ログインMy husband, my son, and the woman who stole them, broke me into pieces. I was the perfect wife, the perfect mother… until I became invisible. So I walked away with nothing but my name and a promise: I’ll rise again. Then a dangerous and ruthless billionaire suddenly appeared before me. He looked at me like I was the only woman alive and said, “Marry me, Rosemary… and I’ll make the world kneel at your feet.” I told myself it was just a deal. But how do you walk away from a man who heals your scars with his touch and burns your soul with his love?
もっと見る“Kau dipecat, dr. Bagaskara.”
Suara lantang dari ketua komite etik rumah sakit membuat Bagaskara terdiam. Ia berdiri dengan tubuh yang kaku. Jemarinya menggenggam map laporan medis yang isinya sudah ia hafal di luar kepala. Ia dituduh lalai dalam mengerjakan tugasnya. Seorang pasien meninggal dunia akibat kekeliruan resep yang ia berikan. Tidak ada bantahan keluar dari mulut Bagas. Laporan hasil lab menjadi bukti kuat atas kelalaiannya. Dua minggu lalu, ia ingat dan yakin jika obat dan resep yang ia berikan benar. Ada kejanggalan di sini. Namun tidak ada yang bisa ia lakukan, semua bukti menguatkan tuduhan itu. Bagas tertunduk dengan wajah kecewa. Ia sempat melirik ke sudut ruangan. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian elegan, Madame Renata, duduk sebagai salah satu anggota dewan kehormatan. Ia tampak tersenyum saat putusan pemecatan Bagaskara dijatuhkan. Sidang selesai, semuanya bubar. Bagas berjalan keluar meninggalkan gedung rumah sakit yang kini bukan lagi rumahnya. Jas putih tergenggam di tangannya. Ia menerima amplop pesangon, jumlah yang tidak sepadan dengan karirnya yang hancur hari ini. Langit mulai mendung, gerimis perlahan jatuh mengiringi langkahnya menuju ke apartemen. Apartemen yang ia beli atas nama kekasihnya, Tania. Dua bulan lagi mereka dijadwalkan akan menikah. “Apa yang harus aku katakan pada Tania?” batinnya lirih. Bagas sadar, kehancuran karirnya hari ini mungkin akan mengecewakan Tania. Apalagi mereka akan menikah dua bulan lagi. “Bagaimana ini?” Ia benar-benar kehilangan arah. Bagas langsung mempercepat langkahnya. Ia ingin segera di tiba di apartemen. Tania adalah satu-satunya rumah yang ia pikir dapat menggenggam luka ini bersama. Bagas akhirnya tiba di sana. Bajunya sedikit basah akibat gerimis yang sedari tadi seolah menertawakannya di luar. Tangannya terangkat ingin mengetuk, namun berhenti di udara. Raut wajahnya langsung berubah, rahangnya mengeras, darah mendidih di ubun-ubunnya. Samar, ia mendengar suara desahan Tania dan tawa laki-laki dari dalam. Desahan yang terdengar sangat manja, bahkan lebih manja dari yang selama ini ia dengar. “Tania! Buka!” Bagas menggedor pintu dengan kasar hingga menimbulkan suara yang begitu nyaring. “Buka, Tania!” Samar dari dalam terdengar langkah kaki mendekat. Pintu perlahan terbuka. “Kau!” Darahnya mendidih, jantungnya berdetak kencang. Seorang lelaki yang ia kenal berdiri di depan pintu dengan senyum penuh kemenangan. Dr. Yanuar, rekan sejawat Bagas. Jas yang sedari tadi ia genggam jatuh, saat melihat Tania di dalam dengan keadaan yang hampir tanpa busana. “Apa yang kau lakukan disini, bajingan?” Bagas mencengkeram leher Yanuar, namun dengan cepat ditepis dan di dorong ke belakang. Yanuar terkekeh pelan. Ia berjalan masuk ke dalam dan duduk di sebelah Tania yang masih di sofa. Sambil mengecup pipinya pelan, Yanuar berkata. “Lihatlah Tania, itu calon suami yang kau bangga-banggakan dulu?” Bagas semakin geram, tangannya mulai mengepal. “Dia hanya dokter sampah, dia pembunuh.” Yanuar kembali menoleh ke arah Bagas. “Dasar dokter gadungan,” katanya pelan namun begitu menusuk jantung Bagas. Bagas tercengang, dia kaget sekaligus heran. “Kau… dari mana kau tau itu?” Yanuar sama sekali tidak pernah ada di rapat komite. Bagaimana ia tahu semua ini? Yanuar kembali bangkit namun kini sambil merangkul pinggang mulus Tania. “Haha. Bagas, Bagas, kau memang pantas seperti ini. Dan Tania…” ia melirik ke arah gadis itu sambil mengelus pipinya. Lalu kembali menoleh ke arah Bagas dengan senyum licik di bibirnya. “Dia pantas mendapatkan yang lebih baik dari sekedar sampah sepertimu.” Darah Bagas langsung mendidih, kesabarannya telah habis. Ia langsung menerjang dan menghajar Yanuar. Namun sayang, postur tubuh yang jauh berbeda membuat Bagas babak belur disana. “Tania…” lirih Bagas sambil meringkuk di lantai menahan sakit. Namun wanita itu hanya tersenyum puas, seolah hubungan mereka selama ini tidak ada artinya. “Benar kata Yanuar. Kau sampah, Bagas.” Kata-kata itu begitu menyakitkan menembus relung hati Bagas. Hari ini, ia telah ditinggalkan oleh karirnya. Tania satu-satunya harapan Bagas untuk bertahan. Namun, harapan itu kini kembali di hempaskan. Dengan tega, Tania mengucapkan kalimat yang jauh lebih pedih daripada sayatan pedang. “Keluar!” bentak Tania. Bagas hanya bisa pasrah saat Yanua menyeret dan melemparnya keluar dari apartemen yang ia beli susah payah demi Tania. Namun kini, yang menikmatinya malah orang yang berbeda. Sebelum kembali menutup pintu, Tania berteriak dengan lantang. “Kau pikir aku mau menikah dengan pecundang sepertimu, Bagas? Pecundang yang bahkan tidak mampu menjaga pekerjaannya sendiri.” Kata-kata itu begitu menusuk, apalagi keluar dari mulut wanita yang selama ini ia perjuangkan. “Pergi!” bentaknya kembali. “Sudah sayang, jangan rusak kecantikanmu untuk memarahi sampah seperti dia.” Yanuar kembali merangkul pinggang Tania. Membuat hati Bagas semakin berdarah. Tania tersenyum, senyumnya begitu manis. Namun, bagi Bagas senyuman itu begitu pahit—karena kini bukan lagi ditujukan untuknya. “Pergilah pecundang, kau mengganggu saja!” Brak! Pintu ditutup dengan keras hingga udara menampar wajah Bagas. Samar dari dalam suara tawa dan desah halus kembali terdengar. Bagas berdiri mematung sejenak di depan, lalu membungkuk mengambil jas putih yang kini tidak lagi ada harganya. Sebelum pergi, Bagas menatap kembali pintu apartemen itu—apartemen yang menjadi saksi antara luka dan perjuangannya. Bagas melangkah meninggalkan tempat yang seharusnya akan dia huni bersama Tania kelak. Di luar, hujan semakin deras. Setiap rintik yang menetes di bahu seolah terus menertawainya. Ia berjalan pelan sambil sesekali terhuyung. Semua dunianya hancur hari ini. Semua harapan yang dia pupuk selama ini gugur seketika. Memar di wajah, lebam di tubuh tidak seberapa dibandingkan rasa sakit hati yang ia alami saat ini. Dari kejauhan, suara deru mobil terdengar. Bagas berhenti saat sedan hitam menepi di depannya. Kaca jendela turun, wajah yang tidak asing terlihat di sana—Madame Renata. “Aku turut prihatin atas pemecatanmu, Bagas. Dunia medis kadang tidak selalu adil untuk orang jujur sepertimu,” ucap Ranata manis, menatap Bagas dengan senyum tipis. “Kalau anda hanya ingin mengasihani saya, pergi saja. Saya tidak butuh itu.” Bagas berjalan melewatinya, ia sama sekali tidak peduli. “Aku tidak mengasihanimu. Aku hanya sedang mengambil apa yang sudah menjadi milikku sejak awal.” Kata-kata itu membuat Bagas berhenti, dan kembali menoleh. “Ambil ini.” Madame Renata memberikan sebuah kartu nama berlogo Re:Vive — Klinik Rehabilitasi untuk Para Istri. Renata tersenyum, tatapannya begitu tajam dan penuh makna ke arah Bagas. “Datanglah kesana. Kau akan bekerja untukku. Kau akan menyembuhkan mereka dengan cara yang tidak pernah diajarkan di tempat manapun.” Setelah menyerahkan kartu tersebut, Renata kembali pergi meninggalkan Bagas di ujung jalan dengan tanda tanya di kepala.Rose I drove home with my heart pounding so hard I swore it might burst right out of my chest. Mr handsome scent still clung to me, clean, warm, and masculine, and every time I breathed it in, a flutter swept through my stomach. Without realizing it, a smile tugged at my lips, the kind of smile I hadn’t worn in years. Lord, what is wrong with me?When I pulled into the driveway and stepped inside, the first thing I saw was Lucas and Eva at the dining table, eating the breakfast I had made hours ago. Oh, so they came home last night without even telling me.“Good morning,” I greeted them with a smile that felt almost foreign on my face.They both looked at me like I had grown two heads. Normally, that stare would have pierced straight through me, but not today. I won't allow their silence to destroy the lightness blooming in my chest.I headed upstairs, changed out of my clothes, and began my chores. Of course, I did them alone. I have no house help. Lucas said it was better for m
Rose I couldn’t stop staring at Mr handsome while he looked at me with that warm, devastating smile.My voice came out in almost a whisper. “Uhm… are you saying that I’m… beautiful?”It sounded silly even as I said it, but God… I couldn’t remember the last time anyone called me that.“Yes,” he said without hesitation. “You are. In fact…” His gaze lingered on me, like he was memorizing every inch of my face. "You are the most beautiful woman I have ever seen.”I wanted to laugh it off, brush it away like an obvious lie, but the sincerity in his voice stopped me, and before I knew it, I believed him.“Thank you,” I said, lowering my eyes, feeling a shy smile tug at my lips.God, what’s wrong with me today? I probably need a doctor, yes, someone to check if my brain has been replaced with marshmallow because I can’t remember the last time I felt like this.“Hey, are you alright?” His sweet, velvety voice pulled me out of my haze.“I’m fine,” I murmured quickly. “Uhm… I should leave.” I
RoseI froze, my breath caught in my throat, as I stared at the man standing before me.He wasn’t just handsome, he was devastatingly, dangerously handsome. The kind of man you would see on the cover of a luxury magazine and think, men like this don’t exist in real life.His piercing blue eyes held me still, like they could see right through my skin, right into my soul.The way he carried himself told me everything; this isn't just a man; this is power, money, and elegance wrapped into one breathtaking package. His suit jacket hung casually over his left shoulder, the fabric a deep charcoal that whispered expensive without needing to shout it. The white shirt he wore was crisp and perfectly tailored, the sleeves rolled up to reveal strong, veined forearms that looked like they belonged in a high-end cologne ad. Even the silver watch on his wrist glinted in the soft light like it was worth more than my car.“Are you okay?” he asked, his voice low, smooth, and edged with concern.God.
RoseThe pain in my head dragged me out of sleep like a heavy hand yanking me back into reality.I winced as I sat up, my fingers pressing against my temples. It felt like my skull was splitting. I turned my head slowly to the side and glanced at the clock.5:15 a.m.I didn't even know if I slept at all.I couldn’t remember walking into the house last night… I just remembered the stares, the whispers, the laughter and Lucas' voice echoing in my ears, calling me fat, ugly, useless… right in front of everyone.I closed my eyes and inhaled deeply, trying to push his voice out of my head... but it clung to me like a second skin."What did I do to deserve this?" I thought to myself. "Where did I go wrong?"Dragging my feet, I walked to the tall mirror standing in the corner of the room. I stared at my reflection for a long time, longer than I ever dared to before. My eyes looked tired. My face… empty.Slowly, I lifted my oversized shirt and stared at the scar that curved across my stomach
RoseI stood in the middle of the crowd, my heart pounding with hope, then slowly twisting into fear as my eyes darted from face to face, scanning every corner of the room.But he wasn’t here.It was Lucas, my husband's birthday. I spent weeks planning this celebration, staying up late decorating,
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.