Mag-log in"Ah ... Baskara ...." Suara desahan tersembunyi memuja namaku di balik kamar-kamar rumah megah Tuan Broto, membuatku hilang akal sekaligus tak berdaya. Aku hanyalah sopir … tapi empat istrinya menjadikanku pelarian rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun. Setiap panggilan ke kamar mereka bukan sekadar tugas, melainkan “pengabdian” sunyi yang membuat batas antara kepatuhan dan hasrat melebur menjadi Cinta Terlarang antara majikan dengan seorang sopir. Satu Nyonya saja sudah membuatku hilang akal, apa lagi empat!
view moreBroto Sasmita melangkah keluar dari kamar utama dengan tumpuan tongkat peraknya yang berketuk lambat di atas lantai jati. Langkahnya terasa begitu berat, seolah beban dosa masa lalu seberat Batavia ikut bergelayut di pundaknya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi pada istri pertamanya, ia menutup pintu rapat-rapat, meninggalkan keheningan yang mencekam di dalam ruangan. Ia butuh ruang kerja yang sepi. Ia butuh segelas tuak atau cerutu untuk meredakan badai paranoid dan kenangan berdarah tentang Baskoro yang tiba-tiba bangkit dari kubur batinnya.Begitu deru langkah kaki suaminya menghilang di ujung koridor lantai dua, Lastri segera bergerak. Dengan terburu-buru, jemari halusnya memutar anak kunci kuningan pada pintu kamar hingga terdengar bunyi klik yang solid. Ia menyandarkan punggungnya pada daun pintu, napasnya naik turun tak beraturan di balik balutan kebaya sutra tipisnya.Detik itu juga, ada dorongan kuat di dalam dadanya yang mendesak untuk segera keluar, menuruni anak tan
Lastri menggelengkan kepalanya pelan, memperhalus gerakannya agar tidak menimbulkan kecurigaan sedikit pun di mata suaminya yang sedang dilanda paranoia akut. Senyuman tipis khas wanita ningrat Djakarta tersaji di bibirnya, sebuah topeng sempurna untuk menyembunyikan debaran jantungnya yang sempat berpacu liar."Tidak, Mas. Aku tidak tahu apa-apa selain apa yang kita saksikan tadi," tutur Lastri lembut, melangkah perlahan mendekati Broto yang masih terduduk lesu di kursi rias. Tangannya yang halus dengan berani mendarat di bahu suaminya, memijatnya pelan untuk meredakan ketegangan."Aku hanya berpikir ... jika memang benar anak buah Juragan Samin yang melakukan semua kekacauan ini, berarti sistem keamanan yang selama ini dipegang Rahmat sudah bocor total. Rahmat terlalu lalai, atau mungkin malah sengaja menutup mata."Broto Sasmita mendengus, menyandarkan punggung tambunnya ke sandaran kursi sembari memejamkan mata, menikmati pijatan sang istri. "Rahmat sudah aku jebloskan ke sel bara
"Lepaskan aku, Jono! Kamu tidak tahu apa-apa! Ini jebakan! Baskara itu ular yang sedang menyusup masuk ke rumah Tuan Broto!" raung Rahmat, suaranya parau memecah kesunyian halaman belakang. Ia meronta sekuat tenaga, namun dua pengawal berbadan kekar yang menyeretnya tidak memberikan ampun.Tubuh Rahmat yang biasanya terlihat garang dengan bekas luka bopengnya, kini tampak menyedihkan. Ia diseret paksa melewati jalan setapak menuju barak pengawal yang berada di sisi terjauh kediaman. Sepatu botnya terseret di atas tanah, meninggalkan jejak debu yang berantakan.Pak Jono berjalan di depan, langkah kakinya tegas dan tidak terbantahkan. Ia mengabaikan setiap teriakan Rahmat, wajahnya datar menatap ke depan seolah sudah muak dengan segala drama pengkhianatan yang terjadi malam ini.Sesampainya di barak yang berupa bangunan kayu tua dengan terali besi yang kokoh, Pak Jono memberi isyarat agar para pengawal melemparkan Rahmat ke dalam sel isolasi yang pengap. Tubuh pria itu menghantam lanta
"Baskara …," desis Broto, mengulang nama itu dengan nada yang sarat akan ketidakpercayaan sekaligus kekaguman yang terpaksa. "Sopir baru itu benar-benar melumpuhkan orang Samin sendirian?""Benar, Tuan Besar!" jawab Pak Jono dengan menggebu-gebu, dadanya naik turun mengatur napas. "Penyusup itu diikat seperti kambing di dekat gudang perkakas. Tangannya patah, mukanya babak belur. Baskara bilang, orang itu membawa belati dan sengaja mengincar paviliun Nyonya Lastri untuk memancing Anda keluar!"Broto menggeram rendah. Paranoianya yang akut langsung menyusun potongan-potongan kejadian malam ini. Hancurnya pangkalan bus Kramat Jati miliknya, kebakaran di paviliun istri pertamanya, dan sekarang seorang pembunuh bayaran dari Tanjung Priok. Semuanya mengerucut pada satu nama yang sangat ia benci, yaitu ... Juragan Samin."Samin ... bajingan tua bangka itu benar-benar mau mengobarkan perang terbuka denganku di Djakarta!" bentak Broto, wajah tuanya kembali merah padam oleh amarah yang membara
Sementara perintah maut Tuan Broto mulai menggerakkan para pengawal bersenjata di pekarangan belakang, keheningan di dalam gedung utama kediaman Sasmita telah lama pecah. Dinginnya lantai ubin marmer kolonial tidak lagi mampu meredam hawa mencekam yang merayap dari arah luar. Di salah satu kam
Suara klak yang tajam itu membuat otot-otot di tubuh Baskara menegang seketika. Gairah yang tadi membakar darah mudanya langsung membeku, digantikan oleh insting predator yang waspada. "Tunggu sebentar, Mbakyu," bisik Baskara dengan suara serak. Ia melepaskan pelukannya dari pinggang Lastri dan
Suasana di ruang makan yang mewah itu mendadak beku. Denting sendok perak yang beradu dengan piring porselen terhenti seketika. Tuan Broto meletakkan serbetnya dengan gerakan lambat, matanya yang mulai keruh oleh usia kini memancarkan kilatan kecurigaan yang tajam. Ia melirik ke arah Baskara yang
Baskara mematung sejenak setelah punggung Sari menghilang di balik pintu kayu jati yang besar. Rangkaian bunga dahlia dan mawar merah di tangannya terasa begitu berat, bukan karena bobotnya, melainkan karena makna terselubung yang disisipkan Sari dalam setiap kelopaknya. Ia menarik nafas panjang,






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
RebyuMore