Home / Romansa / Tuan CEO, Aku Ingin Berpisah! / Bab 121: Memberi Rasa Nyaman

Share

Bab 121: Memberi Rasa Nyaman

last update publish date: 2025-03-04 22:34:33

“Aku harap kau tidak salah paham dengan perkataanku.”

Michelle berusaha menampik kegelisahan Roland yang jelas terlihat di balik keheningannya itu.

“Aku tidak ingin menjalani hubungan ini terlalu terburu-buru. Aku ingin kita menikmati waktu bersama-sama sekaligus bisa memahami diri kita masing-masing.”

Michelle lebih lanjut mengutarakan keinginannya dengan tidak cukup percaya diri. Itu karena dia memahami Roland yang pasti tidak akan menyutujui.

“Aku ingin kita tidak seperti dulu yang selalu sa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tuan CEO, Aku Ingin Berpisah!   BAB 148: Kebenaran yang Terlambat

    Odelia menatap Jullian beberapa saat. Pertanyaan pria itu masih menggantung di antara mereka.“Apa yang belum aku ketahui, Odelia?”Odelia mengalihkan pandangannya. Dia tidak langsung menjawab. Sebaliknya, wanita itu berbalik menuju meja makan, seolah masih ada sesuatu yang harus dibereskan di sana.“Sebaiknya kita sarapan dulu.”Jullian menatap punggung istrinya dengan tatapan tidak percaya. “Bagaimana aku bisa sarapan sekarang?”Odelia berhenti.Jullian melanjutkan dengan suara yang lebih berat. “Kau pikir makanan itu akan tertelan ke tenggorokanku setelah tahu kalian menyembunyikan hal penting dariku?”Odelia memejamkan mata. Dia tahu percakapan ini tidak mungkin lagi dihindari.Selama ini dia selalu memiliki alasan untuk menunda. Kesehatan Jullian, kondisinya yang belum benar-benar pulih. Keinginannya untuk menjaga rumah tetap tenang.Namun pagi ini, semua alasan itu terasa tidak lagi cukup.Odelia menarik napas panjang. Kemudian dia berbalik.“Duduklah dulu.”Jullian masih berdir

  • Tuan CEO, Aku Ingin Berpisah!   Bab 147: Apa yang Kalian Sembunyikan Dariku?

    Pagi itu, rumah keluarga Archer terasa jauh lebih tenang daripada biasanya.Cahaya matahari masuk perlahan melalui jendela-jendela besar di ruang makan, jatuh di atas meja yang sudah tertata rapi. Aroma sarapan memenuhi ruangan, bercampur dengan suara kecil peralatan makan yang sesekali beradu ketika Odelia merapikan semuanya.Wanita itu baru saja selesai menyiapkan sarapan ketika suara ponselnya terdengar dari atas meja.Odelia menoleh, tangannya yang masih memegang sebuah piring berhenti sejenak sebelum akhirnya dia meletakkannya perlahan di atas meja. Matanya jatuh pada layar ponsel.Valencia.Odelia segera mengambilnya. “Halo, Valen?”“Mom.”Suara Valencia terdengar dari seberang.Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat Odelia tanpa sadar mengernyitkan kening.“Ada apa?”Valencia tidak langsung menjawab. Beberapa detik berlalu, hanya terdengar suara napas putrinya dari seberang telepon.“Mommy sudah melihat berita tentang Ella?”Gerakan tangan Odelia yang sedang merapikan beb

  • Tuan CEO, Aku Ingin Berpisah!   BAB 146: Kau Punya Kami

    Beberapa menit setelah percakapan mereka berakhir, Michelle masih berdiri di dekat pintu kamar hotel sambil memandangi layar handphone-nya yang sudah kembali gelap.Roland akan datang.Entah kenapa, hanya dengan mendengar kalimat itu, hatinya terasa sedikit lebih tenang.Michelle menghela napas perlahan.Pandangannya kemudian beralih kepada Leah yang masih tertidur pulas di atas tempat tidur.Gadis kecil itu sama sekali tidak tahu bahwa ayahnya sedang dalam perjalanan untuk menjemput mereka.Michelle berjalan mendekati tempat tidur lalu duduk di tepinya. Tangannya bergerak perlahan membelai rambut Leah.Suara bel pintu terdengar tak sampai setengah jam berlalu. Michelle beranjak lembut dari tepian tidur agar Leah tidak terbangun.Dia berjalan menuju pintu dan membukanya. Senyum lembut langsung muncul di wajahnya ketika melihat siapa yang berdiri di hadapannya, Roland.Pria itu berdiri dengan wajah yang terlihat jauh lebih tegang daripada biasanya. Di belakangnya ada Daniel yang berdir

  • Tuan CEO, Aku Ingin Berpisah!   BAB 145: Berita yang Tidak Pernah Ingin Di dengar

    Pagi itu, Los Angeles terasa jauh lebih tenang dibandingkan hari-hari sebelumnya.Michelle berdiri di depan lemari sambil menatap beberapa pakaian yang sudah diletakkan di atas tempat tidur. Tangannya sesekali berpindah dari satu pakaian ke pakaian lain, tetapi pikirannya sebenarnya tidak benar-benar berada di sana.Sudah beberapa hari terakhir dia merindukan New York.Bukan kotanya, bukan kesibukan yang selalu membuatnya lelah. Melainkan seseorang yang tinggal di sana ... Roland.Michelle menahan senyum kecil ketika mengingat suara pria itu beberapa hari lalu. Ada sesuatu dalam cara Roland berbicara kepada Leah yang selalu berhasil membuat hatinya menghangat.Leah sendiri bahkan lebih parah. Sejak pagi, gadis kecil itu sudah berulang kali mengatakan ingin bertemu daddy.“Mom.” Suara Leah terdengar dari ambang pintu.Michelle menoleh, melihat Leah berdiri sambil memeluk sebuah tas kecil berisi beberapa mainan kesayangannya.“Kenapa?”“Aku sudah siap untuk ketemu Daddy!”Michelle terse

  • Tuan CEO, Aku Ingin Berpisah!   BAB 144: Jalan yang Harus Dihadapi

    Pagi datang tanpa membawa perubahan apa pun.Ella masih berada di dalam ruang tahanan ketika cahaya matahari mulai masuk melalui celah kecil di bagian atas dinding. Cahaya itu tidak cukup untuk menghangatkan ruangan. Hanya membuat Ella semakin sadar bahwa malam telah berlalu dan tidak ada seorang pun yang datang menjemputnya.Dia duduk di sudut ruangan dengan kedua lutut ditekuk. Sejak tadi pikirannya terus berputar pada percakapan dengan Roland.Aku tidak peduli.Dua kata itu terus terdengar di kepalanya. Ella menggeleng perlahan, berusaha menepis kata-kata menyakitkan itu.Ella mengangkat wajah ketika mendengar langkah kaki mendekat.Seorang petugas berhenti di depan jeruji. “Anda memiliki waktu untuk bertemu pengacara.”Ella langsung berdiri. “Pengacaraku datang?”“Ya.”Untuk pertama kalinya pagi itu, ada sedikit harapan di mata Ella. Dia segera mengikuti petugas keluar dari ruang tahanan.Namun ketika memasuki ruang pertemuan, senyum di wajahnya perlahan menghilang.Pria yang dudu

  • Tuan CEO, Aku Ingin Berpisah!   BAB 143: Tidak Ada Lagi yang Datang Menyelamatkan

    Ella mengerang kesakitan setelah tubuhnya dihempas kasar ke lantai yang dingin. Namun, rasa sakit itu cepat pulih ketika melihat pintu jeruji besi yang khas terkunci rapat.“Roland! Semua yang dia katakan itu bohong!” Ella berteriak keras sampai suaranya mendominasi seluruh ruang tahanan.Padahal Roland tak ada dalam satu ruangan sama dengan dirinya. Tetapi Ella meyakini teriakannya mampu menembus dinding-dinding kokoh nan dingin kantor kepolisian itu. Dia sangat percaya diri teriakannya mampu didengar Roland yang masih berada di ruangan lain pada kantor kepolisian itu.“Semua itu bohong, Roland! Jangan dengarkan dia!” teriakan Ella memekik lebih keras sampai mengganggu tahanan lainnya.Di ruangan lain, Roland masih duduk tenang dengan ekspresi dingin penuh kebencian. Matanya masih menusuk tajam Jemmy yang duduk berseberangan dengan kedua tangannya terikat borgol besi.“Kenapa kau mengaku padaku?”Suara dingin Roland kembali memperkuat dominasi dingin yang mencekam di ruangan interoga

  • Tuan CEO, Aku Ingin Berpisah!   Bab 11: Sosok yang Dirindukan

    "Bibi Alins, sepertinya aku akan melahirkan.” Michelle berusaha bersuara tenang demi tidak menambah kepanikan.Padahal wanita itu sudah merintih kesakitan dengan keringat yang berpeluh. Michelle bahkan sudah memucat ketika memastikan air yg keluar dari tengah-tengah pahanya itu adalah

  • Tuan CEO, Aku Ingin Berpisah!   Bab 10: Pagi yang Panik

    Michelle mendorong dua kartu ini sampai mendekat ke tangan Alins yang berada di tepian meja. Dengan tindakan serupa pula Alins mendorong balik ke tangan Michelle, sampai memaksa Michelle menggenggamnya.“Kami tidak merasa disusahkan olehmu. Sebaliknya, kami merasa senang kau ada bersama

  • Tuan CEO, Aku Ingin Berpisah!   Bab 9: Kasih Sayang

    Ruangan senam hamil itu seperti tempat aerobic pada umumnya. Kaca besar melingkari ruang latihan.Michelle menengok ke pintu mencari sosok Alins yang berjanji menemaninya. Hatinya sedikit merasa rendah diri ketika melihat pesertanya senam lainnya didampingi suami mereka.[Michel

  • Tuan CEO, Aku Ingin Berpisah!   Bab 8: Merasa Kehilangan

    "Hentikan mobilnya.” Dengan suara parau Roland memerintah Daniel.Pria yang duduk di kursi penumpang belakang itu telah tersadar dari mabuknya. Matanya memerah itu menyorot tajam Daniel yang melirik singkat dari cermin dashboard.“Apa Anda ingin saya antar ke apartemen?”

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status