The Unchaste Punishment

The Unchaste Punishment

last updateDernière mise à jour : 2021-06-05
Par:  MaidenRose7En cours
Langue: English
goodnovel16goodnovel
10
3 Notes. 3 commentaires
24Chapitres
6.1KVues
Lire
Ajouter dans ma bibliothèque

Share:  

Report
Overview
Catalog
Scanner le code pour lire sur l'application

Synopsis

Zaki Delrama was known as a successful businessman at a young age. All his business is legal, so he has nothing to worry about like the business of his childhood friend and beloved Ian Mercado, who is a smuggler. Even though he loves Ian, he still gave him to Nate because Nate is what Ian really wants (must read the story It's Just I Love You.) He would have decided to leave Crown University to forget his childhood love, because that was the only thing he went to CU, but when he and his group were leaving CU, when Sharian Roden's group ambushed them. He overcame Roden's audacity but when he found out that Roden had set fire to his three establishments, he was there to find a way to punish the girl, for her audacity and her fearlessness towards him. Will he tame her, or he will kneel down to ruthless gangster chic? Sharian Roden Indelcio, a woman known for being stubborn, arrogant and ruthless. Just because she is the sister of Stygian Beast lord Stan Elthen Indelcio, she has the courage to hurt, steal and trample others. Stygian's habit of collecting money at any business in Cordova City. Every end of the month Roden travels throughout Cordova City to collect money and property from establishments, bars, clubs, restaurants, hotels and other businesses in the City. If the owners of the establishment do not give money, she destroys or burns the building or establishment that does not pay or give properly ... She is a tyrant and proud, no one can tame her until Zaki Delrama came to punish her!

Voir plus

Chapitre 1

PROLOGUE

“Heiii ... kamu mo ngapain berdiri di situ? Kamu mo merampok ya?” bentak seorang pria gagah di balik pagar hitam yang tinggi itu.

Si pemuda di balik pagar itu seketika memundurkan badannya dari pagar hitam itu karena kaget dengan bentakan bapak-bapak yang ada di balik pagar.

“Gak, Pak! Ehmmm ... anu, Pak ... saya mo ketemu Ibu Sonya!” jawab Arya yang juga memundurkan wajahnya dari pagar besar itu dengan suara gemetaran karena lumayan takut melihat pria bertubuh kekar dan besar di balik pagar itu.

Tak lama kemudian, pintu pagar hitam itu pun terbuka sedikit dan menyembulkan kepala pria kekar tadi.

“Gimana, Mas? Tadi saya kurang dengar!” ucap pria itu yang sekilas kalau dilihat sangat mirip dengan artis pemeran film laga tempo dulu, yaitu Advent Bangun.

Terlihat otot-otot lengan yang besar milik pria itu sangatlah menonjol, juga dengan dada sixpack-nya, karena sang pria hanya menggunakan celana panjang yang digulung hingga dengkulnya.

Tangannya terlihat membawa linggis besi. Hal itu membuat Arya makin ketakutan melihatnya.

“Aa ... aanu, Pak ... sesss ... sssaya mo ketemu Ibu Sonya!” ucap Arya mengulangi ucapannya tadi.

“Ada perlu apa dengan Ibu Sonya?”

“Saya mo melamar jadi sopir, Pak!” jawab Arya sambil agak membungkukkan tubuhnya untuk sedikit memberi hormat kepada pria besar itu.

“Kamu sudah ada janji dengan beliau?” tanya pria itu lagi.

“Ehmm ... sudah, Pak!” jawab Arya sambil sedikit melirik sebagian penampakan bagian depan rumah besar itu.

“Tunggu di sini!” balas sang pria. Pria itu pun memencet sebuah tombol di dekat pintu pagar, semacam interkom, untuk menghubungi seseorang.

“Halo, Bu Sonya. Ini ada laki-laki muda datang, katanya mo melamar jadi sopir!”

“Owh, suruh masuk aja, Pak Dirman!” terdengar suara perempuan di interkom itu, yang mungkin saja itu Ibu Sonya yang ingin ditemui Arya sore itu.

“Baik, Bu!” ucap pria kekar itu yang terdengar dipanggil dengan nama Dirman.

“Oke, Mas. Masnya disuruh masuk!”

“Terima kasih, Pak!”

Arya pun diantar masuk sampai ke teras halaman depan rumah itu dan Arya terbelalak melihat interior bagian depan rumah itu yang ternyata itu benar-benar rumah mewah. Seluruh bentuk interiornya bagaikan istana raja-raja yang suka Arya lihat di buku-buku dongeng kala kecil dahulu.

Terlihat taman yang sangat indah dan juga kolam ikan yang cukup lebar terhampar di bagian depan rumah mewah itu.

Belum lagi tanaman-tanaman yang berwarna-warni yang kayaknya itu tanaman berharga mahal yang menghiasi halaman depan rumah besar itu.

Cukup lama Arya duduk di bagian teras rumah mewah itu.

Saking lamanya, Arya mencoba membuka kembali sosmed I*-nya untuk mengecek kembali percakapan DM Arya dengan Ibu Sonya.

Adapun Arya bisa sampai di tempat ini karena secara tidak sengaja menemukan akun I* Ibu Sonya dan membaca salah satu posting-an Ibu Sonya itu kalau ada info lowongan pekerjaan sebagai sopir di rumah ini.

Arya kembali membuka-buka beberapa posting-an Ibu Sonya yang sekilas nampak sangat cantik dengan topi lebarnya.

Di beberapa posting-an, Arya melihat Ibu Sonya ini sering berada di lokasi-lokasi yang eksotis seperti pantai dan juga hotel-hotel mewah yang dekat dengan lautan.

Setelah menunggu kurang lebih setengah jam lamanya, akhirnya pintu besar di bagian depan rumah mewah itu sedikit terbuka dan muncul seorang perempuan sekira-kira umuran 35 tahun, kulit sawo matang, berwajah manis dengan tubuh yang cukup ideal untuk mempersilakan Arya masuk ke dalam untuk duduk di ruang tengah rumah mewah itu.

“Dengan Mas Arya ya?” tanya sang perempuan itu.

“Iya betul, Mbak,” jawab Arya dengan sopan sambil tersenyum.

“Ayo masuk ke dalam, Mas Arya!”

Arya pun mengikuti ke mana si perempuan itu berjalan. Arya makin terbengong-bengong melihat seluruh isi rumah besar dan mewah itu.

“Monggo, silakan Mas Arya duduk dulu di sini, karena Ibu Sonya masih di lantai atas,” ucap perempuan itu dengan senyum manisnya.

Arya pun duduk sambil tetap menatap kagum dengan seluruh isi dan interior rumah mewah itu.

Ia pun melihat ada tangga putih yang cukup lebar anak tangganya dengan warna putih meliuk sampai ke atas.

Tebakan Arya mungkin kamar Ibu Sonya itu ada di atas tangga itu.

“Oiya, Mas Arya mo minum apa?” tanya si perempuan yang nampak memakai baju semacam kebaya dengan belahan dada cukup rendah sehingga agak terlihat belahan dadanya yang cukup membuat mata Arya terkesiap melihatnya.

“Apa aja, Mbak. Maaf merepotkan!” ucap Arya sambil tersenyum lagi.

Seketika perempuan itu pun berlalu. Saat berbalik badan, nampak sekali tubuh semok si perempuan tadi dengan baju kebaya rumahan dan rok batik yang ia pakai.

Bentuk pinggulnya yang proporsional kembali membuat mata Arya terkesiap dan jakunnya naik turun melihatnya.

Nampaknya perempuan montok itu seorang asisten rumah tangga di rumah mewah itu.

Tak lama kemudian, si perempuan sudah kembali dengan membawa baki berisi segelas teh hangat plus dua toples berisi kue nastar dan kue keju yang biasanya sering muncul di momen-momen Lebaran.

“Ayo, Mas. Monggo diminum dan dicicipi dulu kuenya!” ucap si perempuan tersenyum dengan sopan.

“Baik, Mbak. Terima kasih, Mbak!” ucap Arya sambil mencoba menyeruput gelas yang berisi air teh hangat itu.

Sementara waktu sudah semakin sore mendekati pukul 18.00 sore, yang artinya sebentar lagi azan Magrib akan bergema.

“Gimana, Mas? Rasanya teh buatan saya?” tanya si mbaknya.

“Wahhh ... enak, Mbak ... Mbakkk ...?” ujar Arya sambil bermaksud menanyakan nama perempuan itu.

“Tini, Mas. Nama saya Surtini. Panggil saja Mbak Tini!” ujar Mbak Tini sambil tersenyum menyodorkan tangan kanannya untuk berjabat tangan.

Mereka pun saling berjabatan tangan karena Mbak Tini tahu kalau Arya ini akan menjadi bagian dari rumah itu ke depannya jika memang benar nantinya jadi bekerja sebagai sopir untuk Ibu Sonya.

“Terima kasih atas teh manisnya. Enak, Mbak Tini!” ujar Arya lagi yang kali ini dengan nada yang lebih lepas karena mencoba lebih akrab dari sebelumnya.

Karena Arya pun tahu kalau ia jadi bekerja di situ akan sering bercengkerama dengan Mbak Tini dan juga Pak Dirman tadi.

“Syukurlah kalo Mas Arya suka. Ayo Mas Arya dicoba juga donk dengan kue-kuenya. Itu aku bikin sendiri loh, Mas!” pinta Mbak Tini sambil membuka kedua penutup toples itu untuk mempersilakan Arya mencicipi kedua kue itu.

Arya pun menurut dan mengambil masing-masing satu kue, baik kue nastar maupun kue keju.

“Hmmm ... enak banget, Mbak. Wah, Mbak Tini ini kayaknya memang jago bikin minuman dan makanan!” ujar Arya sambil mengunyah kedua kue tersebut.

Terlihat Mbak Tini tertawa kecil dan merasa puas dengan ucapan Arya tadi.

“Syukurlah kalo Mas Arya suka!”

Baru saja Mbak Tini selesai berucap, tiba-tiba terdengar langkah kaki dari atas tangga yang mengarah turun ke bawah.

Tak tok tak tok tak tok!

Ternyata itu bunyi suara sepatu sandal dari Ibu Sonya.

Seketika Mbak Tini pun memberitahukan Arya kalau yang sedang berjalan dari tangga atas itu adalah Ibu Sonya.

“Tiniiii ... sudah kamu sediakan tamu kita minuman dan makanan?” teriak suara perempuan cantik yang sedang berjalan turun di tangga lebar itu.

Arya pun mendongak ke atas, matanya tertuju ke arah suara perempuan tadi.

Nampaklah di pandangan Arya yang bikin Arya takjub karena Ibu Sonya yang ia sempat lihat di akun I*******m-nya itu ternyata jauh lebih cantik aslinya saat Arya melihat langsung.

Perempuan yang bernama Sonya itu berkisar umur 40 tahun, berkulit putih bening, dan bertubuh sintal berbalut baju tidur dengan rambutnya ditutupi handuk yang melibat kepalanya.

Wajahnya sangat mirip dengan bintang film India Kareena Kapoor yang cantik dan seksi.

Bibir Ibu Sonya terlihat tebal dan matanya besar. Ia saat itu memakai baju tidur berbahan handuk halus dengan bagian atas baju tidurnya agak terbuka, sehingga dada putih bagian atasnya agak terlihat sangat bening dan mulus.

Sangat terlihat kalau Ibu Sonya itu rajin perawatan tubuh.

“Wah, Ibu Sonya abis mandi ya, Bu?” ujar Mbak Tini yang tetap saja ikut terpesona melihat sang majikan, padahal ia telah bertahun-tahun bekerja di rumah itu, namun tetap saja Mbak Tini sangat mengagumi kecantikan sang majikan.

“Ya, Mbak. Aku cukup kecapean kemarin pulang larut malam sehingga seharian tadi ketiduran cukup lama dan baru tadi baru sempat mandi!” balas sang majikan.

“Sekarang Mbak Tini boleh pergi dari sini. Saya mo interogasi dulu ini anak!” ucapnya sambil melirik Arya dengan pandangan yang dingin.

“Baik, Bu!” ujar Mbak Tini sambil menatap sebentar ke wajah Arya. Dalam hatinya, Mbak Tini bergumam kalau menurutnya Arya terlalu ganteng untuk menjadi sopir karena melihat perawakan Arya.

Arya memiliki kulit putih bersih, berwajah tampan dengan hidung mancung, rambut cepak seperti tentara, nampak seperti sosok artis Adjie Massaid.

Bibir Arya juga terlihat seksi untuk ukuran seorang laki-laki.

Déplier
Chapitre suivant
Télécharger

Latest chapter

Plus de chapitres

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

commentaires

Delinda Schumacher
Delinda Schumacher
24 chapters 1-23-23
2023-01-24 00:50:50
0
0
aitotch
aitotch
..............................
2021-09-20 20:22:06
0
0
Reynang Elena
Reynang Elena
...️...️...️...️...️
2021-07-26 15:59:24
0
0
24
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status