เข้าสู่ระบบNo dia do exame de admissão da faculdade, a amiga de infância do meu namorado percebeu que havia esquecido o comprovante de inscrição em casa. Ele insiste em voltar para buscá-lo, mas eu o impeço. No fim, ela perde a prova de humanas. Tomada pelo desespero, ela se joga à morte. Mais tarde, meu namorado e eu somos aprovados na Bloomdale University, a melhor universidade do país. Construímos carreiras de sucesso e ganhamos salários de sete dígitos — nosso casamento é perfeito. No entanto, no aniversário da morte da amiga de infância dele, ele me esfaqueia repetidas vezes, tirando a minha vida. — Foi culpa sua ela ter morrido. — Ele diz. — Se eu tivesse voltado para pegar o comprovante de inscrição da Ginger, ela não teria perdido a esperança e tirado a própria vida. Quando abro os olhos novamente, percebo que voltei ao mesmo dia do exame de admissão. A voz ansiosa do meu namorado ressoa no meu ouvido. — Amelia, eu preciso voltar para pegar o comprovante de inscrição da Ginger. Desta vez, eu sorrio e digo: — Pode ir. Por favor, tome cuidado.
ดูเพิ่มเติม“Sheza agak cemberut gue tinggal touring. Padahal pulang touring gue janji bakal ngajak makan malam di luar. Dio juga udah rewel banget minta mainan VR.” Prabu harus sedikit berteriak agar Satria menangkap suaranya dari balik helm.
“Kenapa nggak bilang kalau lo punya janji di rumah? Dua minggu lagi ada touring lain. Harusnya kita bisa ikut yang itu aja. Gue jadi nggak enak, Prabu …. Kan gue yang ngajak. Ck!” Satria mengacungkan tinjunya. “Gue cuma kasian sama duda kalau nggak ada yang nemenin. Coba Roman doyan motor dan masuk club kita. Bisa berduaan terus lo berdua karena berstatus pria single,” seru Prabu lagi. “Roman, sih, doyannya night club, bukan club motor!” balas Satria, terbahak di motornya. “Atau sekali-kali lo ikut Roman ke night club. Biar aura lajang Roman nular. Lo nggak kayak duda anak satu lagi!” Prabu lalu tertawa terbahak-bahak. Setengah jam saling berbalas omongan, jalan yang ditempuh semakin mendaki. Permainan gas, kopling dan rem dilakukan dengan handal oleh peserta tour agar motor tetap stabil di tanjakan. Jalan berliku-liku dan mereka nyaris tiba di titik istirahat pertama saat hujan mulai turun. Awalnya hujan tipis, namun kemudian semakin deras. Airnya meluncur membasahi jaket kulit yang membalut rapat tubuh mereka. Dua pria bertubuh nyaris sama tinggi dan tegapnya saling pandang. Satria melirik langit. Terlihat awan gelap bergulung makin menebal. Di sisi kirinya, Prabu menoleh sambil tertawa kecil. "Gas, nggak?" "Tunggu reda dikit, Bu. Anginnya kenceng banget. Neduh dulu, yuk.” Satria menyalakan lampu sen, menuju bawah jembatan kecil. Satria tidak punya firasat apa pun. Pagi itu semuanya normal dan semuanya baik-baik saja. Prabu ada janji dengan keluarga kecilnya dan ia sendiri berjanji akan menjemput Nayla; putrinya di rumah mantan istrinya. Akhir pekan adalah giliran ia menjalankan co-parenting untuk gadis kecil semata wayangnya. Bagi Satria sendiri, ia merasa tidak ada yang berbeda dengannya. Prabu juga cerita seperti biasa. Kecuali kalau boleh dibilang agak berbeda, Prabu memang kadang-kadang diam dan mengecek ponselnya sedikit lebih lama. Prabu kadang berdecak dan menghela napas panjang. Meski sepintas, Satria melihat perubahan wajah sahabatnya itu. “Ada masalah?” tanya Satria saat mereka berdiri bersisian di bawah jembatan. “Nggak adalah. Memangnya muka gue keliatan muka pria ada masalah?” Prabu meninju lengan Satria sambil tertawa. Sama cerianya seperti kemarin-kemarin. "Itu yang lain udah pada jalan. Ada iring-iringan club mobil juga kayaknya. Kita ikut aja. Biar cepet sampai." Prabu naik ke motor dan menyalakannya. "Udah, santai aja. Kita nggak perlu nyusulin yang lain. Masih deras,” kata Satria, berjalan ke tepi jembatan dan mendongak. “Ayo, deh. Gue nggak mau kalau Sheza dan Dio nunggu gue kelamaan.” Prabu bersiap-siap memakai sarung tangannya. Satria meraih lengan Prabu, menahannya. Rautnya jadi ikut gelisah. “Lo tuh, ya. Kalau memang ada janji sama Sheza dan Dio harusnya nggak perlu iyain kalau gue ajak. Asli gue jadi kasian sama mereka. Mau digas sekarang juga jalanan licin, Bu.” Jawaban Prabu saat itu hanya mengangkat bahu. Ia menepuk lengan Satria sebelum melaju. “Ayo, Sat! Gue tinggal juga, nih,” katanya. Entah karena memang firasat, atau entah karena ia yang ingin menghabiskan waktu sedikit lebih lama untuk bercakap-cakap sesama pria. Yang jelas, tak ada alasan lagi untuk berdiri di bawah jembatan kecil itu tanpa Prabu. Satria segera menyalakan motor dan melesat untuk memperpendek jarak dengan sahabatnya. Tikungan sempit. Aspal basah. Kabut putih menelan pandangan. Satria menahan napas. Ia tak melihat lampu belakang motor Prabu. Tangan kanannya menekan gas tapi kemudian urung karena dari arah berlawanan terlihat padat. Ketika pikiran ragu-ragu itu muncul, sebuah bunyi memekakkan telinga membuat matanya terpejam sepersekian detik. BRAAAK! Raungan klakson panjang. Suara besi menghantam besi. Suara yang membuat ulu hati siapa pun mencelos. Satria baru saja keluar dari tikungan ketika dunia dirasanya melambat. Ia melihat sesuatu terlempar ke udara. Sebentuk siluet yang sangat ia kenal. Helm pecah dan serpihannya melayang bersama air hujan. Mata Satria tertuju pada sesuatu. Motor Prabu yang menghantam pembatas jalan, lalu tergilas keras oleh truk kontainer yang tak sempat mengerem. Dentuman logam menggemuruh membuat detik itu tangannya reflek menarik rem. Semua kendaraan di depannya kini terhenti dan gaduh. Satria melompat turun dari motornya. Jantungnya berdebar tak karuan. Ia berlari dengan teriakan tanpa suara. Tak tahu harus berlari ke mana. Darah di mana-mana. Helm Prabu pecah. Ringsek. Tangannya terangkat ke atas. Gemetar menggapai udara. Memegangi kepalanya dengan linglung. “PRABU!” jerit Satria. “Prabu …!” Satria kembali menjerit. Tubuh sahabatnya itu tergeletak di bawah truk. Masih bernapas. Ia masih melihat Prabu menghela napas meski kepayahan. Matanya separuh terbuka. Bibirnya terbuka pelan. Mencoba mengatakan sesuatu yang tak bisa ditangkap telinga. “Tolong! Tolong!” jerit Satria, meraba-raba ponsel dan menekan nomor darurat yang bisa diingatnya saat itu. ***** (IGD Rumah Sakit Pinggiran Kota) Satria berdiri membeku. Bajunya basah kuyup. Sepatunya berlumpur. Jaket kulitnya tertempel bercak darah yang sudah mengering. Sejak tadi tatapannya tak beranjak dari sosok tampan yang kini bergeming dengan wajah penuh luka lecet. Bagian sisi kanan kepalanya ada jahitan besar. Seorang dokter menutup catatan medis, suaranya datar. “Kepalanya parah, ada pendarahan masif. Kami sudah berusaha, Pak.” Kalimat itu seperti palu godam, tapi Satria bergeming. Rahangnya mengeras, matanya memerah. Ia hanya menatap kain putih yang kini menutupi sahabatnya hingga dada. Tangan Prabu sudah rapi disedekapkan. Suster berjalan pelan ke arahnya. "Bapak kenal korban?" Satria mengangguk seraya menelan ludah. Rahangnya tiba-tiba saja mengeras. "Saya kenal istrinya. Biar saya yang kasih tau,” ucapnya. Entah sudah berapa kali ia mengusap wajahnya sejak tadi. Air mata yang berusaha dihalaunya tak kunjung berhenti. “Bapak telepon atau kita….” “Saya yang kabari langsung. Saya ke rumahnya sekarang.” Satria menggigit bibir bawahnya. “Sekalian urus surat-suratnya juga,” tambahnya pelan. Kali ini sepertinya ia harus benar-benar meninggalkan perawat itu. …Depois de voltar para Prestonia, me formei com sucesso no mestrado e entrei para uma pequena startup de tecnologia. Meus professores e colegas não entenderam minha escolha. Só eu sabia que, em dois anos, aquela empresa cresceria a uma velocidade vertiginosa.Entrar naquele momento significava receber stock options como parte da proposta. Quando a empresa abrisse capital, eu alcançaria a liberdade financeira.Baixo risco, alto retorno.Se eu não tivesse vivido uma segunda vida, essa oportunidade nunca teria surgido para mim.A empresa estava numa fase de crescimento acelerado, e a carga de trabalho era intensa. Eu vivia em movimento constante, ocupada por dias seguidos.Só quando recebi uma ligação da Lucy percebi que um ano inteiro havia passado sem que eu notasse. A empolgação dela estalava do outro lado da linha:— Amelia, tenho uma fofoca gigantesca. A família da Ginger faliu!Meu coração deu um salto. Fazia muito tempo que eu não ouvia aquele nome tão familiar.Lucy continu
Depois de voltar para a faculdade, fiz uma transição tranquila para a pós-graduação. Dois anos depois, sob a supervisão do meu orientador, concluí dois artigos científicos, ambos publicados com sucesso em periódicos renomados da minha área.Uma das empresas que teve acesso ao meu trabalho entrou em contato comigo e me convidou para atuar como consultora de pesquisa. Ofereceram uma taxa de consultoria mensal de cem mil dólares por um único projeto.Foi assim que ganhei meu primeiro pote de ouro.Naquele verão, durante as férias em casa, fui a uma reunião de ex-alunos com a Lucy. Vários anos haviam se passado e, mais uma vez, encontrei o Maverick.O que me chocou foi o quanto ele tinha envelhecido. O cabelo estava desgrenhado, a pele opaca e amarelada. O rosto parecia abatido, com sulcos profundos ao redor da boca e dos olhos. Se alguém me dissesse que ele tinha mais de trinta anos, eu acreditaria sem hesitar.O que foi ainda mais surpreendente era que uma de suas pernas estava clar
No meu último ano de graduação, consegui uma recomendação garantida para um programa de pós-graduação. Entrei para o grupo de pesquisa de um professor que eu realmente admirava e comecei a trabalhar sob sua orientação.Minha rotina era relativamente tranquila. Enquanto me preparava para a dissertação do mestrado, também comecei a lançar as bases de um negócio que eu pretendia abrir.Quando voltei para casa durante as férias, jamais imaginei que encontraria pela vizinhança o Maverick parado no fim da minha escadaria. Parecia que ele já estava me esperando a um tempo.No momento em que me viu, o rosto dele se iluminou de tanta surpresa.Ele se aproximou, esfregando as mãos, hesitou um pouco antes de falar.— Amelia, quanto tempo. Como está a vida em Prestonia?Assenti e respondi com calma:— Muito boa.Ele soltou uma risada sem graça.— Ah… você pretende fazer a prova de ingresso para a pós-graduação? Ouvi dizer que está muito concorrida agora. Não tá fácil pra passar.Respondi
Quando o semestre começou, eu finalmente fui para o campus da Bloomdale University. Com a experiência da minha vida passada, eu tinha uma noção muito mais clara do que queria da faculdade desta vez.Concentrei-me nas disciplinas, mantendo o melhor CR do curso, e ao mesmo tempo participei de projetos de pesquisa fora da sala de aula. Construí intencionalmente relações com professores renomados e mentores, ampliando minha rede aos poucos.Tudo isso tinha um propósito. Tornava meu caminho na vida acadêmica mais fluido e lançava as bases para o que eu viesse a escolher depois.Ao fim do semestre, fiquei em primeiro lugar no meu curso com facilidade e ainda conquistei uma bolsa de pesquisa. Meu nome rapidamente se tornou conhecido dentro do departamento.Quando voltei para casa no Ano Novo, Lucy me convidou para fazer compras e soltou uma bomba — Ginger estava grávida.Não consegui evitar erguer uma sobrancelha.Lucy pareceu satisfeita com minha reação, claramente me provocando por eu
Bem-vindo ao Goodnovel mundo de ficção. Se você gosta desta novela, ou você é um idealista que espera explorar um mundo perfeito, e também quer se tornar um autor de novela original online para aumentar a renda, você pode se juntar à nossa família para ler ou criar vários tipos de livros, como romance, leitura épica, novela de lobisomem, novela de fantasia, história e assim por diante. Se você é um leitor, novelas de alta qualidade podem ser selecionados aqui. Se você é um autor, pode obter mais inspiração de outras pessoas para criar obras mais brilhantes, além disso, suas obras em nossa plataforma chamarão mais atenção e conquistarão mais admiração dos leitores.