Short
The Things He Withheld

The Things He Withheld

By:  ArdernCompleted
Language: English
goodnovel4goodnovel
10Chapters
475views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

After I started dating Ryan Kellogg, I gave up the little rituals I had loved for twenty years. No birthday cakes. No fireworks on New Year's Eve. No more searching for the restaurant with the prettiest view on our anniversary. Ryan always said real life didn't need all that decorative nonsense. He only agreed to a modest engagement dinner because I insisted. But when he arrived that evening, he was wearing a perfectly tailored suit. Our friends and relatives looked at him with new respect. I was thrilled, convinced he was finally learning to meet me halfway. Then, on the drive home, I happened to see a post from Sophie Bennett, the younger graduate Ryan had been mentoring. In the photo, she stood beside him outside Bellhaven State University, wearing the heirloom brooch his late mother had meant for his future wife. Her caption read: My mentor said he never expected the first time he'd wear a full suit would be for my graduation. I scrolled farther. Ryan had sent Sophie flowers and a cake for her birthday. He'd even helped celebrate the adoption anniversary of her dog. I touched the empty place above my heart and felt something inside me turn cold. His romance was a privilege reserved for Sophie. Our engagement dinner had merely fit into his schedule. As we entered our apartment complex, Ryan tapped the steering wheel. "Han, I gave you the engagement dinner you wanted. Let's just do the courthouse ceremony next week and skip the wedding." I put away my phone and smiled. "All right." He was right about one thing. There was no reason for us to get married.

View More

Chapter 1

Chapter 1

"Kayla, ambilin handuk!" Suara teriakan Axel terdengar dari kamar mandi, membuat tanganku yang sedang mengoles kream tabir surya ke wajah mendadak terhenti.

​Aku menoleh ke arah kamar mandi dengan dahi berkerut. "Ambil aja sendiri! Lo kan punya kaki!"

​"Lo mau gue becekin kamar lagi? Nanti lo jangan marah ya!"

​"Sialan, lo!" rutukku dengan wajah masam. 

Aku meletakkan botol kream ke meja rias dengan gerakan kasar, lalu meraih handuk di kasur untuk mengantarkannya ke kamar mandi.

Dari pintu kamar, aku melihat ruang shower yang tertutup kaca itu penuh dengan uap air hangat yang menutupi sebagian dindingnya, membuat pandanganku ke bagian dalam tampak buram.

Dengan dada yang masih diliputi amarah, aku langsung membuka pintu kaca sambil mengomel. 

​"Makanya kalau mandi siapin dulu semuanya. Jangan lang—" Kalimatku seketika terhenti setelah mataku menangkap tubuh bugil suamiku yang terekspos begitu jelas tanpa sehelai benang pun. 

Mataku sempat membulat dan tertahan di daerah vitalnya selama beberapa detik sebelum akhirnya membuang muka demi membersihkan mataku dari noda dan dosa. 

Brengsek! Kenapa aku harus melihat benda itu pagi-pagi begini?

Aku menggigit bibir bawah sambil memejamkan mata, lalu mengulurkan handuk padanya dengan gerakan ragu. ​"Cepetan ambil!"

Namun, Axel seperti sengaja ingin mengerjaiku. Aku mendengar suara kekehan kecil lolos dari bibirnya disusul suara percikan air bekas langkah kakinya yang mendekat.

​"Ngapain lo tutup mata? Bukannya lo udah sering liat gue bugil?"

​Benar. Selama hampir satu tahun menjalin pernikahan rahasia dengan sepupuku itu, kami sudah biasa saling melihat tubuh polos kami. Meski begitu, kami sama sekali tidak tertarik untuk melakukan hubungan badan. 

Ya mana mungkin kami bernafsu untuk melakukan hubungan itu? Axel adalah kakak sepupuku dari pihak Ibu. Kami yang hanya terpaut usia lima tahun sudah terbiasa bermain bersama sejak kecil. Tapi gara-gara wasiat sialan dari Papaku, kami akhirnya terpaksa menikah.

​"Gue geli lihat pentungan lo. Cepet nih, ambil handuknya!" teriakku dengan mata yang masih terpejam erat.

​Namun, bukannya mengambil handuk, Axel justru menarik tanganku. Ia memutar tubuhku dengan cepat dan mendekapku erat dari belakang.

Aku bisa merasakan tubuhnya yang masih basah, menembus kain piyamaku yang tipis. Aku bahkan bisa mencium wangi bergamot dari sabun favorit Axel yang maskulin.

Untuk beberapa saat, tubuhku membeku dalam dekapannya. Aku hampir saja lupa, bahwa pria di belakangku ini adalah kakak sepupuku yang menikah denganku karena terpaksa. Sampai akhirnya setetes air jatuh dari ujung rambutnya, tepat mengenai bulatan dadaku yang masih bebas dari balutan BH. 

Aku terperanjat dan langsung memberontak sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari kungkungannya. ​"Axel! Apaan sih, lo?! Lepasin gak?!" 

​Namun, postur badannya yang jauh lebih tinggi dariku, serta tubuhnya yang tegap membuatku kesulitan untuk melawan. Ia justru semakin mengeratkan dekapannya, hingga membuatku kesulitan untuk bergerak.

​"Lo nggak biasanya grogi gini. Jangan-jangan... lo mulai naksir gue, ya?" godanya di ceruk leherku.

Aku berusaha menyikut​ perutnya sebisa mungkin. "Gak usah kepedean deh, lo!" Lalu menjauhkan wajah untuk menghindari wajah Axel yang semakin mendekat. "Ngapain juga gue naksir sama cowok ingusan kayak lo." 

Nada suaraku terdengar ragu di telingaku sendiri. Meski aku yakin tidak mungkin menyukainya, entah kenapa dadaku justru berdesir saat mengucapkan kalimat itu.

​"Serius, lo?" godanya lagi tepat di lubang telingaku.

​

Dalam sekejap, bulu kudukku meremang setelah suaranya yang serak menggelitik lubang telingaku. Ditambah lagi, tonjolan dari kejantannya yang begitu dekat terus menggesek bokongku yang masih belum mengenakan pakaian dalam.

​"Axel, gue nggak bercanda ya. Cepat lepasin gue!"

​Bukannya menurut, dia justru mendorong tubuhku hingga menempel ke dinding kaca, mengunci pergerakanku di sana.

"Ah! Axel!" Pekikku begitu tubuhku menempel di dinding kaca. "Sialan lo ya! Lepasin gue bilang!"

​"Kenapa gue harus nurut? Lo kan istri gue. Jadi... gue boleh dong nikmatin tubuh lo."

Deg! Jantungku seketika mencelos. Entah kalimat itu hanya godaan atau bahasa spontan yang lolos begitu saja dari mulut pria normal sepertinya.

Namun yang pasti, kalimat itu sukses membuat detak jantungku semakin tak terkendali. 

'Sial! Aku tidak mungkin punya keinginan untuk bercinta dengannya, kan?' rutukku dalam hati.

Tidak. Jangan sampai itu terjadi. Aku yakin respon tubuhku ini terjadi karena usiaku yang saat ini sudah lebih dari sembilan belas tahun. Kemungkinan hal ini disebabkan oleh dorongan hormon di tubuhku yang sedang bergejolak.

​"Lo jangan bercanda, Axel. Kita sudah sepakat gak akan ngelakuin itu. Lagipula lo sepupu gue! Lo tega?!"

​"Tapi gue cowok normal, Kayla..." sangkalnya dengan tegas diiringi seringai nakal.

Aku sangat mengerti di usia Axel yang sudah dua puluh empat tahun, ia pasti memiliki keinginan yang besar untuk melakukan seks. Di tambah lagi dia adalah pemain basket yang mempunyai stamina tinggi. 

Tapi tetap saja, aku adalah sepupunya. Rasanya masih sulit dipercaya jika aku harus berhubungan badan dengan pria yang sudah sering bermain denganku sejak kecil.

​Lagipula, di kampus Axel terkenal sebagai cowok playboy yang punya banyak cewek. Aku yakin dia pasti sudah sering berhubungan badan dengan cewek-cewek itu. Jadi... tidak ada alasan dia harus menyentuhku juga.

"Gue nggak mau!" tolakku, lalu berbalik badan menghadapnya saat mendapat celah. "Lo kan punya banyak cewek. Main aja sama mereka. Jangan gue!"

Dengan gerakan cepat, aku menyundul alat vitalnya yang bergelantungan bebas  menggunakan lutut.

"Aww!" Axel memekik sambil mencengkeram keperkasaannya itu dengan kedua tangan.

Bersama dengan itu, aku langsung mendorongnya dan berusaha untuk melarikan diri.

"Kayla!"

"Sorry... gue terpaksa!" Aku berlari sekencang mungkin hingga keluar kamar.

Namun sialnya, Axel berhasil menangkapku tepat di ruang dapur dengan tubuh yang masih telanjang, lalu mendekap tubuhku dari belakang. "Lo pikir bisa lari dari gue?"

"Lepasin gue Axel! Lo nggak benar-benar ingin bercinta sama gue, kan?!"

"Gue mau..." sahutnya, sukses membuatku sangat shock.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status