LOGINFor 15 years, Ravyn Hawkins believed that she was an orphan, stuck in an orphanage when a rich family swooped in claiming to be her biological family. She was happy thinking that she was finally going to be loved, only to see that they had adopted a baby after her disappearance who turned out to be Aspen Hawkins, the doted fragile heiress to the Hawkins Family. Ravyn Hawkins tried her best to fit in, hoping that one day her family would love her, just as they love Aspen but that dream never got fulfilled. Once she turned 18, she was set up by her family to take the fall for a murder that Aspen did, claiming that Aspen was too fragile and this was her way of paying them back for looking after her. With no one on her side, Ravyn was thrown in one of the most cruel and infamous prisons for 5 years. She got assaulted by an unknown inmate and got pregnant with twins. She never met the man again after that night and 4 year later, she was a young teen mum of Rhysand and Rhysian. But during a coup in prison, her son Rhysian was taken and she never found him. Now her sentence is out and she is picked up by her elder brother Nathan Hawkins , but what they don't know is that the girl that they sent into prison, is no longer the fragile timid girl they once thought they knew. Ravyn will do all she can to find out who stole her child and more importantly who assaulted her that night. And she will make sure she crushes the Hawkins family, leaving them in the dust.
View More[Apa kamu tuli, Zoya? Sudah aku katakan jangan datang ke acara itu , tapi kamu masih saja nekat. Pulang kamu sekarang juga!]
Zoya menghela nafas berat saat membaca pesan yang suaminya kirimkan. Dia pun bergegas untuk segera pamit pulang pada rekan kerjanya yang lain. Pesan dari Zein menjadi teguran dan perintah yang menakutkan yang mana tak bisa Zoya abaikan. Dia bergegas keluar dari tempat itu tetapi saat hendak membuka pintu ballroom, seseorang yang merupakan rekan kerjanya juga sedikit berlari menghentikan langkahnya. "Zoya, kamu mau kemana?" tanyanya dengan wajahnya panik. "Aku mau pulang. Duluan ya, aku buru-buru soalnya. Suami aku udah nungguin. Salam sama yang lain," jawab Zoya yang sekalian pamit kemudian segera pergi dari sana tapi kembali langkahnya tertahan. "Eh tunggu dulu! Aku tadi lihat Pak Gama sakit. Kamu cepetan ke sana. Beliau ada di kamar nomor 125. Kasihan banget, Zoy." "Emangnya sakit apa?" tanya Zoya bingung. Mana dia sedang buru-buru. "Nggak ngerti, tapi kayaknya parah banget. Cepetan kamu ke sana! Aku nggak bisa jelasin sama kamu. Buruan, Zoya!" Zoya pun bingung harus bagaimana. Gama sakit sedangkan Zein sudah memintanya untuk segera pulang. Tidak mungkin dia pulang bersama Gama. Mereka tidak terlalu dekat dan Zein pasti akan bertanya macam-macam meskipun suaminya sudah tau acara apa yang tengah dia hadiri. [Aku tunggu setengah jam dari sekarang! Jika kamu tidak juga datang, maka aku tidak akan segan-segan menghukummu, Zoya!] Kembali pesan dari Zein menghantui pikiran Zoya dan membuatnya bimbang. Dia harus segera pulang tapi belum sempat menolak. Orang itu sudah mendorongnya untuk bergegas pergi. "Cepat Zoya!" "Astaga bagaimana ini?" gumam Zoya bimbang dengan langkah tergesa menuju kamar sesuai dengan arahan dari rekan kerjanya tadi. Zoya melangkah cepat bahkan dia terlihat setengah berlari untuk sampai di kamar itu. "Aku harus buru-buru jika tidak Mas Zein akan semakin marah padaku. Duh Kak Gama lagian sakit apa sich? Padahal aku tadi lihat dia baik-baik saja." Zoya mengetuk pintu kamar yang tertera nomor 125 dengan tergesa. Berulang kali dia melihat ke arah ponselnya takut Zein kembali mengirimkan pesan sedangkan waktu pun terus berjalan. Namun saat dirinya begitu cemas akan keadaan yang mendesak, pintu pun terbuka dan tiba-tiba tangannya ditarik oleh Gama hingga membuatnya tersentak. "Kak!" pekik Zoya. Belum habis keterkejutannya akan itu, dia kembali dibuat kaget ketika Gama mengunci pintu kemudian mendorongnya hingga membentur dinding. Gama pun mengungkungnya hingga ia sulit untuk melarikan diri. Zoya berusaha memberontak tapi kedua tangannya diraih oleh Gama dan diangkat ke atas hingga posenya begitu menantang. "Apa yang Kakak lakukan? Lepas Kak!" bentak Zoya yang tak terima dengan apa yang Gama lakukan padanya. Ada apa dengan pria itu? Kenapa tatapan mata Gama sayu dan terlihat seperti menginginkan sesuatu. Mendadak jantung Zoya berdebar kenceng mendapati Gama yang mulai mengikis jarak padanya. Dia membuang muka saat Gama akan mencumbunya. "Jangan Kak! Menyingkir dari hadapanku! Aku ini Zoya, adik ipar kamu Kak!" Namun Gama seolah tuli. Pria itu kembali menyerang dengan memaksa mencumbunya dan semakin mengeratkan tangannya yang terus memberontak hingga ponselnya pun terjatuh. "Brengsek kamu, Kak! Lepaskan aku, bajingan!" Hancur sudah pertahanan Zoya saat Gama mampu membungkamnya dan menekan tubuhnya ke dinding hingga dia semakin tak bisa berkutik. Sementara ponsel terus berdering hingga membuat pikiran dan hatinya semakin tak karuan. Zoya memejamkan kuat dengan bulir air mata yang tak lagi dapat ia bendung saat Gama terus mencumbu dengan sangat bergairah. Gama membawanya ke ranjang untuk menguasai tubuhnya lebih dalam. "Jahat kamu, Kak!" Keesokan paginya Zoya terbangun lebih dulu. Zoya meringis merasakan sakit di tubuhnya hingga perlahan kedua matanya mulai terbuka kala merasakan hal yang tak biasa. Kedua mata Zoya terbelalak melihat Gama memeluknya dengan posesif. Seketika bayangan akan perlakuan buruk kakak ipar mematik amarah hingga Zoya mendorong tubuh Gama sampai ke pinggir ranjang. Pria itu pun terjaga sedangkan Zoya segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang masih polos. Gama terjaga setelah merasakan itu. Pria itu terkejut melihatnya yang kembali menangis dan menatap penuh amarah. Bukan hanya tubuhnya saja yang sakit tapi hatinya pun sakit ulah laki-laki itu. "Zoya, bagaimana bisa... " Gama menunduk melihat tubuhnya yang tanpa sehelai pakaian pun. "Sial!" "Kamu sudah melecehkanku, Kak! Setan apa yang sudah merasukimu semalam? Sekarang aku kotor, aku hina karena kamu!" bentak Zoya disela tangisnya. Dia beranjak dari sana dan menyerang Gama yang hanya diam tanpa perlawanan dan sepatah kata pun yang terucap. "Aku ini Zoya, istri dari adikmu tapi bisa-bisanya kamu melecehkanku seperti ini. Biadab kamu, Gama!" bentak Zoya yang belum puas untuk memaki. Namun Gama sama sekali tidak melawannya padahal sudah sangat marah pada pria itu. Zoya semakin merasa hina karena Gama dengan santainya beranjak dan mengenakan pakaian tanpa memperdulikannya. "Bajingan kamu, Gama!" Zoya menarik selimut yang membalutnya kemudian mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Zoya pun memutuskan untuk segera pulang setelah dia lelah mamaki tetapi Gama tidak ada tanggapan sama sekali. Semakin hina saja dia saat ini. Zoya pun semakin membenci pria itu. Di saat seperti ini pun dia kepikiran dengan suaminya, apa yang akan ia katakan pada Zein nanti. Kejadian semalam sangat menghancurkan harga dirinya. "Tunggu Zoya!" Gama menahan tangan Zoya yang hendak keluar dari kamar hotel. Namun dengan cepat Zoya menepis tangan pria itu dan menatap tajam wajah Gama yang memperhatikannya. "Jangan lagi menyentuhku, Gama! Jika ada manusia yang paling buruk, itu kamu! Pria bajingan yang pernah aku kenal!"Chapter 74"You exist," Aspen said simply. "That's what you've done. You exist, and as long as you exist, I'll never be enough. Miles will always be comparing me to you. Our parents will always be wishing I was more like you—smarter, more capable, more independent. Everyone will always see me as the lesser sister. The one who only got what she has because you were removed from the equation."The admission hung in the air, brutal in its honesty. This wasn't about Miles. Not really. This was about Aspen's lifelong competition with Ravyn, her desperate need to be seen as equal or superior, her fury at the fact that even after five years in prison, even after a conviction for negligent homicide, Ravyn was still somehow winning."I'm sorry you feel that way," Ravyn said, meaning it. "But I can't fix that for you. I can't make myself less to make you feel like more. I can't sabotage my own life to make you more comfortable. And I certainly can't accept being accused of planning sexual assau
Chapter 73"That's not true," Ravyn said, but her voice sounded weak even to her own ears. "None of that is true. I'm not jealous of you. I'm not plotting against you. I'm just trying to live my life.""By seducing my fiancé," Aspen shot back. "By using his brother to get close to him. By planning to drug him and—""I would never do that," Ravyn said, her voice strengthening with conviction. "I would never drug anyone. I would never force sexual contact on anyone. That's a vile accusation and you know it.""Do I?" Aspen asked, her voice dropping to something dangerously soft. "Because I don't know what you're capable of anymore, Ravyn. You were convicted of negligent homicide. You killed Caroline. Who's to say you wouldn't drug and rape someone if it served your purposes?"The comparison hit like a physical blow. Aspen had just equated Ravyn's conviction—the car accident that had killed their friend, the tragedy that had destroyed Ravyn's life—with premeditated sexual assault. Had dra
Chapter 72She was standing her ground, refusing to show weakness, refusing to let them make her feel ashamed of a relationship that was actually a carefully constructed cover story designed to protect her real secrets.But she could see the frustration building in her parents' faces, the way Nathan and Jeremy were exchanging looks that promised this conversation wasn't over, that there would be consequences for her defiance."You're making a mistake," Garret said finally. "Dante Archer is not the man you think he is. He has his own problems, his own complications. Getting involved with him will only bring you more trouble."Ravyn wondered what her father knew. What information he'd gathered about Dante, what leverage he thought he could use to control this situation. Did he know about Miles's blackmail? About the photos? About the pressure Dante was under from his own family?"Everyone has complications," Ravyn said carefully. "That's life. I'm not looking for perfection. I'm looking
Chapter 71The Hawkins estate loomed before Ravyn like a monument to everything she'd spent five years trying to escape. The perfectly manicured lawns, the imposing architecture, the gates that were meant to keep the world out but felt more like they were designed to keep inhabitants trapped inside—all of it represented the suffocating control her family wielded over everything they touched.Including her.Ravyn pulled Dante's borrowed sedan into the circular driveway and sat for a moment, checking her appearance in the rearview mirror. She looked exactly as she'd intended—disheveled in ways that told a specific story. Her blouse was still slightly askew, her hair mussed from Dante's fingers running through it, the marks on her neck visible despite her attempts to arrange her collar strategically.Evidence. That's what this was. Evidence of a relationship that needed to look real, needed to be believable, needed to provide cover for the actual truth of her connection to Dante.She too












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews