakukan.“Ryan, kita harus memecah mereka. Lepaskan granat asap, buat mereka panik. Kita akan masuk dari belakang, bebaskan para sandera.” Arga memberi perintah, matanya menyorot tajam ke arah kerumunan musuh yang menahan para wanita dan anak-anak.“Siap, Bos!” Ryan segera menggerakkan timnya.Aisha muncul di samping Arga, wajahnya keras. “Arga, hati-hati. Pemimpin mereka, Jendral Azar, dikenal sangat kejam. Ia tidak akan menyerah begitu saja.”“Aku tidak mengharapkan mereka menyerah,” Arga menjawab, mengeluarkan pisau tempurnya. “Aku mengharapkan mereka dihentikan.”Ia memberi isyarat kepada timnya. “Sekarang!”Granat asap meledak, memenuhi ruangan
"Seorang pahlawan sejati tak akan berhenti meski sakit dan luka berusaha menggerogoti semangat dan jiwanya."Kembali ke Negara Bagian Timur, Arga dan Ryan sudah menyusun rencana di hangar. Aisha berdiri di samping mereka, mendengarkan dengan saksama. Peta digital diproyeksikan ke dinding, menunjukkan titik-titik konflik.“Kita akan menyerang sarang utama faksi Elang di Lembah Kering malam ini,” Arga memutuskan, menunjuk sebuah lokasi. “Mereka adalah biang keladi kekacauan di wilayah utara. Ryan, siapkan tim Alpha dan Beta. Aisha, kau pimpin tim Delta untuk mengamankan jalur pelarian warga sipil.”Aisha sedikit terkejut. “Malam ini? Itu terlalu cepat! Kita butuh lebih banyak persiapan.”“Musuh tidak akan menunggu,” Arga menjawab dingin. “Semakin lama kita menunggu, semakin banyak korban. Kita bergerak sekarang. Ryan, kontak tim Darren, minta dukungan udara untuk pengintaian.”Ryan mengangguk, ekspresinya serius. “Siap, Bos.” Ia tahu Arga tidak bisa dibantah saat sedang dalam mode se
"Suatu tantangan adalah ujian agar dijawab dengan kesungguhan tekad dan keberanian."Udara panas dan berdebu langsung menyambut Arga begitu pintu jet pribadi terbuka. Bukan lagi aroma kopi atau kehijauan Bumintara yang menenangkan, melainkan bau keringat bercampur asap, serta suara-suara bising dari kejauhan yang memekakkan telinga. Mereka mendarat di sebuah lapangan terbang darurat di pinggir Negara Bagian Timur, lokasi pertama misi baru "The Peacemaker". Arga melangkah turun, tanpa ragu, tanpa menoleh ke belakang. Di belakangnya, Ryan juga keluar, mengamati sekeliling dengan mata awas.“Bos, tim intel sudah menunggu di hangar lama,” Ryan melapor, suaranya sedikit meninggi karena deru angin.Arga mengangguk, sorot matanya tajam, memindai setiap sudut. “Langsung ke sana. Aku tidak mau membuang waktu semenit pun.”Mereka berjalan cepat melewati area pendaratan yang kotor. Beberapa prajurit lokal dengan seragam compang-camping menatap mereka dengan tatapan ingin tahu, namun Arga tidak
"Cinta memang meninggalkan luka, tapi keadilan bagi kaum tertindas adalah penawar luka itu meski perlahan dan tak pasti."Di kantor pusat tim IT, yang kini sibuk mengintegrasikan sistem baru Bumintara, Alan datang mengunjungi Maya. Ia melihat Maya menatap layar komputernya, tapi matanya jelas tidak fokus pada barisan kode.“Maya,” Alan menyapa, “bagaimana kabar Bumintara hari ini? Ada pergerakan mencurigakan?”Maya berbalik, mencoba fokus. “Tidak ada, Alan. Sejauh ini aman. Sistem keamanan sudah diperbarui sepenuhnya. Tidak ada lagi celah seperti dulu.”Alan mengangguk, lalu duduk di kursi kosong di samping Maya. “Aku tahu. Kau dan Sando melakukan pekerjaan luar biasa. Tapi… bagaimana kabarmu sendiri?”Maya mengangkat bahu. “Aku baik. Kenapa?”“Arga… dia pergi begitu saja. Dan aku tahu dia bukan tipe orang yang mudah menyerah pada perasaan,” Alan berkata, suaranya pelan. “Meskipun ia berusaha menyembunyikannya, aku melihatnya. Ia mencintaimu, Maya.”Mendengar pengakuan Alan, mata May







