Dibasuh Empat Nyonya Cantik dan Menggoda

Dibasuh Empat Nyonya Cantik dan Menggoda

last updateLast Updated : 2026-02-12
By:  Risya PetrovaOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
7Chapters
15views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Di rumah megah Tuan Broto, aku hanyalah sopir… tapi empat istrinya menjadikanku pelarian rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun. Setiap panggilan ke kamar mereka bukan sekadar tugas, melainkan “pengabdian” sunyi yang membuat batas antara kepatuhan dan hasrat perlahan runtuh...

View More

Chapter 1

Djakarta, 1955

"Baskara ...."

Sebuah suara lembut, tapi penuh penekanan, memecah lamunan Baskara. Ia menoleh dan segera menunduk hormat. Di sana, berdiri Nyonya Lastri, istri pertama Tuan Broto.

Usia Lastri tiga puluh lima tahun, matang dan selalu tampil elegan dengan kebaya kutubaru yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Belahan dadanya yang terlihat menonjol itu kerap sekali membuat Baskara menundukkan mata untuk menjaga pandangannya.

Pinggulnya yang terbalut kain jarik pun nampak mempesona bagi siapa pun yang melihat.

"Iya, Nyonya Besar? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Baskara sopan.

Lastri tidak langsung menjawab. Ia menatap Baskara yang tetap tenang mengelap bodi mobil Chevrolet Bel Air warna hitam metalik milik majikannya di sekitar halaman megah rumah Tuan Broto.

Lastri mengamati garis wajah Baskara yang rupawan. Sepasang alis lebat yang membingkai mata elang yang tajam namun terasa teduh. Hidung mancung. Garis rahang yang kokoh.

Otot lengan pemuda dua puluh tiga tahun berkulit cokelat itu tampak menonjol di balik kemeja tipis yang basah oleh keringat, memberikan pemandangan yang tak sengaja selalu dicuri pandang oleh para Nyonya dan pelayan wanita di sana.

Lastri berjalan mendekat, aroma parfum melati yang mahal seketika menyerbu indra penciuman Baskara.

Sang nyonya berhenti tepat di samping Baskara, matanya menatap lekat pada tetesan keringat yang mengalir dari pelipis Baskara menuju lehernya yang kokoh.

"Tuan Broto sedang ke Semarang sampai lusa," ucap Lastri pelan, suaranya hampir menyerupai bisikan. "Dan aku ... tiba-tiba ingin menghirup udara segar di daerah Menteng. Sekarang."

Baskara melirik jam saku di celananya. "Baik, Nyonya. Saya siapkan mobilnya."

"Tidak perlu di belakang," potong Lastri cepat saat Baskara hendak membukakan pintu penumpang. "Aku ingin duduk di sampingmu. Di depan."

Baskara tertegun sejenak.

Di tahun 1955, seorang nyonya besar duduk di depan samping sopir adalah pemandangan yang tak lazim. Namun, ia tidak berani membantah.

Perjalanan itu sunyi, tapi udaranya terasa sangat berat. Di dalam kabin mobil yang tertutup, aroma melati yang lembut dan menenangkan dari tubuh Lastri seolah memenuhi setiap sudut oksigen.

Baskara fokus pada kemudi, meski ia tahu betul bahwa sudut mata Lastri tidak pernah lepas dari profil samping wajahnya.

"Baskara, sudah berapa lama kamu bekerja di sini?"

"Baru tiga bulan, Nyonya."

"Tiga bulan ...." Lastri mengulang kalimat itu sambil menyandarkan punggungnya. "Kamu tahu, rumah ini sangat besar. Tapi kadang, temboknya terasa seperti menjepitku. Tuan Broto sibuk dengan bus-busnya, dan di rumah ... dia hanya seperti pajangan yang kaku."

Baskara menelan ludah. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini. Rumor tentang "kelemahan" Tuan Broto sudah menjadi rahasia umum di antara para pekerja pria, meski tak ada yang berani berbisik keras.

"Tuan sangat mencintai pekerjaan beliau, Nyonya," jawab Baskara berusaha netral.

Tiba-tiba, tangan lembut dengan kuku yang dipoles merah itu mendarat di atas punggung tangan Baskara yang sedang memegang persneling. Dingin, tapi seketika menyulut panas di sekujur tubuh Baskara.

"Jangan terlalu kaku, Baskara," bisik Lastri. "Aku tidak butuh sopir yang hanya tahu jalan raya. Aku butuh seseorang yang tahu cara ... menghibur."

Baskara menghentikan mobil di pinggir jalan yang sepi, di bawah pohon beringin besar yang rindang. Jantungnya berdegup kencang. Ia menatap Lastri, mencari sisa-sisa harga diri sang majikan, namun yang ia temukan hanyalah tatapan lapar seorang wanita yang bertahun-tahun diabaikan.

"Nyonya, ini tidak benar. Tuan Broto—"

"Tuanmu tidak akan pernah tahu apa yang terjadi di dalam mobil yang gelap ini, Baskara," potong Lastri. Ia mulai memajukan tubuhnya, jemarinya kini merayap ke dada Baskara, membuka satu kancing kemeja teratasnya.

Namun, sebelum bibir mereka bertemu, kaca jendela mobil diketuk dengan keras dari luar.

Baskara tersentak. Di luar sana, berdiri Sari, istri kedua Tuan Broto yang terkenal agresif, dengan payung sutranya. Wajahnya tampak merah padam, bukan karena panas matahari, melainkan karena cemburu.

"Oh, jadi di sini rupanya kamu menyembunyikan sopir kesayanganku, Mbakyu?" sindir Sari dengan senyum sinis yang mematikan.

Bersambung

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status