LOGIN"I can't tell what is real and what is a dream," I murmur, looking up to his silver eyes, glistening mist swirling within his irises. "But I know I can't hold myself back from you any longer. Luella has been having the same dreams every night involving two silver eyed men, who remain elusive during the day, but come alive from the shadows by night. After visiting a therapist who tips Luella off on what could be the cause of these dreams, the start to become more frequent, to the point she can no long tell the difference between dream and reality. Who are these silver eyed men? One wants her desperately until he doesn't, while the other is always there when she needs him, until he is not. That is, until she swears she is seeing them in her waking life. And suddenly, her dreams might just be coming to life.
View MoreCaramel terus saja melihat ke arah jam tangan yang sedang dia pakai.
Sudah tiga puluh menit Caramel menunggu untuk fitting bajua, namun laki-laki yang dia tunggu sampai kini sama sekali belum menunjukkan batang hidungnya.
“Leon ke mana, sih? Lama banget, katanya tadi udah deket tapi masa iya sampai sekarang belum nyampe juga?” gerutunya.
Lama menunggu dengan perut yang sudah lapar, Caramel pun memutuskan untuk memesan makanan terlebih dahulu.
Setelah memesan makanan, tak lama kemudian orang yang ditunggu oleh Caramel daritadi pun datang dengan senyumannya.
Caramel mendelik ketika laki-laki yang berstatus calon suami Caramel itu duduk di depannya dengan senyuman yang menurut Caramel sangat menjengkelkan.
“Kenapa telat?” tanya Caramel penuh selidik.
Leon menggaruk lehernya yang tidak gatal sambil tersenyum. “Maaf tiba-tiba Alexa nelepon aku buat nganterin dia ke mall di depan sana itu,” ucap Leon sambil menunjuk mall yang ada didepan café.
Caramel selalu kesal mendengar nama Alexa karena Leon selalu menuruti apa kata wanita itu. “Alexa berharga banget yah buat kamu, sampe kamu juga rela telat ketemu sama aku, padahal setengah jam yang lalu kita mau fitting baju?!”
Leon mengusap-ngusap pipi Caramel, terlihat sekali kalau Caramel sangat cemburu dan marah padanya. “Maafin aku sayang, kamu kan tau Alexa itu sahabat aku dari kecil, dan aku sempat akan menolak permintaan dari Alexa hanya saja mamah aku langsung menelepon aku agar aku mau mengantar Alexa karena sopir yang biasanya mengantar dia sedang cuti!”
Caramel tersenyum sinis, mengingat hubungannya dengan mamahnya Leon tidak baik.“Kamu itu tidak pantas bersama dengan anak saya! Level kamu berbeda jauh dengan kami, jadi jangan pernah kamu dekati anak saya lagi, karena anak saya lebih cocok dengan Alexa daripada dengan kamu, perawan tua!”Itu yang selalu Caramel dengar ketika bertemu dengan Martia, sangat jelas sekali kalau mamah Leon menginginkan Leon bersama dengan Alexa. Caramel sangat tau apa yang membuat ibu Leon menyetujui Leon untuk menikahinya, karena Caramel kini sedang hamil anak Leon.Usia kandungannya baru beberapa minggu, sehingga tidak ada orang yang menyadari kehamilannya itu, kecuali mamanya sendiri. Meski sempat marah besar padanya, namun dengan berhati besar Yuni--mama Caramel-- memaafkan kesalahan anaknya.
Tring!
Mata Caramel melihat kearah pintu café, seseorang yang Caramel tidak suka itu pun datang dan dengan tidak tau dirinya dia langsung duduk disamping Leon.
“Leon aku boleh gabung kan?” tanya Alexa pada Leon.
Caramel langsung memperhatikan Leon, berharap laki-laki itu akan menolaknya.
Namun, mood Caramel seketika hancur karena Leon justru menjawab, “Boleh!”“Bukannya lo mau belanja?” tanya Leon lagi pada Alexa.
“Nanti aja deh, aku mau makan dulu soalnya. Gak apa-apa kan Mel kalau gue ikut makan di sini?” tanya Alexa pada Caramel.
Sungguh Caramel tidak menyukai Alexa yang bersikap baik padanya.
Caramel yang sudah kehilangan moodnya, langsung berdiri “Aku mau langsung ke tempat fitting baju aja, kalau kamu mau makan disini lanjutin aja!”Ia pun langsung keluar café dan Leon langsung mengejar Caramel. “Kamu kenapa, Mel?” tanya Leon.
Caramel menggelengkan kepalanya, “Aku gak apa-apa, lanjutin gih makannya. Nanti sahabat kamu nungguin lama loh!” Leon langsung masuk ke dalam café kembali yang membuat Caramel berfikir kalau Leon akan melanjutkan makannya bersama dengan Alexa.Tak lama kemudian Leon datang lagi dan langsung menarik Caramel masuk ke dalam mobilnya, “Loh itu sahabat tersayang kamu kenapa ditinggalin?” tanya Caramel dengan nada kesalnya.Leon terkekeh, “Lucu banget sih kalau lagi cemburu, gak ada yang tersayang selain kamu! Kita pergi fitting sekarang!”∞∞∞∞Meski sempat mengalami beberapa konflik, hari yang sangat dinanti oleh Caramel akhirnya datang juga.Ia akan menikah dengan Leon sebentar lagi.
“Kamu sudah siap sayang?” tanya Yuni sambil berjalan dari ambang pintu mendekati Caramel.
Caramel mengangguk mantap, “Aku sudah sangat siap mah! Kalau tidak mana mungkin aku mau menikah!” ucap Caramel sambil mengelus-ngelus perutnya.
Yuni pun mengusap puncak kepala Caramel, “Mamah berharap, kamu tidak melakukan hal bodoh lagi yah Mel, cukup sekali ini saja!”
Caramel tentu saja sangat tau kenapa mamahnya berbicara seperti itu kepadanya. Caramel sangat memaklumi karena itu semua kesalahan Caramel sehingga dia hamil di luar nikah. Untungnya, meski ayahnya sudah meninggal, sang ibu tetap kuat berada di sampingnya.
“Ngomong-ngomong dari jadwalkan jam sembilan mulai akad, kamu udah tanya sama Leon dia udah berangkat atau belum?” tanya Yuni.
“Aku udah chat Leon mah dari itadi, cuma belum dibalas sama Leon!” jawab Caramel.
“Oh, mungkin Leon udah dijalan, kamu yang sabar yah!”
“Iya mamah!” jawab Caramel tersenyum.
“Oh iya, mamah mau keluar dulu yah memantau acara!” ucap Yuni sambil terkikik, Caramel langsung menganggukkan kepalanya.
Sebenarnya Caramel sedang bingung karena Leon sedari malam belum memberinya kabar, bahkan Caramel beberapakali meneleponnya pun lelaki itu sama sekali tidak mengangkatnya padahal terlihat sekali kalau laki-laki itu sedang aktif, Leon sama sekali tidak pernah bersikap seperti itu kepadanya. Caramel berusaha untuk menyingkirkan pikiran buruknya tentang Leon, karena laki-laki itu juga sangat ingin menikah dengannya dan saat mengetahui Caramel hamil pun terlihat sekali Leon sangat bahagia.
Waktu sebentar lagi hampir jam sembilan, namun Leon dan keluarganya sama sekali belum datang. Bahkan mamahnya pun sudah beberapa kali balik ke kamar Caramel hanya untuk menanyakan Leon.
“Mel, Leon udah ngasih tau dia udah dimana? Penghulunya udah datang, barusan bilang sama mamah kalau jam 10 dia ada acara ditempat lain!” ucap Yuni dengan wajah sedikit khawatir.
Caramel pun sama khawatirnya dengan Yuni, dia hanya takut kalau terjadi apa-apa dengan Leon. “Belum mah, aku neleponin dia aja sama sekali gak diangkat!”
Kekhawatiran Caramel terus-menerus bertambah karena sudah hampir jam setengah sepuluh Leon dan keluarganya sama sekali belum hadir di acara pernikahannya.
“Kamu kemana sih? Kenapa kamu sama sekali gak angkat telepon dari aku?” tanya Caramel sambil berusaha untuk menahan tangisnya agar tidak keluar.
Caramel mundar-mandir sambil terus menelepon Leon berharap laki-laki itu mengangkatnya dan memberikannya kabar kalau dia sebentar lagi akan sampai.
“Sayang angkat dong telepon dari aku!” ucap Caramel dengan kesal bercampur dengan rasa khawatir yang berlebih sehingga membuat jantungnya berdetak sangat cepat.
Hati Caramel begitu bahagia ketika melihat Leon sedang mengetikkan pesan kepadanya. Namun, pesan yang dikirimkan oleh Leon sama sekali tidak sesuai dengan apa yang Caramel harapkan, tetapi pesan yang membuat hatinya sangat hancur.
[Maaf, aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini dengan kamu.]
¬LuellaI stare out into the distance, watching the dark clouds shift and crawl along the sky, seeing the shadows tinting the treetop.“It feels strange being home,” I mutter, glancing up at Thought, who stands behind me. We made it back only today from Karma’s Province. Everything feels eerily quiet here, almost peacefully if I didn’t know what had to happen to make it that way. We haven't heard from Stace, which I can’t decide is a good thing or not. He is still a threat, but for now, we might be okay. “I’m glad you consider this your home now, despite everything that has happened here,” Thought admits, smiling down at me. Now that I’m back here with Thought
¬LuellaI sit down on the icy bench, waiting for Thought.About an hour ago we split up, walking around the town looking for as much information on Aven as possible. Everyone I have spoken to doesn’t know her, and I never managed to gather enough courage to look into any of their heads. It would have been much quicker, but I’m afraid of what I might see that I don’t want to. And none of them deserve that, anyway.Shivering, I glance up, seeing Thought approach me from down the street. It’s late afternoon now, people mulling through the village mindlessly, thankfully not taking much notice of me. Eyes do linger on Thought though, even if he has a hood pulled over his head, trying to hide his face from everyone.
¬LuellaHis eyes sweep over me, the silver of his irises turned milky under the moonlight, an ethereal hint to it.I’m ready for him to be angry at me, to wonder what I’m doing out here, in the middle of nowhere in almost complete darkness. He doesn’t look angry, as he looks over me intently, likely looking to ensure I’m safe and okay. I’m perfectly healthy, yet utterly mortified that Thought found me...I shouldn’t be surprised, I mean he is far more powerful than me, and possibly knew all along.“Don’t be mad at me,” I say carefully, holding my hands up defensively. He comes to stand in front of me, not touching me, although the proximity makes me shiver. Last time I saw him, he had no idea
¬LuellaRevel arrives only moments after Time departed, appearing magically before me, making me yelp.“Where are we going?” I question, having to use all my effort to speak, suddenly all my energy and desire to get this over with now having since vanished. Time has left me with a lot to think about. I can hardly believe I’m having to rethink my moral choices upon Time’s recommendation...He’s not exactly an outstanding citizen. “We are meeting in a neutral place,” Revel explains. We are meeting the virtue already, hardly giving me enough time to come up with an alternative plan in time. “Micah thinks you’re looking into his head to help him.”
¬LuellaI lay beside Thought, waiting for him to wake.I took Stace’s deal, knowing that I don’t have any other choice. Looking at Thought, I realise that it's all worth it, as he peacefully slumbers, the early morning sun cast
¬LuellaI don’t allow his words to frighten me.
His eyes don’t leave mine as he steps toward me.Ignoring my thudding heart, I allow his scent to his me, his body, as his hands come
¬LuellaThought and I sit outside on the balcony, looking out across the desert plains that have been casted into shadow by the fallen sun. Night here is remarkable, the once red sound now












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.