LOGINPintu kamar utama lantai atas tertutup rapat sejak satu jam lalu.Dari area paviliun belakang yang sepi, Dani berdiri di dekat jendela temaram, menyalakan sebatang rokok sembari menatap ke arah balkon kamar majikannya.Ego jantannya tetap tenang. Dani tahu persis apa yang sedang terjadi di atas sana.Pikirannya dipenuhi gambaran kontras antara bagaimana Meisya menjerit-jerit kewalahan di bawah dominasi fisiknya saat di ruangan VIP, dibanding apa yang bisa diberikan oleh Pak Harry malam ini.Di dalam kamar utama berpendingin udara dingin, lampu tidur bernuansa kuning redup menyinari tempat tidur berukuran king-size.Pak Harry baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk terikat di pinggangnya, mendekati Meisya yang sudah berbaring di atas sprei sutra.Meisya mengenakan gaun tidur tipis berwarna putih. Namun, alih-alih menyambut suaminya dengan pandangan bergairah, tatapan mata Meisya justru terasa kosong dan dingin.Di dalam benaknya, bayangan dada bidang berotot Dani yang keras mem
Mobil sedan mewah yang membawa Meisya dan Dani akhirnya merapat di pelataran rumah megah itu pada Minggu sore.Perjalanan panjang dari villa pegunungan meninggalkan bekas keletihan fisik yang berpadu dengan kepuasan terselubung di raut wajah Meisya.Namun, begitu melangkah melewati pintu utama, atmosfer rumah langsung berubah menjadi tegang.Pak Harry sudah berdiri di ruang tengah, memegang segelas whisky dengan kemeja kantor yang lengannya tergulung separuh.Wajah pria paruh itu tampak agak letih, namun matanya langsung tertuju pada istrinya yang melangkah masuk tanpa menyapa.Sesuai instruksi taktis yang telah dirancang Dani selama perjalanan pulang, Meisya langsung memasang wajah dingin.Tanpa memandang suaminya, Meisya berjalan lurus menuju tangga dengan langkah kaki yang sengaja dibuat kentara melepas kekesalan."Meisya, kamu baru pulang?" panggil Pak Harry dengan nada suara yang sengaja dibuat lembut, tidak ada lagi bentakan kasar seperti insiden pengusiran di kantor beberapa ha
Ruang VIP yang temaram bernuansa merah itu makin dipenuhi uap gairah yang tebal.Deru napas Meisya dan Venny terdengar tersengal-sengal parau, bersahut-sahutan menahan gejolak nikmat yang ditinggalkan oleh permainan jemari dan mulut Dani.Namun, sang tukang kebun tidak berniat memberikan jeda istirahat sedikit pun bagi kedua nyonya kaya tersebut.Ego jantan Dani meledak ke titik paling panas. Pria tegap itu berdiri kokoh di atas karpet bulu tebal, memamerkan otot-otot dadanya yang tegang dan berkilat oleh peluh.Batang kejantannya yang raksasa, tebal, dan membara kaku berdenyut-denyut garang ke udara, menuntut penaklukan mutlak secara bertahap."Berdiri, Bu Venny," geram Dani serak dengan vokal berat yang amat penuh intimidasi jantan. "Nyonya Meisya, merangkak ke bawah."Tanpa membantah sepatah kata pun, Venny berdiri terhuyung dengan kaki gemetar.Dani langsung membalikkan tubuh mulus wanita itu dan membungkukkannya menungging di atas sandaran lengan sofa kulit tebal.Paha mulus Venn
Kedua nyonya kaya itu membisu total dalam kepasrahan. Ruang VIP bernuansa merah remang itu mendadak menghening, hanya menyisakan deru napas Meisya dan Venny yang memburu parau.Dani menyunggingkan senyum miring nan teramat mendominasi, menyadari bahwa kedua wanita sosialita di hadapannya telah sepenuhnya bertekuk lutut di bawah kendali fisiknya.Tanpa melepaskan pandangan matanya yang tajam, Dani menegakkan tubuh tegapnya.Pria itu melepaskan setelan jas hitamnya secara perlahan, melemparkan kain mahal tersebut ke atas meja kaca.Jemari kasarnya bergerak cepat membongkar kancing kemejanya hingga terbuka lebar, memamerkan dada bidang berotot dan perut six-pack keras yang agak berkilat oleh peluh tipis.Dani kemudian membongkar sabuk kulit dan melorotkan celana bahannya beserta celana dalam hingga ke batas lutut.Ssshh...Kejantanan Dani yang raksasa, tebal, dan membara kaku meletup bebas ke udara dingin ruangan ber-AC
Suasana pesta di lantai bawah makin bising oleh derai tawa dan alunan musik yang membuai.Namun, Meisya dan Venny sudah tak lagi memedulikan kemeriahan tersebut.Dengan gerakan cepat dan teratur, kedua wanita sosialita itu menuntun Dani naik menyusuri tangga melingkar menuju lantai dua villa.Dani melangkah tenang di antara mereka, membiarkan tubuh tegapnya dituntun menuju area yang terisolasi dari jangkauan pandangan tamu lainnya.Langkah kaki mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu jati tebal yang menyembunyikan ruang VIP eksklusif.Begitu masuk, udara ber-AC yang dingin dipadu aroma parfum vanila dan wewangian anggur mahal langsung menyapa indra penciuman.Ruangan itu bernuansa teramat mewah, didominasi oleh sofa kulit melengkung berwarna cokelat gelap, pencahayaan redup bernuansa merah hangat yang remang, serta karpet bulu tebal yang melapisi seluruh lantai keramik.Klek.Venny berbalik memutar kunci pi
Alunan musik bernuansa slow jazz yang berat dan mendayu mulai mengalun dari sudut lounge. Lampu-lampu gantung kristal di sekitar area kolam renang diredupkan hingga menyisa pantulan cahaya remang-remang bernuansa keemasan.Udara dingin pegunungan mendadak tersapu oleh kehangatan uap alkohol dari anggur mahal yang terus mengalir, memacu aura gairah terselubung yang makin pekat di antara para nyonya rumah kaya tersebut.Dani masih berdiri tegap di tepi lantai dansa, menyandarkan sebelah bahunya yang kekar pada pilar batu alam.Pandangan mata tajam sang bodyguard mengawasi suasana sekitar dengan tenang.Namun, setelan jas hitamnya yang sudah sedikit terbuka di bagian kancing paling atas kini justru memamerkan celah leher tegap dan garis dada bidangnya, memicu binar-binar liar dari belasan pasang mata wanita di ruangan itu.Seorang wanita kaya bergaun sutra perak yang sudah setengah mabuk, nyonya muda yang tadi sempat







