LOGINBeing faced with the death sentence that is brain tumor seemed a lot less frightening when compared to the knowledge that your cheating husband and his mistress were overjoyed that you'd be gone for good. She had rushed home with the good news of her health only to be met with a shocking discovery. To make matters worse, Drusilla was killed and buried to hide the truth and take over her wealth. Surprisingly, fate had a different game in store for her. Saved by an unknown man, her strike at revenge was imminent. Their first marriage was simply an assumption, stricken with shock and disassociated amnesia disorder, Drusilla assumed she was his wife. The second time, when she got her memories back, it was agreed – a marriage for both their benefits. The third time, however, Neon could no longer take it. "You're my wife, stop looking at your ex-husband," he scolded her. "That I am, but only on paper." Unable to hold back his feelings anymore, he proposed. “let's get married then, for real this time." Neon was more than willing to marry a woman without an identity, but was she?
View MoreEmily memandang sepasang pengantin yang baru saja selesai mengucapkan janji setia itu dengan perasaan hancur. Sepasang pengantin itu adalah Sandra, kakaknya dan Tomy, laki-laki yang telah beberapa tahun kemarin jadi kekasihnya. Mereka adalah dua orang yang sangat Emily sayangi yang ternyata tega mengkhianatinya.
Rasanya terlalu kejam bagi Emily yang harus menerima kenyataan kalau Sandra ternyata hamil karena hubungannya dengan Tomy selama ini di belakangnya. Emily merasa dunianya hancur! Bagaimana mungkin mereka tega menjalin cinta di belakangnya seperti itu? Bahkan hubungan yang mereka lakukan teramat jauh hingga menyebabkan Sandra hamil. Dua bulan sudah usia kandungannya. Dan mau tidak mau Sandra memang harus segera dinikahkan dengan Tomy, laki-laki yang telah menghamilinya.
Ketika Sandra dan Tomy mengungkapkan tentang pengkhianatan mereka itu, Emily merasa seperti dihantam gada raksasa hingga dia hancur berkeping-keping. Remuk tak berbentuk seperti gelas kristal yang dihempaskan kuat-kuat ke lantai. Tapi Emily cuma bisa menangis meski pun sesungguhnya dia ingin menjerit dan mencaci-maki keduanya. Ini jahat! Benar-benar jahat! Tak tahukah mereka seperti apa rasa sakit yang Emily rasakan? Rasa hatinya lebih perih dari pada dihujami dan dikoyak oleh ratusan belati! Bahkan Emily merasa lebih baik dia dijemput saja oleh kematian! Biar berakhir segala pedih dan luka ini! Biar sempurna kekalahan ini!
Ah, isak tangis ibunya menyadarkan Emily dari keinginan bodoh yang tadi menggoda hatinya. Mati? Tidak, nanti dulu! Bukankah kematian adalah sesuatu yang menakutkan? Dipendam dalam tanah yang gelap dan dingin! Sendirian, hanya ditemani oleh cacing-cacing tanah yang menjijikan! Tidak, Emily tak jadi menginginkan kematian. Meski pun perih luka yang telah mereka goreskan, tapi Emily menginginkan nyawanya tetap melekat di badan. Biarlah, mungkin dia memang harus bertahan.
Dengan berlinang air mata, Emily menatap pada wajah orangtuanya yang tampak lesu dihempas kecewa. Pengakuan putri sulung mereka itu benar-benar seperti pukulan keras buat mereka. Ini aib yang memalukan sekaligus perbuatan teramat jahat karena mereka semua tahu jika Tomy adalah kekasih Emily. Betapa teganya Sandra merebut Tomy dari adiknya itu. Dan betapa jahatnya Tomy mengkhianati Emily seperti itu. Mereka berdua benar-benar tak berperasaan!
Tapi tak ada yang bisa dilakukan selain menikahkan mereka secepatnya. Sebab kehamilan Sandra tak bisa menunggu hingga luka Emily sembuh. Jangan sampai kehamilan itu menjadi bahan gunjingan orang dan membuat keluarga mereka tercoreng dan malu. Jadi pada akhirnya Emily harus mengalah dan merelakan Tomy menikahi Sandra demi menyelamatkan nama baik keluarga mereka.
Dengan pasrah, Emily mencoba mengumpulkan serpihan hatinya dan merekatkannya kembali meski tak bisa lagi menjadi utuh. Ada luka yang masih basah, ada koyakan luka yang masih menganga lebar. Tapi Emily harus kuat. Di depan semua orang, luka hati itu tak boleh terlihat. Emily harus menyimpannya rapat-rapat dan berpura-pura kalau pernikahan itu tak membuatnya terluka. Senyum manis Emily pun terasa getir. Emily merasa hari itu aktingnya begitu sempurna hingga (mungkin) semua tamu yang datang melihat jika dia pun ikut bahagia.
"Bolehkah aku menangis?" tanya kedua mata Emily yang tak tahan harus membendung air mata.
"Tidak! Jangan! Tunggulah sampai kita berada di kamar hingga tak ada orang yang melihat linangan air matamu dan jeritanku," hati Emily menyahuti.
"Kapankah? Aku tak tahan lagi, aku ingin menangis!"
Akhirnya Emily pun masuk ke dalam kamarnya dan meluapkan segala sedihnya di sana. Dia menangis dan bersembunyi seperti seekor hewan kecil yang terluka. Biar, tinggalkan saja pesta sialan itu! Aku tak tahan untuk terus tersenyum sementara hatiku menangis!
Emily membiarkan air matanya terkuras habis. Dia terus bersembunyi, tak peduli pada keramaian di luar sana. Pesta itu bukan untukku. Kebahagiaan mereka adalah luka bagiku. Biarlah aku bersembunyi dulu di sini. Jika nanti hati telah siap, aku akan keluar lagi untuk melihat kebahagiaan mereka.
Tiba-tiba terdengar ponselnya berbunyi. Benda pilih yang diletakannya di atas meja riasnya itu pun terus berbunyi memberitahukan kalau ada satu panggilan masuk. Dengan malas Emily mengangkat ponselnya itu dan melihat nama si penelepon yang tertera di layarnya. Monik. Ah, rupanya sahabatnya itu yang menelepon. Pasti Monik telah menyadari kalau dia tak ada lagi di tengah pesta itu. Dan pasti Monik telah mencarinya kemana-mana tapi tak menemukannya hingga akhirnya dia menelepon ke hp Emily. Emily tahu jika sahabatnya itu sangat mengkhawatirkannya.
"Halo, Mil, lo ada dimana? Dari tadi gue cariin lo tapi lo nggak ada," kata Monik bernada cemas.
"Gue ada di kamar, Nik. Nggak usah khawatir, gue baik-baik aja," sahut Emily di sela tangisnya.
"Mil, lo nangis?" tanya Monik ketika mendengar suara Emily yang serak.
Ya, Monik, tentu aja gue nangis! Apa gue harus tertawa? Hati Emily seolah menjerit mendengar pertanyaan dari Monik itu.
"Gue cuma lagi luapin kesedihan gue," sahut Emily.
"Gue temenin lo, ya? Gue cuma nggak mau kalau lo sendirian, Mil," kata Monik yang merasa sangat khawatir dengan Emily.
"Nggak usah, Nik, terima kasih. Tapi gue lagi pengen sendiri sekarang. Kalau nanti gue udah siap, gue pasti akan keluar lagi," tolak Emily segera.
"Tapi sungguh lo baik-baik aja?"
"Ya, sebentar lagi gue keluar," sahut Emily memberi janji yang belum tentu bisa dia tepati. Sebentar lagi? Tidak, Emily masih ingin menangis dan menguatkan hatinya dulu. Sebab melihat senyum bahagia Sandra dan Tomy, sungguh membuatnya terluka.
"Ya udah kalau begitu gue tunggu lo di luar, ya. Gue duduk di halaman samping sama Edo," kata Monik kemudian. Edo adalah kekasih Monik yang juga sahabat Emily.
"Ya," sahut Emily pendek. Lalu setelah itu, percakapan itu pun berakhir. Emily kembali melanjutkan tangisnya.
Entah berapa lama Emily menangis. Tapi dia sudah merasa lelah sekarang. Emily pun menghentikan tangisnya. Dia segera ke kamar mandi dan membersihkan riasan wajahnya yang rusak terkena air mata. Lalu segera pula merapikan riasannya itu dan berusaha menutupi sembab di kedua matanya karena menangis tadi. Tak boleh terlihat kalau dia habis menangis. Bisa-bisa menimbulkan bahan gosip hangat di kalangan tamu undangan. Apa lagi sebagian dari mereka tahu kalau selama ini Tomy berpacaran dengannya.
Emily pun melangkah pelan keluar kamar. Dia berbaur dengan para tamu undangan yang tampak semakin ramai memenuhi rumah orangtuanya ini. Tapi Emily berjalan ke halaman depan, bukannya ke halaman samping untuk menjumpai Monik yang sedang menunggunya di sana.
Dari teras depan, Emily bisa dengan jelas melihat kursi pelaminan dimana Sandra dan Tomy sedang duduk bersanding di sana. Sepasang pengantin itu tampak begitu bahagia. Ah, sepertinya mereka telah benar-benar melupakan hati Emily. Wajah mereka tampak sangat bahagia seolah mereka tak melukai sekeping hati dengan pernikahan mereka ini.
Merasa tak tahan melihat semua itu, Emily pun perlahan melangkah pergi. Dia hanya ingin menghindari pesta itu. Berusaha melindungi hatinya dari sakit yang lebih parah lagi.
Emily terus berjalan menjauhi rumahnya dan pesta meriah itu. Oh, rasanya Emily tak ingin lagi kembali ke sana. Terbayang dalam kepalanya tentang hari esok yang pasti akan lebih parah lagi. Sebab karena kehamilannya itu, orangtua mereka melarang Sandra untuk pindah dari rumah itu. Mereka khawatir melepas Sandra dengan kehamilan pertamanya itu. Lantas apa jadinya dengan hati Emily jika dia harus serumah dengan Tomy dan Sandra?
Oh, tuhan, yang pasti hatiku akan sakit sepanjang hari. Dan bagaimana aku bisa menyembuhkan luka hatiku jika setiap hari aku harus menjadi saksi atas kebahagiaan mereka? Rasanya memang tidak masuk akal jika menyatukan aku dan mereka di bawah satu atap.
Kaki Emily pun terus melangkah menyusuri jalanan yang telah diguyur lampu jalan. Tak terasa hari mulai beranjak malam. Langit keemasan di sebelah barat sana telah berubah menjadi gelap. Bayang-bayang bulan pun telah terlihat. Emily yang sedang diselimuti oleh kesedihan itu pun terus berjalan tak tentu arah. Yang ada di dalam kepalanya cuma satu. Pergi menjauh dari Tomy dan Sandra hingga dia tak harus melihat kebahagiaan mereka.
"Ah!" She sighs, as she bows her head between her legs. Today marks day two of their awkward breakfast and Drusilla has lost the voice to complain. "It's all my fault, I shouldn't have spoken to him that way in his own house," she regrets. Ever since her breakdown, Neon has been trying his best to make sure that she doesn’t feel alone, or that she doesn’t rush into doing something that she would later come to loathe herself.Although it may be a little too late for that. Druuuu~Druuuu~By her side, her phone slightly skips on the bed as it moves towards Drusilla as if it knows its master. This makes it the eleventh time the phone rang in the short span of five minutes, and the repeated sound of the phone ringing is doing its best to tick her off, especially at a time like this when she’s still bent on finding herself.She glances at the screen, frustrated.If she doesn’t answer, the phone will most likely ring again, and again, and again, until she’ll be forced to do something s
Flashback~Cats and dogs are at bicker, as they wage war upon the earth. Houses and roofs were inhabited by people who wouldn't care less who owned the building. What everyone knows at this point, is that they have to take shelter, so they were automatically turning into house owners, as they inhabit houses who's owner they don't even know. Even if they had to share the same roof with other people.Still, while everyone took shelter, cars honked at each other. It's a good thing it wasn't sunny, otherwise, these people might have flooded the jammed road, yelling into each other's faces. However, far from their non-stop bickering, a car drives freely on the mountain highway. Maura, helps herself to the heater, as she drives without anyone needing to trouble her. "I can't hear you, honey, the signal's bad, the weather's horrible," Maura said, her eyes glued to the road, and hands clenched in the steering wheel as she drove. She wears an earpod on her right, connected to her phone
If overwhelmed was a person then it would be Drusilla. She whispers to herself, unable to comprehend what she just witnessed. With hurry he reaches towards her, "Drusilla…" he calls out her name, just a few inches away from reaching her when she slaps his hand away. She turns around."Don't you dare say my name," she warns him a second time, her hand violently flickering in his face. The sound of air forcefully escaping her nostrils is heard as she pants heavily, her tears stroll down her red eyes, sticking her lashes together, disorienting them. The guilty man stares at his hand, his hand bright red from the slap he received, "I'm sorry."From furrowed eyebrows to gritted teeth, and finally shaking lips.Drusilla's face displays different looks within seconds until her resolve weakens and she breaks down. "You lied to me, you... you tricked me, over and over again," she tells him, counting his crimes repeatedly with her fingers. "I didn't lie to you," he tells her.Despite his
With her hands on her mouth, as she realises the figure before, she pulls Neon’s hand and turns him towards her.Like a statue, Neon stands still, his cheek all red with small blood at the corner of his lip, she extends her sleeve to wipe away the blood, almost teary from having him protect her, and yet, she wonders what would have happened to her if she took the hit instead."How dare you disrespect my daughter in such a manner that you even get to clone her,” the angry woman explodes barely being held back, not minding the wound she’s inflicted on him.Drusilla, understanding who she was talking about snaps, now it’s her turn to protect him, as she hides him behind her back despite him being taller than her, she was going to face the woman one on one, one woman to another."I'm not a clone,” she corrects her."Oh yes you are, and you should be ashamed of yourself, you just called yourself by my daughter's name.”Silence falls upon her as she realises the woman wasn’t lying. She trem
Due to a misunderstanding and false memories, Drusilla undergoes surgery, claiming a new identity as Maura. She stares at her image in the bathroom, today as well, she's unable to apprehend how her disoriented face was easily restored, unknown to the secrets she's oblivious to. Ignorance is indeed
For a while, the earth stands still as they digest the tone of the single word she uttered.Her face, like a dog ready to pounce, worries the couple. "...." They stare at her, waiting to find out who'll break the thin ice of awkwardness. Suddenly, Neon steps forward with a nervous laugh, overshadowin
The two-hour drive was more than enough to squash Maura with dreadful anxiety.As she sits behind, holding her patience that seems to overflow, her legs are constantly shaking, and her hands tightly squeeze the back seat as she wishes with all her might that the driver will not let her anxiety get
The air is thick with the purging smell of antiseptic, and medicine that irks her stomach in the worst possible manner, with undertones of the artificial fragrance contained in soaps and cleaners.Drusilla tries to open her heavy eyes wider but it proves a herculean task. She could only manage to co












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews