Se connecter"Aku tidak sabar merasakanmu lagi di dalam sana, Bang Ucup... punyamu itu... benar-benar membuatku gila." Hidup Ucup, seorang kuli bangunan sederhana, berubah kacau dalam satu malam. Terhimpit masalah uang demi menyekolahkan anaknya di kampung, ia menerima tawaran aneh dari Arif, teman masa kecilnya: menggantikan dirinya menjalani malam pertama dengan istri barunya. Menurut Arif, istrinya hanyalah “tante-tante perawan tua yang galau dan tak laku.” Namun saat Ucup datang, semua bayangannya runtuh. Wanita yang berdiri di hadapannya bukanlah tante-tante seperti yang ia bayangkan—melainkan seorang wanita cantik, seksi, dan memikat… yang sama sekali tidak terlihat tua. Malam yang seharusnya hanya menjadi transaksi sederhana justru berubah menjadi awal dari kekacauan, pertengkaran kocak, rahasia besar, dan perasaan yang tak seharusnya muncul. Di antara tamparan, kesalahpahaman, dan hati yang mulai goyah… siapa sebenarnya yang akan jatuh lebih dulu? Ketika seorang kuli bangunan bertemu “tante-tante” yang ternyata terlalu memikat untuk diabaikan, malam pertama itu berubah menjadi awal cerita yang tak pernah mereka bayangkan.
Voir plus"Kau gila, Rif. Benar-benar gila," desis Ucup setelah nafasnya kembali teratur. "Malam pertama itu sakral. Dan kau memintaku... menggantikanmu? Meniduri istrimu?"
Arif menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, matanya menatap tajam ke arah Ucup. "Sakral kalau dasarnya cinta, Cup. Tapi ini? Ini jebakan. Orang tuaku bilang dia cantik, wanita karier yang sukses di luar negeri. Nyatanya? Dia hanya perawan tua yang kesepian karena tidak laku-laku. Adik teman ayahku yang ternyata sudah keriput. Aku tidak sudi menyentuhnya, apalagi berbagi ranjang." "Lalu kenapa kau mau menikahinya, bodoh?" Ucup menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan jalan pikiran sahabat masa kecilnya itu. "Tekanan bisnis, Cup. Kau tahu posisiku sebagai CEO tidak semulus kelihatannya di koran. Ada saham keluarga yang dipertaruhkan," jawab Arif dengan nada getir. Ia kemudian memajukan tubuhnya, menatap Ucup dengan tatapan yang sangat intens. "Ucup, dengar. Aku tahu hidupmu sedang sulit. Proyek bangunan di pinggiran kota itu tidak akan memberimu masa depan. Belum lagi biaya sekolah anak-anakmu... bukankah si sulung mau masuk SMP? Dan si bungsu butuh biaya pengobatan?" Ucup terdiam. Kalimat Arif menghantam tepat di ulu hatinya. Bayangan wajah anak-anaknya yang tertidur di kamar sempit yang bocor setiap kali hujan turun mendadak melintas. "50 juta, Cup," bisik Arif. "Tunai. Ditambah jaminan pendidikan anak-anakmu sampai sarjana. Kau hanya perlu menjadi 'Arif' untuk satu malam—mungkin selama sebulan sampai aku menemukan cara untuk menceraikannya tanpa kehilangan aset perusahaan." "Tapi Rif... ini penipuan. Bagaimana kalau dia tahu? Dia wanita berpendidikan, pasti dia tidak bodoh," sanggah Ucup retoris, meski hatinya mulai goyah. "Dan lagipula, lihat aku. Kulitku hitam legam karena matahari, tanganku kasar penuh kapalan karena mengaduk semen. Aku bau keringat, Rif! Bagaimana mungkin kuli bangunan sepertiku bisa memerankan seorang CEO?" Arif tersenyum tipis, seolah sudah memprediksi argumen itu. "Itu masalah teknis. Aku punya waktu besok sebelum dia mendarat di sini. Kau akan cuti dari proyek itu. Aku akan membawamu ke salon pria terbaik, memberimu perawatan kulit, membelikanmu parfum yang harganya lebih mahal dari upahmu sebulan, dan membelikan jas khusus untukmu. Besok tidak akan ada yang percaya kalau kau pernah memegang cangkul." "Tapi dia belum pernah melihatmu sama sekali?" tanya Ucup memastikan. "Sama sekali tidak. Kami hanya dijodohkan lewat telepon dan dokumen. Ijab kabul dilakukan tanpa mempelai wanita karena dia masih terikat kontrak kerja di luar negeri. Besok adalah kali pertama dia menginjakkan kaki di rumah mewah yang sudah kupersiapkan. Baginya, kau adalah Arif. CEO sukses yang dingin dan misterius." Ucup menatap tangannya yang kasar, lalu beralih menatap cek kosong yang diletakkan Arif di atas meja. Jemarinya gemetar. Di satu sisi, nuraninya menjerit bahwa ini adalah kesalahan besar. Namun di sisi lain, tumpukan tagihan dan masa depan anak-anaknya seolah melambai di depan mata. "Kenapa harus aku, Rif?" "Karena aku percaya padamu. Kita besar di kampung yang sama. Kau jujur, dan kau butuh uang ini. Lebih baik aku memberikan uang ini padamu daripada menyewa aktor yang bisa saja memeras aku di kemudian hari," Arif mengulurkan tangannya. "Jadi, bagaimana? Apakah kau mau menyelamatkan masa depan anak-anakmu, atau tetap membiarkan mereka hidup susah demi sebuah harga diri yang tidak bisa memberi mereka makan?" Ruangan itu mendadak sunyi. Hanya terdengar denting sendok dari meja seberang. Ucup menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang terasa sangat berat, seolah ia sedang mengangkat beban semen terakhir di penghujung hari yang melelahkan. "Jadi... satu bulan," gumam Ucup lirih. "Aku punya satu bulan untuk berperan menjadi seorang raja." Arif menyeringai puas. Ia tahu, kemiskinan seringkali menjadi alasan paling logis untuk mengubur moralitas. "Sepakat. Besok pagi, sopirku akan menjemputmu. Persiapkan dirimu, Ucup." --- Keesokan harinya, sebuah mobil mewah berwarna hitam legam berhenti di depan rumah kontrakan Ucup yang terbuat dari triplek dan sempit. Sang sopir, yang mengenakan seragam rapi, membukakan pintu untuk Ucup dengan hormat. Ucup, yang masih mengenakan mekeja cream yang lucuh dan celana jins belel, merasa canggung. Ia melangkah masuk ke dalam mobil, menghirup aroma kulit yang mahal dan wangi parfum mobil yang menyegarkan. Perjalanan terasa singkat. Mobil itu berhenti di depan sebuah salon pria yang terlihat sangat eksklusif. Papan namanya bertuliskan "The Gent's Grooming Lounge" dengan huruf-huruf emas yang elegan. Ucup merasa seperti masuk ke dunia yang berbeda. Di dalam salon, interiornya sangat maskulin dengan dominasi warna cokelat tua dan hitam. Cermin-cermin besar berbingkai kayu memenuhi dinding, dan kursi-kursi barber berlapis kulit yang nyaman tertata rapi. Arif sudah menunggu di sana, duduk di salah satu kursi sambil menyesap kopi. "Ah, kau datang juga, Cup," sapa Arif sambil tersenyum tipis. "Mari kita mulai transformasinya." Seorang barber pria yang tampan dengan potongan rambut yang rapi dan janggut yang terawat mendekati Ucup. "Halo, Tuan. Saya Leo, barber Anda hari ini," katanya dengan ramah. "Silakan duduk." Ucup duduk di kursi barber dengan ragu-ragu. Leo mulai mengerjakannya. Pertama, ia mencuci rambut Ucup dengan sampo yang harum. Kemudian, ia mulai memotong rambut Ucup. Guntingnya bergerak dengan lincah, memotong helai demi helai rambut Ucup yang agak panjang. Setelah selesai memotong rambut, Leo beralih ke janggut Ucup. Ia menggunakan pisau cukur yang tajam untuk menipiskan janggut Ucup yang sangat brewok. Ucup merasa ngeri melihat pisau itu mendekati wajahnya, tapi Leo melakukannya dengan sangat hati-hati. Setelah beberapa saat, Leo selesai. Ia membersihkan sisa-sisa rambut di wajah Ucup dengan handuk hangat yang wangi. "Silakan lihat ke cermin, Tuan," katanya. Ucup menatap cermin di depannya. Ia benar-benar pangling. Rambutnya yang tadinya agak panjang sekarang dipotong rapi dengan model regulation cut, menunjukkan garis rahangnya yang tegas. Janggutnya yang tadinya sangat brewok sekarang ditipiskan, memberikan kesan maskulin dan dewasa. Kulit wajahnya yang tadinya kusam sekarang terlihat lebih cerah dan bersih. Arif yang duduk di belakang Ucup ikut terkejut. "Luar biasa, Cup!" serunya. "Kau benar-benar terlihat berbeda. Kalau kau kayak begini, tante-tante perawan tua itu pasti tidak akan sadar kalau kamu seorang kuli bangunan." Arif lalu terkekeh. Ucup menatap pantulan dirinya di cermin dengan perasaan yang campur aduk. Ia merasa senang melihat perubahan dirinya, tapi di sisi lain, ia juga merasa tidak percaya diri. Apakah ia bisa memerankan seorang CEO dengan penampilannya yang baru ini? "Ayo, Cup. Kita masih punya banyak hal yang harus dilakukan," kata Arif sambil bangkit dari kursinya. "Kita akan ke butik untuk membeli setelan jas mahal." Mereka meninggalkan salon dan menuju ke sebuah butik jas mewah di pusat kota. Di dalam butik, barisan jas dengan berbagai warna dan model tertata rapi di gantungan. Seorang pelayan pria yang mengenakan setelan jas hitam mendekati mereka. "Selamat datang, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan ramah. "Kami mencari setelan jas untuk teman saya ini," kata Arif sambil menunjuk ke arah Ucup. "Kami ingin jas yang terlihat elegan dan profesional." Pelayan itu mengangguk. Ia mulai mengukur tubuh Ucup dengan pita ukur. Setelah selesai, ia mengambil beberapa setelan jas dari gantungan dan membawanya ke ruang ganti. Ucup mencoba satu per satu jas itu. Ia merasa sangat tidak nyaman mengenakan jas yang ketat dan kaku. Tapi Arif bersikap sangat perfeksionis. Ia memeriksa setiap detail jas, mulai dari potongan bahu hingga panjang lengan. Akhirnya, mereka menemukan setelan jas yang sempurna untuk Ucup. Jas itu berwarna biru tua dengan potongan yang pas di tubuh Ucup. Ucup menatap pantulan dirinya di cermin besar di butik. Ia terlihat sangat berbeda, seperti seorang pria yang sukses dan berwibawa. "Bagus sekali, Cup," puji Arif. "Kau terlihat sangat tampan dengan jas ini." Meskipun penampilannya sudah berubah, Ucup tetap merasa tidak percaya diri. Pikirannya dipenuhi dengan berbagai keraguan dan ketakutan. Bagaimana kalau istrinya Arif mengetahui yang sebenarnya? Bagaimana kalau ia tidak bisa memerankan seorang CEO dengan baik? "Ucup... malam ini kita harus ke hotel. Si tante-tante galau itu sudah ada di hotel untuk malam pertama kalian." "Apa?" Seru Ucup kaget tak menyangka, "malam ini juga?" "Ya... keluargaku sudah menyiapkannya untuk malam ini. Ayo, kita harus segera ke hotel." Arif tidak memberinya waktu untuk berpikir panjang. Malam itu, ia membawa Ucup ke sebuah hotel mewah untuk bertemu dengan istrinya. Ucup merasa jantungnya berdegup kencang. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.Asap tipis beraroma vanilla-mint membubung meliuk-liuk di udara sebelum perlahan memudar di bawah pendar lampu set lokasi syuting yang remang. Sutradara muda itu—Pak Niel—menghentikan hisapan rokok elektriknya. Matanya yang tajam menatap Ucup dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ada sesuatu dari pria itu yang mendadak mengunci perhatiannya. Bukan sekadar wajah yang tampan atau potongan tubuhnya yang terawat dan atletis, melainkan sebuah aura alami yang tenang, polos, namun menyimpan daya tarik yang sulit dijelaskan.Ucup yang menyadari dirinya tengah ditatap sedemikian rupa merasa risih. Ia mengernyitkan dahi, menggeser tumpuan kakinya sedikit ke belakang."Hai... kau... pacarnya Andien, ya?" tanya Pak Niel santai, menunjuk Ucup dengan ujung rokok elektrik di tangannya."Iya. Saya pacarnya Andien," jawab Ucup dengan nada suara mantap dan tegas, mencoba memotong tatapan selidik sang sutradara.Bersamaan dengan jawaban itu, Andien yang berdiri di sampingnya dengan cepat menyusupkan jema
Sinar matahari pagi menyelusup melalui celah gorden sutra yang setengah terbuka, menimpa wajah Ucup yang masih diselimuti kantuk. Aroma teh melati yang menyengat halus melayang di udara, membawa kehangatan yang kontras dengan rasa dingin yang tiba-tiba menjalar di tengkuknya. Di tepi ranjang, Hana duduk bersandar dengan begitu tenang. Tangannya yang lentik memegang cangkir porselen putih, memutar sendok kecil dengan gerakan ritmis hingga menimbulkan denting halus yang berulang-ulang. Hana memiringkan kepalanya, melempar senyum tipis yang sulit diartikan begitu menyadari mata Ucup mulai terbuka. "Hana? Kenapa...?" suara Ucup terdengar serak, parau oleh sisa tidur dan kebingungan yang menumpuk. Namun, hanya butuh beberapa detik bagi kesadarannya untuk pulih sepenuhnya. Lingkungan asing ini, kemewahan kamar yang tak biasa, dan sosok Hana di hadapannya—semua menyentak ingatan Ucup tentang malam sebelumnya. Darahnya seakan berhenti mengalir. Sebuah nama mendadak menghantam pikirannya ba
Langkah kaki Ucup terasa kian berat saat menaiki satu per satu anak tangga menuju teras rumah Hana. Angin malam berembus dingin menusuk kulit, namun keringat dingin tetap menetes di pelipisnya. Dalam keheningan yang mencekam, ingatan tentang jeritan kekecewaan Andien yang ditinggalkannya begitu saja terus bergema di telinga, menghantam kesadarannya tanpa ampun. Tangan Ucup yang gemetar hebat terangkat, lalu menekan bel pintu yang berdenting pelan.Tak berselang lama, pintu kayu jati berlapis ukiran itu terbuka perlahan. Sosok Hana berdiri di sana, anggun dibalut gaun malam satin berwarna merah maroon yang begitu seksi, melekat pas memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya yang elok."Seperti biasa, kau tidak pernah terlambat, Ucup," ucap Hana dengan senyum tipis yang memikat, merapatkan tubuhnya di ambang pintu.Tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun, Ucup melangkah masuk dengan tubuh lemas. Ia menghempaskan diri di sofa kulit yang empuk dan luas, membiarkan tubuhnya tenggelam di sana. W
Langkah pintu terdengar berat ketika Ucup memutar gagang pintu rumah pemberian Arief yang mereka tempati. Suara derit kayu tua menyambut kedatangannya di tengah sunyinya malam. Wajah Ucup tampak muram, dahinya berkerut dalam memikul beban pikiran yang tak kasat mata. Langkah kakinya gontai, seolah setiap pijakan menguras seluruh tenaganya yang tersisa dari kerasnya hari itu.Belum sempat Ucup melepas lelah atau sekadar mendaratkan tubuh di pinggir ranjang, dua lengan halus tiba-tiba melingkar hangat di pinggangnya dari belakang. Aroma harum tubuh Andien menyergap indra penciumannya, menyebarkan rasa hangat yang menenangkan sekaligus menyiksa batin Ucup.Andien menyandarkan pipinya yang lembut di punggung tegap Ucup yang masih bersimbah keringat dingin."Ucup... aku kangen..." bisik Andien pelan, suaranya sarat gairah yang lama terpendam, diiringi helaan napas hangat yang menerpa leher Ucup.Ucup terpaku. Tubuhnya kaku, tak langsung membalas pelukan hangat itu. Ada kepahitan yang tiba-
Hening menyergap kamar 918 setelah pengakuan jujur Ucup meluncur deras. Ketegangan yang tadinya dipicu oleh gairah, kini berganti menjadi ketegangan kalkulatif. Hana duduk di tepi ranjang, menyilangkan kakinya yang jenjang, sementara Ucup berdiri mematung di ujung tempat tidur, merasa seperti ter
Di bawah remang lampu kamar 918, napas keduanya memburu dalam irama yang tidak beraturan. Jarak di antara mereka telah terkikis habis, menyisakan ketegangan yang lebih panas daripada suhu pendingin ruangan yang dipasang di angka terendah. "Bagaimana? Mau mulai...?" bisik Hana. Suara itu begitu
Cahaya matahari pagi menyusup lancang melalui celah gorden blackout yang tidak tertutup sempurna, menghujam tepat ke kelopak mata Ucup. Rasa pening yang luar biasa menghantam tempurungnya, seolah ada ribuan jarum yang menusuk dari dalam. Ia mengerang, mencoba menggerakkan lengannya yang terasa kak
Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, suasana mendadak berubah menjadi sangat intim. Ucup bisa merasakan panas tubuh Hana merambat melalui telapak tangannya. Wanita di hadapannya ini bukan lagi sosok asing yang ia takuti, melainkan sebuah teka-teki indah yang ingin ia pecahkan malam ini. Han






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentaires