Home / Fantasi / Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz / Bab 119. Peringatan Bahaya, Dendam yang Mengintai Dalam Kegelapan

Share

Bab 119. Peringatan Bahaya, Dendam yang Mengintai Dalam Kegelapan

last update Last Updated: 2026-01-06 05:05:18

Perayaan masih berlangsung.

Lapangan basket kampus dipenuhi tawa, tepuk tangan, dan wajah-wajah yang berseri. Kemenangan hari itu bukan sekadar soal skor, melainkan simbol runtuhnya satu generasi lama dan lahirnya yang baru.

Nathan berdiri di tengah semua itu, dengan Rania di sisinya.

Tangannya masih terasa hangat oleh genggaman gadis itu. Senyum Rania tulus, matanya berbinar, sebuah pemandangan yang seharusnya menenangkan hati siapa pun.

Namun entah kenapa…

Ada rasa asing yang tiba-tiba menyusup ke dadanya.

Bukan firasat biasa.

Melainkan tekanan halus, seperti udara sebelum badai besar turun.

Langkah Nathan melambat.

Sorakan di sekelilingnya perlahan meredam, seolah suara dunia ditarik menjauh dari kesadarannya.

“Jangan lengah.”

Suara itu terdengar jelas di dalam kepalanya.

Nathan mengerutkan kening.

Ravina.

Bayangan wanita berambut panjang dengan tatapan dingin muncul samar di sisi jiwanya. Ekspresinya tidak bercanda, tidak pula sarkastik seperti biasanya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 126. Karena Kita Semua Adalah Keluarga

    Nathan melangkah santai, perlahan mendekati kedua gadis itu. “Aku suka kalian terus meningkatkan kemampuan bertarung, tapi aku tidak ingin kalian menggunakan senjata untuk saling menyakiti satu sama lain.” Nathan melambai ke arah Rania, dan ia segera mendekat. Nathan merengkuh pinggang rampingnya dan berkata, “Karena kita semua adalah keluarga.” Nathan melirik semua orang, dan perlahan ia tersenyum. “Mulai sekarang aku ingin kalian semua fokus berlatih kultivasi. Karena Marco, Roger, dan Chelyna juga sudah ada di sini, jadi akan ada lima mentor yang akan membimbing kalian semua untuk berlatih.” Ia melirik sekali lagi, lalu mulai membagi tugas mereka. “Rania, Mila, Alana, dan Alena, akan berlatih bersamaku. Billy akan berlatih dengan Roger, kalian berdua adalah saudaraku, jadi belajarlah untuk merasakan keakraban satu sama lain dan jadilah saudara. Marila, Mathilda, Laras, dan Bella berlatihlah dengan Nasha dan Chelyna. Braga, Richie, Reno, dan Seno, kalian ikuti Marco dan berla

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 125. Pertarungan Dua Iblis Wanita

    “Aku pikir setelah tiga tahun berlalu, sikap tegasmu akan sedikit berubah, kak,” ujar Roger sambil tertawa kecil. “Kau sengaja mengejekku, kan?” omel Nathan. “Cepat katakan bagaimana kau bisa tiba dengan begitu cepat saat aku baru saja memanggilmu?” “Apa lagi, kak, tentu saja karena kekasih kecilmu memaksaku menemaninya untuk bertemu denganmu,” jawab Roger sembarangan. Saat itu mata Nasha langsung menyipit. Rania, Mila, Alana, dan Alena saling berpandangan dengan bingung. Menyadari dirinya salah bicara, Roger buru-buru memperbaiki kalimatnya. “Maksudku, adik kecilku mengajakku bertemu penyelamatnya.” “Sudahlah, Roger. Kau lihat tatapan mata Nasha,” ujar Nathan. “Apa kau kira penjelasanmu masih berguna?” “Hehehe… maaf, kak, aku keceplosan,” ujarnya canggung sambil menggaruk bagian belakang kepalanya. “Di mana Chelyna?” tanya Nathan. Sebuah belati hitam dengan ukiran naga dan gantungan dua bunga merah muda tepat melesat ke arah Nathan pada saat itu. Tanpa menoleh, Nathan mengge

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 124. Satu Langkah Terakhir

    Gudang tua di Kota Heaven akhirnya benar-benar sunyi. Api telah padam, jeritan telah hilang, dan yang tersisa hanyalah noda darah yang mengering di lantai beton retak. Namun kesunyian itu bukanlah kedamaian, melainkan sisa getaran dari kemarahan besar yang baru saja dilepaskan ke dunia. Nathan berdiri sendirian di lantai utama gudang, punggungnya tegak, sorot matanya tenang. Amarahnya telah mereda, disegel rapi seperti pedang yang kembali ke sarungnya. Saat itulah Ravina kembali berbisik di dalam kesadarannya. “Masih ada satu orang tersisa.” Nathan tidak menoleh, tidak bereaksi berlebihan. “Dia bersembunyi di lantai paling atas,” lanjut Ravina. “Dialah pelaku utama. Yang mengeksekusi penculikan kekasih kecilmu.” Langkah Nathan beralih ke tangga besi di sudut gudang. Tangga itu berderit pelan saat ia menaikinya, setiap langkah terdengar jelas di kesunyian yang mencekam. Di lantai paling atas, sebuah ruangan kecil terbuka, gelap, sempit, penuh dengan ketakutan. Di sana

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 123. Hukuman Bagi Para Pengusik

    Gudang itu bergetar. Bukan karena ledakan. Bukan pula karena helikopter yang masih meraung di langit. Melainkan karena dua aura yang saling menekan, saling menguji, seperti dua bencana alam yang dipaksa berada dalam satu ruang sempit. Pria itu berdiri santai di hadapan Nathan, tangan dimasukkan ke saku celana, seolah puluhan mayat di sekeliling mereka hanyalah dekorasi tak berarti. “Dendam,” ulang Nathan pelan. “Dendam siapa?” Senyum pria itu melebar tipis. “Dendam keluarga,” jawabnya. “Hatani.” Udara langsung membeku. Nama itu jatuh seperti palu godam. Nathan tidak menunjukkan reaksi berlebihan. Namun di balik ketenangannya, sesuatu bergerak… dan bangkit. “Jadi kau putra pertama keluarga Hatani,” ucap Nathan datar. “Benar.” Pria itu melangkah perlahan. “Elang Hatani adalah adikku. Yang kau hancurkan. Yang kau buat kehilangan segalanya.” Nathan menatapnya tanpa berkedip. “Salahkan dirinya karena berani mengusik gadis yang tak seharusnya ia dekati sejak awal,” balas Natha

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 122. Kemarahan Sang Naga yang Tak Terbendung

    Langit malam di atas Kota Heaven terbelah oleh deru baling-baling. Puluhan helikopter melintas rendah, membentuk formasi rapi seperti kawanan predator yang baru dilepaskan dari rantainya. Lampu sorot menyapu gudang-gudang tua di kawasan industri terbengkalai, membuat bayangan bangunan tua itu tampak seperti bangkai raksasa yang menunggu untuk dikoyak. Di dalam salah satu helikopter terdepan, Nathan berdiri tanpa duduk. Matanya dingin. Tenang. Namun siapa pun yang mengenalnya tahu… Ketenangan itu adalah tanda paling berbahaya. Nasha berdiri di sampingnya, rambut peraknya diikat rapi, ekspresinya datar. Tangannya sudah memegang sepasang jarum perak, berkilau samar di bawah lampu kabin. “Lokasi target?” tanya Nathan singkat. Roger menjawab lewat komunikasi terenkripsi. “Gudang sektor timur Heaven. Tiga lapis penjagaan. Ada sekitar empat puluh orang bersenjata. Tidak ada warga sipil.” Nathan mengangguk kecil. “Bagus.” Satu kata itu membuat udara di kabin terasa membeku. “Tid

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 121. Perintah yang Mengguncang Seluruh Negara

    Alena menjerit sambil berlari ke arah saudarinya itu, tanpa memedulikan situasi di sekelilingnya. Ia berlutut, tangannya gemetar mencoba menekan luka kakaknya. “Tolong… tolong bangun… jangan tidur…” Air matanya jatuh tanpa henti. Saat itulah seseorang melangkah maju. Tinggi. Berpakaian hitam. Wajahnya tertutup topeng. Alena menatapnya dengan mata penuh air mata. “Tolong… kakakku… dia berdarah…” Untuk sesaat… Hanya sesaat… Stuart ragu. Ia menatap Alana yang bersimbah darah. Napasnya tertahan. Ada rasa asing yang menekan dadanya. Rasa kasihan yang tidak ia inginkan. Namun kemudian… Wajah Nathan terlintas di benaknya. Sorakan. Tepuk tangan. Tatapan jijik orang-orang padanya. Harga diri yang diinjak-injak. “Ini salahnya,” bisik suara dalam kepalanya. Tangannya mengepal. Rasa kasihan itu dipatahkan dengan paksa. “Diam. Kau harus ikut kami sekarang.” Plak. Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Alena. Tubuh gadis itu terhuyung, lalu ambruk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status