INICIAR SESIÓNThis is a standalone book from one of the stories in the book "The Wild Adventures". Nicole Parker is a girl who can be said to have everything. Money, beauty, and brains. She is the only child of the most successful business tycoon in the capital. But despite having almost everything, she lacks in the most intimate relationship comfort and stability. A reason why she became rebellious toward her parents. She wanted to get their attention by doing things that would require their responses. She started bullying people around her. But what happens when a bully gets bullied? Would love be enough to change her? Find out in Nicole and Mike's colorful and steamy love story. "The Queen of Bullies"
Ver másHelena membuka mata setelah deru napasnya kembali normal. Ia ingin ke kamar mandi untuk membasuh tubuhnya yang lengket karena keringat. Ia menggeser tubuhnya perlahan agar tidak mengusik seseorang yang berbaring telentang di sebelahnya. Baru saja ia berhasil menurunkan salah satu kakinya menyentuh dinginnya lantai, cekalan pada sebelah tangannya langsung membuatnya terkejut.
“Mau ke mana?” tanya seseorang di samping Helena dengan mata masih terpejam.
“Aw!” Helena memekik ketika tangannya yang tadi dicekal kini ditarik kasar, sehingga tubuh polosnya menindih dada bidang di bawahnya.
“Aku tanya kamu mau ke mana?” seseorang tersebut kembali bertanya. Bahkan, mulai menggoda daun telinga Helena.
Dengan susah payah Helena mengontrol gairahnya agar tidak kembali terpatik oleh tindakan seduktif laki-laki yang saat ini ditindihnya. Ia menggigit bibir bawahnya agar desahannya tidak keluar ketika lidah dan mulut lancang tersebut kian menggoda daun telinganya.
“Aku mau ke kamar mandi,” Helena menjawab serak dan dengan napas yang mulai terengah.
“Siapa yang mengizinkanmu beranjak dari ranjang ini, hm?” Kini bukan hanya lidah sekaligus mulutnya yang menyerang daun telinga dan leher Helena, tapi jari-jari besarnya juga ikut menjamah salah satu aset milik wanita di atasnya.
“Felix,” Helena mendesis saat tangan laki-laki bernama Felix tersebut tiba-tiba menari lincah di dada polosnya. “Shit!” umpatnya sambil meremas rambut Felix, sebab tangan laki-laki tersebut semakin gencar menyerangnya.
Felix menyeringai, karena reaksi yang Helena berikan sangat sesuai dengan harapannya. Tiba-tiba ia menghentikan kegiatan tangannya, sehingga membuat Helena menggeram di samping telinganya. Tidak ingin memadamkan api gairah Helena yang telah berhasil ia patik, Felix langsung menggerakkan tubuhnya lebih ke bawah. Tanpa membuang waktu lebih banyak, mulut Felix langsung meraup ujung buah dada Helena yang sudah menegang karena ulah tangannya tadi.
Helena merintih saat merasakan lidah hangat Felix menjamah salah satu titik sensitif di tubuhnya. Jarinya semakin kuat meremas rambut Felix ketika lidah laki-laki tersebut kian aktif beraksi.
“Fel, aku sudah ….” Kalimat Helena tertahan karena mulut Felix bertindak layaknya seorang bayi yang tengah kehausan. Bahkan, tangan laki-laki tersebut pun tetap bergerilya.
“Jangan menahannya,” gumam Felix di sela-sela kegiatan seduktifnya, terlebih setelah menyadari napas Helena yang mulai memburu. “Ucapkan namaku, Sayang,” pintanya dan bersiap memberikan pelepasan saat menyadari tubuh Helena mulai menegang.
“Felix!” Helena melenguh lantang saat lidah dan tangan Felix bekerja sama menyerang dadanya. Bersamaan dengan serangan tersebut, sesuatu yang hangat pun melesak keluar dari inti tubuhnya.
Helena menatap Felix dengan tatapan sayu dan diiringi oleh napasnya yang terengah-engah setelah ia memperoleh pelepasannya. “Sial! Hanya dengan mulut dan lidahnya saja, aku sudah dibuat kehabisan napas seperti ini,” Helena merutuki dewi jalang yang bersemayam di dalam dirinya.
“Hadiah dariku karena tadi kamu telah memberiku pelayanan yang sangat memuaskan,” Felix berbisik setelah menyejajarkan tubuhnya dengan Helena. Ia menyisir helaian rambut panjang Helena yang menutupi wajah lelah sekaligus terpuaskan tersebut. “Ternyata tubuhmu kian sensitif terhadap sentuhanku, padahal tadi baru lidah, mulut, dan tanganku saja yang bekerja. Itu pun bekerjanya belum pada inti tubuhmu,” ejeknya sambil mengerling nakal.
Walau mendengkus, tapi Helena tidak memungkiri jika kini wajahnya merona karena mendengar ejekan sensual yang terlontar dari mulut manis Felix. “Aku mau mandi. Sekujur tubuhku sangat lengket,” ujarnya tanpa menatap Felix.
“Yang paling lengket pasti di bagian sini.” Felix mengarahkan tangannya ke bawah dan menyentuh harta karun milik Helena.
“Felix!” hardik Helena sambil menjauhkan tangan besar Felix sebelum bergerilya dan kembali membangunkan dewi jalangnya.
“Kita lakukan satu ronde lagi sebelum mandi bersama.” Setelah berkata demikian, Felix langsung mengubah posisinya, sehingga kini Helena yang berada di bawah kungkungan tubuhnya. “Di ronde yang terakhir ini, kita akan bermain pelan. Aku ingin memberimu kenikmatan melebihi yang sebelumnya,” bisiknya sensual.
Jika sudah dalam keadaan sekaligus suasana seperti sekarang, Helena hanya bisa pasrah dan menikmati setiap sentuhan yang diterimanya. Terutama saat tubuh bagian bawahnya mulai disesaki aset kebanggaan Felix yang sangat dikagumi oleh dewi jalangnya. Helena tidak menyangka jika dirinya yang dulu polos, bisa berubah menjadi seliar sekarang. Bahkan, di dalam tubuhnya pun kini telah bersemayam dewi jalang yang selalu bersorak riang setiap kali Felix menyentuhnya.
•••
Bukannya langsung tidur setelah tubuhnya merasa lebih segar seusai mandi, tapi pada kenyataannya hingga kini mata Helena masih terjaga. Ia tengah duduk bersandar pada headboard sambil mendengarkan napas Felix yang menderu teratur. Helena merasa iri terhadap Felix yang segera bisa tertidur pulas setelah menjatuhkan tubuhnya di kasur. Padahal tubuh mereka sama-sama kelelahan setelah melakukan aktivitas panas yang sangat menguras tenaga. Namun, pada kenyataannya Helena tidak bisa mengikuti Felix yang telah berkelana ke alam mimpi.
Helena menoleh saat Felix mengubah posisi tidurnya dan beralih memeluk perutnya. Dengan sebelah tangannya, Helena membelai kening Felix yang sesekali mengerut padahal matanya masih terpejam. Ia mengusap punggung tangan Felix yang bertengger lembut di atas perutnya. Andaikan laki-laki yang kini terlelap di sampingnya adalah kekasih atau suaminya, sudah pasti ia akan merasa sangat bahagia atas keintiman mereka. Namun sayangnya, mereka hanyalah dua anak manusia yang bersama karena kepentingan masing-masing.
Sudah menjadi keharusan bagi Helena untuk menghabiskan malam di apartemen Felix setiap hari Jumat dan Sabtu, sesuai dengan perjanjian yang mereka buat sekaligus sepakati. Meskipun selama dua hari tenaganya akan terkuras habis karena menemani Felix bergulat, tapi Helena tidak menyangkal jika kegiatan panas tersebut juga memberinya kenikmatan. Helena menghentikan gerakan tangannya ketika Felix menggeliat, kelopak mata laki-laki tersebut mulai terbuka secara perlahan, sehingga memperlihatkan iris cokelat gelapnya. Melihat ekspresi wajah bantal Felix, Helena pun tertawa kecil karena gemas.
“Kenapa belum tidur?” Felix bertanya sambil menguap. “Mau bermain lagi? Tapi sekarang aku sangat mengantuk. Besok pagi saja kita lanjutkan permainan tadi ya,” imbuhnya menyimpulkan sendiri.
Sembari menggelengkan kepala, Helena memencet hidung Felix. Ia tidak memungkiri jika wajahnya mulai memanas karena perkataan ngawur Felix. “Dasar mesum,” cibirnya.
“Aku mesum karenamu dan hanya padamu seorang,” Felix membela diri dan semakin erat memeluk perut Helena.
“Fel, bagaimana aku bisa tidur jika tanganmu melilit tubuhku seperti ini?” Helena memanfaatkan keadaan tubuhnya untuk menanggapi pembelaan diri Felix. “Jangankan bisa tidur nyenyak, berbaring saja aku sulit karena tubuhku tidak dapat digerakkan,” imbuhnya seraya pura-pura memasang wajah kesal.
Menyadari posisi tangan sekaligus tindakannya, Felix pun terkekeh. “Maaf,” ucapnya sambil mengusap-usap perut datar Helena. Ia melepaskan belitan tangannya pada perut Helena, kemudian menelentangkan tubuhnya. “Ayo tidur. Kamu harus istirahat, sebelum kita melakukan morning sex,” ajaknya secara frontal setelah Helena membenarkan posisi berbaringnya.
Helena tidak menanggapi ucapan mesum Felix. Ia lebih memilih memunggungi Felix agar bisa memejamkan mata. Baru saja matanya terpejam, tangan Felix telah kembali meraih pinggangnya dari belakang dan memeluknya secara posesif, sehingga punggungnya menempel pada dada bidang laki-laki tersebut yang tanpa penghalang. Helena menikmati usapan-usapan lembut sekaligus teratur dari telapak tangan Felix pada perut datarnya.
Kebiasaan Felix saat tidur bersama Helena ialah mengusap-usap perut rata wanita tersebut. Seperti halnya saat mendengarkan lullaby, Helena pun dengan cepat terbuai oleh usapan lembut telapak tangan Felix. Gerakan teratur telapak tangan Felix juga berhasil merayu matanya untuk semakin terpejam, sehingga perlahan menggiringnya menyusuri alam mimpi.
•••
Berada dalam pelukan Felix selalu mampu memberikan tidur yang nyenyak untuk Helena, sehingga saat membuka mata kembali tubuhnya terasa sangat rileks, meski semalaman tenaganya terkuras habis. Kini ia semakin merasa lebih segar setelah usai membasuh wajahnya di kamar mandi. Ia mengikat tinggi rambut panjangnya, sedangkan tubuhnya yang tanpa underwear hanya dilapisi night robe.
Walau bukan juru masak profersional, tapi Helena cukup terampil berada di dapur untuk membuat sarapan atau makanan sederhana. Ia sudah terbiasa berinteraksi dengan perkakas dapur yang mendukung kegiatannya dalam menyajikan beberapa jenis masakan.
Berhubung Helena hanya menemukan beberapa butir telur di dalam kulkas, ia pun memutuskan membuat omelet sebagai menu sarapan mereka. Sayur dan daging yang masih tersisa sudah kemarin ia gunakan saat membuat menu makan malam untuk Felix. Selesai mandi nanti ia akan mendatangi supermarket yang ada di lantai dasar gedung apartemen untuk membeli persediaan bahan makanan.
Beginilah keseharian Helena jika sudah menanggalkan setelan formalnya dan berpindah kantor di dalam apartemen Felix. Ia akan bertransformasi menjadi asisten rumah tangga Felix sekaligus sebagai penghangat ranjang laki-laki tampan tersebut. Jadi, tidak heran jika gaji yang ia terima jumlahnya berlipat-lipat.
Helena menjengkit kaget saat sepasang lengan kekar memeluk pinggangnya secara tiba-tiba dari belakang. “Kebiasaan,” dengkusnya setelah mematikan kompor karena omelet buatannya sudah matang.
Felix menyusupkan kepalanya ke ceruk leher Helena, kemudian menghirup aromanya dalam-dalam. “Memelukmu seperti ini setiap pagi memang sudah menjadi kebiasaanku,” balasnya. Ia mendaratkan kecupan ringan pada leher jenjang tersebut. “Mengelus ini juga sudah menjadi kegiatan wajibku.” Felix mulai menggerakkan telapak tangannya mengusap perut rata Helena dari luar pakaiannya.
Helena memukul punggung tangan Felix yang mulai berulah mengusap-usap perutnya. “Kenapa kamu suka sekali mengusap-usap perutku? Padahal di dalam sana tidak ada bayinya,” ucapnya heran dengan nada setenang mungkin. Tanpa kesulitan bergerak, Helena memindahkan omelet buatannya dari frypan ke piring saji.
Tanpa berniat menjauhkan kepalanya yang kini tertumpu pada bahu Helena, Felix terkekeh. “Tidak ada alasan khusus yang mendasarinya. Aku suka saja mengusap perutmu yang rata,” jawabnya tanpa menghentikan usapan telapak tangannya. “Di dalam perutmu tidak mungkin akan ada bayinya, karena selama ini kita selalu bermain aman,” imbuhnya dengan santai.
Menanggapi jawaban Felix, Helena berusaha tersenyum tipis. “Dulu pernah ada, Fel, sebelum aku memakai kontrasepsi. Namun, kita tidak menyadari keberadaannya, terutama aku,” sesalnya dalam hati. “Ayo kita sarapan,” ajaknya.
Dengan berat hati Felix mengurai pelukannya, karena perutnya saat ini memang membutuhkan asupan. “Usai membereskan apartemen, kamu akan langsung pulang?” tanyanya setelah tiba di meja makan dan menduduki salah satu kursi yang ada di sana.
Helena meletakkan piring berisi omelet di depan Felix sebelum memberikan jawaban. “Iya, tapi sebelum membereskan apartemenmu aku ingin ke supermarket terlebih dulu. Persediaan bahan makanan di kulkas sudah habis,” jawabnya jujur.
“Baiklah, aku akan mengantar sekaligus menemanimu berbelanja.” Felix mulai menikmati omeletnya.
“Tidak perlu, Fel, sebaiknya kamu lanjutkan saja tidur,” tolak Helena secara halus. “Lagi pula aku juga berbelanja di supermarket yang ada di lantai satu gedung apartemen ini,” imbuhnya dan mulai mengikuti Felix menyuap omelet. Helena memang rutin mengisi kulkas Felix dengan bahan makanan seminggu sekali, sebab sang atasan selalu memintanya memasak setiap hari.
“Pokoknya aku akan menemanimu.” Felix melayangkan tatapan tajam ke arah Helena, ketika wanita di hadapannya tersebut kembali menggeleng. Tanpa melepaskan tatapan tajamnya dari Helena, ia pun menyeringai. “Jika tetap menolak, maka aku akan ….” Ia sengaja menggantung kalimatnya sambil menelusuri tubuh Helena yang diyakininya hanya berbalut night robe, tentu saja tanpa underwear di baliknya.
“Baiklah, Tuan,” balas Helena patuh walau dengan nada kesal. Pada akhirnya ia lebih memilih mengalah daripada harus menghabiskan waktu liburnya dengan membuka paha selebar-lebarnya di atas ranjang untuk Felix. Ia tidak mempunyai kuasa membantah ucapan Felix jika laki-laki tersebut sudah membuat keputusan sekaligus memperlihatkan seringaiannya. “Diktator,” gerutunya pelan.
“Telingaku masih berfungsi dengan baik, Baby. Walau kamu menggerutu sepelan mungkin, telingaku tetap bisa mendengarnya,” balas Felix sekaligus memberi peringatan. “Daripada menggerutu, lebih baik kamu gunakan mulut manismu itu untuk memanjakan ….” Kali ini Felix tidak sempat melengkapi kalimatnya, sebab Helena sudah lebih dulu menghadiahinya dengan lemparan serbet.
“Masih pagi, Tuan. Sebaiknya biarkan dulu otak mesum Anda itu beristirahat,” Helena mengingatkan dengan nada berpura-pura lembut. “Mending cepat selesaikan sarapan Anda, kemudian mandi,” sambungnya.
“Ayo kita mandi bersama,” ajak Felix dengan antusias. “Tidak ada penolakan!” sambarnya sebelum Helena membuka mulut untuk melayangkan penolakan. Ia hanya tersenyum menang melihat ekspresi pasrah Helena.
“Baiklah. Hanya mandi,” putus Helena ketus. “Jika sudah masuk kandang, sikap dan sifat laki-laki ini langsung berubah 180 derajat, meski tetap saja sangat mengesalkan,” batinnya mengumpat.
“Yakin hanya mandi? Kamu tidak mau melakukan kegiatan yang mampu membuatmu melayang hingga ke langit ketujuh?” cecar Felix menggoda. Sedikit pun Felix tidak terintimidasi mendengar jawaban ketus yang Helena berikan, malah ia semakin bersemangat melayangkan godaannya.
Malas menanggapi godaan Felix yang tidak akan ada habisnya, Helena pun memilih bungkam dan kembali melanjutkan menikmati sarapannya. “Biarkan saja mulut mesumnya itu berkicau hingga berbusa. Nanti juga akan berhenti jika mulutnya sudah terasa pegal,” batinnya menenangkan.
•••
Felix hanya melihat sekaligus mengekori Helena yang tengah mendorong troli belanjanya. Wanita di depannya terlihat sangat cekatan memilih bahan makanan yang diperlukan, kemudian memasukkannya ke troli. Ia merasa sangat beruntung mempekerjakan Helena di kantor sekaligus di apartemennya.
Jika di kantor, agenda kerja Felix jarang berantakan lagi seperti sebelumnya karena Helena cukup pintar mengatur jadwalnya. Sedangkan di apartemen, pelayanan wanita tersebut sungguh sangat memuaskan, baik di atas ranjang maupun mengurusi asupan perutnya. Atas tangan cekatan yang dimiliki Helena, apartemennya pun selalu bersih. Walau Helena hampir setiap hari menghidangkan masakan rumahan, tapi tetap saja mampu memanjakan lidah dan perutnya.
Felix mempercepat langkahnya saat melihat Helena hendak memasukkan bahan makanan yang sangat dibencinya ke troli.
“Apakah kamu lupa bahwa aku sangat membenci bahan makanan yang satu ini?” tanya Felix dengan nada tidak bersahabat sembari mencekal pergelangan tangan Helena.
“Tentu saja aku sangat ingat,” jawab Helena dengan nada pura-pura tidak bersahabat, tapi berselang beberapa detik ia terkekeh.
Ingatan Helena seketika melayang pada insiden di awal-awal ia bekerja di apartemen Felix. Saat itu ia membuat sup tahu sebagai menu makan malam mereka, tapi Felix malah marah-marah tidak jelas. Bahkan, tanpa tedeng aling-aling Felix langsung memasukkan masakannya tersebut ke wasfatel dan membanting wadahnya. Hingga kini ia tidak mengetahui apa yang mendasari Felix sangat membenci tahu beserta olahannya.
“Aku membelinya untukku sendiri. Adikku sangat menyukainya, jadi aku akan membuatkannya tumis tahu untuk makan siang nanti,” Helena menjelaskan sambil melepaskan cekalan tangan Felix pada pergelangannya.
“Aku harap kamu tidak melupakan posisimu saat ini, Helena” Felix mengingatkan Helena dengan nada penuh penekanan.
“Maksudnya?” Helena mengerutkan kening karena tidak mengerti maksud ucapan Felix.
“Tujuan utama kita ke sini karena persediaan bahan makanan di apartemenku sudah habis, bukan untuk membeli apa yang kamu akan masak atau adikmu sukai. Aku berani mengeluarkan banyak uang saat menebusmu di tempat pelacuran agar bisa mempekerjakanmu secara maksimal di apartemenku. Bukan malah membuang-buang waktu di sini dan membeli sesuatu yang disukai atau untuk kebutuhan orang lain,” Felix berkata tanpa menghiraukan perubahan ekspresi wajah Helena yang telah pias.
Helena terenyak mendengar perkataan Felix yang sangat menohok hatinya. “Maafkan atas kelancangan saya, Tuan. Saya mengaku salah,” pintanya dengan sopan dan membungkuk. Ia mengambil tahu yang sudah berada di dalam troli, kemudian meletakkannya kembali pada tempatnya semula. “Saya akan menaruh kembali bahan makanan yang bukan untuk Tuan.” Tanpa menunggu tanggapan dari Felix, Helena bergegas mendorong trolinya.
Setelah menjauh beberapa langkah dari Felix, air mata Helena langsung menetes. Agar tidak menarik perhatian pengunjung yang lain, dengan cepat Helena menyusut cairan bening di sudut matanya, kemudian menarik napas dalam-dalam untuk mengurai sesak di dadanya.
“Hanya karena tahu, mulut mesumnya langsung berubah menjadi setajam belati,” Helena bergumam dan mulai meletakkan bahan makanan yang ia beli untuknya sendiri. “Usai membereskan apartemennya saja aku akan kembali ke sini membeli bahan-bahan untuk membuat tumis tahu,” sambungnya pada diri sendiri.
“Really?” Jude Parker said. “I didn’t hear the sound of it.” “When did the two of you leave the room?” Nicole asked worriedly. “When Chris said she needed to pee,” Mac answered innocently. “I see,” Nicole answered. “Did you ask for help from the nannies?” the mother asked gently. “Mac helped me. Right, Mac?” the little girl widened her eyes to her bother as if telling him to just agree. “Ah, yeah. Right!” Mac answered after nodding with his eyes closed to Chris as if affirming Chris’ words to be true. But their actions made the people around them doubt that whatever they were saying was the entire truth and nothing but the truth! “I have to welcome my guest,” Jude said. Then he turned to Lisa and the twins. “Do you mind if you guys come with me?” “Let’s go!” The twins answered excitedly. “The two of you should take your time. Mike, she cannot walk with speed yet like we normally do. Can I entrust her to your care or shall I do it myself?” Jude asked seriously. “Please,
“First things first,” Jude said. He fished his phone out of his pocket and right in front of everyone at the table, he dialed a number and spoke like he was alone in the room. “My friend, am I not going to beat around the bush.” Jude’s words obviously expressed closeness to the person he was talking to. Not just by the tone and informality of his words, but by the loud cackle he made after saying them with a radiant smile sporting his face. But with only himself hearing the response of the person he was speaking to over the phone, only Jude’s voice could be heard by everyone with him in the room. “I am in darn need of your help, right now. And that means to say I need your presence right here in my place. I will send you the address—”Jude took a halt as if the other person said something to make him pause from his words. But the older man just laughed even louder than earlier he did. “I know, I know. Of course. Yeah. Yeah—” He halted again for a moment but reasoned with a boistero
Third Person's POVThe family of four, Mike, Nicole, Mac, and Chris, along with the older couple Lisa and Jude Parker had a wonderful meal. But of course, it didn’t end there. The whole day they had a blast. From the dining room where they had the most enjoyable brunch meal one could ever ask to experience, being with their beloved ones, the whole family moved to the air-conditioned gazebo in the backyard to enjoy their dessert. Aside from Chris, who chose to eat the cake first before eating the meal as her request, although it had been her habit to eat their servings before eating something else which made her take just a bite of the cake and eat her meal like everyone else at the table, everyone had the taste of the cake at the fancy resting room in the gazebo after their brunch. then they moved to the family recreation room or more of the kids’ play gallery to watch the twins play. “I am glad you all liked it,” Mike stated timidly. “This bakery is not unfamiliar to us, actually,
Mike’s POV“Oh, that cake….” I mindlessly murmured when we arrived at the dining table and saw the design of the cake that I bought for Mac. The very same reason I had to run back home because I realized halfway down the stairs of my apartment building that I was not carrying anything in my hand aside from my phone. “I believe this is from you,” Mister Parker said as I timidly stood after I assisted Nicky to sit properly and comfortably on her chair. “But Fhadz brought it in when Mac realized you guys left the cake in the car,” he continued. I nodded as I smiled shyly. I had guessed Mac was from a well-off family. That was one of the reasons why I was hesitant to grant his request when he said he was inviting me to his birthday party. The same reason why I was cautious and conscious of what gift to bring him so I wouldn’t be attending his birthday party with empty hands. “I am not sure what to buy and bring for Mac to his birthday party and I have not been to any children’s party
Nicole’s POV“Mac, sweetie….” I paused as the words seemed to stuck in my throat. I cannot deny the fact that I was so scared, nervous, and all emotions combined of fear, hope, and excitement overwhelmed me immensely. Honestly, I was not sure how to define, describe, or understand how I feel at the m
Justin’s POVI did not waste time. Like a bear hibernating in the winter, I closed my world, but instead of sleeping, I surfed the web for every piece of information I could get. I was determined to find out what connection Mike could be to all of this if there is any, like my silly intuition was tel
Mike’s POV“I’d like to invite you to my birthday party,” Mac said in a rush as if something was chasing him. Then after catching a breath, he asked: “Would you come?” “A birthday party?” I asked, scratching my head. “Uhmmmm…. I’m not sure….” I stammered.“What do you mean you are not sure? Are you bu
Justin’s POVI couldn’t tell Mike that I was excited to know more about the man in the security footage with the boy named Mac that day because if the man turned out to be Fhadz, there were so many things I wanted to ask and know after what happened to their car accident a few years ago. But since Mi
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reseñasMás