Share

Hampir Saja!

Penulis: Black Jack
last update Terakhir Diperbarui: 2025-06-16 23:47:10

Begitu pintu terbuka, Dinda langsung memeluk Adit tanpa kata-kata. Pelukan itu begitu erat, seolah-olah wanita itu sudah lama menahan kerinduan yang membara. Aroma parfum lembut bercampur dengan kehangatan tubuhnya membuat Adit terpaku sesaat.

Awalnya, Adit hanya berdiri kaku seperti patung. Tangannya menggantung lemas di samping tubuh, tidak tahu harus diletakkan di mana. Pikiran dan hatinya berperang hebat - antara akal sehat yang menyuruhnya mundur dan hasrat yang mulai bangkit perlahan.

"Ka
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tukang Pijat Tampan   Jujur Dengan Perasaan

    Syuting di hari berikutnya dimulai dengan suasana yang... berbeda.Tidak ada yang bisa dijelaskan dengan jelas, tapi ada ketegangan yang terasa di udara. Ketegangan yang hanya bisa dirasakan oleh Adit dan Clara.Keduanya datang tepat waktu, menjalani proses make-up dan kostum seperti biasa, lalu mulai syuting dengan profesional.Tapi ada yang berbeda.Clara kadang moodnya bagus, tersenyum, fokus, aktingnya natural dan kuat. Tapi kadang dia terlihat... kosong. Matanya menatap tapi tidak benar-benar melihat. Dialognya keluar tapi terdengar... mekanis.Adit juga tidak jauh berbeda. Dia berusaha fokus, berusaha profesional, tapi pikirannya terus melayang. Ke Clara. Ke Raymond.Keduanya sama-sama memendam pikiran yang membuat mereka tidak bisa maksimal dalam berakting.Tapi untungnya, hasilnya masih di fase aman. Pak Teguh tidak meminta take ulang. Chemistry mereka masih cukup kuat untuk menutupi kekurangan-kekurangan kecil."Oke, bagus! Next scene!" teriak Pak Teguh setelah adegan percaka

  • Tukang Pijat Tampan   Situasi Clara

    Clara diam sepanjang perjalanan. Mobil mewah Raymond melaju dengan halus melewati jalanan yang mulai macet di sore hari.Raymond sesekali melirik Clara yang duduk dengan postur kaku, tangan terkepal di pangkuan, pandangan kosong menatap keluar jendela."Kamu ada masalah, Clara?" tanya Raymond akhirnya, mencoba memecah keheningan yang tidak nyaman.Clara tersentak sedikit, lalu menoleh. "Hmm... entahlah."Dia menarik napas, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih lembut, lebih diplomatis. "Tapi, em, maaf ya, Kak. Seharusnya, kita berdua sama-sama harus membuat nyaman satu sama lain kan..."Raymond mengangguk, ekspresinya sedikit melembut. "Iya dong. Itu sebabnya aku pengen kamu bilang aja kamu mau aku seperti apa dan bagaimana. Kamu ingin apa, supaya kamu bisa merasa nyaman."Clara terdiam sejenak, memilih kata-kata dengan hati-hati. Ini kesempatan. Kesempatan untuk menyampaikan perasaannya tanpa terlihat menolak secara frontal."Sebenarnya, ini akan sulit, Kak Ray. Boleh aku jujur?""

  • Tukang Pijat Tampan   Dijemput Raymond

    Setelah take keempat yang sukses, syuting berlanjut dengan sangat lancar. Adegan demi adegan diambil dengan hasil yang memuaskan, chemistry Adit dan Clara kembali menguat, ekspresi natural, tidak ada lagi pengulangan berkali-kali.Sentuhan energi yang Adit berikan tadi, meski sedikit dan hanya sesaat, seperti membuka kembali sesuatu dalam diri Clara. Sesuatu yang tadi tertutup oleh kekhawatiran dan ketakutan.Clara kembali seperti semula; fokus, profesional, tapi juga... ada api di matanya. Api yang membuat setiap adegan terasa hidup.Pak Teguh sangat puas. "Bagus! Bagus sekali! Kalian berdua hari ini luar biasa. Kita selesai lebih cepat dari jadwal!"Kru bertepuk tangan. Semua orang merasa lega karena proses syuting berjalan mulus tanpa drama.Tapi di dalam pikiran Clara; keadaan tidak semulus yang terlihat di luar.Sepanjang sisa syuting hari itu, dia seolah melupakan Raymond. Melupakan ancaman dari kakaknya. Melupakan semua tekanan yang menimpanya sejak malam perjodohan itu.Dunian

  • Tukang Pijat Tampan   Perubahan Clara

    Waktu libur dua hari berlalu begitu cepat; seolah hanya sekejap mata. Adit bahkan tidak sempat benar-benar istirahat karena pikirannya terus dipenuhi dengan berbagai hal.Hari Rabu pagi, syuting kembali dimulai. Lokasi kali ini di studio dengan set interior apartemen mewah yang menjadi tempat tinggal karakter Alicia. Adegan hari ini cukup berat; adegan di mana hubungan Arjuna dan Alicia mulai melewati batas.Adit tiba di studio sekitar pukul delapan pagi. Begitu masuk, dia langsung merasakan ada sesuatu yang berbeda.Clara yang biasanya menyapanya dengan senyum lebar dan semangat tinggi; kali ini hanya tersenyum tipis, mengangguk singkat, lalu sibuk dengan ponselnya di pojok ruangan.‘Aneh, dia kenapa ya?’ pikir Adit sambil berjalan menuju ruang make-up.Proses make-up dan kostum berjalan seperti biasa. Adit mengenakan kemeja hitam dengan dua kancing atas terbuka, terlihat casual tapi tetap menarik. Clara mengenakan lingerie set berwarna merah marun yang ditutupi dengan kimono sutra t

  • Tukang Pijat Tampan   Terdesak Paksaan

    Clara tersenyum tipis, senyum yang sopan, elegan, dan tidak menyinggung."Pak Ranuwijaya, saya sangat menghargai niat baik Bapak dan keluarga," katanya dengan nada yang lembut tapi tegas. "Tapi saya harus jujur... saya sama sekali belum siap untuk memikirkan pernikahan saat ini."Dia berhenti sejenak, memilih kata-kata dengan hati-hati."Karir saya sedang di puncak. Film saya yang terbaru masih dalam proses syuting dan akan memakan waktu beberapa bulan lagi. Saya... belum punya ruang untuk memikirkan hal-hal seperti ini."Pak Ranuwijaya mengangguk paham, tapi senyumnya tidak memudar. "Tentu, tentu. Kami mengerti. Karir penting.""Dan..." Clara melanjutkan dengan nada yang lebih hati-hati. "Malam ini terlalu... tiba-tiba bagi saya. Saya tidak tahu akan ada pembicaraan seperti ini. Jadi saya mohon maaf, tapi saya belum bisa memberikan jawaban apapun saat ini."Hening sejenak.Papa Clara terlihat sedikit kecewa, tapi dia tidak berkomentar. Mama Clara menatap Clara dengan pandangan yang s

  • Tukang Pijat Tampan   Clara Dijodohkan

    Malam itu, saat Adit sedang berada di rumah Renata, mengobrol santai sambil menikmati teh hangat dan kue kering sambil menonton drama di TV, di tempat lain, ponsel Clara bergetar keras di atas meja makan apartemennya yang mewah itu.Dia mengangkat dengan ekspresi bingung. Papanya yang meneledon. "Halo Papa… ada apa?""Clara, kamu harus pulang sekarang," suara Papa-nya terdengar tegas di ujung sana. "Ada tamu penting yang datang. Mereka sudah di jalan."Clara mengerutkan kening. "Tamu? Siapa, Pa? Aku tidak tahu ada acara malam ini.""Rekan bisnis Papa. Keluarga Ranuwijaya. Mereka mau berkunjung. Ini penting. Kamu harus ada di rumah."Clara menghela napas, lelah setelah seharian istirahat dari perjalanan panjang Paris. "Pa, aku capek. Baru pulang dari luar negeri tadi pagi. Tidak bisa besok aja?""Tidak bisa," jawab Papa-nya dengan nada yang tidak memberi ruang untuk negosiasi. "Ini sangat penting. Kamu harus pulang sekarang. Pakai baju yang rapi. Jangan casual."Sebelum Clara sempat pr

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status