LOGINAddie has a crush to one of his brother's childhood friend, Zim. He is an achiever, the reason that Addie admires him the most. One night, she dared herself to admit her feelings for the guy. But Zim just laughed, leaving her a thought that he took her confession as a joke. She made herself embarassed the next day, which made her decision to avoid Zim in all possible ways as she can. Zim began to notice Addie avoiding him. He didn't know why he hates being avoided by that girl. Zim made his way to make up with her. He made it clear that he didn't want to see Addie flirting with another guy but him alone. They start dating each other as a couple, the day after. After years of abandoning her with his brother, his father returned in their place together with his new family. She discovered that their biological mother has died when she was born. The mother they had known since they were kids was actually her mother's twin. Zim didn't leave Addie at her worst. He stays by her side until they become successful together. Addie believe they had the perfect relationship. However, something happened that was far beyond her expectations. He met Zim's mother accidentally while they were dining in a restaurant. Contrary to her expectations, the man denied her in front of herself and his mother. Addie suffer so much pain causes by the man she loved the most. Zim tried to explain his reason and want them back, but Addie refuse to believe them. Zim had left no choice but to approach Addie's father and beg to marry his daughter, despite their strained relationship.
View MoreDi sebuah sore awan menggantung, langit diluar mendung. Kabut merangkak menyelimuti sekeliling kota. Petir mulai menggemuruh terdengar, kilatannya sampai masuk kedalam ruangan. Gelap perlahan menghalangi pandangan, ada sekat yang tiba-tiba menyumbat.
"Tik tok tik tok,” jarum jam menunjukan pukul lima sore, pengunjung satu persatu nampak berdatangan untuk berkunjung. Sekarang aku sedang membersihkan meja yang baru saja ditinggalkan pengunjung disebuah bar tempat aku bekerja. Dengan rasa letih yang menggunung, punggungku terasa pegal dan pinggang rasanya mau copot. Yak, aku bekerja sebagai pelayan disebuah bar tidak jauh dari tempatku tinggal.
Namaku Akira Carrasco, mungkin aku adalah pria keturunan jepang satu-satunya didaratan eropa ini, sekarang umurku sudah 27 tahun. Beberapa tahun yang lalu ayahku yang bekerja sebagai pelaut membawaku kekota ini, setelah ayahku meninggal aku harus melakukan pekerjaan apapun untuk menyambung hidup. Karena aku tidak mempunyai satu pun sanak saudara ditempatku tinggal sekarang ini.
Kalau ditanya soal ibuku, aku pun tidak tahu dia masih hidup atau sudah meninggalkan dunia ini, satu-satunya yang aku ingat adalah sebuah pertengkaran yang hebat terjadi dimasalalu. Hingga membuatku dipaksa berpisah dengan ibuku waktu itu.
Pengunjung malam itu semakin ramai, bar tempatku bekerja ini memang selalu ramai diminati banyak orang dikota tersebut. Bar yang berasitektur elegan dengan kursi yang begitu teratur dan meja yang sedemikian pas ditata agar setiap tamu bisa santai menikmati suasana sambil menikmati minuman dan makanan yang tersedia.
Suara musik jazz sangat merdu terdengar ditelinga. Aku selalu seperti ini di sela-sela pekerjaanku ternganga karena melihat seorang wanita yang begitu cantik. Kulitnya berwarna putih, dengan bola matanya yang berwarna kecoklatan. Senyumnya seperti bunga mawar yang sedang mekar, kakinya yang jenjang begitu gemulai, postur tubuhnya yang semampai begitu menambah keindahan dirinya. Sejak pertama kali melihatnya aku sudah jatuh cinta dengan wanita ini.
Namanya Belinda Paz Sastre, seorang wanita muda, yang dianugerahi suara merdu, primadona dikota tempatku tinggal, ia amat terkenal karena pekerjaannya sebagai penyanyi yang mengisi acara-acara saudagar kaya dikota ini. Terkadang kalau ada acara ditempat sadaugar kaya seperti itu aku pun bekerja sebagai pelayan, hanya sekedar untuk melihatnya setiap waktu dan penampilannya ketika bernyanyi, juga untuk sekalian menambah-nambah penghasilanku.
Bar tempatku bekerja ini juga selalu ramai karena banyak pria dikota ini yang mengagumi dirinya. Namun aku sadar, diriku bukanlah apa-apa untuk mendapatkan cintanya, aku pun hanya bisa mengaguminya saja. Terlebih lagi yang aku tahu dia sudah memiliki seorang kekasih, anak dari seorang pengusaha yang paling kaya dikota ini.
Ia yang menjetikkan rokok di bawah meja bar, dan menenggak sebotol bir berukuran besar. Ia yang duduk di meja depan panggung itu yang telah menjadi tempat favoritnya, Bernardo Casas seorang pria yang memiliki sifat angkuh dan sombong. Kalau harus dibandingkan dengan kekayaannya, aku sangat jauh dibawahnya.
Tiba-tiba aku tersentak lalu tersadar dari lamunan, karena suara dan tepukan tangan seseorang dipundakanku.
"Hei Akira! kenapa kamu hanya berdiam saja disini, tolong bantu aku membawakan makanan dan minuman kemeja nomor dua." seru Mario Rubio dia adalah satu-satunya teman yang aku miliki, dia bekerja sebagai pelayan juga bersamaku ditempat ini. Karena sedikit berbeda dan terlalu miskin. Aku jadi terasingkan dan sulit untuk mendapatkan teman dikota ini."Oh.. maafkan aku, segera akan aku kerjakan." kataku beranjak pergi untuk mengambil pesanan dari pengunjung yang memesannya.
Makanan dan Minuman telah siap, aku membawa beberapa minuman disusul dengan makanan menuju kemeja nomor dua, yang agak terpisah dan berada didekat jendela. Aku menghela nafas sesaat karena sudah lelah, sebab pekerjaan malam ini cukup banyak juga.
Aku selalu memikirkan mungkinkah ini awal yang mesti ku jalani, atau mungkin akhir dari segalanya. Entahlah,aku sangat takut meraba –raba masa depan. Aku selalu berdoa dimalam ketika semua orang tak bisa mendengarnya. Berharap masih ada kesempatan untuk memupuk kembali masa depan yang semestinya, mungkin setidaknya untuk bisa bertemu lagi dengan ibuku.
Malam ini begitu penat, tepat pukul 22.00, aku baru selesai bekerja digantikan oleh karyawan yang lain. Malam semakin sunyi dan udara dingin terasa semakin menusuk. Sejak tadi juga tidak ada satu orang pun yang melewati jalan ini. Namun aku tetap melangkahkan kedua kakiku di tengah-tengah keheningan yang semakin mencekam bersama Mario, tidak sering aku pulang bersama dirinya karena rumah kami yang berdekatan dan satu arah juga.
"Hei, Akira aku sering sekali memperhatiaknmu melamun melihat Belinda saat sedang bekerja, apa kamu menyukai dirinya?" tanya Mario.
"Apa maksutmu? siapa pun dikota ini pasti menyukai Belinda karena parasnya yang cantik." elak Aku menjawab pertanyaan Mario yang membuatku jadi salah tingkah.
"Aku hanya bertanya saja, dan mengingatkan kita ini bukan siapa-siapa! jadi untuk mendapatkan wanita seperti dia itu sangat tidak mungkin." kata Mario menasehati.
Aku pun sebenarnya sadar dengan ucapan Mario, tetapi karena rasa suka yang berlebihan, aku jadi sulit mengendalikan diriku sendiri saat melihat Belinda yang begitu cantik ketika bernyanyi.
"Aku tau itu, tidak perlu mengingatkan. Aku memang tidak pantas untuknya." bela aku."Baguslah kalau kamu sadar, jadi lebih baik kamu mencari uang saja yang banyak. Agar tidak kelaparan." ujarnya.
"Tenang saja, memang hanya itu yang aku lakukan saat ini!" kataku.
"Oh, iya nanti akan ada acara besar dari seorang saudagar kaya dikota ini, lumayan untuk menambah penghasilan kita nanti." katanya.
"Benarkah! terimakasih atas infonya, aku pasti akan melakukan pekerjaan itu." kataku.
"Iya, nanti kita akan bekerja disana bersama, kalau gitu aku pulang duluan. Kamu hati-hati dijalan." kata Mario kami berpisah disebuah persimpangan dekat rumahnya, lalu aku melanjutkan perjalanan.
Tetapi saat dalam perjalanan tiba-tiba saja aku merasa lapar, untung saja masih ada stand makanan pinggir jalan yang masih menjajakan dagangannya. Kemudian aku berhenti sejenak untuk membeli Taco, mengganjal perutku dan membeli secangkir kopi, sesaat aku makan dan menyesap kopi yang kubeli.
Suaraku benar-benar terkunci karena menikmati makanan dan kopi yang baru saja kubeli. Setelah beberapa saat aku melihat keujung jalan, kepada seseorang yang sedang berdiri disana tidak begitu jelas, orang itu seperti terus menatap lurus kedepan, kearah tempatku berada sekarang. Dikejauhan aku melihat tampak sapuan cahaya lampu kota diatas kepala orang tersebut, papan-papan iklan menjulang tinggi, serta pabrik. Tapi yang kurasa disekelilingku seketika malam ini hening menyelimuti, teramat sepi sehingga jangkrik begitu nyaring mengerik. Didekat kakiku batu-batu sebesar kepalan tangan berserakan dari keramaian yang sudah berlalu. "Siapa orang disana itu, menatap aneh seperti itu?" gumam aku dalam hati.
Karena sudah terlanjur melihatnya dan penasaran maka aku menghampirinya, mencoba memberanikan diri dan mengalahkan rasa takutku.
Ketika aku menoleh kiri dan kanan untuk mengawasi situasi, kalau-kalau orang itu ingin melakukan perbuatan jahat denganku paling tidak aku bisa meminta tolong kepada orang lain. Tetapi apa yang terjadi aneh sekali? orang itu lenyap dari tempatnya begitu cepat, aku tidak melihatnya disekitar situ. "Sialan! sebenarnya siapa orang tadi itu, atau mungkin dia bukan orang?" bergumam aku memikirkan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh nalar.
Barangkali itu adalah seorang gelandangan yang baru saja melintas, atau seorang buruh pabrik sehabis kerja lembur. Sebab jalan itu aksesnya dekat dengan pabrik. Sangat memungkinkan akan bertemu seseorang, pikirku. Karena aku pikir orang itu sudah tidak ada, masa bodo denganya! aku melanjutkan perjalananku kembali kerumahku.
Hinintay nya munang maisuot ko ang seatbelt bago sya nagsimulang magdrive. Umayos ako ng upo at nakailang lunok pa ako habang deretsong nakatingin sa daan. Ramdam ko din ang pangangatog ng binti ko at ang dibdib kong kanina pa nagwawala.Parang ito yung unang pagkakataon na kami lang talagang dalawa. Unang pagkakataon na nakasakay ako sa kotse niya."Don't worry, konti lang yung nainom ko" basag niya sa katahimikan.Ramdam ko din na mas mabagal na ang takbo ng sasakyan ngayon kumpara kanina. Mas okay na din to para naman mabagal din ang takbo ng sasakyan nila Kuya na nakasunod samin.Napatingin naman ako sa kanya ngunit sa kalsada lang nakatuon ang kanyang atensyon."You look...worried" wika niya at tumingin sakin bago niya sinabi ang huling kataga.Mas lalo lang naghuhurumentado ang puso ko sa tingin niya. Parang sasabog na ang puso
Nagpaalam na rin si King samin na bumalik sa table nila Kuya matapos ko siyang maipakilala sa mga kaibigan ko tulad ng gusto niyang mangyari. Nahiya pa siya ng makitang may kasama kaming mga lalaki sa table namin."Sino ang ka-date mo d'yan?" bulong niya sakin sabay nguso sa mga lalaking nasa harap namin."Wala. Barkada 'yan ng boyfriend ni Samien," wika ko sa kaniya sabay nguso kay Samien habang nakikipag-usap kay Kenneth."Akala ko puro girls," dismayadong saad niya at natawa lang ako.Nakalimutan ko palang sabihin sa kaniya na kasama namin sila Kenneth at ang mga barkada niya. Ngayon ko lang napagtanto noong makita na namin sila sa table habang papalapit kami. Tumungga si King ng ilang shots bago nagpaalam sa amin na bumalik sa table nila."King is funny, huh?" ngisi ni Satana."May sense of humor," kumento ni Samien.
"Masyado mo namang ni-literal 'yong pagiging dry mo, teh. Talagang diniligan mo 'yong sarili mo," halakhak ni Cyd.Lunch time at nandito kami sa student lounge na tinatambayan namin palagi kapag walang klase. Kinikwento ko kasi sa kanila ang kahihiyang nagawa ko kahapon. Para malaman niyo, halos lahat ng pangyayari sa buhay ko lalo na't may koneksyon kay Zim, ay alam nila. Si Zim na lang talaga iyong walang alam tungkol sa nararamdaman ko para sa kaniya, chos!"Iyon siguro ang tinatawag nilang wet look sa umaga," gatong ni Satana at nagtawanan sila.Mga walang hiya!Nakitawa na lang ako sa kabaliwang naisip nila. Hindi ko talaga malimutan iyong katangahan ko kahapon. Hanggang ngayon nagtatakha pa din ako sa sarili ko kung bakit ko naisip iyon. Duh! Nevermind, basta tapos na yon."Ano ba kayo! Pang bata lang 'yang mga crush crush na iyan. Dapat deretso na sa jowaan.
"Masyado mo namang ni-literal 'yong pagiging dry mo, teh. Talagang diniligan mo 'yong sarili mo," halakhak ni Cyd.Lunch time at nandito kami sa student lounge na tinatambayan namin palagi kapag walang klase. Kinikwento ko kasi sa kanila ang kahihiyang nagawa ko kahapon. Para malaman niyo, halos lahat ng pangyayari sa buhay ko lalo na't may koneksyon kay Zim, ay alam nila. Si Zim na lang talaga iyong walang alam tungkol sa nararamdaman ko para sa kaniya, chos!"Iyon siguro ang tinatawag nilang wet look sa umaga," gatong ni Satana at nagtawanan sila.Mga walang hiya!Nakitawa na lang ako sa kabaliwang naisip nila. Hindi ko talaga malimutan iyong katangahan ko kahapon. Hanggang ngayon nagtatakha pa din ako sa sarili ko kung bakit ko naisip iyon. Duh! Nevermind, basta tapos na yon."Ano ba kayo! Pang bata lang 'yang mga crush crush na iyan. Dapat deretso na sa jowaan.
Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.