MasukSartika memeriksa benda bulat yang melingkar di sudut layar ponselnya. Ia gelisah dan dadanya berdebar kuat. Firasatnya sebagai seorang ibu mengatakan ada sesuatu buruk akan terjadi.
Tangannya bergerak menekan sebuah nama. Untuk kesekian kalinya, panggilan telpon itu terabaikan begitu saja.Sartika kembali melirik benda bulat tersebut. Jarum merah kecil itu terus bergerak—menunjukkan waktu semakin larut dan kecemasannya semakin menggerogoti dada. Napasnya terasa pendek, dingin, dan tidak stabil.“Ayo, Nak … angkat teleponnya … angkat!” gumamnya sambil menggigit bibir. Ia semakin gelisah, setiap detik terasa begitu lama..Untuk kesekian kalinya, ia menekan nama “Nadira” di layar.Tuuut … tuuut …Sambungan itu bergetar—namun lagi-lagi, tak ada jawaban.Sartika meremas ujung syalnya, tangan kini menekan dada yang mulai terasa nyeri karena jantung yang berdetak terlalu cepat. Ia tidak tahu apa yang salah. Ia hanya tahu satu hal: Naluri keibuannya menjerit.Nadira berdiri di sebuah Padang rumput yang di kelilingi pohon rimbun. Ia menatap kedua tangannya, terlihat bersih dan serasi dengan gaun putih menjuntai yang tengah ia kenakan. Berbahan sutra terasa lembut di kulit. Ia melihat ke sekelilingnya, kosong. Tak ada seorangpun pun selain kupu-kupu berwarna-warni berterbangan bersama hembusan angin yang sesekali menerpa wajahnya."Di mana ini?" gumamnya bingung. Tak ada jawaban selain keheningan. Langkah demi langkah terasa ringan, ia telusuri jalan berharap bisa bertemu dengan seseorang yang dapat memberinya petunjuk. Cukup lama Nadira berjalan hingga peluh sedikit membasahi pelipisnya, ia memasuki sebuah taman kecil yang indah. Banyak bunga yang bermekaran di sana. Aroma sari bunga yang terbang tertiup angin memasuki hidungnya hingga membuat sedikit gatal. "Siapa itu?" bisiknya lebih kepada diri sendiri. Suara tawa renyah mengalihkan perhatiannya. Ia mendekat dengan penuh harapan akan seseorang yang bisa membelin
Ia melangkah maju satu langkah—gerakan kecil, tetapi penuh gejolak.“Saya akui apa yang terjadi pada Cataleya akibat keteledoran saya sebagai seorang suami.Tapi," suaranya bergetar marah dan terluka sekaligus. “Apa maksud Anda tentang yang terjadi saat ini ada hubungannya dengan saya?” suaranya bergetar marah dan terluka sekaligus. “Bukankah Anda bilang ingin menjaganya. Lalu apa yang anda jaga jika ia pun terluka dan berakhir di ranjang seperti ini?"Sartika tidak mengalihkan tatapannya. Wanita itu tidak menjerit, tidak memaki, hanya memandang dengan dingin yang lahir dari ketakutan seorang ibu.“Apakah kamu bisa memastikan bahwa semua yang dialami Cataleya sebelum aku menemukannya bukan karena dirimu? Bahwa tidak ada bagian dari hidupnya bersamamu yang menjadi luka awal ini?”Sebuah hantaman menghantam jantung Nirwan. Ia mundur selangkah tanpa sadar.“Jangan bicara seolah anda tahu apa yang kami jalani,” gumamnya patah. “Saya mencintainya. Saya menghabiska
Langkah kaki Nirwan pagi ini bukan memasuki gedung kantor seperti biasanya, melainkan gedung bercat putih yang menjadi ciri khas rumah sakit. Aroma antiseptik menyeruak di segala penjuru, walau terasa samar, namun cukup membuat perutnya tak nyaman.Langkahnya terhenti tepat di depan pintu ruang rawat itu. Ada jeda satu detik—napasnya seolah tertahan sesaat, sebelum ia mengangkat tangan untuk mengetuk. Namun jemarinya tidak pernah benar-benar menyentuh kayu pintu tersebut. Karena dari balik kaca kecil di sisi pintu, Nirwan bisa melihat sosok yang membuat dadanya serasa diremas dari dalam.Nadira.Tubuh ringkih itu tampak tenggelam di antara selimut putih, wajahnya pucat—lebih pucat daripada yang pernah ia lihat sebelumnya. Rambutnya tergerai kacau di atas bantal. Ada guratan lelah, ada luka, ada sesuatu yang membuat Nirwan seketika ingin berbalik dan berlari kembali ke dunia yang lebih mudah ia pahami.Tapi kakinya tak sanggup bergerak menjauh.Perutnya terasa sem
Ia menunduk, mendekat pada wajah Nadira, suaranya hampir tak terdengar. Lirih dan penuh keputusasaan.“Kamu membuatku takut, Nad. Apa kamu tahu, menjauh darimu saja sudah cukup menyiksaku, tapi melihat kondisimu yang seperti ini membuat jiwaku tak bernyawa.”Hujan di luar semakin deras. Irama ketukan di atap ambulans terdengar seperti ribuan jarum kecil yang memukul nadi.Ambulans meluncur cepat memasuki area kota. Sirene meraung lebih keras saat kendaraan lain menepi memberi jalan.“Lima menit lagi sampai RS!” teriak sopir dari kabin depan.Devan menggenggam tangan Nadira semakin kuat—seolah mencoba menahan jiwa yang hampir terlepas itu agar tetap tinggal. Ia bahkan tak ingat untuk mengabari Sartika yang masih menunggu dengan khawatir di rumah. Tiba-tiba monitor mengeluarkan suara lebih cepat.Bip—bip—bip—bip—“Detaknya naik sedikit!” seru perawat perempuan.Devan menoleh cepat, napasnya tertahan.“Bagus… bagus… terus, Nadira. Kamu kuat. Kam
Lelaki itu tampak gelisah dari balik kemudi mobil. Tubuh tinggi proposionalnya kini tampak kurus dari biasanya. Devan melirik sekilas benda bulat yang ada di pergelangan tangannya. Sudah lima jam yang lalu sejak ia menerima panggilan dari Sartika. Sartika meminta tolong padanya untuk mencari keberadaan Nadira, namun hingga saat ini Devan pun tak tahu di mana keberadaan wanita itu. Setiap tempat yang biasa di datangi wanita itu sudah ia cari. Devan meremas kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Lampu jalan yang berpendar kuning pucat memantul di kaca depan, sementara hujan tipis mulai mengetuk-ngetuk permukaan mobil seperti menambah beban pikirannya. Ia menarik napas panjang yang terasa lebih berat dari biasanya. “Di mana kamu, Nadira …” gumamnya lirih. Mobil itu melaju cepat tanpa arah hingga akhirnya menyusuri jalan setapak beraspal yang mengarah ke pinggiran kota. Devan menghentikan mobilnya, ia mem
Sartika memeriksa benda bulat yang melingkar di sudut layar ponselnya. Ia gelisah dan dadanya berdebar kuat. Firasatnya sebagai seorang ibu mengatakan ada sesuatu buruk akan terjadi.Tangannya bergerak menekan sebuah nama. Untuk kesekian kalinya, panggilan telpon itu terabaikan begitu saja. Sartika kembali melirik benda bulat tersebut. Jarum merah kecil itu terus bergerak—menunjukkan waktu semakin larut dan kecemasannya semakin menggerogoti dada. Napasnya terasa pendek, dingin, dan tidak stabil. “Ayo, Nak … angkat teleponnya … angkat!” gumamnya sambil menggigit bibir. Ia semakin gelisah, setiap detik terasa begitu lama.. Untuk kesekian kalinya, ia menekan nama “Nadira” di layar.Tuuut … tuuut …Sambungan itu bergetar—namun lagi-lagi, tak ada jawaban.Sartika meremas ujung syalnya, tangan kini menekan dada yang mulai terasa nyeri karena jantung yang berdetak terlalu cepat. Ia tidak tahu apa yang salah. Ia hanya tahu satu hal: Naluri keibuannya menjerit.







