LOGINSuran berniat memberikan kejutan untuk sang suami bahwa dia hamil, anak yang selama lima tahun telah mereka tunggu. Namun, kedatangannya ke ruang kerja diam-diam itu justru membuat dirinyalah yang terkejut. Dia melihat suami dan adik tirinya melakukan kontak fisik yang tidak biasa. Dia ingin kabur, tapi suami dan adik tirinya mengetahui hal itu. Mereka mengurung dan menyiksa dengan keji karena status Suran sebagai pewaris tunggal keluarga Hideria sangat mereka butuhkan. Suran mati perlahan dengan tragis bersama anak yang belum sempat ia lahirkan. Dengan kematian Suran, suaminya menjadi pewaris sah keluarga Hideria, sedangkan adik tirinya juga menggantikan posisi Suran dengan nyaman. Yang paling menyakitkan, Suran dipaksa menyaksikan semua itu di sisa hidupnya. Ia mengutuk suami dan adik tirinya, bersumpah jika ada kehidupan selanjutnya, akan membalas segala pengkhianatan itu. Ternyata Tuhan benar-benar mendengar doanya. Dia kembali ke 1 tahun sebelumnya!!!
View More“Akhhh...!” teriak Suran saat punggungnya dipukul menggunakan rotan kering.
Tangan gadis itu terikat ke dua sisi dinding tua yang lembab, bahkan banyak lumut yang tumbuh. Bau darah menyengat. Padahal, di adalah putri sah, pewaris keluarga Hideria. Kedua penjaga yang senang tiasa menyiksanya itu semakin bersemangat setiap kali Suran memekik kesakitan. “Hahaha... berteriak lah, Nyonya bodoh! Kau pikir akan ada yang peduli padamu?” ucap salah satu penjaga. Suran menangis. Dia benar-benar tidak mengerti kenapa hidupnya jadi kacau balau seperti ini. Selama 7 hari di dalam penjara bawah tanah milik keluarganya sendiri itu, menangislah yang bisa dia lakukan. Semakin berteriak, maka semakin kuat penjaga akan memukulinya. Seluruh tubuhnya penuh luka. Wajah cantiknya dirusak dengan kejam, bahkan dua kukunya dicabut paksa saat dia menjerit, dan mengancam dua penjaga penjara bawah tanah itu. Akan tetapi, mereka justru semakin bersemangat menyakiti Suran. Penderitaannya terlalu dalam, rasanya dia tidak sanggup bertahan lebih lama lagi. Anak yang ada di dalam perutnya, pasti juga sudah tiada. Namun, kemarahannya seperti memaksanya untuk bertahan dalam rasa sakit yang terasa sesak dan mematikan. Suran berteriak keras, “Kalau kesempatan itu ada, aku benar-benar akan membalas kalian semua!!!!!” Beberapa hari yang lalu, Suran tersenyum bahagia. Setelah 5 tahun menanti, akhirnya kebahagiaan itu tiba. Ia menggenggam gulungan surat bersegel merah hasil pemeriksaan dokter terbaik di kota dia tinggal, Ia pun berlari kecil di sepanjang lorong. “Luderin pasti akan sangat bahagia jika tahu hal ini...” gumam suran sambil mempercepat langkahnya. “Suamiku, akhirnya kita akan menjadi keluarga yang sebenarnya.” Namun, ada suara yang tidak seharusnya ia dengar. Dugg! Jantung Suran seolah dipukul keras. Dari dalam sana, terdengar suara desahan yang tertahan. Di susul suara perempuan lirih, namun jelas. Suara laki-laki yang begitu Suran kenal. Aliran darah Suran seolah seketika membeku. “Kak Luderin... jangan terlalu keras menggigit di sana. Ahhh... aku takut ada yang mendengar...” Tubuh Suran mulai terasa lemas. Itu jelas suara Linira, adik tirinya. Gadis yang selama ini suran lindungi mati-matian, rawat sepenuh hati. Ia menelan ludah, tangannya gemetar memegang gulungan surat itu. Tanpa sadar ia melangkah mendekat, tubuhnya bergerak sendiri, seolah ingin memastikan bahwa pendengarannya tidak salah. Perlahan, Suran mendekat ke celah pintu yang sedikit terbuka. Dan ketika ia mengintip, dunia Suran seperti runtuh tanpa ampun. Di dalam ruangan itu, Luderin dan Linira saling merapat. Tangan Luderin berada di pinggang Linira, wajah mereka hanya sejengkal. Linira menahan tawa kecil, sementara Luderin menyibak rambutnya dengan sentuhan intim, bahkan nampak begitu berhasrat. “Kenapa hari ini kau sangat manja, Linira?” suara Luderin rendah, menggoda. Suran menutup mulutnya, menahan isak yang hampir pecah. Gulungan surat bersegel merah di tangannya terjatuh ke lantai tanpa suara. Kabar bahagia yang ingin Ia bagikan lenyap ditelan kenyataan pahit. Suran memegang perutnya yang baru saja diisi harapan kehidupan. “Kenapa kalian melakukan ini padaku? Kenapa...? Padahal aku sudah sangat baik kepada kalian,” bisiknya, namun suaranya terlalu kecil untuk terdengar oleh siapapun. Suran tidak tahu harus melakukan apa. Rasanya, seluruh energi yang dia miliki sudah habis, pergi entah ke mana. Takut akan melakukan hal yang akan dia sesali, Suran memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu. Dia masuk ke kamarnya, disusul oleh pelayan setianya yang sempat ia minta untuk tidak mengikutinya saat akan pergi menemui Luderin. Pelayan itu nampak khawatir. “Nyonya, apa yang terjadi? Kenapa wajah anda sembab? Apa anda merasa tidak nyaman? Apa perlu saya panggilan tabib untuk memeriksa?” tanya pelayan yang bernama Wulien. Suran jatuh duduk di ranjang tidurnya, ia menatap Wulien dan berkata, “Wulien, tunggu di luar saja. Tidak usah minta siapapun datang. Sekarang aku benar-benar ingin sendiri.” Meski masih bingung dan khawatir, Wulien memutuskan untuk patuh. Ia keluar dari kamar itu, menunggu di luar sampai nanti Suran merasa lebih baik. Suran merasa hatinya benar-benar hancur. Namun, akal sehatnya juga masih bekerja dengan baik kala itu.. “Pria badjingan yang tidak tahu malu itu, aku harus mencari cara untuk menghukumnya. Adik tiri ku yang bermuka dua itu juga, aku harus mencari cara untuk membuatnya paham posisinya. Kalian berdua... aku tidak akan memaafkan kalian!” Suran bangkit. Ia duduk di ujung ruangan, tempat di mana dia biasanya membaca ulang dokumen. Dia mengambil selembar kertas kosong, menuliskan beberapa informasi kejadian hari ini. Hubungan keluarga Hideria dan keluarga kerjaan sangat baik, terjaga selama ini meskipun kedua orang tua Suran telah tiada. Beberapa tahun lalu, mendiang Ayahnya Suran memberikan cincin kuasanya pada Suran, mewariskan semua yang bersangkutan pada Hideria agar terus berjalan dibawah kuasa Suran. Wewenang itulah yang Suran gunakan untuk menikahi pria dari kalangan bawah, menaikkan derajatnya, menjadikan suaminya sebagai pejabat istana, bahkan tidak segan menyokong sampai hal-hal terkecil. “Aku tidak akan memanjakan kalian lagi,” ucapnya sambil menggulung kertas itu. Namun, tiba-tiba saja pintu kamar dibuka dengan kasar. Brak...! “Akh!” Wulien jatuh tersungkur. Suran membeku dalam keterkejutannya. “Wulien—” Beberapa pengawal masuk dengan wajah angkuhnya, lalu Luderin, Linira, dan Ibunya Linira. “Apa yang kalian lakukan?!” bentak Suran. “Sepertinya, istriku sudah bersiap untuk melakukan sesuatu ya?” tanya Luderin, matanya menatap kertas yang ada di tangan Suran dengan tatapan mengancam. Rupanya, Luderin dan Linira sudah tahu kalau Suran mengetahui hubungan mereka. “Kalau saja kau tetap bodoh, kau mungkin bisa hidup sedikit lebih lama lagi. Tapi, kau yang menjemput ajalmu,” ucap Luderin angkuh. Suran pun membelakangkan kertas itu. “Bukan urusanmu. Apa yang kalian lakukan di sini? Sadarkah kalian untuk apa yang kalian lakukan sekarang?!” Wulien menatap Suran dengan tatapan khawatir, “Nyonya, mereka semua penghianat. Bahkan, semua penjaga pun berpihak kepada mereka. Lari, Nyonya! Selamatkan diri anda!” teriaknya frustrasi. Suran merasa takut. Dia bingung harus bagaimana. Semua orang berada di hadapannya, tidak ada jalan untuknya kabur. Linira tersenyum mencemooh, begitu juga dengan Ibunya Linira, Ailin. “Kau pikir seorang pelayan rendahan sepertimu bisa menyelamatkannya? Hemp, mimpi!” Linira menginjak kepala Wulien. “Akh...!” teriak Wulien. Suran semakin terkejut dengan kegilaan itu. “Apa yang kalian lakukan?! Lepaskan Wulien!!!” Sejak itulah Suran dibawa ke penjara, menjalani 7 hari seperti di neraka. Di depan matanya mereka membunuh Wulien dengan kejam sampai jasadnya tidak bisa dikenali. Perut Suran dipukuli setiap hari, diinjak, ditendang oleh Luderin karena tidak Sudi adanya anak itu. Tubuh Suran semakin lemah, tapi di saat paling kritisnya justru harus berhadapan lagi dengan manusia paling terkutuk. Luderin dan Linira datang, menggunakan pakaian khas keluarga Hideria yang artinya Luderin mengambil posisinya sebagai penguasa keluarga Hideria, dan Linira menjadi pengantinnya. Linira dan Luderin mendekat, saling melempar senyum. “Setiap hari sudah dicekoki racun, sebentar lagi pasti mati.” Linira dan Luderin tertawa, menikmati penderitaan Suran tengah meregang nyawa. “Aku bersumpah,” bisik Suran, “jika ada kehidupan selanjutnya, setiap amarah dan rasa sakit ini akan ku balas sejuta kali lebih menyakitkan.” Suran pun menutup matanya. “Nona, Nona...!” Suran kembali membuka matanya. Ia terkejut melihat Wulien di hadapannya, masih hidup!“Tuan Jude, tolong bantu aku keluar dari sini. Aku janji tidak akan menganggu hidupmu lagi, aku akan pergi. Tolong... tolong biarkan aku pergi, aku harus merawat anak ini dengan baik.” Jude menatap dingin lalu menjawab, “Anak itu tidak boleh lahir!” Linira menatap kosong untuk beberapa saat setelah mendengar ucapan Jude barusan. Perlahan matanya mulai tertuju pada pria itu dengan ekspresi yang nampak begitu kecewa. “Apa? Tuan Jude, kau benar-benar...” “Iya. Anak itu tidak boleh sampai lahir. Kalau Nanti orang di luar tahu anak itu adalah anakku, aku bisa malu. Aku tidak mau punya anak dari perempuan sepertimu, banyak orang yang akan jijik padaku nantinya.” Seluruh tubuh Linira rasanya seperti terhimpit besi panas. Sakit, sakit sekali sampai ingin banyak bicara juga sudah tidak sanggup lagi. “Kenapa kau jadi seperti ini? Aku sudah melakukan apa yang aku bisa, Kenapa kau memperlakukanku dengan sangat buruk padahal anak yang aku kandung juga anakmu?!” protes Linira. Jude melir
Di ruang bawah tanah yang lembap itu, Linira menangis tanpa henti. Tubuhnya gemetar setelah diperlakukan dengan kejam oleh penjaga yang sebelumnya datang. Tangannya terus melindungi perutnya. Bagaimanapun, bayi itu hanya akan ada sekali dalam hidupnya. “Anakku... anakku...” Air mata mengalir di wajahnya. “Tolong jangan apa-apakan anakku. Ini kehamilan pertama dan mungkin juga terakhir. Aku mohon...” Namun tidak ada seorang pun yang menjawab. Linira tidak tahu bahwa semua yang terjadi malam itu bukan kebetulan. Jauh sebelum semua ini terjadi, Suran sudah mengetahui bahwa hubungan Linira dengan Jude akan berakhir seperti ini, bahkan drama ini dia juga lah yang mengaturnya. Kabar mengenai penggerebekan penginapan, pengakuan Linira sebagai calon istri Jude, hingga perselisihan dengan kedelapan istrinya, sebagian besar telah masuk ke dalam perhitungan Suran. Suran hanya perlu mendorong beberapa keadaan, sisanya akan dilakukan oleh sifat serakah dan ambisi Linira sendiri. N
Ruangan itu mendadak sunyi setelah dokter selesai melakukan pemeriksaan terhadap kondisi kini Linira. Dokter menatap hasil pemeriksaannya beberapa saat sebelum akhirnya berkata, “Dia benar-benar hamil, para Nyonya.” Linira yang sejak tadi duduk dengan wajah tegang langsung mengangkat kepala. “Apa? Apa yang aku katakan barusan?” Dokter mengangguk lalu melanjutkan, “Usia kehamilannya masih sangat muda, kira-kira dua minggu. Di usia ini, kondisi sangat rawan sehingga perlu dijaga dengan baik.” Kedelapan istri Jude saling berpandangan, tidak ada satu pun dari mereka yang menyangka akan mendengar kabar seperti itu meskipun kehamilan itu sudah mereka dengar. Linira justru terlihat sangat bahagia. Tangannya perlahan menyentuh perutnya sendiri. “Aku benar-benar hamil...” Senyumnya muncul. “Anak Tuan Jude.” wajah Linira terlihat benar-benar bahagia, merasa yakin kalau keberadaan anak itu akan menyelamatkan dirinya. Ia menatap para istri Jude dengan keyakinan yang mulai tumbuh k
Linira menatap Jude dengan wajah kosong. “Jadi... sejak awal kau hanya sok baik? Kau cuma ingin bermain denganku?” Jude kembali menatap sinis dan berkata, “Memangnya perempuan sepertu pantasnya dianggap apa? Sejak awal kau memang sudah menargetkan ku, Kenapa pura-pura jadi korban sekarang? Kau tidak pikir aku ini bodoh sampai tidak tahu niatmu sejak awal?” Seluruh tubuh Linira limbung. Tangannya terkepal erat gemetar, baru menyadari kalau sejak awal dialah yang begitu banyak berhalusinasi. Sudah tidak ada lagi yang bisa dia katakan, apapun yang keluar dari mulut Jude selalu memojokkan dirinya. Linira akhirnya keluar dari balai keadilan dengan langkah yang terasa begitu berat. Di tangannya terdapat surat peringatan yang baru saja diberikan kepadanya, sudah ada tanda tangannya juga. Satu lembar kertas saja, namun bagi Linira, benda itu terasa begitu berat. Namanya kini tercatat dalam daftar pelanggaran dan perbuatan tidak baik yang pernah dilakukannya, bukan cuma sekali s






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews