LOGIN"Bagaimana Suryo ... ini sudah 1 bulan setelah perjanjian dan kamu belum juga bisa membayar hutangmu," "Maaf pak, tapi saya dua minggu kemarin dapat musibah istri saya sakit makanya uangnya habis buat biaya ke dokter," ucap Suryo dengan takut karena ia sedang berurusan dengan ketua gangster. "Itu bukan urusanku kau-- "Ayah, makan siang udah beres siap kita makan dulu," panggil seorang gadis dari balik pintu membuat Suryo dan Alex menoleh. "Wow siapa itu?" "itu putri saya pak, dia juga bekerja setelah pulang kuliah untuk membantu biaya pengobatan istri saya," ucap Suryo. "Huh ... Suryo Suryo, Kamu tahu kan saya tidak suka berurusan dengan penderitaan orang lain, Saya tidak punya empati jadi percuma saja kamu menceritakan hal yang menyedihkan ke saya nggak berguna," "Tapi pa-- "tidak ada tapi-tapian, ini pilihan terakhir karena kalau tidak seperti ini Kamu tidak akan menyelesaikan hutangmu. Saya kasih dua pilihan pertama, putrimu akan menjadi pembantu di rumahku sampai kamu bisa membayar semua hutangmu apabila kamu tidak menyelesaikannya juga maka dia akan menjadi budak kami seumur hidup. Kedua ... uhm ... dia akan saya jual," "Hah?" Deg! Penasaran dengan kisah gadis malang ini, yukk baca jangan di skip-skip ya ... enjoy ...
View More"Bagaimana Suryo ... Ini sudah 1 bulan setelah perjanjian, dan kamu belum juga bisa membayar hutangmu,"
"Maaf pak, tapi saya dua minggu kemarin dapat musibah, istri saya sakit, makanya uangnya habis buat biaya ke dokter," ucap Suryo dengan takut karena ia sedang berurusan dengan ketua gangster. "Itu bukan urusanku kau-- "Ayah ... Makan siang udah beres, ayo kita makan dulu," panggil seorang gadis dari balik pintu membuat Suryo dan Alex menoleh. "Wow ... Siapa itu?" "Itu putri saya pak, dia juga bekerja setelah pulang kuliah, untuk membantu biaya pengobatan istri saya," ucap Suryo membuat alex mengangguk, lalu kembali menghisap rokoknya. "Huh ... Suryo Suryo, Kamu tahu kan saya tidak suka berurusan dengan penderitaan orang lain. Saya tidak punya empati, jadi percuma saja kamu menceritakan hal yang menyedihkan ke saya nggak berguna," "Tapi pa-- "Tidak ada tapi-tapian, ini pilihan terakhir karena kalau tidak seperti ini, Kamu tidak akan menyelesaikan hutangmu. Saya kasih dua pilihan ... Pertama, putrimu akan menjadi pembantu di rumahku, sampai kamu bisa membayar semua hutangmu. Apabila kamu tidak menyelesaikannya juga, maka dia akan menjadi budak kami seumur hidup. Kedua ... uhm ... Apa ya? Oh, dia akan saya jual," "Hah?" Deg! "Pak, tolong jangan seperti itu, perjanjian kita di awal juga tidak ada seperti ini, saya hanya telat sebulan," ucap Suryo mengiba membuat alex tertawa. "Hahah Suryo Suryo ... Kamu itu nggak usah sok menasehati saya ya, ... Itu gak akan berlaku secara posisinya kamu yang berhutang, jadi itu semua nggak mempan. Terserah saya dong mau ngambil jaminan apa," lanjut Alex membuat Suryo lemas. "Saya kasih waktu untuk memilih selama 24 jam, besok anak buah saya akan datang menjemput anak itu. Tenang saja, dia kan baik-baik saja sampai kamu melunasi hutangmu," ujar Alex dengan nada meledek. "Pak, tolong kasih pilihan lain-- "Berhenti merengek! Hanya ada satu pilihan selain itu putrimu," ucap alex membuat suryo mengangguk. "Apa itu, pak?" "Nyawamu!" jawab Alex lalu ia bangkit dari duduknya kemudian meninggalkan suryo yang masih kaget. Jleb! "Ayo kita pergi, besok kalian datang lagi untuk menghadapi orang cengeng ini!" ujar Suryo pada anak buahnya. Tanpa suryo sadari ternyata Alia mendengar semua obrolan itu dari balik dinding kayu tersebut. "Huh ..." Alia menghela nafas panjang, lalu ia mengusap air matanya, kemudian keluar dari persembunyiannya. "Ayah," ucapnya tiba-tiba membuat Suryo kaget, lalu ia buru-buru mengusap air matanya. "Eh, nak ..." "Tamunya udah pulang ya ... Ayo kita makan dulu, ibu dari tadi nungguin," ajak Alia membuat Suryo mengangguk lalu bangkit dari duduknya. "Yah ..." ucap Alia "Hum ..." "Alia mau kok, jadi pembantu untuk sementara waktu ini," ucap Alia membuat langkah suryo langsung terhenti, lalu ia melihat putrinya itu. "Jangan ya nak, kamu tidak mengenal mereka. Ayah sudah melakukan kesalahan, jangan sampai kamu jadi korbannya lagi. Ayah akan merasa sangat berdosa kalau sampai kamu kenapa-napa," ucap Suryo sambil mengusap pundak Alia. "Tapi Alia beneran mau, Yah ... Beneran deh suer, supaya Ayah bisa fokus nyari uang. Nggak diserang terus sama mereka, kan mereka juga udah janji nahan Alia itu, supaya bapak bisa cepat lunasi hutangnya," lanjut Alia yang dibalas gelengan oleh Suryo. Keesokan harinya, Alia masih menyempatkan untuk berangkat ke kampus karena ia tidak tahu lagi kapan ia bisa ke kampus. Tekadnya sudah bulat, ia akan jadikan pembantu di rumah Alex. "Hy Alia ... Murung nih pagi-pagi," ucap Rendi sahabat Alia dari semester 1, dan sekarang mereka sudah semester 5. "Hay ..." "Eh kamu kenapa?" tanya Rendi lagi. "Tidak apa-apa, aku baik-baik saja, Ren ... aku boleh nggak minta satu hal?" tanya Alia tiba-tiba serius membuat Rendi tertawa, pasalnya lihat tidak pernah melihat Alia seperti itu. "Apa sih? Nggak jelas ah, pagi-pagi udah serius aja," ujar Rendi membuat Alia tersenyum. "Janji ya, apapun yang terjadi kamu harus sampe wisuda," ucap Alia membuat Rendi mengangguk. "Oke, kan memang tujuan kuliah ini untuk wisuda, gimana sih," ujar Rendi membuat Alia tersenyum. "Ayo masuk, dosen killer duluan ini ... Matilah aku, mana belum selesai tugas Minggu lalu," ucap Rendi rempong sendirian di sebelah Alia. "Pagi ... tugas yang kemarin taro di meja saya," ucap dosen itu, membuat semuanya langsung buru-buru mengeluarkan tugas masing-masing. "Demi apa, dosen ini nggak nafas dulu kah?" ujar Rendi yang sedang menyontek punya alia. "Cepat ... saya hitung mundur dari 5," "Sabar pak ..." Rendi langsung berlari kedepan mengumpulkan tugas nya dan Alia. "Dosen ganteng, cakep, tinggi, pinter... Tapi galak, jutek, gak punya hati dan dingin pula," ucap mahasiswa-mahasiswi membuat Rendi ikutan ngobrol dengan mereka. "Iya kan, awalnya kirain gua doang yang mikir kayak gitu, soalnya sesama cowok biasalah takut dikira iri ya kan, tapi ternyata setelah mendengar pendapat kalian sama aja toh," ucap Rendi cekikikan "Saya nggak peduli ya, kalian mau menilai saya seperti apa, karena itu hak kalian. Tapi ingat nilai kalian ada di saya, jadi pertimbangkan sebelum menceritakan saya," ujar Fras yang dikenal sebagai dosen kematian. "Jangan menangis setelah mendapat hasil nilai kalian, Saya tidak ada perbaikan nilai sampai kapanpun," lanjut Fras membuat semuanya ciut. "Iya pak ..." jawab mereka semua, tapi tidak dengan Alia, ia hanya diam. Pikirannya kemana-mana, bahkan tatapannya kosong. Beberapa kali ia mengusap air matanya yang tanpa ia sadari jatuh begitu saja. "Oh iya ... kalau lagi kelas saya, semua orangnya hadir di sini beserta dengan jiwa jiwanya, jangan cuman orangnya aja yang di sini pikirannya kemana-mana saya, tidak suka," lanjut Fras membuat Alia tersadar. "Ya ampun ... The real dosen kematian gila, gak bisa lagi gua ngomong apa-apa sama dosen ini," gumam mereka. "Kalian denger tidak?" "Iya pak," sahut Alia. "Baiklah ... hari ini seperti biasa kita belajar, Saya minta semuanya fokus, kalau ada yang tidak suka dengan pelajaran saya silakan keluar, Saya tidak membutuhkan kalian." ujar Fras lagi "Baik Pak ..." "Hey kamu ... dari tadi saya perhatikan kamu, sekarang coba kamu jawab pertanyaan yang ada di layar, dan coba ulangi barusan penjelasan saya," ucap fras membuat Alia panik. Sebenarnya tidak hanya Alia yang tidak paham, kebanyakan teman-temannya juga tidak tahu, tapi apa boleh buat karena Alia yang ditanya maka dia yang kena. "Uhm ..." "Pasti kamu nggak tahu kan, kamu harus mencatat semua penjelasan Saya dari awal tadi sampai sekarang, kemudian kumpulkan sama saya minggu depan. Saya nggak peduli kamu mau dapat dari mana itu penjelasan saya, yang penting kamu harus merangkum kembali ucapan saya, lalu kembalikan ke saya sampai sini paham?" bentak Fras membuat semuanya ketakutan. "Baik pak," "Yang lain ... kerjakan tugas yang saya share di grup kelas, minggu depan kalau tidak selesai tugas itu, maka kalian tidak boleh ikut kelas saya lagi," ujar Fras lalu ia meninggalkan membuat semuanya langsung bernapas dengan lega. "Dosen sakit jiwa," "Dasar gila, memang dia pikir dia doang apa yang jadi manusia di sini," "Baru kali ini gue ketemu orang modelan kayak gitu," ujar mereka lagi. "Iya lagi, mana setiap minggu tugas nggak pernah absen. Kita nih udah kayak anak SD tau enggak yang tiap malam tuh dikasih tugas. Dia pernah kuliah gak sih, apa jangan-jangan dia waktu kuliah ya Tuhan ...." "Dosen kematian, muak banget gua ngeliat dia, bisa nggak sih dipecat aja dari kampus ini, bikin orang gak betah kuliah," dumel merekaSelama proses interogasi di kantor polisi Alex benar-benar tidak bisa berkutik apa-apa, namun ia juga tidak sepolos yang dikira. "Saya pamit duluan ya pak ... Nanti kalau ada apa-apa langsung telepon sekretaris saya aja," ucap Amira lali pergi begitu saja membuat Alex menghela nafas panjang.Alex bangkit dari duduknya kemudian ia menuju ke arah jeruji besi di mana beberapa anak buah dan pembantunya ada di sana. "Apa kalian juga termasuk orang-orang yang membocorkan semuanya?" tanya Alex yang dibalas gelengan oleh mereka."Nggak pak, Mbok cuman pengen pulang ke rumah aja nggak mau Mbok ikutan masalah apapun sebenarnya," ucap mbok membuat Alex terkekeh."Gak segampang itu, rokok saya," ucap Alex yang tiba-tiba dibawakan oleh anak buahnya membuat mbok kaget.Setelah melihat Alex pergi Mbok dan orang di sebelahnya saling melempar pandangan. "Ya ampun ... Jangan bilang Pak Alex juga bagian dari mereka, kasihan banget Ibu yang tadi," gumam mbok "Huh ... Tah lah mbok, jangankan ibu itu k
Seminggu telah berlalu, Alex semakin frustasi karena ia ingin kembali ke rumahnya, namun dia tidak mau berurusan dengan wartawan apalagi polisi. "Huh sampai sekarang belum ada nih kabar dari Fras?" tanya Alex pada anak buahnya itu yang dibalas anggukan oleh mereka."Belum ada Pak, kami mencoba melacak juga nggak ke deteksi sama sekali, kayaknya mereka nggak menggunakan ponsel sekarang," jawab anak buahnya itu membuat Alex kesal."Huh ... Mana rekan-rekan ku nanyain mulu lagi di mana," "Pak ... Kalau rekan Bapak banyak, mereka nggak ada gitu niatan mau bantuin bapak? Kan Bapak juga sering ngasih mereka apa yang mereka mau," ucap anak buahnya itu membuat Alex terdiam. "Sejauh ini mereka nggak ada ngasih bantuan atau apa-apa ya, justru kalau nelpon mereka selalu mendesak di mana Alia, mereka bahkan menuduhku telah mengambil Alia untukku," kesal Alex."Bapak nggak curiga gitu, siapa tahu dalang dari kejadian ini salah satunya mereka?" Deg!Untuk beberapa saat Alex terdiam setelah mend
Lidya tidak tahu harus berbuat apa lagi sekarang karena langkahnya sudah dibatasi oleh keluarganya, sedangkan ia harus mencari keberadaan Alia."Huh ... Kenapa jadi berantakan semua sial! Pak Alex, bisa-bisanya dia nyebarin foto itu padahal aku juga lagi berusaha nyari," kesal Lidya lalu ia mengotak-atik ponselnya.[Halo sayang ... Kamu masih mengingatku?][Om!][Ada apa?] tanya Alex dengan santai.[Kenapa Om melakukan itu semua? Padahal baru aja tadi aku dapetin alamatnya Alia, cih ... Dasar!] [Dimana?][Bagaimana dengan foto itu? Saya udah kena marah sama orang tua saya Om,] ujar Lidya [Hahaha ... Biarlah kalau memang kena marah, kamu mau jadi istri saya?][NAJIS!] tiba-tiba nada Lidya naik membuat Alex terkekeh.[Kalau begitu berikan saya alamat Alia] Hening!Untuk beberapa saat Lidya terdiam, iya kembali mengingat kejadian dari waktu ke waktu. [Kalau dipikir-pikir Om ini sangat menyedihkan ya, jahat pula.][Maksud kamu?][Huh ... Satu si om yang pengen saya tanyain, siapa yang
Heri demi hari, jadi dia tidak bisa mendapatkan kabar Alia sedikitpun membuatnya semakin frustasi."Dek ... Liat ini hp mama kenapa?" ucap Mama Lidya buru-buru mendekatinya sambil menunjukkan ponselnya membuat Lidya menghela nafas panjang."Itu nggak ada apa-apa mah, mama mau nggak ngikutin saran adek?""Apa?""Ganti nomor, ganti kartunya pokoknya," ucap Lidya membuat mama langsung menggerutu."Masa ganti sih, kan nomor-nomor teman Mama semua di sini," ujar Mama"Kayaknya HP mama kena hack jadinya kayak gitu, bakal kayak gitu terus," ujar Lidya membuat orang tuanya terlihat kecewa namun mau tidak mau yang mengangguk. "Ya udah deh nggak apa-apa, daripada hp Mama kayak gini terus," ucapnya membuat Lidya memejamkan matanya sejenak."Ma ... Adek keluar sebentar ya,""Ya sekalian beliin Mama kartu baru ya, terus ini Mama biarin aja kayak gini?" tanya Mama "Iya, biarin aja jangan ada yang dibales satupun ya," lanjut Lidya yang dibalas anggukan oleh Mama.Tanpa membuang waktu Lidya langsun












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews