The Wife He Lost to His Best Friend

The Wife He Lost to His Best Friend

last updateLast Updated : 2026-08-24
By:  A.K VaynOngoing
Language: English
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
8Chapters
499views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

For five years, Claire Hayes believed she had the perfect marriage. She stood beside Daniel Hayes through every challenge, believing his promises that she was the only woman he would ever love. To the outside world, they were the picture of devotion, but behind closed doors, Daniel was hiding a secret life that would destroy everything they built. When Claire discovers the truth about her husband’s betrayal and the family he created without her knowledge, the woman who once trusted him completely disappears. With her heart broken and her marriage shattered, Claire chooses to walk away and rebuild the life she lost while loving a man who never truly valued her. But fate has other plans. During her darkest moment, Claire crosses paths with Ethan Sterling, Daniel’s powerful and mysterious best friend. What begins as an unexpected encounter slowly becomes something neither of them can ignore. As Claire rises from the pain Daniel left behind, Daniel realizes too late that the woman he thought would always stay was the one person he could never replace. Now Daniel must face the consequences of his choices, watching the wife he betrayed become the woman he lost forever.

View More

Chapter 1

Chapter 8

Prank! 

Dengan sangat emosi, Nadya melempar sepiring sambal ikan nila yang masih penuh ke tengah halaman rumah. Membuat sekumpulan ibu-ibu yang sedang berkumpul di teras rumah ibu mertuanya tercengang dan menghentikan obrolan seru mereka. 

“Kenapa sambal itu kamu buang, memangnya sudah basi?” tanya salah satu teman ibu mertuanya yang bertubuh gempal. Yang dari tadi tidak berhenti mengunyah makanan. 

“Mak Asnah, jangan sok perhatian, pura-pura baik di depanku. Padahal di belakangku kalian menceritakan aku seenak hati kalian!” bentak Nadya. Meski ia berkata pada Mak Asnah, namun ucapannya jelas ditujukan kepada keempat wanita yang sudah berusia tidak muda lagi. Tanpa terkecuali kepada ibu mertuanya sendiri. 

“Nadya!” Mak Onah, ibu mertua Nadiya yang dari tadi hanya diam berdiri, kemudian mendekat lalu jari telunjuknya mengarah ke wajah Nadya. “Apa kamu tidak bisa berpikir? Anakku sudah susah payah mencari uang untuk makan kalian, kamu malah membuangnya. Dasar istri tidak tau diri!” umpat mak Onah tak kalah sengitnya. 

“Bukankah mamak sebenarnya yang jadi biang kerok semua ini. Mamak juga kan, yang sudah bercerita yang bukan-bukan tentang aku pada semua orang di kampung ini. Mamak mengatakan jika aku istri yang tidak becus mengurus rumah tangga, yang suka keluyuran keluar rumah.” sengit Nadya dengan suara lantang. 

Mendengar suara keributan yang tidak biasa terjadi, sebentar saja halaman rumah Mak Onah dan Nadya dikerumuni orang. 

“Siapa yang bilang?” ucap wanita tua itu sambil memperbaiki letak kacamatanya yang hampir melorot. 

“Mamak kira aku tidak punya telinga. Biarpun aku jarang bergaul dengan tetangga di rumah ini, tapi aku sudah banyak mendapat informasi tentang mamak yang selalu menjelek-jelekkan aku!” ujar Nadya dengan kemarahan yang semakin membuncah. 

“Kapan aku menjelek-jelekkanmu?” ucap wanita tua itu berkilah, sambil mengalihkan pandangannya ke tempat lain. 

“Mamak jangan berkilah. Bukankah mamak yang selalu bercerita ke semua orang jika pergi keluar rumah, aku tidak pernah masak!” ucap Nadya. Hatinya semakin geram melihat ibu mertuanya seakan tidak merasa bersalah. 

“Eh, Mak Endah, pasti kamu yang membocorkan cerita ini pada Nadya.” Mak Sri yang masih berada di teras langsung menatap curiga pada Mak Endah yang menundukkan kepala sambil meremas jemarinya. 

“Sekarang lihat itu yang di depan mata kalian, siapa bilang aku tidak masak!” tunjuk Nadya pada piring sambal yang ia lempar tadi, agar semua orang melihatnya dan tau jika semua yang dikatakan ibu mertuanya tidak benar. 

“Huuuu…! Suruh saja mereka berempat memakan sambal itu, Nadiya!” seru salah seorang tetangga. 

“Sekarang, aku tanya sama kamu Mak Endah, dari siapa kamu tahu jika aku pergi keluar rumah karena ingin bertemu dengan lelaki lain!” desak Nadya pada wanita tua yang sejak tadi hanya menunduk.

Mendengar Nadya menyebut nama salah satu temannya mata Mak Onah langsung tertuju menatapnya Mak Endah yang terlihat gugup dan ketakutan. 

“Jawab yang jujur Mak Endah!” bentak Nadya sekali lagi. Ia sudah tidak peduli jika yang dibentaknya itu adalah wanita tua yang seharusnya ia hormati. 

Sementara, Mak Endah sama sekali tidak menyangka jika Nadya sudah berani membuka mulut tentang perkataan Mak Onah yang menjelek-jelekkan Nadya. 

“Huuu…! Katanya teman sejati tidak taunya menusuk dari belakang!” teriak seorang perempuan dengan nada mencemooh. 

Melihat suasana yang tidak kondusif dan semakin memanas, dua wanita tua lainnya bergegas beranjak dari tempat duduknya, karena tak ingin ikut terlibat lebih jauh dengan urusan Mak Onah dan menantunya. 

“Mau kemana kalian, kalian takut ya, jika semua kelakuan kalian aku bongkar di sini!” semprot Nadya dengan suara semakin keras, membuat tetangga yang berkumpul semakin penasaran. Ingin menyaksikan Nadya mendamprat empat orang wanita tua, yang selama ini sudah semena-mena melukai hati dan perasaannya.

Bagai bom waktu yang menunggu saatnya untuk meledak. Nadya yang Selama ini hanya mampu menahan perasaannya yang sangat tertekan karena selalu dihina, akhirnya meluapkan semua emosi yang sudah menggunung di dadanya. 

Setengah jam sebelum kejadian, saat Nadya baru pulang dari tempatnya bekerja, Akmal anak bungsu Nadya yang masih SD mengadu. 

“Tadi nenek ngomel sama Akmal, Ma,” adu Akmal. 

"Memangnya kenapa nenek ngomel sama kamu?” tanya Nadya yang saat itu akan makan siang. 

Akmal menceritakan pada Nadya ketika pulang sekolah neneknya bertanya apakah dia sudah makan. Akmal tidak menjawab pertanyaan neneknya, tapi malah balik bertanya jika neneknya memasak apa. Tidak taunya Mak Onah malah salah sangka. Dia mengira cucunya hendak meminta sambal. 

“Nenek juga memarahi mama,” ucap Akmal, membuat Nadya ingin tahu apa yang membuat ibu mertuanya marah. 

“Memang itu kebiasaan jelek mama kamu. Kalau pergi tidak pernah masak. Suami sama anak makan terlantar, kasihan Wanda anakku. Malang sekali hidupnya punya istri seperti Nadya,” cerita Akmal, menirukan kata-kata yang ia dengar dari neneknya. 

Dada Nadya langsung bergemuruh mendengar pengaduan Akmal. Hatinya sangat tidak terima dengan perkataan ibu mertuanya. Yang Nadya lebih tidak terima mengapa ibu mertuanya mengatakannya pada anaknya yang tidak tau apa-apa. 

Pengaduan yang sudah sering ia dengar dari kedua anaknya. Pengaduan yang membuat hatinya teriris. Belum lagi pengaduan-pengaduan dari tetangga- tetangga yang membuat telinganya panas dan hati mendidih. 

Pengaduan-pengaduan yang sudah beberapa kali membuat dia dan suaminya hampir bercerai. 

“Menurut kalian apa yang aku kerjakan harus aku laporkan pada semua orang? Lagi pula apa yang aku kerjakan dirumah maupun diluar rumah bukan urusan kalian!” teriak Nadya dengan keras dan mata melotot ke arah empat wanita tua yang terkenal sebagai biang gosip di kampung itu. 

“Ada apa ini Nadya?” tanya seorang lelaki yang baru datang. Wajahnya tampak keheranan menatap piring sambal yang tertelungkup di tengah halaman rumah. 

“Tanya sendiri pada mamakmu itu!” bentak Nadya pada Wanda suaminya yang baru pulang kerja. 

Wanda tau selama ini ibunya tidak pernah merasa senang dengan istrinya. Tapi ia sama sekali tidak menyangka jika semuanya akan berakhir seperti ini. Nadya istrinya yang tidak banyak bicara telah berani melawan ibunya. 

Wanda memandang ke arah ibunya yang terlihat gemetaran, namun tetap memperlihatkan bahwa dia baik-baik saja. Seolah di depan anaknya ia ingin menunjukkan jika dirinya tidak bersalah. 

“Istrimu salah paham,” ujarnya dengan suara yang sudah sedikit melembut. 

“Salah paham apa?!. Aku tahu mamak maunya aku pergi dari rumah ini dan–“ ucapan Nadya terhenti, karena buru- buru Wanda memotongnya. 

“Nadya, jangan bicara seperti itu,” pinta Wanda memelas. 

“Sekarang, di depan ibumu dan di depan semua orang, ceraikan aku. Biar dia puas!” jerit Nadya membuat orang yang berkerumun beristighfar. 

                           *********

                       Bersambung. 

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status