LOGINSienna Hayes terikat kontrak pernikahan dan hidup sebagai istri pajangan demi mendapatkan apa yang diperjuangkannya. Begitu kontrak selesai, Sienna memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Tidak ada cinta, tidak ada kompromi. Dia hanya pelengkap dalam hidup suaminya–Damian Blackwell. Saat surat cerai diserahkan dan dia meninggalkan suaminya, Damian malah kehilangan dan kembali mengejar cintanya. Lalu, apa yang harus Sienna lakukan? Menerima cinta pria dingin yang pernah hidup dengannya selama satu tahun ini. Atau benar-benar melepas dan menjalani hidup barunya dengan tenang?
View More"Sudah hampir satu tahun ternyata, dan semua terlewat begitu saja."
Gumaman lirih itu lolos begitu saja dari bibir Sienna Hayes–wanita 30 tahun yang terjebak dalam pernikahan dingin satu tahun ini.
Suaranya yang pelan hampir tenggelam di antara denting gelas kristal dan tawa rendah para elite ibu kota yang memenuhi ballroom hotel bintang lima malam ini.
Tatapan mata Sienna kosong, lurus menembus kaca jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu di luar gedung yang begitu benderang.
Dadanya terasa sesak oleh beban yang tak kasat mata.
"Jaga ekspresi wajahmu, Sienna. Tersenyumlah, kamera wartawan sedang mengarah ke arah kita."
Suara bariton yang rendah, dingin, dan penuh perintah itu seketika memutus lamunan Sienna.
Damian Blackwell–suami kontraknya, pria berusia 35 tahun yang dingin dan ambisius.
Damian berdiri tegak di samping Sienna, dia menggeser tubuh sedikit merapat pada Sienna, tangan Damian bergerak melingkar di pinggang Sienna dengan begitu posesif, sebuah sentuhan yang terasa sangat hangat di kulit, tapi sangat dingin di hati.
Sienna tersentak kecil, tapi dengan cepat menguasai diri.
Sienna menoleh ke arah Damian, dia membalas tatapan suaminya ini dengan senyuman formal yang sudah dia latih dan perankan dengan sempurna selama 365 hari terakhir.
"Lakukan tugasmu seperti biasa. Jangan biarkan dewan direksi menangkap ekspresi tak senang sekecil apa pun di wajahmu," bisik Damian dengan nada penuh penekanan. Cara bicaranya nyaris tanpa menggerakkan bibir, matanya lurus menatap ke depan menyapa para kolega bisnis.
Bibir Sienna tersenyum, menutup ketidaknyamanan yang dirasakannya.
Di depan kilatan lampu kamera fotografer, mereka adalah potret pasangan sempurna yang membuat iri siapa saja.
CEO Blackwell Group yang tampan, tegas, dan ambisius, berdampingan dengan istri cantiknya yang lemah lembut.
Namun, di balik kemegahan itu, keduanya tahu persis bahwa pernikahan ini tak lebih dari sebuah transaksi hitam di atas putih. Satu tahun lalu, mereka mengikat janji di depan altar bukan karena cinta, melainkan kontrak satu tahun demi kepentingan masing-masing.
Damian membutuhkan citra seorang pria berkeluarga yang stabil untuk meyakinkan dewan direksi demi mengamankan posisi CEO dan memenangkan mega proyek mall baru ini. Sementara Sienna, yang terdesak oleh kekejaman keluarga kandungnya sendiri, membutuhkan kekuatan finansial dan pengaruh hukum Damian untuk menebus kembali rumah tua peninggalan ibu kandungnya.
Begitu fotografer menurunkan kamera dan membungkuk hormat memberi jalan, kehangatan di pinggang Sienna seketika menguap.
Damian menarik tangannya seolah kulit Sienna baru saja menyengatnya dengan listrik tegangan tinggi. Pria itu merapikan lipatan jas rancangan desainer ternama yang melekat sempurna di tubuh tegaknya, bahkan tanpa sudi melirik ke arah istrinya.
"Tetap di sini. Jangan membuat gerakan terburu-buru yang memancing pertanyaan wartawan," ucap Damian datar tanpa menatap Sienna sama sekali.
Setelah sejak tadi hanya diam dan tersenyum, suara Sienna akhirnya terdengar dari bibirnya. "Damian, kepalaku sedikit–" Kalimat Sienna terputus di udara.
Damian sudah membalikkan tubuhnya dan melangkah lebar menghampiri jajaran komisaris utama yang baru saja tiba di pintu masuk.
Pria itu tidak menanti penjelasannya, tidak pula peduli dengan wajah pucat istrinya.
Bagi Damian, kehadiran Sienna malam ini sudah memenuhi fungsinya secara maksimal, menjadi pajangan hidup yang menyempurnakan reputasinya malam ini.
Sienna mengembuskan napas pelan. Jari-jemarinya yang saling bertautan di depan gaun satin berwarna gading miliknya mulai memutih, dia menahan rasa pening yang perlahan merayap di pelipisnya.
"Lihat siapa yang berdiri sendirian di sudut seperti pajangan murah."
Suara sinis yang sangat familier itu membuat Sienna menoleh.
Beatrice Blackwell, ibu mertuanya, berjalan mendekat bersama Elena, adik perempuan Damian. Keduanya memegang gelas sampanye dengan tatapan mata yang menilai dari ujung kepala hingga ujung kaki Sienna.
"Mama, Elena," sapa Sienna, dia membungkuk kecil dengan selembut mungkin.
Selama setahun ini, dia selalu berusaha menjaga tata kramanya di depan keluarga Blackwell, menelan semua keangkuhan dan pandangan remeh mereka bulat-bulat.
Beatrice mendengus, matanya tertuju pada kalung mutiara tipis yang melingkari leher Sienna. "Keluarga Blackwell memenangkan proyek triliunan rupiah malam ini, Sienna. Dan kamu memilih memakai perhiasan lama yang bahkan tidak lebih mahal dari sebotol sampanye di meja itu? Kau ingin membuat relasi kami mengira Damian tidak menafkahimu?"
Jari kanan Sienna terangkat menyentuh kalung yang menggantung di lehernya. Bibirnya dipaksa mengulas senyum kecil lalu dia membalas, "Ini peninggalan ibuku, Ma. Aku merasa ini paling cocok dengan–"
"Ibumu yang sudah lama meninggal dari keluarga Hayes yang hampir bangkrut itu?" potong Elena dengan tawa kecil yang sengaja ditahan.
Wanita berusia dua puluh tujug tahun itu melirik gaun Sienna dengan mata berkilat remeh. "Damian terlalu baik padamu, Sienna.”
Sienna diam menatap Elena yang selalu membahas kebaikan keluarga Blackwell setiap ingin menyudutkannya.
Belum juga Sienna membalas, dia kembali mendengar Elena bicara.
“Kalau bukan karena Damian yang menebus rumah tua peninggalan ibumu dari tangan ayahmu yang tidak berguna itu, kamu mungkin sudah menggelandang di jalanan sekarang. Tahu dirilah sedikit. Setidaknya jangan permalukan nama Blackwell di acara sebesar ini."
Kata-kata Elena menusuk tepat di dada Sienna.
Perih, tapi tidak berdarah.
Sienna melirik ke arah tengah ruangan. Di sana, Damian sedang tertawa kecil sambil bersulang dengan seorang menteri, pemandangan langkah yang sangat jarang Sienna lihat.
Sienna melihat Damian yang sempat menoleh ke arahnya sebelum kembali memalingkan muka.
Sienna tersenyum getir. Bahkan meski Damian tahu kalau ibu dan adiknya tak menyukai Sienna, tapi pria ini tak pernah melindunginya sebagaimana mestinya seorang suami.
Hah! Bagaimana bisa Sienna berharap seperti itu, sedang pernikahan mereka hanyalah sebuah kontrak.
Sienna memejamkan mata sesaat.
Rasa sakit di kepalanya kini kalah dengan rasa lelah yang mendera jiwanya. Setahun ini Sienna bertahan dalam diam.
Dia menerima tatapan merendahkan dari pelayan rumah Blackwell, sindiran tajam Beatrice, dan sikap manja Elena yang selalu memperlakukannya seperti asisten pribadi tanpa bayaran.
Semua itu dia lakukan karena dia berutang budi pada Damian yang telah menyelamatkan memori terakhir tentang ibunya dari keserakahan ibu tirinya.
Namun malam ini, melihat bagaimana Damian mengabaikannya demi sebuah relasi bisnis, sesuatu di dalam diri Sienna pecah. Retakan yang selama ini dia tambal dengan kesabaran, kini runtuh sepenuhnya.
Sienna membuka matanya. Tatapannya tidak lagi seteduh biasanya. Dia menatap Beatrice dan Elena yang masih berdiri dengan sinis di hadapannya, lalu dia tersenyum sangat tipis tapi sarat akan ketegasan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
"Terima kasih atas teguran Anda, Mama, Elena," ucap Sienna dengan suara yang begitu tenang. Ucapan Sienna berubah formal. "Saya permisi ke kamar mandi sebentar."
Sienna berbalik tanpa menunggu izin dari Beatrice. Dia berjalan tegak, membelah kerumunan dengan langkah pasti.
Begitu tiba di dalam toilet wanita yang sepi, kedua telapak tangan Sienna bertumpu pada pinggiran wastafel marmer. Dia menatap pantulan dirinya di cermin besar.
Wajahnya pucat. Jemari kanannya meraba kalung mutiara di lehernya.
Tepat satu minggu dari sekarang, masa berlakunya di rumah itu habis. Dokumen kepemilikan rumah ibunya pun sudah resmi berpindah atas namanya dua hari lalu.
Kewajibannya sebagai istri pajangan sudah selesai.
Sienna meraba tas kecilnya, mengeluarkan ponsel, dan menatap kalender digital.
"Cukup, Sienna. Jangan biarkan dirimu kehilangan harga diri lebih jauh lagi," bisik Sienna pada pantulan dirinya sendiri.
Air matanya tidak jatuh. Rasa sedihnya telah berubah menjadi tekad yang dingin.
Saat dia keluar dari toilet, Damian sudah berdiri di koridor yang agak sepi, bersedekap dengan wajah tidak sabar.
"Kenapa lama sekali? Acara utama hampir selesai, kita harus berpamitan dengan keluarga besar," tegur Damian dengan nada menuntut.
Sienna menatap mata hitam Damian yang tajam. Pria ini tidak pernah bertanya apakah dia lelah, apakah kepalanya sakit, atau mengapa dia pergi begitu lama.
"Ayo," jawab Sienna pendek. Dia tidak lagi tersenyum.
Sienna berjalan mendahului Damian, mengabaikan pria ini untuk pertama kalinya dalam hidupnya.
Dan, setelah ini untuk selamanya.
Ruangan ini semakin membeku. Kata "Sienna" yang diucapkan di depan Damian terasa seperti pemicu bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak.Damian menatap manajer divisi dengan tatapan membunuh. Keheningan berlangsung selama beberapa detik yang menyiksa, sebelum akhirnya Damian menegakkan tubuhnya, merapikan kancing jasnya dengan jari yang sedikit tegang."Perusahaan ini dibayar dengan angka triliunan rupiah untuk mempekerjakan tim profesional, bukan untuk bergantung pada seorang wanita yang bahkan tidak masuk dalam struktur organisasi," kata Damian dengan suara rendah dan penuh penekanan.Tidak ada yang tahu soal pernikahan kontrak mereka, dan karena itu tidak ada yang boleh tahu soal akhir dari kontrak pernikahan Damian dengan Sienna.Damian bangkit dari duduknya dengan cepat, lalu dia menyambar ponselnya dengan kasar."Rapat selesai," ucap Damian tanpa menoleh lagi. "Saya tidak mau mendengar kalian bergentu pada Sienna. Jika besok pagi laporan ini belum sempurna, Anda dan seluruh ti
Sienna tiba di rumah peninggalan ibunya.Tatapannya penuh haru, setelah satu tahun bersabar dalam pernikahan kontrak yang menyesakkan. Akhirnya Sienna bebas.Sienna melangkah menuju pintu utama rumah tua ini. Dia membuka pintu ini dengan kunci yang dimilikinya.Aroma debu dan kayu lapuk menyambut Sienna begitu daun pintu kayu ini terbuka.Sienna melangkah masuk, meletakkan koper tua dan kardus kecilnya di lantai ruang tamu yang berdebu tebal. Dia berdiri sejenak di tengah ruangan, memandangi sekeliling. Selapis debu tipis menutupi perabotan yang ditinggalkan terbungkus kain putih sejak bertahun-tahun lalu.Sienna menarik napas panjang, meresapi bau udara lembap yang terasa begitu jujur di hidungnya."Aku pulang, Ibu," bisik Sienna dengan suara serak.Senyum Sienna membalut kepedihan. Mulai sekarang, dia akan tinggal di sini, sendiri. Tanpa tekanan, dan tanpa ikatan yang membelenggunya, yang memintanya berpura-pura dalam kepalsuan.Sienna menyingsingkan lengan kemeja putihnya hingga k
Matahari pagi baru saja terbit, memancarkan semburat jingga di langit timur saat jam dinding besar di lorong rumah Blackwell menunjukkan pukul tujuh lewat empat puluh lima menit.Damian terbangun dengan rasa tidak nyaman yang pekat di dadanya. Semalaman dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Bayangan tanda tangan Sienna di surat cerai itu terus membayangi pikirannya. Damian membuang jauh apa yang mengganjal di pikirannya. Dia bangkit dari ranjang dan segera mandi, lalu memakai kemeja kerjanya, dan turun ke lantai bawah dengan langkah yang sedikit lebih terburu-buru dari biasanya.“Joana!" panggil Damian begitu tiba di ruang tengah. Dia mencari keberadaan kepala pelayan rumahnya.Tidak ada jawaban. Rumah itu terasa sangat lenggang, seolah seluruh energinya telah tersedot keluar. Damian melangkah menuju dapur, menemukan Joana sedang berdiri di dekat meja makan dengan wajah mendung dan mata yang sedikit sembap."Di mana Sienna?" tanya Damian, nadanya menuntut, berusaha mengusir firasat b
Sienna menatap Damian yang berdiri di ambang pintu dengan napas yang sedikit memburu. Ketegangan langsung memenuhi ruangan kecil itu. Sienna tidak mencoba menyembunyikan berkas di atas meja atau kardus di bawahnya. Dia meletakkan buku yang dipegangnya dengan perlahan, lalu berdiri tegak menghadapi suaminya."Ini bukan di belakangmu, Damian," ucap Sienna, suaranya tetap terjaga di nada yang datar dan tenang. "Besok adalah hari terakhir kontrak kita. Aku hanya mempersiapkan apa yang sudah menjadi kesepakatan tertulis kita sejak satu tahun lalu."Damian melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga dia bisa melihat dengan jelas guratan kelelahan tapi sekaligus ketetapan hati di wajah Sienna."Kesepakatan kita adalah berpisah secara baik-baik setelah tujuan masing-masing tercapai," kata Damian, suaranya rendah dan tajam. "Tapi sikapmu beberapa hari ini seolah-olah aku adalah penjahat di sini. Kamu menarik diri dari rumah, mengabaikan keluargaku, dan sekarang kamu menyiapkan ber






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.