LOGINWhile solving one of the cases, detective Esther Moore comes across a legend that grandmother told her long ago. Soon the line between what is real and what is not gradually blurs. Are the legendary 'Scarlet Angels' real or is Esther losing her mind?
View MoreDesa Ciboeh, 1985
“Apa saya harus benar-benar pergi?” ujar Ujang begitu sepedanya menepi ke sisi jalan. Tangannya segera menyeka peluh di dahi dengan kain sarung yang tersampir di bahu.
Ujang menoleh ke belakang, tepatnya pada cahaya dari perkampungan yang kian meredup seiring sepeda menggerus jarak. Di sisi kiri dan kanan, terhampar persawahan yang berselimut gelap karena tengah dicumbu malam. Kakinya kembali bersiap di pedal sepeda, tetapi pikiran dan hatinya masih terkunci pada nyaman dan hangatnya kediaman.
Tatapan Ujang teralih pada pekatnya kegelapan di depan. Pria itu cukup beruntung karena petromaks yang berada di keranjang sepeda masih memberikan cahaya, berbanding terbalik dengan rembulan yang hanya mengintip di balik awan tanpa sudi membagi sinar.
“Apa saya harus benar-benar pergi?” ulang Ujang. Tubuh dan jiwanya mendambakan kasur empuk di rumah, sedang sang mertua dan istri menuntutnya agar tak pulang sebelum melaksanakan permintaan.
Ujang hanya memiliki dua pilihan malam ini. Pertama, pria itu kembali ke rumah dan langsung dihadiahi amukan mertua dan wajah masam sang istri. Kedua, ia akan selamat dari amarah penghuni rumah, tetapi harus berdamai dengan rasa takut ketika dihadapkan kengerian Mak Lilin.
Setelah menimbang, Ujang mengambil pilihan kedua. Dengan wajah setengah pucat, ia kembali mengayuh sepeda menuju kegelapan jalan di depan. Sebenarnya, Ujang tak keberatan bila Mak Lilin yang dimaksud adalah seorang wanita tua renta. Akan tetapi, realita berkata bila sebutan itu tak lain ditujukan untuk sebuah pemakaman di utara desa.
Semakin dekat ke arah tujuan, Ujang kian dibuat terengah-engah. Dadanya kembang kempis seiring bahu yang naik-turun. Pria itu berhenti tepat di depan gapura kuburan untuk menstabilkan napas. Tatapannya lantas mendongak, tepatnya pada setitik cahaya di gubuk milik penjaga makam, dan di sanalah tempat tujuannya.
“Sepertinya saya harus benar-benar pergi,” gumam Ujang sembari turun dari sepeda, kemudian menyimpan benda beroda dua itu di bawah pohon. Tak perlu takut akan dicuri, Ujang sadar kalau hanya orang bodoh yang akan menginjak tanah Mak Lilin di malam hari. Pencuri akan berpikir ribuan kali sebelum melakukan aksi.
Untuk sampai ke gubuk milik penjaga makam, Ujang harus melewati jembatan, hamparan pusara, kemudian menaiki tangga. Jaraknya tak begitu jauh dari gapura, hanya saja tekanan kawasan ini benar-benar membuat langkah melambat, berbanding terbalik dengan degup jantungnya yang kian cepat.
Bau kamboja seketika tercium ketika Ujang melumat kegelapan. Sisi kanan dan kiri dipenuhi dengan pepohonan bambu liar. Saat angin menerobos celah-celah tanaman itu, suara memekakkan akan langsung bertamu ke pendengaran.
Ujang seketika terpejam saat pekikan gagak dan dehaman burung hantu hadir menemani perjalanan. Ia bisa merasakan burung-burung itu mengamatinya di suatu tempat. Ujang tak punya nyali untuk sekadar mencari tahu. Ia hanya tak ingin saat sinar petromaks terangkat lebih tinggi, sesuatu yang tak ingin ditemuinya akan menampakkan diri.
“Mbah Atim,” ucap Ujang saat melihat siluet manusia bergerak menuju jembatan. Bukannya ketakutan, pria itu malah mempercepat langkah. Ketegangan di wajahnya sedikit mencair.
Kegelapan memudar saat Ujang sudah berada di depan jembatan. Empat buah obor menyala di tiap sisi jembatan. “Mbah, saya ingin ... minta buah delima untuk istri saya yang sedang ngidam, boleh?” tanyanya.
Pria berpakaian serba hitam itu terus berjalan, tetapi Ujang menerjemahkan sebagai anggukan persetujuan. Untuk itu, ia segera berjalan di jembatan dengan penuh kehati-hatian. Rasa takutnya tak sekentara tadi.
“Mbah,” panggil ujang saat berada di tengah jembatan. Begitu mengangkat petromaks lebih tinggi, ia sama sekali tak menemukan Mbah Atim. Namun, ia dengan jelas masih mendengar suara langkah kaki.
Begitu Ujang berhasil melewati jembatan, ia dengan tergesa-gesa menaiki gundukan tanah yang disusun menyerupai tangga. Sepintas, Ujang merasa bila ada seseorang yang tengah menatapnya. Namun, saat ia memastikan lebih jeli, nyatanya tak ada siapa pun di sana. Pemandangan yang tampak justru hamparan makam. Sialnya, tanah kuburan malah disiram cahaya rembulan yang kian memperjelas bentuk gundukan tanah dan batu bisan.
Ujang refleks menutup mulut begitu bau kamboja menyengat hidung. Sepanjang melumat tanah kuburan, ia tak berani mendongak, memilih mengikuti cahaya petromaks.
“Mbah,” panggil Ujang.
Kali ini, Ujang memberanikan diri mendongak. Ia melihat orang yang dipanggilnya sudah lenyap ditelan kegelapan begitu melewati ujung pekuburan. Pria itu mengambil napas panjang, kemudian meneruskan perjalanan.
Cahaya bulan kini terhalang oleh rimbunnya pepohonan. Suara burung dan serangga tak terdengar lagi saat Ujang mulai menaiki tangga. Suasananya teramat hening. Ujang bahkan bisa mendengar suara langkah kaki dan embusan napas sendiri. Namun, ada sesuatu yang ganjil menurut Ujang. Meski ia tengah berdiri di anak tangga terakhir dengan posisi tak bergerak, tetapi entah mengapa ia masih mendengar suara langkah kaki.
Apa mungkin ada seseorang di belakangnya?
Nyatanya tidak. Ujang hanya melihat kunang-kunang yang tiba-tiba muncul dari ujung tangga.
“Mbah.” Panggilan Ujang berbalas dehaman seseorang.
Ujang sudah berada di depan gubuk. Delima yang diminta istrinya hanya berjarak beberapa jengkal darinya. Ia lantas masuk, kemudian mulai memetik buah.
“Mbah, saya ambil tiga buah,” kata Ujang sembari menyimpan sebungkus rokok yang berisi empat batang ke atas batu di depan gubuk, “nuhun.”
Ujang menutup pintu pagar perlahan, lalu mengaitkan talinya pada paku. “Mbah—”
Mendadak wajah Ujang tertutup sarung saat angin tiba-tiba menerjang. Dedaunan ikut bergoyang karena aliran udara tadi. Pria itu kemudian melirik tempat terakhir ia melihat rokoknya. Rupanya batangan tembakau itu sudah tak berada di sana.
“Nuhun, Mbah,” ujar Ujang sekali lagi.
Ujang kembali berjalan. Namun, baru saja ia menuruni dua buah anak tangga, pintu gubuk tiba-tiba terbuka kencang. Pria itu seketika meneguk saliva, menoleh ke arah suara, lalu memilih meninggalkan bangunan itu dengan segera.
Kunang-kunang menyambut Ujang saat dirinya menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Lolongan anjing tiba-tiba terdengar entah dari mana. Tangannya menghempas kerlipan cahaya milik kumpulan kunang-kunang tersebut dengan gerakan asal. Ujang benci mahluk itu. Kata orang tua dahulu, serangga itu adalah kuku orang mati, pertanda hal buruk akan terjadi.
Ujang kembali berada di area kuburan. Tubuhnya seketika menegang ketika mendengar suara raungan yang tiba-tiba. Sontak bulu kuduknya meremang dan jantungnya berdetak cepat seperti akan meledak.
Ujang dengan gemetar mengamati sekeliling, mencari pemilik suara raungan barusan. Ia dengan cepat menutup mulut dengan sarung ketika bau bangkai menyingkirkan aroma kamboja. Perutnya serasa diaduk-aduk dan ususnya laksana diluruskan paksa.
Ujang tak peduli lagi dengan lolongan anjing atau suara raungan itu. Ia hanya ingin cepat keluar dari area pemakaman. Saat berada di pertengahan arena kuburan, Ujang akhirnya memuntahkan isi perut. Ia sampai harus berjongkok untuk lebih mudah mengosongkan perut. Ia cukup terbantu berkat pijatan seseorang di lehernya.
“Nuhun, Mbah,” ucapnya.
Saat menyadari hal yang tak semestinya terjadi, mata Ujang seketika terbelalak. Keringat dingin tiba-tiba mengucur deras. Lehernya terasa basah karena cairan kental. Ujang yakin itu bukan balsem seperti dugaan sebelumnya, tetapi ia tak sudi untuk sekadar menerka jawaban. Ia lebih memilih berdiri dan segera enyah dari kawasan ini.
Saking tergesa-gesa, Ujang tak sengaja menjatuhkan keresek yang berisi buah delima hingga isinya menggelinding ke tanah. Dua buah delima tergelatak tak jauh darinya, tetapi sisanya terlempar agak jauh. Saat akan mengambilnya, lolongan anjing kembali terdengar.
Ujang merasakan lehernya kembali basah. Namun, ia memilih untuk mengambil buah delima terakhir. Di luar dugaan, rasa mual mengocok perutnya lagi. Bau busuk kian menyengat bersamaan dengan langkahnya yang semakin dekat dengan buah delima ketiga. Rasanya seperti ada ratusan ulat bulu yang berkumpul di tenggorakan.
Napas Ujang mendadak berhenti saat buah delima itu tiba-tiba terbang ke atas. Mau tak mau matanya mengikuti pergerakan benda itu. Ia terpaksa menggigit bibir saat melihat sesosok mahluk hitam berdiri di depannya. Pria itu dengan segara menahan teriakan yang akan meledak. Di saat seperti ini, entah mengapa kakinya malah mendadak tak bisa digerakan. Sekujur tubuhnya laksana batu yang tertancap kuat. Buah delima yang lebih dahulu ia pungut malah terjatuh kembali.
Dengan sisa tenaga dan kesadaran yang ada, Ujang memunguti kembali delima dan memasukkannya ke dalam keresek. Ia berharap bila apa yang dilihatnya barusan hanyalah bayangan. Namun, saat tubuhnya sudah setengah berdiri, mahluk hitam penuh borok itu malah menyodorkan buah delima terakhir ke arahnya. Bersamaan dengan itu, nanah dan darah menetes saat sosok itu tersenyum. Hanya manusia yang sangat bodoh saja yang mau menerima pemberian dari mahluk hitam itu, pikir Ujang.
“Ju-jurig!”
Ujang seketika pontang-panting di tengah area pemakaman. Lampu petromaksnya terombang-ambing hingga nyaris padam. Sekilas, ia menengok ke belakang. Mahluk itu masih berada di tempatnya semula, memelotot dengan mata merah menyala. Saking takutnya, Ujang tak sadar menangis. Ia tak peduli lagi dengan delima yang diminta istrinya.
Ujang yang dilanda panik tak menyadari jika kain sarungnya melilit kaki. Alhasil, ia terjatuh dari atas anak tangga hingga tersungkur ke bawah. Petromaksnya mati seketika. Ujang menggeliat bak cacing kepanasan, mengaduh di sisi jembatan.
Ujang mengelus kakinya yang terkilir. Berbekal pencahayaan dua lampu minyak dan paksaan kuat, ia berjalan dengan tergesa-gesa menuju jembatan. Langkahnya terkesan diseret.
Namun, kesialan Ujang nyatanya tak berhenti di sana. Jembatan kayu yang tengah ia pijak malah bergoyang-goyang karena diterjang angin. Ujang terombang-ambing di tengah jembatan.
“Ampun!” Ujang memegang kuat tali jembatan saat perantara dua jalan itu berguncang seakan hendak terbalik. Saat akan lari, kakinya malah terperosok. Berkali-kali ia berusaha menarik kaki. Namun, semakin kuat berusaha, kian dekat pula ia dengan mahluk hitam berbau busuk itu.
“Ampun!” Ujang tak berani melihat. Ia menangis sembari memeluk satu lutut, sedang satu tangannya berpegangan kuat pada tali jembatan. “Sa-saya tidak ada niatan ganggu. Jangan bunuh saya,” ucapnya gemetar.
Ujang kian menunduk dalam, sedang tangisnya semakin menjadi. Ia menyesali kepergiannya malam ini. Kalau saja kejadiannya akan seperti ini, ia lebih baik menerima wajah masam istri dan omelan mertua selama seminggu.
Ujang mendongak saat merasa bau busuk mulai menghilang. Rupanya mahluk hitam itu sudah pergi. Pria itu mencoba kembali berdiri. Namun, nahas, saat ia menarik kakinya kuat-kuat, pijakannya tiba-tiba ambruk. Dalam satu tarikan napas, tubuh Ujang terjatuh. Untungnya, ia masih mampu berpegangan pada pijakan jembatan.
“Tolong saya!” Ujang berteriak. Raganya terayun-ayun di tengah jembatan.
Namun, setelah sadar kalau ia berada di area pemakaman, Ujang hanya bisa pasrah. Dalam keputusaasaannya, pria itu melihat mahluk itu berlari ke arahnya.
Ujang sudah tak kuat untuk terus berpegangan. Tangannya mulai mati rasa. Dalam hitungan detik, jemarinya satu per satu terlepas dari pegangan hingga akhirnya raganya jatuh ke jurang yang dipenuhi tumpukan batu.
Leo, after reading Esther's diary, didn't know what to think about it all. He sat down on the edge of her bed, resting the notebook on his lap. If he would take her words seriously, especially from one of the last entries, it seems that Esther's grandmother, Eloise Moore, might be right. However, this did not convinced Leo's skeptical mind. Less important now was what was putting Esther in danger, for even if it existed, now probably wouldn't be able to find her since she disappeared. However, Leo still wanted to know what exactly had happened and where Esther was now. And what was he able to do to contact her in some way... But on the other hand, if all of this, by some miracle, was true, what could he possibly do to find out what happened and how to contact Esther? Therefore, the more he wanted to reject this version of events, because it took away his opportunities, and he really wanted to find her, to see her one last time, even if it was in a coffin.He finally got up, clo
Esther slowly regained consciousness, feeling some very bright and warm white light around her. It was an extremely strange feeling, besides, it felt as if she was lying on an extremely soft mattress, pillow and and was covered with an equally soft duvet.- Esther, wake up.- she heard a woman's voice nearby, and then opened her eyes fully, realizing she was lying on a bed of some sort. Esther got up, sitting down, and looked to the side, noticing that on the chair near the bed there was sitting a tall, slim woman with blonde hair, pale complexion and dark blue eyes without pupils, then she also saw two huge scarlet wings. She was similar to the figure on the Laurens Vermeulen's drawing, but her facial features were a little bit different.- You know who I am, don't you?- the woman asked calmly, and contrary to what Esther saw in her dream, she was moving her lips while talking.- Yes... I mean, I think so.- replied Esther, looking at the female angel uncertainly.- You
Today, on November 20, when I write all this words, I was supposed to go to work normally, the more that Leo wanted to participate in the 'Mad Dog' trial as an observer, and the Chief agreed that he would be late for work only on condition that I would be on the station, alone for a few hours, taking care of the work for both of us. Unfortunately, not only did I have nightmares full of some devilish creatures at night, but also woke up in the morning with a terrible headache. My head felt like it was about to explode and no pills helped me, I also felt terribly tired, as if someone had sucked all my energy out of me. Therefore, I was forced to call the station and take a day off, and even added that I might have to go to the doctor and take a sick leave, because I seriously thought about it. Then I silenced my phone completely, leaving it on the table in the living room. I didn't want anyone to disturb me, besides the noises only made my headache worse.
After an argument with Leo, being at home became a bigger nightmare. It was only in the last week of vacation that I finally managed to go to my mother and grandmother in Penarth, and to this day I regret that did not go to them right after returning from a week's vacation near the Cardiff Bay Wetlands Reserve, because it was only in my family home that everything seemed get back to normal. There were no more whispers, no shadows seen in the corner of my bedroom at night, no nightmares. When it was time to go back to Cardiff, I didn't want to get on the train. I chose this type of transport because while leaving home I didn't feel strong enough to drive a car.When I was back in my apartment, I immediately felt the dark atmosphere that had been with me from the moment I entered that search engine again, trying to find this website about 'Scarlet Angels' and a user 'the_scarlet_truth'. I started to seriously think that maybe this was all some kind of punishment for messing
Laurens Vermeulen was not happy with the sentence, but there was nothing that could be done about it now. He was legally convicted, without the possibility of appealing the sentence. The only chance he had to regain his freedom was to apply for parole after 25 years in prison. Laurens hoped that
Between October 7th to 12th, I focused on work, although it was hard. I saw Leo trying to talk to me, but didn't feel like it. He himself seemed to be immersed in thoughts all the time, and although being curious about the reason, I preferred not to start the conversation. I only spoke up wh
From November 20th, when Leo reported Esther's disappearance, until the end of December 2020 there was an investigation into the case, and although the Chief transferred the case to other detectives, Leo was still conducting a private investigation on his own. It irritated him that his colleagues
When Leo went to the police station, he found out that Esther had called the Chief of Police and said she was feeling unwell and could not turn up for work today. Unable to take it out on her, the police chief spilled his frustrations on Leo, telling him to speak to Esther about it. Leo agreed, o
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.