LOGINSetelah take keempat yang sukses, syuting berlanjut dengan sangat lancar. Adegan demi adegan diambil dengan hasil yang memuaskan, chemistry Adit dan Clara kembali menguat, ekspresi natural, tidak ada lagi pengulangan berkali-kali.Sentuhan energi yang Adit berikan tadi, meski sedikit dan hanya sesaat, seperti membuka kembali sesuatu dalam diri Clara. Sesuatu yang tadi tertutup oleh kekhawatiran dan ketakutan.Clara kembali seperti semula; fokus, profesional, tapi juga... ada api di matanya. Api yang membuat setiap adegan terasa hidup.Pak Teguh sangat puas. "Bagus! Bagus sekali! Kalian berdua hari ini luar biasa. Kita selesai lebih cepat dari jadwal!"Kru bertepuk tangan. Semua orang merasa lega karena proses syuting berjalan mulus tanpa drama.Tapi di dalam pikiran Clara; keadaan tidak semulus yang terlihat di luar.Sepanjang sisa syuting hari itu, dia seolah melupakan Raymond. Melupakan ancaman dari kakaknya. Melupakan semua tekanan yang menimpanya sejak malam perjodohan itu.Dunian
Waktu libur dua hari berlalu begitu cepat; seolah hanya sekejap mata. Adit bahkan tidak sempat benar-benar istirahat karena pikirannya terus dipenuhi dengan berbagai hal.Hari Rabu pagi, syuting kembali dimulai. Lokasi kali ini di studio dengan set interior apartemen mewah yang menjadi tempat tinggal karakter Alicia. Adegan hari ini cukup berat; adegan di mana hubungan Arjuna dan Alicia mulai melewati batas.Adit tiba di studio sekitar pukul delapan pagi. Begitu masuk, dia langsung merasakan ada sesuatu yang berbeda.Clara yang biasanya menyapanya dengan senyum lebar dan semangat tinggi; kali ini hanya tersenyum tipis, mengangguk singkat, lalu sibuk dengan ponselnya di pojok ruangan.‘Aneh, dia kenapa ya?’ pikir Adit sambil berjalan menuju ruang make-up.Proses make-up dan kostum berjalan seperti biasa. Adit mengenakan kemeja hitam dengan dua kancing atas terbuka, terlihat casual tapi tetap menarik. Clara mengenakan lingerie set berwarna merah marun yang ditutupi dengan kimono sutra t
Clara tersenyum tipis, senyum yang sopan, elegan, dan tidak menyinggung."Pak Ranuwijaya, saya sangat menghargai niat baik Bapak dan keluarga," katanya dengan nada yang lembut tapi tegas. "Tapi saya harus jujur... saya sama sekali belum siap untuk memikirkan pernikahan saat ini."Dia berhenti sejenak, memilih kata-kata dengan hati-hati."Karir saya sedang di puncak. Film saya yang terbaru masih dalam proses syuting dan akan memakan waktu beberapa bulan lagi. Saya... belum punya ruang untuk memikirkan hal-hal seperti ini."Pak Ranuwijaya mengangguk paham, tapi senyumnya tidak memudar. "Tentu, tentu. Kami mengerti. Karir penting.""Dan..." Clara melanjutkan dengan nada yang lebih hati-hati. "Malam ini terlalu... tiba-tiba bagi saya. Saya tidak tahu akan ada pembicaraan seperti ini. Jadi saya mohon maaf, tapi saya belum bisa memberikan jawaban apapun saat ini."Hening sejenak.Papa Clara terlihat sedikit kecewa, tapi dia tidak berkomentar. Mama Clara menatap Clara dengan pandangan yang s
Malam itu, saat Adit sedang berada di rumah Renata, mengobrol santai sambil menikmati teh hangat dan kue kering sambil menonton drama di TV, di tempat lain, ponsel Clara bergetar keras di atas meja makan apartemennya yang mewah itu.Dia mengangkat dengan ekspresi bingung. Papanya yang meneledon. "Halo Papa… ada apa?""Clara, kamu harus pulang sekarang," suara Papa-nya terdengar tegas di ujung sana. "Ada tamu penting yang datang. Mereka sudah di jalan."Clara mengerutkan kening. "Tamu? Siapa, Pa? Aku tidak tahu ada acara malam ini.""Rekan bisnis Papa. Keluarga Ranuwijaya. Mereka mau berkunjung. Ini penting. Kamu harus ada di rumah."Clara menghela napas, lelah setelah seharian istirahat dari perjalanan panjang Paris. "Pa, aku capek. Baru pulang dari luar negeri tadi pagi. Tidak bisa besok aja?""Tidak bisa," jawab Papa-nya dengan nada yang tidak memberi ruang untuk negosiasi. "Ini sangat penting. Kamu harus pulang sekarang. Pakai baju yang rapi. Jangan casual."Sebelum Clara sempat pr
Sampai di rumah Adit langsung merasakan kelegaan yang luar biasa. Rumahnya. Tempat yang familiar. Tempat yang aman.Vera membantu membawa koper masuk, lalu keduanya duduk sebentar di ruang tengah. Adit di sofa, Vera di seberangnya.“Akhirnya… lega banget sampai rumah…”“Hehehe… sehebat-hebatnya dunia luar, rumah sendiri tetap yang terbaik…”“Bener… oh iya, aku ada sesuatu buat kamu," kata Adit sambil membuka koper besarnya yang masih berantakan dengan pakaian dan berbagai barang.Dia mengeluarkan beberapa kotak; satu kotak cokelat mewah dari toko terkenal di Paris dengan kemasan yang sangat cantik, dan beberapa souvenir kecil seperti gantungan kunci Menara Eiffel, magnet kulkas dengan pemandangan Paris, dan syal sutra tipis berwarna ungu lembut."Ini buat kamu," kata Adit sambil menyerahkan semuanya pada Vera.Vera menerima dengan senyum lebar; matanya berbinar melihat cokelat dan souvenir itu. "Wah! Makasih, Dit! Asyikkk… aku dapat oleh-oleh. Hehehe…"Dia membuka kotak cokelat sebent
Setelah sarapan bersama di restoran hotel di mana Clara terlihat lebih segar meski masih sedikit lemas, mereka berkumpul di lobby bersama seluruh tim.Pak Teguh mengumumkan dengan senyum lebar. "Oke, seperti yang Bu Ria bilang kemarin, hari ini kita libur! Tidak ada syuting, tidak ada jadwal ketat. Kalian bebas jalan-jalan, explore Paris, beli oleh-oleh, apapun yang kalian mau. Besok siang kita flight pulang ke tanah air. Jadi hari ini... enjoy aja!"Semua orang bersorak senang; terutama para kru yang memang sudah lelah setelah kerja keras."Tapi tetep jaga kesehatan ya," tambah Pak Teguh sambil menatap semua orang. "Jangan sampai ada yang sakit atau kenapa-kenapa. Kita masih harus pulang dengan selamat."Setelah briefing singkat, mereka semua bubar, ada yang pergi berdua, ada yang sendirian, ada yang pergi berempat.Clara mendekat pada Adit dengan senyum. "Dit, yuk jalan bareng. Aku mau beli oleh-oleh."Adit ragu sejenak, tapi menolak akan terlihat aneh. Lagipula, ini siang hari. Di







