Masuk"Kalau kamu bisa bikin aku puas, aku bakal bayar gaji kamu tiga kali lipat, Dani." Dani Ardiansyah, seorang tukang kebun, terkejut saat sang nyonya muda memberikan tawaran gila itu. Namun, keadaan yang mendesak tak memberinya pilihan lain. Di bawah bayang-bayang ketakutan akan ancaman suami Meisya yang manipulatif, tawaran itu mengubah malam-malam sunyi di rumah megah tersebut menjadi panggung pelampiasan terlarang dan penuh risiko.
Lihat lebih banyak"Ahhh ... ugh, pegal banget."
Desahan napas yang agak berat dan tertahan itu meluncur mulus dari bibir bergincu tipis milik Meisya.
Nyonya muda berusia tiga puluh tahun itu tengah meniti gerakan demi gerakan kegel dan senam erotis paginya di atas matras.
Tubuhnya yang sintal dan padat digerakkan perlahan, menarik otot-otot pinggul, paha, hingga area kewanitaannya agar tetap kencang dan memikat.
Dengan balutan sport bra ketat warna hitam dan legging senada yang seperti kulit kedua, setiap lengkungan indah tubuh Meisya yang berkeringat tipis tercetak begitu sempurna di bawah terpaan matahari pagi.
Di sudut lain area taman, Dani Ardiansyah, pria berusia dua puluh lima tahun itu sedang berjalan perlahan membawa jaring pembersih dedaunan untuk membersihkan area kolam renang.
Pekerja yang baru sebulan mengadu nasib sebagai tukang kebun itu mendadak menghentikan langkahnya.
Pria bertubuh tegap dengan telapak tangan kapalan itu membeku seketika.
Melalui celah rimbun dedaunan monstera yang basah oleh embun, mata Dani tak sengaja menangkap pemandangan di area paviliun tersebut.
Gerakan lengkuk pinggul Meisya yang menantang dan desahan napasnya yang sensual memukul telak indra penglihatan dan pendengaran Dani.
Darahnya berdesir hebat. Jantungnya berdegup melesat cepat.
Namun, Dani tahu diri. Ia tahu betul posisinya hanya sebutir debu di rumah megah bergaya modern minimalis ini.
Namun, gerakan tubuh sang nyonya muda benar-benar menghipnotis matanya.
Sadar bahwa batas aman telah dilanggarnya, Dani buru-buru berniat mundur untuk memalingkan wajah dan kembali ke kolam.
Namun sial, kepanikannya justru membuat sikunya menyenggol pot bunga terakota di dekatnya!
PRANG! BRAK!
Sang nyonya muda langsung menoleh dan membolakan matanya menatap ke arah si tukang kebun itu.
"Dani! Lagi ngapain kamu di situ? Lagi ngintip kamu, ya?!" teriak Meisya.
Dani yang sedang memegang selang air langsung tersentak. Jantungnya berdegup kencang, separuh karena terkejut dan separuh lagi karena panik yang luar biasa.
Ditambah sekarang Meisya sudah berjalan mendekat dengan langkah angkuh, lalu berkacak pinggang dengan tatapan mata penuh penghinaan.
"Jawab aku, Dani. Ngapain kamu tadi, hah?" tanya Meisya lagi.
Dani langsung menundukkan kepala sedalam-dalamnya. "M-maaf, Nyonya. Saya benar-benar minta maaf. Sama sekali tidak ada niat saya untuk mengintip, Nyonya. Saya bersumpah."
"Nggak sengaja kamu bilang? Alasan! Semua laki-laki itu otaknya sama aja, mesum!" semprot Meisya lagi.
Langkahnya berhenti tepat di depan Dani, hingga membuat aroma parfum lavender mahal yang bercampur hangat keringat tubuhnya tercium jelas oleh indra penciuman Dani, yang berhasil membuat Dani semakin kelimpungan menahan hasrat dalam dirinya.
"Bukannya kerja yang bener, mata kamu malah jelalatan!"
"Iya, Nyonya, saya emang salah karena kurang hati-hati melihat arah." Dani berusaha membela diri dengan suara beratnya, tengah menahan rasa gugup yang mendera dada.
"Tapi saya murni hanya fokus bekerja di sini," lanjutnya.
"Halah, nggak usah bela diri! Mata kamu itu tadi jelas-jelas ngeliatin aku dari atas sampai bawah!" Meisya menatap sinis kaus oblong abu-abu Dani yang basah oleh keringat yang membentuk jelas postur tubuh pria berkulit sawo matang itu.
"Dengar ya, Dani. Sekali lagi kamu kedapatan ngintip aku atau berani matanya lancang kayak tadi, aku bakal aduin semua ini ke suamiku. Biar kamu dipecat sekalian hari itu juga! Kamu mau, aku aduin ke Pak Harry, hah?!"
Mendengar nama Harry disebut, nyali Dani langsung menciut. Ia tahu betul watak dingin, kejam, dan manipulatif dari sang tuan besar yang berusia tiga puluh lima tahun itu.
Jika Harry sampai turun tangan, Dani tidak hanya akan didepak, tapi bisa saja keluar tanpa sepeser pun sisa gaji.
"Jangan, Nyonya. Saya mohon jangan diadukan ke Tuan Harry," ucap Dani cepat, lalu menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada dengan wajah cemas yang amat sangat.
"Saya sangat butuh pekerjaan ini untuk biaya hidup. Tolong kasih saya kesempatan, Nyonya. Saya berjanji kejadian seperti ini tidak akan pernah terulang lagi."
Meisya menyunggingkan bibirnya.
Sebuah senyuman kepuasan yang sinis dan meremehkan terukir di wajah cantiknya.
Gengsinya yang setinggi langit seketika terpenuhi mendapati pria berbadan tegap itu memohon-mohon pasrah di hadapannya.
"Makanya, punya mata itu dijaga! Sadar posisi kamu di sini cuma tukang kebun!" ketus Meisya, tampak sangat menikmati kekuasaannya atas Dani.
"Awas kalau besok-besok aku lihat mata kamu jelalatan lagi. Jangankan gaji, barang-barang kamu pun bakal aku suruh satpam lempar ke luar pagar!"
"Baik, Nyonya. Terima kasih banyak atas kebaikan Nyonya yang mau memaafkan saya," jawab Dani, lalu mengembuskan napas lega yang sempat tertahan di tenggorokan.
"Ya sudah! Sana balik kerja! Jangan malas-malasan!" perintah Meisya tajam.
Namun, keangkuhan nyonya muda itu tidak bertahan lama.
Saat Meisya memutar tubuhnya dengan sentakan cepat untuk kembali ke paviliun, ia tidak menyadari bahwa tali sepatu yang dikenakannya terlepas dan menjuntai panjang.
Kaki kanannya melangkah maju, namun kaki kirinya justru menginjak tali sepatu tersebut.
"Aah!" Meisya menjerit kecil saat keseimbangannya hilang seketika.
Tubuhnya terhuyung ke depan, jatuh bebas ke arah permukaan semen keras di dekat area taman.
Dani, yang memiliki refleks cepat karena terbiasa melakukan kerja fisik, tidak berpikir panjang. Insting manusianya bergerak jauh lebih cepat daripada otaknya.
Ia langsung melompat maju, menjatuhkan selang air ke tanah, dan merentangkan kedua tangannya yang kekar untuk menangkap tubuh sang nyonya muda agar tidak menghantam lantai.
Grep!
Dani berhasil menangkapnya tepat waktu.
Tubuh Meisya yang empuk, sintal, dan hangat menabrak dada bidang Dani dengan keras, hingga membuat keduanya terdorong beberapa senti ke belakang sebelum Dani berhasil memantapkan pijakan kakinya.
Namun, keheningan yang mencekam dan panas mendadak merayap di antara mereka.
Dani membeku di tempat saat menyadari posisi tangannya.
Karena situasi yang sangat mendadak dan darurat itu, kedua telapak tangan Dani yang besar tidak mendarat di pinggang atau bahu Meisya.
Melainkan, kedua tangannya merengkuh penuh dan meremas tepat di atas buah dada montok Meisya yang hanya terbalut sport bra tipis itu!
“Daniii!!” teriak Meisya.
Matahari pagi baru saja merambat naik ketika sedan hitam yang dikemudikan Dani meluncur tenang membelah kepadatan jalanan Jakarta.Suasana di dalam kabin kendaraan mewah itu terasa kaku dan sarat akan ketegangan.Di jok belakang, Meisya tampak memangku tablet pribadinya, menatap grafik saham perusahaannya yang masih memerah serta jejeran tagar berita negatif yang menghiasi linimasa media sosial.Di samping Meisya, Pak Laksana berkali-kali memperbaiki letak kacamata tebalnya, menatap tumpukan berkas hukum dengan dahi berkerut dalam."Pengaruh narasi KDRT dan perselingkuhan yang dibentuk Farhan di media kemarin sangat berdampak, Meisya," ujar Pak Laksana dengan vokal yang berat."Jika di sidang kedua ini kita gagal mematahkan drama medis Harry, jajaran komisaris bisa makin mendesak diadakannya RUPSLB untuk membekukan posisi kamu."Meisya memejamkan mata sejenak, menghembuskan napas panjang yang sarat akan rasa muak dan kelelahan mental."Aku tidak menyangka Farhan seberani itu memutarba
Matahari siang terasa membakar ketika sedan hitam milik Meisya membelah gerbang utama kediaman.Dani memutar lingkar kemudi menuju pelataran parkir privat di samping ruang kerja bawah tanah.Wajahnya tetap tenang tanpa riak, meski ponselnya di dalam saku jas terus bergetar menerima laporan terkini dari jaringan pengawasannya di luar.Setelah memastikan Meisya masuk ke dalam rumah untuk membersihkan diri dan menenangkan pikiran, Dani melangkah santai menuju ruang kontrol keamanan di area paviliun.Pria itu mengunci pintu kaca tebal dari dalam, lalu mendudukkan tubuh besarnya di depan deretan layar pemantau yang menyala terang.Layar ponsel terenkripsi milik Dani berkedip, menampilkan sebuah panggilan masuk dari kontak tanpa nama.Dani menyentuh tombol hijau di layarnya, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kulit."Bicaralah," ujar Dani dengan vokal berat yang amat tenang."Laporan pertama masuk, Komandan," suara parau dari balik saluran terenkripsi terdengar diiringi deru ketik
Pintu kaca ganda Pengadilan Agama terayun menutup di belakang mereka, namun riuk keriuhan di luar gedung justru makin membakar atmosfer siang itu.Belasan telepon genggam staf korporasi yang menyertai Pak Laksana berdering hampir bersamaan.Layar ponsel menampilkan berondongan notifikasi portal berita hiburan dan media sosial yang mendadak dipenuhi cuplikan video konferensi pers Farhan.PENGUSAHA MUDA MEISYA WIJAYA DITUDUH KDRT DAN SELINGKUH DENGAN BODYGUARD PERSONAL! HARGA SAHAM KELUARGA WIJAYA ANJLOK 4,2 PERCENT AKIBAT SKANDAL PERCERAIAN!"Sialan... Farhan benar-benar menyebar klip potongannya ke semua akun gosip nasional!" umpat Pak Laksana seraya menatap grafik merah anjloknya nilai saham di layar ponselnya dengan raut wajah gusar."Beberapa komisaris kubu Harry di kantor pusat sudah mulai mengirim pesan panik. Mereka menuntut RUPSLB darurat kalau berita ini tidak segera diredam!"Dani tidak menjawab. Dengan gerakan tenang nan taktis, sang head bodyguard membentengi tubuh Meisya d
Jam dinding di sudut ruang mediasi menunjukkan tepat pukul sepuluh pagi. Ruangan berukuran sedang dengan meja kayu lonjong itu terasa terisolasi dari keriuhan lobi.Di satu sisi meja, Meisya duduk tegap didampingi Pak Laksana.Dani berdiri kokoh tepat di belakang kursi Meisya, memosisikan dirinya bagaikan pilar baja berjas hitam dengan pandangan mata elang yang tak pernah lepas dari pintu masuk.KLEK!Pintu ruang mediasi terdorong buka. Seorang petugas pengadilan melangkah masuk, mendorong sebuah kursi roda.Di atas kursi roda itu, duduk Harry dengan penampilan yang membuat raut wajah Meisya seketika berubah kaku karena jijik.Harry mengenakan penyangga leher busa berwarna putih, lengan kirinya dibebat perban tebal, dan wajahnya dipasangi beberapa plester medis.Di samping kursi roda, Farhan melangkah anggun menyulut aura percaya diri yang sangat provokatif."Selamat pagi, Yang Mulia Hakim Mediasi," sapa Farhan dengan vokal formal yang dibuat-buat, membantu memosisikan kursi roda Harr






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak