LOGIN"Ah ... Baskara ...." Suara desahan tersembunyi memuja namaku di balik kamar-kamar rumah megah Tuan Broto, membuatku hilang akal sekaligus tak berdaya. Aku hanyalah sopir … tapi empat istrinya menjadikanku pelarian rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun. Setiap panggilan ke kamar mereka bukan sekadar tugas, melainkan “pengabdian” sunyi yang membuat batas antara kepatuhan dan hasrat melebur menjadi Cinta Terlarang antara majikan dengan seorang sopir. Satu Nyonya saja sudah membuatku hilang akal, apa lagi empat!
View More"Baskara ...."
Sebuah suara lembut, tapi penuh penekanan, memecah lamunan Baskara. Ia menoleh dan segera menunduk hormat. Di sana, berdiri Nyonya Lastri, istri pertama Tuan Broto. Usia Lastri tiga puluh lima tahun, matang dan selalu tampil elegan dengan kebaya kutubaru yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Belahan dadanya yang terlihat menonjol itu kerap sekali membuat Baskara menundukkan mata untuk menjaga pandangannya. Pinggulnya yang terbalut kain jarik pun nampak mempesona bagi siapa pun yang melihat. "Iya, Nyonya Besar? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Baskara sopan. Lastri tidak langsung menjawab. Ia menatap Baskara yang tetap tenang mengelap bodi mobil Chevrolet Bel Air warna hitam metalik milik majikannya di sekitar halaman megah rumah Tuan Broto. Lastri mengamati garis wajah Baskara yang rupawan. Sepasang alis lebat yang membingkai mata elang yang tajam namun terasa teduh. Hidung mancung. Garis rahang yang kokoh. Otot lengan pemuda dua puluh tiga tahun berkulit cokelat itu tampak menonjol di balik kemeja tipis yang basah oleh keringat, memberikan pemandangan yang tak sengaja selalu dicuri pandang oleh para Nyonya dan pelayan wanita di sana. Lastri berjalan mendekat, aroma parfum melati yang mahal seketika menyerbu indra penciuman Baskara. Sang nyonya berhenti tepat di samping Baskara, matanya menatap lekat pada tetesan keringat yang mengalir dari pelipis Baskara menuju lehernya yang kokoh. "Tuan Broto sedang ke Semarang sampai lusa," ucap Lastri pelan, suaranya hampir menyerupai bisikan. "Dan aku ... tiba-tiba ingin menghirup udara segar di daerah Menteng. Sekarang." Baskara melirik jam saku di celananya. "Baik, Nyonya. Saya siapkan mobilnya." "Tidak perlu di belakang," potong Lastri cepat saat Baskara hendak membukakan pintu penumpang. "Aku ingin duduk di sampingmu. Di depan." Baskara tertegun sejenak. Di tahun 1955, seorang nyonya besar duduk di depan samping sopir adalah pemandangan yang tak lazim. Namun, ia tidak berani membantah. Perjalanan itu sunyi, tapi udaranya terasa sangat berat. Di dalam kabin mobil yang tertutup, aroma melati yang lembut dan menenangkan dari tubuh Lastri seolah memenuhi setiap sudut oksigen. Baskara fokus pada kemudi, meski ia tahu betul bahwa sudut mata Lastri tidak pernah lepas dari profil samping wajahnya. "Baskara, sudah berapa lama kamu bekerja di sini?" "Baru tiga bulan, Nyonya." "Tiga bulan ...." Lastri mengulang kalimat itu sambil menyandarkan punggungnya. "Kamu tahu, rumah ini sangat besar. Tapi kadang, temboknya terasa seperti menjepitku. Tuan Broto sibuk dengan bus-busnya, dan di rumah ... dia hanya seperti pajangan yang kaku." Baskara menelan ludah. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini. Rumor tentang "kelemahan" Tuan Broto sudah menjadi rahasia umum di antara para pekerja pria, meski tak ada yang berani berbisik keras. "Tuan sangat mencintai pekerjaan beliau, Nyonya," jawab Baskara berusaha netral. Tiba-tiba, tangan lembut dengan kuku yang dipoles merah itu mendarat di atas punggung tangan Baskara yang sedang memegang persneling. Dingin, tapi seketika menyulut panas di sekujur tubuh Baskara. "Jangan terlalu kaku, Baskara," bisik Lastri. "Aku tidak butuh sopir yang hanya tahu jalan raya. Aku butuh seseorang yang tahu cara ... menghibur." Baskara menghentikan mobil di pinggir jalan yang sepi, di bawah pohon beringin besar yang rindang. Jantungnya berdegup kencang. Ia menatap Lastri, mencari sisa-sisa harga diri sang majikan, namun yang ia temukan hanyalah tatapan lapar seorang wanita yang bertahun-tahun diabaikan. "Nyonya, ini tidak benar. Tuan Broto—" "Tuanmu tidak akan pernah tahu apa yang terjadi di dalam mobil yang gelap ini, Baskara," potong Lastri. Ia mulai memajukan tubuhnya, jemarinya kini merayap ke dada Baskara, membuka satu kancing kemeja teratasnya. Namun, sebelum bibir mereka bertemu, kaca jendela mobil diketuk dengan keras dari luar. Baskara tersentak. Di luar sana, berdiri Sari, istri kedua Tuan Broto yang terkenal agresif, dengan payung sutranya. Wajahnya tampak merah padam, bukan karena panas matahari, melainkan karena cemburu. "Oh, jadi di sini rupanya kamu menyembunyikan sopir kesayanganku, Mbakyu?" sindir Sari dengan senyum sinis yang mematikan. BersambungBroto Sasmita melangkah keluar dari kamar utama dengan tumpuan tongkat peraknya yang berketuk lambat di atas lantai jati. Langkahnya terasa begitu berat, seolah beban dosa masa lalu seberat Batavia ikut bergelayut di pundaknya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi pada istri pertamanya, ia menutup pintu rapat-rapat, meninggalkan keheningan yang mencekam di dalam ruangan. Ia butuh ruang kerja yang sepi. Ia butuh segelas tuak atau cerutu untuk meredakan badai paranoid dan kenangan berdarah tentang Baskoro yang tiba-tiba bangkit dari kubur batinnya.Begitu deru langkah kaki suaminya menghilang di ujung koridor lantai dua, Lastri segera bergerak. Dengan terburu-buru, jemari halusnya memutar anak kunci kuningan pada pintu kamar hingga terdengar bunyi klik yang solid. Ia menyandarkan punggungnya pada daun pintu, napasnya naik turun tak beraturan di balik balutan kebaya sutra tipisnya.Detik itu juga, ada dorongan kuat di dalam dadanya yang mendesak untuk segera keluar, menuruni anak tan
Lastri menggelengkan kepalanya pelan, memperhalus gerakannya agar tidak menimbulkan kecurigaan sedikit pun di mata suaminya yang sedang dilanda paranoia akut. Senyuman tipis khas wanita ningrat Djakarta tersaji di bibirnya, sebuah topeng sempurna untuk menyembunyikan debaran jantungnya yang sempat berpacu liar."Tidak, Mas. Aku tidak tahu apa-apa selain apa yang kita saksikan tadi," tutur Lastri lembut, melangkah perlahan mendekati Broto yang masih terduduk lesu di kursi rias. Tangannya yang halus dengan berani mendarat di bahu suaminya, memijatnya pelan untuk meredakan ketegangan."Aku hanya berpikir ... jika memang benar anak buah Juragan Samin yang melakukan semua kekacauan ini, berarti sistem keamanan yang selama ini dipegang Rahmat sudah bocor total. Rahmat terlalu lalai, atau mungkin malah sengaja menutup mata."Broto Sasmita mendengus, menyandarkan punggung tambunnya ke sandaran kursi sembari memejamkan mata, menikmati pijatan sang istri. "Rahmat sudah aku jebloskan ke sel bara
"Lepaskan aku, Jono! Kamu tidak tahu apa-apa! Ini jebakan! Baskara itu ular yang sedang menyusup masuk ke rumah Tuan Broto!" raung Rahmat, suaranya parau memecah kesunyian halaman belakang. Ia meronta sekuat tenaga, namun dua pengawal berbadan kekar yang menyeretnya tidak memberikan ampun.Tubuh Rahmat yang biasanya terlihat garang dengan bekas luka bopengnya, kini tampak menyedihkan. Ia diseret paksa melewati jalan setapak menuju barak pengawal yang berada di sisi terjauh kediaman. Sepatu botnya terseret di atas tanah, meninggalkan jejak debu yang berantakan.Pak Jono berjalan di depan, langkah kakinya tegas dan tidak terbantahkan. Ia mengabaikan setiap teriakan Rahmat, wajahnya datar menatap ke depan seolah sudah muak dengan segala drama pengkhianatan yang terjadi malam ini.Sesampainya di barak yang berupa bangunan kayu tua dengan terali besi yang kokoh, Pak Jono memberi isyarat agar para pengawal melemparkan Rahmat ke dalam sel isolasi yang pengap. Tubuh pria itu menghantam lanta
"Baskara …," desis Broto, mengulang nama itu dengan nada yang sarat akan ketidakpercayaan sekaligus kekaguman yang terpaksa. "Sopir baru itu benar-benar melumpuhkan orang Samin sendirian?""Benar, Tuan Besar!" jawab Pak Jono dengan menggebu-gebu, dadanya naik turun mengatur napas. "Penyusup itu diikat seperti kambing di dekat gudang perkakas. Tangannya patah, mukanya babak belur. Baskara bilang, orang itu membawa belati dan sengaja mengincar paviliun Nyonya Lastri untuk memancing Anda keluar!"Broto menggeram rendah. Paranoianya yang akut langsung menyusun potongan-potongan kejadian malam ini. Hancurnya pangkalan bus Kramat Jati miliknya, kebakaran di paviliun istri pertamanya, dan sekarang seorang pembunuh bayaran dari Tanjung Priok. Semuanya mengerucut pada satu nama yang sangat ia benci, yaitu ... Juragan Samin."Samin ... bajingan tua bangka itu benar-benar mau mengobarkan perang terbuka denganku di Djakarta!" bentak Broto, wajah tuanya kembali merah padam oleh amarah yang membara
Suasana di ruang makan yang mewah itu mendadak beku. Denting sendok perak yang beradu dengan piring porselen terhenti seketika. Tuan Broto meletakkan serbetnya dengan gerakan lambat, matanya yang mulai keruh oleh usia kini memancarkan kilatan kecurigaan yang tajam. Ia melirik ke arah Baskara yang
Baskara mematung sejenak setelah punggung Sari menghilang di balik pintu kayu jati yang besar. Rangkaian bunga dahlia dan mawar merah di tangannya terasa begitu berat, bukan karena bobotnya, melainkan karena makna terselubung yang disisipkan Sari dalam setiap kelopaknya. Ia menarik nafas panjang,
Sementara perintah maut Tuan Broto mulai menggerakkan para pengawal bersenjata di pekarangan belakang, keheningan di dalam gedung utama kediaman Sasmita telah lama pecah. Dinginnya lantai ubin marmer kolonial tidak lagi mampu meredam hawa mencekam yang merayap dari arah luar. Di salah satu kam
Suara klak yang tajam itu membuat otot-otot di tubuh Baskara menegang seketika. Gairah yang tadi membakar darah mudanya langsung membeku, digantikan oleh insting predator yang waspada. "Tunggu sebentar, Mbakyu," bisik Baskara dengan suara serak. Ia melepaskan pelukannya dari pinggang Lastri dan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore