LOGINLangkah Nathan masih cepat saat ia menjauh dari area pemandian, napasnya belum sepenuhnya stabil setelah kejadian mendebarkan barusan. Uap air panas yang tadi menyelimuti tubuhnya kini berganti dengan udara luar yang jauh lebih sejuk, namun sensasi canggung itu belum juga hilang dari pikirannya. Ia mengangkat tangan, mencoba merapikan pakaiannya yang masih terasa berantakan. Namun kemudian… Langkahnya melambat. Ada sesuatu yang terasa aneh di pergelangan kakinya, seolah ada benda kecil yang melilit dan ikut bergerak setiap kali ia melangkah. Nathan segera berhenti. Alisnya sedikit berkerut saat ia menunduk, lalu perlahan mengangkat kakinya. Dari sana, terlihat sebuah rantai halus yang tersangkut, berkilau samar tertimpa cahaya. Sebuah liontin. Berwarna emas. Ukurannya kecil, tidak lebih besar dari ibu jari, namun detail ukirannya menunjukkan bahwa benda itu bukan milik orang biasa. Nathan melepasnya dengan hati-hati, menggenggamnya sejenak tanpa langsung membukanya.
Tangan gadis asing itu tiba-tiba bergetar hebat, seolah baru saja menyadari ada sesuatu yang aneh dalam genggamannya. Sentuhan itu terasa asing. Namun di saat yang sama, terlalu jelas untuk disalahartikan. Hangat. Nyata. Terlebih… bagian yang ia genggam seolah bereaksi. Di sisi lain, tubuh Nathan merespons secara naluriah. Tanpa perintah dan tanpa kendali, bagian yang disentuh itu bereaksi dengan sendirinya, membuat suasana yang sudah tidak biasa itu berubah menjadi jauh lebih canggung dari yang seharusnya. Uap air panas memenuhi ruangan, menciptakan kabut tipis yang membungkus keduanya dalam jarak yang terlalu dekat. Terlalu dekat untuk dianggap kebetulan biasa. Beberapa detik berlalu tanpa suara. Namun justru karena itu, segalanya terasa semakin jelas. Pikiran gadis itu kosong sesaat, sebelum akhirnya kesadaran menghantamnya sepenuhnya. Apa yang sedang ia pegang, siapa yang berada di dalam kolam bersamanya, dan bagaimana situasi ini bisa terjadi. Napasnya ter
“Tentu saja, aku mengenal mereka...” Senyum samar tersungging di bibir Nathan, membuat ekspresinya terlihat lebih hangat dari sebelumnya. “Mereka berdua bahkan adalah sebagian dari orang-orang yang memiliki hubungan sangat dekat denganku.” Nathan menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah Luna dengan ekspresi penuh tanya. “Ada apa, nona? Apa mereka membuat kekacauan selama di sini? Atau mungkin mereka mengganggu Anda?” “Ah... t-tidak, bukan begitu...” Luna langsung menggeleng cepat, suaranya terdengar gugup dan sedikit terbata-bata. “Lalu apa yang terjadi?” tanya Nathan tenang. Luna menarik napas pelan, berusaha menenangkan dirinya sendiri sebelum menjawab. “Mereka adalah dua gadis yang sangat baik. Awalnya memang terjadi sedikit kesalahpahaman di antara kami, tapi setelah itu hubungan kami membaik. Bahkan... bisa dikatakan aku adalah sahabat baik mereka selama mereka berada di sini.” Nathan menatapnya sejenak tanpa berkata apa-apa. Tatapan itu tidak tajam, namu
Nathan menghentikan langkahnya, sementara dua Raja Raksasa yang kini telah menjadi bawahannya berdiri sedikit di belakang dengan sikap hormat. “Sekarang aku akan berkunjung ke Sekte Lembah Jiwa,” ujarnya tenang, tanpa menoleh. Keduanya langsung menegakkan tubuh. “Untuk menemui seseorang.” Nada suara Nathan tetap datar, tetapi cukup untuk membuat mereka memahami bahwa tujuan itu bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele. Ia kemudian melirik mereka sekilas. “Sebelum itu, bisakah kalian mengubah wujud kalian agar terlihat seperti manusia normal?” Kedua raksasa itu terdiam sesaat, lalu segera mengangguk. “Bisa, Tuan!” Nathan menghela napas pelan. “Aku tidak ingin memancing keributan yang tidak perlu. Ini pertama kalinya aku datang ke sana.” Tanpa menunggu perintah kedua, tubuh kedua raksasa itu mulai berubah. Ukuran mereka menyusut, bentuk kasar mereka perlahan menyesuaikan, hingga akhirnya yang tersisa hanyalah dua pria bertubuh besar dengan aura kuat, namun tidak lag
Keheningan setelah jatuhnya Nara terasa jauh lebih menekan dibandingkan pertarungan itu sendiri. Dua Raja Raksasa Bintang Tiga yang sebelumnya hanya bisa menyaksikan dari kejauhan kini berdiri dalam kondisi mengenaskan. Tubuh mereka dipenuhi luka, napas berat, dan energi yang tersisa tidak lagi stabil. Namun semua itu bukan alasan utama tubuh mereka gemetar. Tatapan mereka tertuju pada satu sosok. Nathan. Pemuda itu berdiri tenang di tengah kehancuran, seolah semua yang baru saja terjadi tidak lebih dari hal biasa. Pedang hitam di tangannya telah kembali tenang, petir biru yang sebelumnya berdenyut kini hanya tersisa samar, hampir menghilang sepenuhnya. Namun justru ketenangan itu yang membuat mereka semakin ketakutan. Di hadapan kekuatan seperti itu, mereka benar-benar menyadari posisi mereka. Tidak lebih dari makhluk lemah. Makhluk yang bisa dihapus kapan saja tanpa perlawanan berarti. Tubuh salah satu dari mereka akhirnya tidak mampu bertahan. Ia berlutut dengan keras, dii
“Kau menilai dirimu terlalu tinggi, anak muda.” Suara Nara terdengar rendah, berat, dan kali ini tidak lagi meledak tanpa arah. Amarahnya masih ada, tetapi sudah dipadatkan menjadi sesuatu yang lebih berbahaya. Tatapannya tajam, mengunci Nathan tanpa sedikit pun bergeser, seolah seluruh dunia di sekitarnya sudah tidak lagi penting. Di hadapannya, Nathan berdiri tanpa perubahan. Tenang. Tatapannya stabil, napasnya teratur, dan pedang hitam di tangannya masih diselimuti petir biru yang bergerak perlahan, seperti makhluk hidup yang sepenuhnya tunduk pada kehendaknya. “Kalau itu yang kau lihat,” jawab Nathan santai, “berarti kau masih belum memahami situasimu.” Kalimat itu jatuh ringan, tetapi cukup untuk membuat otot wajah Nara menegang. Tanpa peringatan, tanah di bawah kaki Nara retak. Sosoknya menghilang. Ledakan suara menyusul sepersekian detik kemudian saat ia muncul tepat di hadapan Nathan, pedangnya turun dengan tekanan yang cukup untuk membelah tanah. Benturan
Sorotan lampu aula utama menyinari panggung final Olimpiade Akademik dengan cahaya putih yang tajam. Ribuan pasang mata tertuju pada dua nama yang sejak awal sudah menjadi pusat perhatian. Nathan. Nasha. Keduanya berdiri di meja masing-masing, berhadapan dengan soal terakhir yang menentukan s
Malam itu, asrama utama terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Sorakan di aula telah lama menghilang. Lampu-lampu luar hanya menyisakan cahaya keemasan yang jatuh lembut di koridor. Untuk pertama kalinya setelah rangkaian pertandingan yang melelahkan, tidak ada strategi yang perlu dibahas. Tidak a
Aula masih dipenuhi suasana tegang ketika klasemen resmi selesai diumumkan. Beberapa wajah tampak lega. Beberapa lainnya masih memproses semuanya. Namun sebelum panitia menutup sesi, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Kapten CHU B melangkah maju. Tanpa mikrofon. Tanpa aba-aba. Ia ber
Tubuh Ranggan belum sepenuhnya membisu ketika Gandra meraung. Raungan itu memecah udara arena. Bukan sekadar kemarahan. Itu kehilangan yang merobek kesadaran. Aura raksasanya meledak liar tanpa kendali. Tanah di bawah kakinya pecah membentuk lingkaran retakan besar. “RANGGAN!” Ia menerjang ta







