LOGINClara Morgan tidak pernah menyangka segalanya akan berubah setelah insiden yang nyaris merenggut nyawanya, dimana Kael berdiri sebagai sosok yang menyelamatkannya. Disaat hubungan keduanya semakin dekat, rahasia besar Kael pun terungkap. Dia bukan hanya seorang rekan kerja, tapi seorang pimpinan tertinggi sekawanan makhluk yang Clara tahu hanya ada dalam cerita-cerita mitologi. Bukan hanya itu, Clara lebih terkejut lagi setelah mengetahui bahwa dia adalah pasangan takdir sang Alpha. Akankah Clara menerima pasangan takdirnya ataukah ia menolaknya dan tetap berdiri pada dunianya?
View More"Suara apa itu?" gumam Clara pelan. Ia menghentikan langkahnya dan mempertajam pendengarannya. Semakin lama suara itu semakin jelas terdengar dan dekat. Suara geraman.
Jantung Clara berdegup keras, ia memperhatikan sekeliling. Sunyi, bahkan tidak ada suara burung-burung ataupun serangga. Pohon-pohon di sekitarnya tinggi menjulang dengan semak-semak rimbun diantara pepohonan. Clara mengotak atik ponselnya untuk menghubungi tim lainnya, namun tak ada sinyal. Kini ia sadar sepertinya ia sudah tersesat jauh ke dalam hutan.
Suara geraman itu kembali terdengar dari arah samping tempatnya berdiri. Clara membalikan badan ke arah semak yang mulai bergerak. Dan seperdetik kemudian matanya terbelalak demi melihat sesosok makhluk yang keluar dari semak-semak itu.
"Oh, tidak!! Apa itu?!"
Clara mematung, mulutnya ternganga lebar. Ia ingin kabur, tapi kakinya seakan menempel di tanah tempatnya berdiri. Keringat dingin membasahi tubuhnya.
Dari semak-semak itu, seekor serigala besar melangkah keluar. Ukurannya jauh di atas normal. Bulunya kelabu gelap menyelimuti tubuhnya, dan sepasang mata kuningnya menatap Clara dengan tajam.
"Ti-tidak! Jangan mendekat!"
Clara berkata dengan gemetar. Spontan kakinya bergerak mundur. Serigala itu kembali menggeram, namun makhluk itu tertegun sejenak, menghirup aroma tubuh Clara sebelum akhirnya ia merendahkan tubuhnya bersiap hendak menerkam.
"Ja-jangan…!!"
Clara menjadi panik, kakinya tersandung akar hingga ia jatuh terduduk. Clara memejamkan mata pasrah, sadar tak ada celah untuk selamat. Air mata membasahi wajahnya.
Namun di saat yang genting itu, tepat saat serigala itu melompat untuk menerkamnya, seseorang berlari dari samping dan menariknya menjauh. Tubuh keduanya jatuh berguling, namun selamat dari cakar tajam makhluk buas itu yang menghantam tanah tepat di tempat Clara tadi berada.
"Clara, Bangun! Ngapain kamu di sini?!"
Terdengar teriakan dingin seorang pria. Clara mendongak, Kael Donovan, rekan sekantor sekaligus supervisornya itu sudah berdiri tegap, tubuhnya seolah jadi tameng. Ia menatap tajam pada Clara, lalu berbalik menghadap serigala lapar itu.
"Sial! Mengapa dia ada di sini? Tamatlah aku, dia pasti akan memecatku karena kecerobohanku ini, atau melaporkannya pada direksi," gumam Clara pelan, nyaris tak terdengar.
Perlahan Clara berdiri, ia memperhatikan tubuh pria yang berdiri membelakanginya. Samar-samar terdengar suara geraman dari mulut Kael, tapi sayang dia tidak bisa melihat ekspresi wajahnya. Dan anehnya, serigala buas itu mundur beberapa langkah, merasa gagal menerkam buruannya.
Kael meraih dahan patah dan mengayunkannya dengan keras ketika makhluk itu kembali mendekat. Pukulan telak mengenai moncongnya, dan cukup membuat makhluk buas itu mundur sedikit menjauh.
"Clara, bersiaplah! Kita akan keluar dari tempat ini." Kael berkata tanpa menoleh, suaranya dingin, namun sikapnya sangat tenang.
Dan ketika ada kesempatan, Kael langsung menggenggam tangan Clara, lalu menariknya.
“Lari! Sekarang!”
Clara mengangguk dan mengikuti gerakan Kael. Mereka berlari menembus semak belukar, melompati akar besar, dan berbelok cepat di jalur yang nyaris tak terlihat bahkan oleh penjelajah hutan sekalipun.
Clara mencoba menoleh ke belakang, samar-samar terlihat jika serigala itu masih mengejar, namun langkahnya melambat. Bahkan Clara melihat ada beberapa serigala lainnya seperti menghadang langkah serigala yang memburu mereka.
"Clara, jangan menoleh ke belakang! Fokus saja dengan jalan di depan," bentak Kael mengingatkan, ia seperti tahu apa yang dipikirkan Clara.
"Ka-Kael, kamu tahu jalan keluar?" tanya Clara dengan napas terengah-engah.
"Ikuti saja kalau ingin selamat," jawab Kael acuh. Namun sikapnya masih tetap tenang dan fokus, hal yang terasa aneh di situasi genting seperti itu.
Beberapa menit kemudian, lampu-lampu dari pemukiman penduduk terlihat di kejauhan. Akhirnya mereka keluar dari batas hutan. Clara menoleh kembali ke belakang, serigala itu sudah tidak lagi mengejar.
Keduanya berhenti, Clara nyaris ambruk, tubuhnya gemetar, kakinya tak kuat lagi untuk berdiri. Kael menopangnya, membantunya duduk bersandar di sebuah batang pohon.
"Sekarang sudah aman," ucap Kael datar, wajahnya nyaris tanpa ekspresi. Ia kembali berdiri menghadap ke arah hutan.
"Te-terima kasih."
Clara berkata pelan, namun terdengar jelas di telinga Kael. Perlahan lelaki itu berbalik menghadap Clara, tatapannya dingin dan tajam, seakan sedang menguliti gadis di hadapannya yang masih gemetar ketakutan.
"Terima kasih? Apa itu perlu?" tanya Kael penuh intimidasi. "Clara, jawab! Apa yang kamu lakukan sendirian di tengah hutan sana!"
Clara terkesiap, pria yang baru saja menyelamatkan nyawanya kini membentaknya dengan marah. Kilatan kemarahan terlintas di matanya yang terasa begitu mengerikan. Sekilas, pupil mata itu menyempit seperti mata predator yang sedang marah, sebelum akhirnya kembali normal. Clara menggigil, ia merasa baru selamat dari mulut serigala kini jatuh ke dalam mulut harimau.
"A-aku, tadi aku bersama tim dan pemandu. Aku hanya berhenti sebentar untuk mengambil gambar lokasi, aku tidak sadar jika sudah terpisah dengan tim."
Kael mendengus mendengar jawaban Clara. "Di mana otakmu Clara! Kamu adalah seorang analis senior, tapi kelakuanmu seperti anak magang yang tidak paham SOP keselamatan lapangan!"
Clara tertunduk, ia meremas tangannya yang terasa dingin, bahkan ia merasakan sekujur tubuhnya seperti diguyur air es yang membekukan tulang belulangnya. Namun, ia berusaha mengendalikan dirinya, ia tidak mau diintimidasi, karena itu bukan mutlak kesalahannya. Perlahan ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengangkat wajahnya menatap pria angkuh yang sedang menatapnya dengan tajam.
"Ya, aku akui tadi aku sedikit lalai. Tapi bukan berarti aku tidak tahu SOP lapangan," bantah Clara sengit. "Kamu sendiri, apa yang kamu lakukan di dalam hutan sana? Mengapa kamu tiba-tiba muncul? Bukankah kamu tidak termasuk dalam rombongan tim hari ini?"
Kael tidak menjawab, ia menatap Clara dengan tatapan aneh yang sulit ditebak. Namun Clara bukanlah gadis yang mudah diintimidasi, ia menantang tatapan pria di hadapannya. Dia tahu, Kael adalah atasannya, tapi rasa penasarannya membuatnya menegakkan kepalanya. Untuk sesaat, tatapan keduanya bertemu, namun Kael kembali mendengus dan berkata dengan tajam. "Bukan urusanmu!"
Kael segera berdiri, lalu melangkah meninggalkan Clara yang masih termangu sendirian. Tanpa sadar, tatapan Clara mengarah ke hutan, seketika nyalinya menjadi ciut, di benaknya berkelebat kembali kejadian yang nyaris merenggut nyawanya tadi.
Dengan bersusah payah Clara bangkit, ia berusaha mengejar Kael.
"Kael, tunggu!"
'Sial, kenapa harus seperti ini?' bathin Clara merutuk. Hari ini, dia mendapatkan tugas survey lapangan untuk proyek pembangunan sebuah resort di tepi hutan. Sebagai seorang analyst projek, ia biasa melakukan survey lapangan untuk memastikan kelayakan proyek tersebut.
Pagi menjelang siang tadi, dia berangkat dari kantor bersama beberapa orang tim tekhnis dan pemandu lokal. Namun ia terpisah dari tim saat ia mencoba mengambil gambar beberapa titik lokasi yang menarik perhatiannya. Dan ia baru menyadari jika ia tersesat ke wilayah yang semakin jauh ke dalam hutan saat sinyal di ponselnya menghilang.
Clara menghela napas dalam. Hari ini, dia nyaris tewas menjadi santapan binatang buas. Bulu kuduknya meremang jika mengingat kembali kejadian tadi. Andai saja Kael tidak datang tepat waktu, mungkin kini Clara hanya tinggal nama.
Namun masalahnya sekarang bukan soal serigala yang nyaris menerkamnya tadi, tapi Kael, sang supervisor yang bertanggung jawab penuh atas tugasnya. Karier Clara bisa tamat di tangan pria dingin itu.
Kael menghentikan langkahnya, sedangkan Clara berjalan tertatih-tatih. Kakinya terkilir, saat berlari tadi ia tersangkut akar pohon besar. Jika tidak ditarik Kael dia sudah jatuh terguling di tanah.
"Kael, eh, pak Kael, maaf. Aku tidak bermaksud…."
Belum sempat Clara melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba Kael berbalik dan dengan cepat mengangkat tubuh Clara.
"Hey, apa yang kamu lakukan! Turunkan!"
Kael tidak menjawab, dia terus berjalan sambil menggendong Clara.
"Turunkan! Aku bisa jalan sendiri."
Kael berhenti sejenak, tatapannya tetap lurus ke depan. Wajahnya kaku dan dingin seperti arca batu.
"Kalau kamu tidak bisa diam, aku lempar kembali ke dalam hutan."
"Oh, ti-tidak. I-iya, aku akan diam."
Clara tidak berani buka suara lagi. Dia mengerutkan tubuhnya dalam gendongan pria aneh yang jadi penyelamatnya itu. Sebenarnya Clara tidak suka dekat-dekat dengan Kael. Pria itu sangat sombong dan bertingkah misterius, sangat tidak suka dibantah. Tapi, projek itu mengharuskan Clara berada langsung di bawah pengawasan Kael.
Kael membawa Clara ke mobilnya. Namun, belum sempat dia membuka pintu mobil, seorang pria tergopoh-gopoh menghampiri mereka.
"Nona Clara, Anda tidak apa-apa?"
Clara mendongakkan kepalanya, ia ingin turun namun Kael tidak hendak menurunkannya. Clara mengenali lelaki paruh baya itu, dia adalah pemandu lokal yang tadi mendampingi tim Clara.
"Tidak apa-apa, Pak. Hanya terkilir."
"Apa yang sebenarnya terjadi, nona? Tadi teman-teman Anda sangat panik mencari Anda."
"Oh iya, di mana teman-temanku yang lain, Pak?"
"Mereka sudah kembali ke kota. Saya baru saja akan meminta bantuan tim penyelamat untuk mencari Anda."
"Tidak perlu!" potong Kael tajam. Lelaki pemandu itu terkesiap. Dia sangat gembira bisa melihat Clara selamat hingga tidak menyadari siapa pria yang membopong Clara.
Spontan pemandu itu menatap Kael. Seketika wajah lelaki tambun itu memucat, keringat dingin mengucur di pelipisnya. Kael menatapnya tajam, penuh peringatan. Matanya berkilat seolah sedang mengancam, yang membuat lelaki itu menggigil ketakutan.
"Oh, i-iya, tidak perlu. Te-tentu tidak. Karena nona Clara sudah selamat." Lelaki itu berkata dengan terbata-bata, ia menunduk, tidak berani lagi menatap Kael. "Sa-saya permisi."
Tanpa menunggu jawaban, pemandu lokal itu segera berbalik, bergegas menjauhi Kael. Langkahnya goyah, bahkan nyaris terjatuh.
Melihat pemandangan itu Clara mengerutkan kening. Ia sangat heran, mengapa pemandu itu sangat ketakutan melihat Kael. Dia adalah penduduk lokal yang terbiasa dengan lokasi sekitar hutan, tapi mengapa sangat takut kepada Kael yang orang kantor?
"Kael, apa pemandu tadi mengenalmu? Apa yang kamu lakukan padanya sampai dia ketakutan begitu?"
Kael berdiri tegak, sorot matanya bersinar tajam. Wajahnya memancarkan aura keagungan dan kewibawaan. Ia menatap sekeliling penuh kewaspadaan, namun ia tahu siapa yang ia perintahkan.Tidak lama berselang, tiga sosok muncul dari balik semak-semak. Mereka melangkah mendekati Kael, lalu menundukan kepala penuh hormat. "Mengapa kalian kemari?""Maaf Alpha, kami mengkhawatirkan Anda. Karena kami tidak bisa menghubungi Anda sejak siang tadi.""Hmm, aku memang menutup mindlink, karena aku sedang bersama Clara, aku khawatir dia merasa aneh dengan sikapku.""Tapi Alpha, apakah Anda yakin dia….""Ya, Alec. Dia adalah calon Luna kalian. Aku perintahkan kalian untuk melindunginya, tapi jangan pernah menampakan diri, cukup dari kejauhan.""Tapi Alpha…."Kael mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, seketika pria yang dipanggil Alec itu pun terdiam, ia tidak melanjutkan perkataannya.Kael paham apa yang dipikirkan anak buahnya, namun sekarang bukan waktunya untuk menjelaskan. Karenanya ia harus
Untuk sesaat Clara membeku. Kael ini benar-benar gila. Baru saja dia kembali dari hutan itu, besok harus kembali lagi ke sana? Namun, Clara tak punya pilihan selain mengikuti kemauan Kael. Selain untuk membuktikan profesionalitasnya, dia juga memang ingin ke sana, untuk mencari tahu rahasia apa yang disembunyikan Kael.Clara menghela napas pelan, ia menurunkan pandangannya. "Baiklah. Kalau gitu aku selesaikan berkas-berkas ini dulu.""Bagus!" jawab Kael sambil menarik tubuhnya menjauh, dia kembali ke mejanya. "Satu hal lagi, Clara. Jauhi laki-laki itu.""Apa? Laki-laki? Siapa?""Jangan pura-pura bodoh." Kael berkata tanpa menoleh, matanya fokus pada layar laptopnya."Siapa maksudmu? John?""Dia mau mengantarmu pulang, kan?""Haha, memang mengapa kalau aku pulang bareng dia?"Tiba-tiba kael mengangkat wajahnya, tatapannya berkilat tajam menusuk ke jantung Clara, membuat gadis itu ciut seketika."I-iya, aku hanya bercanda. Siapa juga yang mau diantar. Aku bisa pulang sendiri.""Ingat Cl
Clara terdiam sesaat, ia menjadi bingung dengan sikap Kael.Rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan pria ini. Bukankah seharusnya dia senang jika project ini sukses. Tapi mengapa dia bilang tidak peduli dengan project?"Lalu bagaimana dengan rapat nanti siang? Tidak mungkin untuk dibatalkan karena waktunya sudah mepet. Semua sudah bersiap.""Kamu tahu apa yang harus kamu katakan nanti. Tanpa tanda tanganku, laporan itu tidak sah.""Baiklah, aku pemisi."Clara segera meninggalkan ruangan Kael dengan kesal. Ia sudah susah payah menyusun laporan itu dan berkali-kali mengeceknya, tapi dengan seenaknya dibilang sampah.Clara duduk termangu, kekesalan masih melintasi wajahnya. Teman-temannya segera menghampiri."Clara, bagaimana?" tanya Emma yang sudah berdiri di sampingnya."Kenapa, Clara. Wajah kamu kusut banget, apa kamu dimarahi pak Kael?" Melly menimpali sambil menyodorkan minuman kaleng."Makasih Mel," jawab Clara sambil membuka kaleng dan menenggak isinya. Ia menatap kedua temannya
Kael tak menggubris pertanyaan Clara. Alih-alih menjawab ia langsung membuka pintu dan meletakkan Clara di kursi penumpang, lalu duduk di belakang kemudi.Kael masih terdiam setelah menyalakan mesin. Tangannya menggenggam kemudi sambil mengetuk-ngetukan satu jarinya. Namun kemudian dia berkata dengan dingin. "Jangan terlalu ingin tahu yang bukan urusanmu."Deg!Clara terkejut dengan ucapan Kael yang seolah sedang mengancamnya. Apa maksudnya? Bukankah hal yang wajar jika dia bertanya hal yang menurutnya aneh itu?Kael tidak berkata lagi. Dia langsung melajukan mobilnya meninggalkan kawasan Olympic National Forest. Sebuah kawasan dengan bentang alam yang sangat menakjubkan, itu sebabnya akan dibangun sebuah resort mewah di sana, dan silverstar development—perusahaan tempat mereka bekerja—yang akan menjadi pengembangnya. Clara masih belum puas dengan sikap Kael, ia pun kembali mengulangi pertanyaannya."Apakah pertanyaanku tadi salah? Aku hanya heran, mengapa bapak pemandu tadi begitu k
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.