Share

Bab 47: Manipulatif

Author: Noona Aurora
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-24 17:53:40

Kediaman megah keluarga Blackwell.

Suasana rumah mewah ini tampak tenang ketika sebuah mobil mewah berwarna merah berhenti di depan halaman utama.

Vivian turun dari mobil dengan sikap anggun. Dia melepas kacamata hitamnya lebih dulu, lalu membenahi letak tas desainer di lengannya sebelum melangkah masuk menuju ruang keluarga.

Vivian masuk ke dalam rumah, setelah bertanya keberadaan Beatrice ke pelayan, Vivian menuju ruang keluarga.

Setibanya di sana, tatapan Vivian tertuju pada Beatrice yang s
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Tuan CEO, Istri Kontrakmu Pergi!   Bab 106: Ketegangan di Meja Makan

    Damian tersenyum tipis, raut khawatirnya perlahan mencair. "Aku ingin mengajakmu makan siang," ucapnya, matanya menatap lurus ke arah Sienna. "Kebetulan aku baru menemui klien di sekitaran sini, jadi aku mampir ke sini."Sienna melirik jam di dinding booth, mempertimbangkan sejenak sebelum akhirnya mengangguk. "Baiklah. Tapi tidak boleh terlalu lama, aku harus kembali bekerja."Sienna meminta izin ke supervisornya lebih dulu meski ini sudah masuk jam istirahat.Setelahnya Sienna dan Damian melangkah bersama menuju resto fine dining di lantai atas.Mereka berdua duduk di restoran yang sama seperti biasanya, meja dekat jendela dengan pemandangan atrium mall yang ramai. Damian memesankan beberapa hidangan untuk mereka berdua, sesekali mengobrol ringan tentang kesibukan Sienna hari ini.Baru beberapa suap makanan mereka nikmati, sebuah suara ceria tiba-tiba menyapa dari arah pintu masuk restoran."Sienna?"Sienna menoleh, mendapati Julian berdiri tak jauh dari meja merekaJulian tersenyu

  • Tuan CEO, Istri Kontrakmu Pergi!   Bab 105: Sangat Tiba-tiba

    Siang itu.Di booth pameran mall tempat Sienna bekerja tidak terlalu ramai pengunjung. Sienna sedang merapikan beberapa botol sampel produk kecantikan ketika sebuah suara familier menyapa dari depan meja display."Sienna."Sienna menoleh, sedikit terkejut melihat sosok Vivian berdiri di sana, mengenakan pakaian kasual yang jauh lebih sederhana dari biasanya, wajahnya tidak lagi memancarkan keangkuhan seperti yang selalu Sienna lihat sebelumnya."Nona Vivian," sapa Sienna berhati-hati, menegakkan tubuhnya. “Ada yang bisa saya bantu, Nona?” Sienna bersikap profesional karena berada di lingkungan kerja.Vivian menggeleng pelan. “Bukan soal barang,” katanya.Kening Sienna berkerut dalam. Dia menatap Vivian yang melangkah lebih dekat ke arahnya."Aku ke sini untuk minta maaf," ucap Vivian pelan, suaranya dibuat lembut dan penuh penyesalan. "Aku sadar sikapku padamu sebelumnya sangat keterlaluan. Aku terlalu terbawa emosi karena masalah pribadiku dengan Damian, dan kamu yang malah jadi sas

  • Tuan CEO, Istri Kontrakmu Pergi!   Bab 104: Umpan untuk Julian

    Siang hari, di sebuah restoran kecil di pusat kota tampak ramai oleh pengunjung yang sedang menikmati jam makan siang. Julian duduk sendirian di salah satu meja dekat jendela, sesekali memeriksa ponselnya sambil menunggu pesanan yang baru saja dia buat.Belum lama menunggu, sebuah suara riang menyapa dari samping mejanya."Tuan Mercer?"Julian menoleh, mendapati seorang wanita muda berpenampilan modis berdiri tak jauh darinya, tersenyum seolah mengenalinya dengan baik. Julian mengerutkan kening, mencoba mengingat-ingat wajah itu."Maaf, apa kita pernah bertemu?" tanya Julian sopan, meski nada suaranya tetap berjarak."Zoe Hayes," ucap wanita itu memperkenalkan diri, tersenyum manis sambil duduk di kursi kosong seberang Julian tanpa diminta. "Kita memang belum pernah bertemu, tapi aku kenal siapa kamu. Aku adik Sienna."Julian tersentak mendengar nama itu disebutkan. Dia mengingat samar-samar sosok Zoe, apakah dia pernah melihat wanita ini selama Julian mengenal Sienna? Sayangnya Jul

  • Tuan CEO, Istri Kontrakmu Pergi!   Bab 103: Masih Terus Mengejar

    Pagi itu, matahari baru saja menyingsing ketika Damian melangkah keluar dari kamarnya, sudah rapi dengan setelan jas kerja lengkap dengan tas kerja di tangannya. Baru saja dia menuruni tangga, suara ketukan pintu depan yang cukup keras terdengar menggema di seluruh rumah.Joana bergegas membukakan pintu, dan tak lama, sosok Vivian sudah melangkah masuk dengan senyum lebar, membawa sebuah kotak kado yang sama dengan yang tadi malam ditinggalkan begitu saja oleh Damian di meja rumah Beatrice."Damian," sapa Vivian riang, matanya berbinar melihat pria itu sudah berada di anak tangga terakhir. "Untung kamu belum berangkat. Aku bawakan kadomu yang semalam kamu tinggal."Vivian melangkah mendekat. “Kamu lupa membawanya, hm? Padahal aku sudah memilihkan hadiah ini dengan serius agar kamu suka.”Damian melirik kotak itu sekilas, tidak menunjukkan antusiasme sedikit pun. "Taruh saja di meja," ucapnya datar, melangkah melewati Vivian menuju ruang tengah.Vivian tidak menyerah begitu saja. Dia

  • Tuan CEO, Istri Kontrakmu Pergi!   Bab 102: Rencana Lain Vivian

    Simon terkejut mendengar pengakuan itu. Dia menegakkan posisi duduknya, menatap Damian dengan sorot mata penuh selidik. "Apa tujuanmu, Damian?" tanya Simon, suaranya tenang namun serius. "Papa hanya ingin memastikan, apa yang sebenarnya kamu inginkan dari semua ini? Setelah membiarkan Sienna pergi seolah kamu tak butuh, sekarang kamu ingin mengejarnya? Apa yang sebenarnya kamu inginkan?"Damian terdiam sejenak, memikirkan jawaban yang tepat. Namun tak lama, sebuah senyum kecil terbit di sudut bibirnya, dan dia menatap ayahnya dengan mata yang begitu jujur."Aku memang tidak bisa hidup tanpa Sienna, Pa," ucap Damian pelan. "Papa dulu berkata benar. Aku yang tidak bisa lepas darinya, sementara dia... dia bisa dengan mudah melepaskanku."Simon diam, menimbang setiap kata yang baru saja diucapkan putranya. Dia mengamati raut wajah Damian yang begitu berbeda dari biasanya—tidak ada lagi keangkuhan atau kesombongan yang biasa menyelimuti setiap ucapannya, hanya kejujuran polos yang jarang

  • Tuan CEO, Istri Kontrakmu Pergi!   Bab 101: Pengakuan pada Simon

    "Tidak perlu," ucap Damian datar, menggeleng pelan tanpa terlihat berpikir panjang apalagi mempertimbangkan.Vivian tersentak mendengar penolakan itu, senyumnya sempat memudar sesaat sebelum dia buru-buru menguasai ekspresinya kembali. Damian sebelumnya tak pernah menolak ucapan atau sarannya, tapi sekarang berbeda.Tidak hanya Vivian, Beatrice dan Elena yang duduk di sisi lain meja juga menatap Damian dengan raut tidak percaya."Kenapa tidak perlu?" tanya Beatrice, alisnya terangkat heran. "Pesta seperti itu bukankah bagus untukmu? Kamu bisa mengundang lebih banyak relasi bisnis, mempererat hubungan dengan investor-investor penting. Bukankah itu menguntungkan untuk perusahaan?"Damian tidak langsung menjawab. Dia menyendok makanannya dengan gerakan malas, seolah pertanyaan itu sama sekali tidak layak untuk ditanggapi serius. "Tidak perlu repot-repot," jawab Damian akhirnya, singkat dan datar, tanpa memberikan alasan lebih lanjut.Beatrice mengerutkan kening, jelas tidak puas dengan j

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status