เข้าสู่ระบบLuna Briar is still adjusting to the power she recently inherited from her father, who was killed by the new leader of the enemy Phantom Pack. She does things her way and answers to no one. When she gets the chance to defeat the enemy Alpha, Briar learns that he is no ordinary werewolf. When she discovers what he is, will she be able to avenge her father's death or will she fall to the Phantom Alpha.
ดูเพิ่มเติม“Nyonya, saya ucapkan selamat kepada anda karena kartu merah baru saja dibuka.”
Bagai disambar petir di siang bolong, seorang wanita seksi yang tengah berada di ruangan kerjanya itu mendadak tercengang.
“APA?!” pekiknya memastikan apa yang barusaja dia dengar.
“Benar nyonya … anda diminta untuk datang ke mansion utama hari ini pada pukul 7 malam,” lanjut pelayan itu dengan nada yang bergetar karena dia sedang berbicara dengan satu-satunya pewaris dari keluarga paling berpengaruh di Italia.
Kartu merah ke-14 sudah dibuka dan dia barusaja menikah dengan suaminya yang ke-14 dua minggu lalu. Apa mereka sudah gila? Setiap kakeknya mengumumkan tentang orang yang akan menikah dengannya Serena selalu was-was. Sebab semua pria yang pergi dan masuk ke mansionnya bisa saja menjadi suaminya.
“Siapa?” Serena—wanita yang tengah diajak berbicara oleh pelayan itu bertanya dengan pertanyaan yang sangat singkat namun mampu membuat pelayan itu gugup setengah mati.
“Itu … Maafkan saya nyonya, saya tidak diizinkan untuk memberita—"
PRANG!!!!!
Sebuah vas bunga sudah berserakan di lantai. Serena menjambak rambutnya frustasi. “Keluar!”
Tanpa menunggu suruhan kedua kalinya, pelayan itu keluar, meninggalkan Serena yang berteriak frustasi karena masalah itu tidak pernah ada ujungnya.
KLEK!!!
“Kenapa kamu lama sekali, sayang?” Suara yang muncul dari lift rahasia di balik sebuah rak buku itu membuat fokus Serena teralihkan.
Seorang pria tampan dengan mata biru dan rambut cokelatnya yang menawan keluar sambil membawa segelas wine di tangannya.
“Sudah berapakali aku katakan jangan kesini seenaknya!” bentak Serena dengan nada yang marah. Penampilannya yang sudah kacau itu membuat suasana semakin menegangkan.
“Aku tidak bisa membuang sedetikpun waktu jika itu tentangmu, Serena,” ucap pria itu sensual sambil mencium tangan Serena dengan sangat lembut.
“NICHOLAS!” seru Serena sambil menyentakkan tangannya dari genggaman pria tampan itu. “Tunggu di bawah, bodyguardku bisa masuk kapan saja!” bisik Serena setelah menyadari suaranya meninggi ketika mengatakan nama pria itu.
Nicholas Rodriguez—pria tampan yang sangat terkenal di Amerika bahkan Eropa karena kekayaannya. Wajah tampannya adalah sebuah bonus. Pria ini sudah bekerja untuk Serena semenjak keluarganya menikahkannya dengan sembarang pria. Mereka berdua berhubungan secara diam-diam dan semuanya berjalan dengan mulus karena kekuatan Nicholas.
“Kenapa kamu terlihat sangat kesal, hm?” tanya Nico sambil mengusap pelan pipi Serena.
“Ikut aku! Kita tidak bisa berbicara disini,” jawab Serena sambil celingak-celiguk melihat keadaan diluar ruangan kerjanya.
Serena dan Nicholas berjalan mendekati rak yang berisi berkas-berkas lalu menekan tombol hitam yang ada di balik salah satu berkas dan rak kaca tersebut akan terbuka dan memperlihatkan lift yang akan membawa mereka ke ruangan bawah tanah yang hanya diketahui oleh Serena dan Nico.
“MPHH!!!” Nicholas langsung melumat kasar bibir Serena ketika mereka sudah sampai di ruangan rahasia itu.
“Nico! Kau harus bekerja dulu untuk mendapatkan bayaranmu,” sindir Serena sambil berusaha mendorong bahu kekar Nico.
“Ayolah, sayang. Kita baru bertemu setelah satu minggu. Aku sangat merindukanmu,” ucap Nico dengan nada yang sangat sensual sambil melepas kancing kemeja Serena.
“Aku akan segera menikah, lagi!”
DEG!!
Nico seketika berhenti melakukan kegiatannya. Pria itu menatap gadis yang mengatakan itu dengan tatapan bingung, marah, dan terkejut yang bercampur menjadi satu.
“Apa Fredrick sudah gila?” pekik Nico sambil mengumpat mengucapkan nama keramat yang paling ditakuti oleh seluruh orang di Italia.
Pasalnya, baru beberapa bulan yang lalu gadis pujaannya ini dinikahkan dengan seorang dokter, dan lagi?
Fredrick Ambrose adalah pemilik hotel Serenity yang merupakan hotel mewah yang sangat terkenal di Italia. Tapi, di dunia gelap Fredrick bukan hanya pria yang mengelola hotel mewah tetapi merupakan senior dari kalangan mafia kelas kakap yang ada di Milan. Dan kabar buruknya lagi, pria yang adalah kakek Serena itu masih kalah licik dari papanya, Jack Ambrose.
“Aku mendengar kakek menelpon dengan seseorang malam itu dan mengatakan bahwa pernikahan akan diadakan setelah aku diresmikan menjadi direktur utama dari Serenity,” jelas Serena.
“APA? Itu kurang dari seminggu Serena!” ucap Nico kini berubah posisi dengan bangun sambil mengecek sesuatu di ponselnya dan meninggalkan Serena yang hampir telanjang di dekat sofa.
Nico menyeringai. “Permainan ini semakin menarik. Jadi akhirnya setelah belasan pria yang dinikahkan denganmu, pria ini yang disiapkan untuk menjadi suamimu yang resmi?” tanya Nico masih dengan tatapannya yang lurus dan menyeramkan.
“Kita harus hati-hati. Dia tidak mungkin pria sembarangan,” balas Serena sambil menatap ke arah Nico dengan tatapan khawatir.
“Apa perlu aku musnahkan seluruh pria yang ada di negara ini untukmu, Sayang?” tanya Nico dengan raut wajah tampannya yang penuh ambisi dan keyakinan.
“Jangan lakukan apapun tanpa perintahku!” Serena mengucapkan itu dengan nada yang serius. Bukan karena dia takut Nico akan kenapa-napa tapi takut jika Nico benar-benar melakukannya.
“Ya, ya. Aku paham. Anak buahku sudah menyelidiki orang itu. Jangan khawatir aku bisa membereskannya dengan cepat. Sekarang kemarilah, aku bisa gila jika tidak berada di dekatmu, Serena,” ucap Nico sambil menarik Serena mendekat dan mulai melanjutkan aksinya melepas sisa kancing kemeja Serena.
“Ahh! Nico,” desah Serena membuat seringaian kecil muncul di wajah tampan Nico.
“Mendesahlah hanya untukku, kau mengerti, hm?” Nico mencumbu setiap inci leher jenjang Serena sambil menarik rambut panjang legam miliknya dengan sangat sensual.
“AKH!!” pekik Serena ketika Nico mengangkatnya tanpa melepaskan ciumannya dan melempar tubuh seksinya ke atas kasur.
3 jam kemudian…..
Ruangan itu hanya dipenuhi oleh desahan dan juga kata-kata sensual dari Nico hingga Serena tertidur pulas di pelukan Nico. Kini, jam menunjukkan pukul 18 lewat 30 menit tapi Serena belum kunjung bangun.
Drtt!! Drttt!!
Suara ponsel yang berdering membuat Serena seketika terbangun. “Ahhh! Aku tertidur lagi,” ucap Serena dengan nada serak sambil memindahkan tangan kekar Nico yang melingkar di pinggangnya.
“Hmmm… jangan kemana-mana!” Nico semakin mengeratkan pelukannya membuat Serena mendesah kesal.
“SIAL!” Serena mengumpat ketika melihat ada 50 panggilan tak terjawab dari kakeknya.
“Bagaimana ini? Aku hanya mempunyai waktu 30 menit.”
Dengan cepat Serena beranjang dan memakai pakaiannya yang tersisa seadanya dan berlari menuju lift.
“Nico! Aku akan menghubungimu setelah ini!” ucap Serena sebelum menghilang di balik lift yang membawanya ke basement.
“Ayolah cepat!!” Serena mengetukkan kakinya dengan tidak sabaran ketika dia mengendarai mobil Bugatti miliknya memecah jalan Kota Milan dengan kecepatan diatas rata-rata.
Ini adalah pertemuan yang sangat penting bagi kakek dan papanya, jika sampai Serena terlambat entah hukuman apa yang akan didapatkannya.
“SIAL!!” umpatnya lagi ketika dia terjebak lampu merah, tapi dia hanya punya waktu 7 menit lagi. Dengan sekali hentakan, Serena menerobos lampu merah itu dan melajukan mobilnya dengan cepat.
“Persetan dengan semuanya! Aku harus sampai sebelum terlambat.” Lagi, Serena mengumpat sendiri.
Serena terus melajukan mobilnya dengan cepat hingga memasuki area perumahan mewah tempat tinggal utama dimana kakek dan papanya tinggal.
Namun, ketika Serena ingin berhenti, remnya malah tidak berfungsi.
“Kenapa ini?” ucap Serena dengan panik. Tanpa memperhatikan di depannya Serena berteriak ketika hampir menabrak sebuah mobil hitam di depannya.
BRAK!!!
“AAKHHH!!!”
Drip...drip....drip. I heard the noise through the black tunnel I was trapped in. It was distant at first but getting closer, or maybe I was going closer towards it. Drip...drip... And that smell. What was it? It was vaguely familiar but I didn't know why. Drip. The repetitive sound was penetrating through the fog that emcompassed my mind and bringing me out of what felt like a deep sleep. I tried to crack an eye but my eyelid, which felt like it weighed a thousand pounds for some reason, would not cooperate. I mustered all of my strength and struggled as I tried again, finally able to let only a sliver of dim light through. As soon as the brightness hit my pupil, I instantly regretted it. A throbbing pain exploded in my head and ricocheted around in my skull. What the hell was wrong with me? And where was I? I braced myself and peeked through my lashes in an effort to recognize my surroundings.&n
By five in the afternoon, we were only five miles from our intented camp spot. We had used what information we had from previous scouts and satellite mapping to choose the location. It was located on top of a hill looking down on Phantom territory. There were large boulders around the clearing on the hill that we could hide behind until nightfall. We had only stopped a few times to snack on granola bars and rest our legs. Luckily, we were all in such great physical shape that our journey hadn't taken much of a toll on our bodies. I'd offered more than once to take my pack from Ivan, but he had refused each time and muttered something about it helping him get his pump on. A mile from our site, the hair on the back of my neck stood and I had the sudden feeling we were being watched. I stopped and dropped to a crouch postition. The werewolves behing me reacted quickly and copied me, while Ivan protectively leapt in front of me. We all scanned the thick woods around us a
Five days later and we were as prepared as we were going to be.While the pack was understandably surprised by my declaration of war at the meeting, many of them were just as blood-thirsty and eager for revenge as I was.We had given Jospeh the farewell he deserved the following night. His closest friends smoked his specialty cuban cigars as we held the vigil to burn his body, releasing his spirit and freeing him to join the Goddess of the Moon for all of eternity.Reed had barely spoken to me, unless it was for strategy purposes or relaying training reports. Even then, he kept his distance and wouldn't make eye contact. He hadn't even objected when I told him I wanted him to lead a separate squadron that would put us on opoosite sides of enemy territory.I could feel my sexual frustrations rising since I had gone almost a week without a release, but refused to call on Ivan since that would only jam the metaphorical knife I stabbed Reed
I peered around the yard, looking for any sign of the trespasser. When I didn't hear, see or smell anyone, I followed the fading scent up to my back porch. The sweatshrit and pants I had set down were now rumpled on the grass and the letters- they were gone. I quickly shifted back into human form, anxious to have my hands to rummage around for them. An engine screamed into my driveway and I could hear gravel fly into the nearby boulders as the tires screeched to a halt. I was on my hands and knees, searching frantically in the lawn for the lost papers. Reed ran around the back of the house and spotted me. "Luna!" He rushed over to me. "I heard your call. What's wrong? What are you doing?" Thundering paws sounded throught the forest behind us, alerting us both to my pack warriors approaching. Reed, not wanting to the rest of the wolves to see me naked, grabbed the sweathshirt from off the ground and threw
All three of us stood frozen in place, not knowing what to say or how to break the awkward silence.I steeled my nerves, attempting to choke down my blazing embarrassment. This what not the way I had planned on revealing I'd marry Reed.I lifted my head slowly, unsure what rea
My breathing stilled and I willed my legs to move backwards in order to get me out of this murder scene, but I couldn't feel them anymore. I tried anyway and stumbled back, bumping into something hard- Reed. I gasped for air, feeling as though I had been holding my breath for minutes. My sa
I turned the lever of the bathtub all the way to the left and watched as the claw foot tub began to fill with hot water. I added a few drops of my favorite lavender and sandalwood bath oil and inhaled deeply as the steam swirlded the scent around me. I was in desperate n
I threw open the door to the old gymnasium and was greeted by the shouts and grunts of my pack, who were paired off into training groups. The place smelled of sweat and blood mixed with rubber from the wrestling mats and bleach that was used to clean the narrow planks of hardwood flooring.






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
ความคิดเห็น