LOGINA suspenseful, thought-provoking and erotic full-charged thriller, based on the psychological effects of being raised by a sociopath pimp and passive aggressive prostitute. From the perspective of the eldest of two daughters; successful musical A&R Edily Graham is faced with her past addictions and mental anguish after the shooting death of her abusive father. Along with a career on the rise, a new home in the beautiful Lake Shore neighborhood of Chicago, and an awkward yet sudden break-up from her “Mr. Right, Maleek, Edily finds herself slipping over the edge with countless nights of sex, drugs & hallucinations from her past.
View MoreBrakk!
Sebuah suara keras terdengar begitu menggema seiring dengan suara mesin mobil yang terdengar. Di depan sana, tubuh manusia terpental beberapa meter jauhnya diiringi dengan rintihan rasa sakit yang memilukan.Seorang pria yang mengendarai mobil tersebut nampak terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Napasnya terdengar tak beraturan. Ia telah menabrak seseorang yang entah itu siapa. Dan yang membuat dia takut adalah tentang bagaimana keadaan orang itu.
Dengan sedikit keberanian yang ia punya, ia paksa kakinya untuk melangkah turun dari mobil. Didekatinya seorang perempuan yang kini telah terbujur lemas dengan suara yang tak lagi terdengar. Jantung pria itu dibuat berdetak jauh lebih cepat dari biasanya. Setiap langkahnya adalah sebuah keraguan. Tangannya gemetar di kala ia menyingkap rambut yang menutupi wajah perempuan itu.
"M-Marni," ucapnya gemetaran.Ia hampir tak dapat menyangga tubuhnya untuk tetap tegak. Rupanya perempuan itu adalah perempuan yang ia kenali. Tangannya kembali gemetar ketika ia mengecek denyut nadi perempuan itu."Tidak mungkin," ucapnya. Wajahnya menandakan kalau ia sangat ketakutan.Dia perlahan mundur dari sana. Tak bisa ia percayai bahwa ia sudah membunuh seseorang. Ketakutan menyelimuti hatinya. Kini bukan hanya tangan saja yang gemetar, melainkan juga sekujur tubuh. Ia tak tahu harus melakukan apa pada mayat yang ada di depannya itu.Malam ini keadaan cukup sepi. Tak ada orang lain di tempat itu selain mereka berdua. Masih dengan ketakutan yang teramat besar, pria itu mencoba untuk mendekati tubuh si perempuan.
Cukup lama ia berdiam diri, hingga akhirnya terlintas sebuah ide di pikirannya untuk mengubur jasad korban. Mengingat lokasinya yang jarang didatangi oleh orang-orang, ia kira tak akan pernah ada yang menemukan jasad perempuan itu jika ia menguburnya.
Dengan alat seadanya, ia pun mengubur tubuh tak bernyawa itu sampai benar-benar terpendam di dalam tanah. Ia tahu kalau itu adalah tindakan yang jahat. Tapi ia juga tak mau masuk penjara jika ada yang tahu kalau perempuan itu terbunuh olehnya.
"Maafkan aku, Marni. Aku terpaksa melakukan ini," ucapnya setelah berhasil mengubur jasad korbannya.Lalu setelah itu, ia buru-buru masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana.***Dua hari setelahnya, sosok Marni banyak diperbincangkan oleh para tetangganya. Sekedar informasi, Marni adalah seorang janda muda yang hidup sebatang kara. Sudah sejak lama ia hidup sendirian. Terakhir kali ia mempunyai teman hidup adalah ketika suaminya masih hidup. Dan ketika sang suami telah tiada, dia benar-benar hidup sendirian. Menurut pandangan para lelaki, dia itu cukup cantik. Karena itulah, melalui kecantikan yang ia miliki, ia seringkali menggoda para lelaki di desanya. Hal itulah yang membuat beberapa ibu-ibu geram dibuatnya.
"Ibu-ibu, itu si Marni ke mana, ya? Sudah dua hari nggak kelihatan," ucap seorang wanita paruh baya kepada yang lainnya."Nggak tahu, Bu. Saya juga belum lihat," ucap yang lainnya.
"Udah biarin aja. Paling dia lagi di hotel sama pasangannya."
"Hus. Jangan gitu Bu Endang. Jangan asal bicara!"
"Asal bicara gimana sih, Bu. Semua orang juga tahu kali kalau dia itu wanita jalang. Lihat aja tuh pakaiannya. Dia juga sering pulang larut malam. Apa coba kalau bukan wanita jalang?"
Beberapa orang yang ada di sana manggut-manggut, seakan menyetujui apa yang dikatakan oleh Bu Endang. Mereka bahkan sampai lupa tentang rasa simpati yang harusnya ada di dalam diri mereka di kala salah satu tetangganya telah hilang selama dua hari.Berita hilangnya Marni pun semakin tersebar di seluruh pelosok desa. Ada beberapa orang yang memberanikan diri untuk masuk secara paksa ke rumah janda muda itu. Pintu rumah yang terkunci tentunya menyulitkan mereka untuk masuk. Namun itu tidak menjadi masalah yang besar. Dengan segala cara mereka pun akhirnya bisa membuka pintu tersebut.
Pencarian pun dimulai dari sana. Seluruh penjuru ruangan telah digeledah. Tapi sosok Marni tak kunjung ditemuinya. Alhasil mereka pun keluar ruangan tanpa hasil apapun.
"Marni gak ada. Apa Pak Aryo selama dua hari ini juga tidak pernah melihat dia? Bukannya Pak Aryo adalah tetangga terdekatnya?" tanya salah seorang dari mereka."Tidak pernah. Malam hari pun lampu rumahnya tidak pernah menyala. Saya sebenarnya sudah ingin memeriksanya sejak awal. Tapi dilarang oleh istri saya. Takutnya itu hanyalah trik yang Marni gunain untuk menjebak para lelaki," ucap Aryo.
"Menjebak?"
"Sepertinya tidak perlu saya jawab," ucap Aryo.
Marni menghilang bagai ditelan bumi. Parahnya, para warga mengambil keputusan bahwa hilangnya wanita itu adalah karena Marni memang sedang pergi ke suatu tempat yang entah itu di mana. Dan bagi para perempuan, dengan hilangnya Marni, mereka malah merasa bahagia. Dengan begitu mereka tak perlu khawatir lagi dengan suami mereka.Hingga malam ketiga semenjak menghilangnya Marni pun tiba. Entah kenapa suasana malam ini terasa sangat mencekam. Gelap tak lagi berarti gelap, melainkan ada makna lain di dalam kegelapan itu. Bulan pun seolah enggan untuk bersinar. Malam ini bumi benar-benar dalam keadaan yang gelap gulita.
Tok tok tok!Terdengar suara pintu rumah diketuk. Aryo, sang pemilik rumah agak terkejut dengan suara itu. Ia yang masih sibuk dengan pekerjaan kantornya pun akhirnya harus membukakan pintu itu."Siapa sih malam-malam begini datang bertamu?" tanyanya agak kesal.Aryo berjalan ke arah pintu dengan pelan. Ketika ia berjalan, ketukan di pintu itu semakin terdengar dengan jelas. Aryo pun melontarkan sebuah kata agar sang pengetuk menghentikan kegiatan mengetuk pintunya."Sebentar," ucap Aryo.Selanjutnya, dibukalah pintu rumahnya. Namun apa yang terjadi? Tidak ada siapapun di luar sana. Hanya kegelapan yang nampak di mata. Ia kebingungan dengan apa yang telah terjadi. Bola matanya bergerak ke segala arah. Samping kanan rumahnya tak ada apa-apa selain hanya kebun pisang yang terjejer rapi. Depan rumahnya pun cuma ada lahan kosong atau lapangan desa yang biasa digunakan oleh para pemuda untuk bermain bola. Sedangkan di samping kiri rumahnya adalah rumah janda muda itu.Entah kenapa ia merasa merinding ketika menatap ke arah sana. Kegelapan dan kesunyian yang menyelimuti tempat tersebut membuat dirinya dengan cepat menutup pintu rumahnya. Tak lupa juga menguncinya. Setelah itu, ia buru-buru kembali ke meja kerjanya.
"Siapa, sih? Iseng banget malam-malam begini," ucapnya sembari duduk.Dilihatnya jam dinding yang terletak tak jauh dari sana. Sudah jam 10 malam. Itu artinya dia secepat mungkin harus menyelesaikan pekerjaannya agar bisa segera tidur. Ia tak mau lagi membuang waktu untuk hal-hal yang tidak berguna, termasuk memikirkan tentang ketukan pintu tersebut.Tok tok tok!I took my sweaty clothes off, mentally reminding myself to burn them in my backyard when I got home. Hot, perplexed, and still very much off-kilter, I turned on the air conditioner and sat to check my phone for notifications worth responding to. I had a couple of missed calls and messages from Holland and Maleek, seeing how I was holding up. Ignoring them, I offered no response, not even via text; there was nothing left in me to be able to relive the details of my day all over again. Perhaps checking my phone was a false hope of having a call from my mother, newly found sibling, or father for some odd reason. I wanted answers, an explanation for my traumatic ass childhood. I felt depleted; my nerves were shot, and my blood pressure had to be sky-high. Skimming through my carry-on for something to help calm my nerves, I ran across an old prescription of Xanax that had been prescribed to me around the time Maleek and I split up. Not caring that the pills were probably expired and purpos
I finally caught up with my mother who was talking to Lori, Izzy on her hip growing impatient. I interrupted the conversation by scooping the baby up into my arms giving Mama some relief. “I was just speaking to your mother trying to convince her to at least come to the repass. We have a southern buffet and I really would like to catch up with all of you to honestly see how things have been going.” I turned to my other awaiting a response from her, “I don’t think that’s a good idea especially with this stalker crap going on.” Mama was right we still didn’t know who the stalker was and that would have us exposed to anything seeing how we would no longer be in the house of the Lord. I don’t think Mother or any of us was in the mood for yet another shootout at a family function. “It is a bad idea. Maybe we’ll just stay in touch or something Lori.” I grabbed my mother’s hand to head to the truck. While we walked I looked and listened hard to the people around me, trying to matc
The ride over to the church seemed long and awkwardly quiet. Having security made me feel uncomfortable about talking about real issues so I kept playing with my phone. “I’m kind of glad right now for the security. On top of the calls and hanging up, whoever it is, is starting to send text messages talking about how they’re gonna meet me at the funeral.” “Whoever it is got me messed up, I’m down here with my daughters and grandson. Security or not your mother is strapped and ready for anything that comes our way today. This ain’t momma out here in these streets today ladies, it’s JoAnne.” “Wait Mama you brought your gun?” “I sure the hell did. After killing that bastard, weird things have been happening to me and to Edily. I feel like I have to stay ready for anything.” “That’s exactly why I called security, so we could fee
“Yep, I sure did! Plus, I brought some craw boil and another bottle of Patron from the club. Sorry it’s not full but I couldn’t get a full bottle without Unc noticing.” She smiled nervously handing Theory the bottle as I walked toward the elevator. I was very much turned on by the little denim shorts and strappy heels Torian was wearing. Her skin glowed more now than it did in the club, her body more full and ripe. Her beauty compiled with Parker’s audacious demeanor caused me to lose control; I pinned Torian against the wall of the elevator kissing her neck to get a scent of her skin. I'd been eager to see what she had smelled like all evening. She shivered lightly, obviously nervous about what may have been getting ready to take place. “Are you alright?” I whispered. “I’m okay, just never been with a woman or man on this level or stature. I just hope ya’ll enjoy me. I hope I’m good enough for ya’ll.” I kissed her again this time on her lips. The way she kissed me back let
My home was unusually dark as I pulled into my driveway noticing the sensor light didn’t turn on as it normally did when someone got within steps of the house. Further observation noticed my flowerpots were kicked over and dirt was scattered across my lawn and walkway. Being on instant guar
I found myself feeling anxious and overwhelmed. I thanked God for my therapist because I was in desperate need of a session; I had slept with one too many this week, which had begun to play on my conscience.I pulled into his Hyde Park office and immediately felt a sense of calm; Dr.
Despite my believing that Isa needed to be at a party with so much money and potential in the building, Isa decided to stay back and be with Izzy for the night. She claimed to want to spend some time alone with her baby for a change. I on the other hand, believe Isa is afraid to fly. If it isn’t
“Now, Isa, don’t forget to soften up when you enter the bridge.”“Look, I’ve got this, Edily; if anything, you’re going to jinx me by having me make a complete ass out of myself!”For that exact reason, I was reminding my little sister to soften up at the bridge so she wouldn’t make a fool of hersel












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore