Chapter: 48. Alasan dibalik ajakan rujuk.Grand opening pembukaan toko rotiku pun akhirnya tiba. Antusias para pengunjung membuat semangatku menyala. Aroma butter yang menguar dari dapur memenuhi seluruh ruangan. Tak hanya di bagian dalam, tetapi di bagian luar pun juga terlihat ramai dengan deretan papan bunga yang berjejer tersusun rapi. "Selamat ya El." Vee memberikan sekuntum besar bunga mawar merah padaku. Dia datang bersama Kak Bian. Lama tak melihat dirinya, ada rasa rindu yang tersirat di hati."Terima kasih." Aku meraih bunga yang diberikannya padaku. Kelopaknya yang segar begitu menggoda mata. "Jangan terima kasih padaku, tapi pada Kak Bian, bunga itu darinya."Aku tersenyum. Hari ini hatiku sedang bahagia. "Terima kasih Kak. Atas bunganya dan juga waktu yang kakak sempatkan untuk datang ke sini.""Sama-sama, El. Lama tidak berjumpa, kamu makin cantik dan sukses saja," pujinya membuat hati ini semakin bahagia. Hari ini seakan begitu banyak kupu-kupu yang bertebaran di dadaku. "Ayo kita ngobrol di dalam sambil me
Last Updated: 2024-11-15
Chapter: 47. Ayo rujuk kembali padaku."Aku benar-benar tak habis pikir, bisa-bisanya kamu bersikap baik sama orang lain yang baru saja kamu kenal, El."Vee terus saja mengomel sepanjang jalan hingga kami sampai di rumah. Caranya mengataiku bodoh seakan aku telah menghilangkan uang ratusan juta saja. "Aku hanya memberikannya sebagian pakaianku yang sudah tidak terpakai lagi. Bukan membiarkannya menempati rumah peninggalan Mama dan Papa. Aku rasa gak perlu dibesar-besarkan seperti ini," jawabku. Aku yang duduk di depan meja rias tengah melepaskan jam tangan dan meletakkannya kembali dalam kotak sebelum membersihkan diri ke kamar mandi. "Tapi kamu juga memberikannya pekerjaan."Aku berbalik menghadap ke arah Vee yang tengah duduk di pinggir ranjang seraya merengut. Tak biasanya dia bersikap kekanak-kanakan seperti ini. "Memangnya ada masalah apa? Kenapa kamu terlihat sensi padanya?" tanyaku lembut. Dalam beberapa hari belakangan ini terasa ada yang berbeda darinya. Vee mengalihkan pandangan matanya dariku. Dia seperti se
Last Updated: 2024-11-14
Chapter: 46. Istana yang terlupakan."Di mana rumahmu, biar kami antar," tawarku yang merasa kasihan dengannya. Aku sudah membawanya ke klinik terdekat, luka-lukanya yang tidak terlalu parah itu pun juga sudah di obati. Hanya saja pergelangan kakinya sedikit terkilir hingga dia terlihat kesusahan saat bergerak.Vee kembali menarik tanganku, sedari tadi dia terus mewanti-wantiku untuk tidak terlalu ikut campur. Kuakui penampilan wanita yang aku ketahui namanya Rani itu terlihat begitu terbuka. "Gak usah Mbak. Saya bisa pulang sendiri, nanti saya pesan ojek online saja," ucapnya segan. Jika dilihat-lihat dia cukup sopan untuk ukuran wanita yang menggunaka pakaian sedikit terbuka. "Gak apa, aku antar saja kamu pulang. Jangan sungkan. Oh ya, kalau aku boleh saran, sebaiknya besok bersepeda gunakan pakaian yang lebih panjang lagi biar kalau jatuh gak parah seperti ini."Aku tak tahu kenapa kalimat itu yang keluar dari mulutku. Jika dipikir-pikir tak ada hak untuk aku mengomentari penampilannya. Sebenarnya pakaian Rani ada
Last Updated: 2024-11-13
Chapter: 45. Memulai usaha baru. Tiga hari aku tak bertemu lagi dengan Kak Bian. Aku yang selalu di rumah layaknya pengangguran kini mulai menyibukkan diri dengan rencana membuka toko bakery dengan seorang partner bisnis yang aku dapati saat ikut kelas baking. "Wah, mantap. Kapan kira-kira toko ini akan buka?" tanya Vee. Matanya menadang takjub pada penataan toko yang sedang dalam tahap finising tersebut. Hari ini dia libur dan ikut denganku untuk kontrol tukang yang menyelesaikan finishing renovasi rukoku ini. Aku memiliki satu deret ruko yang selama ini disewakan, kali ini dua pintu ruko akan aku gunakan untuk toko bakery. "Secepatnya. Tadi aku tanya sama tukangnya dalam seminggu tempat ini akan siap. Kalau tidak ada kendala awal bulan sudah bisa launching." Vee menganggukkan kepala kemudian meninggalkan aku untuk kembali melihat sekeliling. Aku justru memilih berdiskusi dengan Tissya. Wanita muda yang hanya tamatan sekolah menengah atas.Di umurnya yang
Last Updated: 2024-11-10
Chapter: 44. Musim semi.Belum hilang keterkejutanku atas ucapannya, kini aku kembali dikagetkan dengan sebuah cincin berlian yang dia tunjukkan padaku.Aku bahkan tak tahu harus berkata apa. Seluruh tubuhku terpaku dengan lidah yang kelu. "Apa kamu mau menerimaku, El?" Suara lembut pria yang selalu aku anggap sebagai kakak lelaki ketimbang pasangan ini kembali membuyarkan lamunanku. Aku menatap wajahnya lekat. Apa yang kurang dari dirinya? Tak ada. Tapi rasa takut atas kegagalan rumah tangga sebelumnya membuatku tak berani melangkah. Aku menutup kotak merah tersebut."Kenapa?" tanya Kak Bian dengan nada kecewa. Sejak kapan dia memiliki perasaan denganku? Sejak dulu saat kami kerap bersama atau karena kasihan dengan nasibku yang akan menyandang status janda?"Aku baru saja berpisah dengan Mas Galuh dan bahkan palu hakim perceraianku saja belum di ketuk," jawabku jujur. Aku tak ingin kedekatan kami akan menjadi masalah untuk kedepannya. "Aku akan sabar menunggu.""Masih banyak perempuan lain yang pantas un
Last Updated: 2024-11-09
Chapter: 43. Lamaran dadakan.Minggu pagi, udara begitu cerah tapi terasa melelahkan untukku. Hidup di rumah sendiri terasa begitu sunyi sehingga aku yang awalnya hanya ingin menginap sehari dua hari di rumah Vee, justru malah jadi keterusan. Keningku berkerut saat membuka kulkas, tak ada bahan makanan apa pun yang tersisa di sana. Baik aku ataupun Vee jarang sekali memasak di rumah ini, entah kenapa hari ini aku ingin makan siang dengan masakanku sendiri.Jadi di sinilah aku sekarang, di pusat perbelanjaan yang cukup besar di kotaku. Baru masuk pintu moll aku langsung menuju Alfamart yang ada di lantai bawah. Aku suka berbelanja di Alfamart yang ada di moll ini, selain lebih besar dan luas bahan makanan pun dijual lebih lengkap dan juga fress.Ayam, ikan, nugget dan juga telur omega sudah tersusun di dalam troliku, aku kembali berjalan sembari mata melirik ke kiri dan ke kanan untuk melihat-lihat apa lagi yang ingin aku beli dan berhenti di depan rak buah-buahan yang tersusun perkelompok."Wah kebetulan sekali
Last Updated: 2024-11-07
Chapter: Bab. 151“Apa kita akan terpisah lagi?”Nadira mengusap air mata yang tanpa ia sadari telah jatuh begitu saja. Dadanya terasa sesak. Ia tak pernah menyangka takdir hidupnya akan kembali mempermainkan perasaan mereka.Setelah semua yang mereka lalui, setelah perjuangan untuk kembali menemukan satu sama lain, mengapa rasanya kebahagiaan itu masih begitu sulit untuk mereka genggam?Nadira menatap lelaki di hadapannya dengan mata berkaca-kaca.“Aku takut, Nirwan …” suaranya bergetar. “Aku takut setelah akhirnya kita menemukan jalan untuk kembali bersama, takdir justru memisahkan kita lagi.”Ia menggenggam erat tangan Nirwan, seolah dengan begitu ia bisa mencegah lelaki itu pergi dari sisinya.“Aku sudah terlalu sering kehilangan, dan kali ini aku tak mau kehilanganmu. Aku tidak tahu apa aku sanggup kalau harus kehilanganmu sekali lagi.”Tentu, saya lanjutkan dengan Nirwan yang menenangkan Nadira, tetapi tetap menyisakan ketegangan bahwa mereka belum benar-benar bebas
Last Updated: 2026-08-30
Chapter: Bab. 150"Ma, sudah. Cukup!"Suara Nirwan memotong udara dingin yang menggantung di ruang tamu. Tegas, tetapi tidak membentak.Liliana menatap putranya dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak menyangka nada suara itu akan keluar secepat itu. Seolah-olah, dalam sekejap, Nadira telah menjadi jauh lebih penting daripada dirinya.Nirwan menuruni dua anak tangga terakhir, kemudian berdiri tepat di hadapan ibunya. Tangan Nadira masih berada dalam genggamannya. Ia tidak melepaskannya. Sedikit pun tidak."Kalau Mama datang ke sini untuk marah, aku mengerti," lanjut Nirwan dengan suara yang lebih rendah. "Tapi jangan sakiti Nadira lagi. Cukup, Ma. Bertahun-tahun kami sudah hidup dengan luka yang seharusnya tidak pernah terjadi. Semua karena kesalahpahaman dan waktu yang terbuang.""Jadi sekarang kamu membentak ibumu sendiri demi dia?"Suara Liliana bergetar menahan emosi."Demi perempuan yang dulu memilih pergi dan membuatmu hampir gila, Nirwan?"Nadira mengangkat waja
Last Updated: 2026-08-30
Chapter: Bab. 149Sinar matahari yang menembus celah gorden jatuh tepat di wajah Nadira. Perempuan itu mengerjapkan mata perlahan sebelum akhirnya benar-benar terbangun. Sesaat ia hanya berbaring menatap langit-langit kamar, membiarkan kesadarannya kembali utuh. Namun, begitu mencoba menggerakkan tubuh, ia langsung meringis pelan. "Ah ..." Seluruh badannya terasa pegal, terutama pinggang dan kedua paha dalamnya. Rasa nyeri itu seketika mengingatkannya pada apa yang terjadi semalam. Wajah Nadira memanas, terasa ribuan kupu-kupu menggelitik perutnya. Ia buru-buru menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya, berharap rasa malu itu ikut menghilang. Tepat saat ia hendak bangkit dari ranjang, sebuah lengan kekar melingkar di pinggangnya. "Hm ..." gumam Nirwan dengan suara serak khas orang yang baru bangun tidur. Pelukan itu semakin erat, membuat Nadira kembali terduduk di atas kasur. "Mau ke mana?" bisik Nirwan
Last Updated: 2026-08-28
Chapter: Bab. 148Suasana pagi di rumah Liliana terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Setelah semalaman hampir tidak bisa memejamkan mata, perempuan itu bangun lebih awal dengan wajah yang masih menyisakan gurat kegelisahan. Bayangan pertemuannya dengan Sartika di restoran sehari sebelumnya terus berputar di dalam kepalanya. Terlebih lagi sosok pemuda yang mendampingi perempuan itu. Wajahnya begitu mirip dengan Nirwan hingga membuat hati Liliana dipenuhi tanda tanya.Usai sarapan seadanya, ia memutuskan mencari putranya. Langkahnya membawanya menuju sebuah alamat yang ia dapatkan dengan penuh penekanan. Lelaki berambut ikal itu sangat setia, begitu susah mulutnya untuk terbuka dan hal itu juga membuat Liliana geram.Liliana memarkirkan mobilnya di depan gerbang. Satpam sempat tak mengizinkan, namun setelah ia menyodorkan bukti-bukti bahwasanya ia adalah ibu dari pemilik rumah tersebut, barulah lelaki berbadan besar itu mau membukakannya. Liliana melangkah melewati gerbang besi
Last Updated: 2026-08-27
Chapter: Bab. 147Keesokan harinya.Liliana memutuskan keluar rumah untuk mengusir kebosanan yang sejak semalam terus menggerogoti pikirannya. Meski suasana hatinya belum sepenuhnya membaik, setidaknya makan siang di luar rumah bisa sedikit mengalihkan pikirannya dari berbagai kecurigaan terhadap Nirwan.Sebuah restoran berkelas di pusat kota menjadi pilihannya. Tempat itu merupakan salah satu langganannya sejak dulu, dengan interior elegan dan suasana tenang yang selalu membuat para tamu merasa betah berlama-lama.Seorang pelayan mengantarnya menuju meja di dekat jendela.Baru saja Liliana hendak membuka buku menu, pandangannya tanpa sengaja menangkap sosok perempuan yang baru saja melangkah masuk ke dalam restoran.Gerak tangannya langsung terhenti."Itu ..."Liliana menyipitkan mata, memastikan penglihatannya tidak sedang mempermainkannya."Sartika?"Perempuan itu tampak anggun mengenakan setelan berwarna krem dengan riasan wajah yang sederhana, tetapi tetap ber
Last Updated: 2026-08-25
Chapter: Bab. 146Di ruang keluarga yang luas dan mewah, Liliana duduk bersandar di sofa empuk sembari memeluk sebuah bantal kecil. Tatapannya mengarah ke televisi yang menayangkan acara hiburan malam, tetapi sorot matanya kosong. Sejak beberapa menit lalu, gambar di layar berganti berkali-kali tanpa benar-benar ia perhatikan. Pikirannya melayang entah ke mana.Ia mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa.Sejak saat itu, putra semata wayangnya itu memang memastikan ia tidak pernah kekurangan apa pun. Seluruh kebutuhan rumah tangga dipenuhi tanpa cela. Gaji para asisten rumah tangga dibayar tepat waktu, biaya dapur selalu tersedia, tagihan rumah dibereskan, bahkan kebutuhan sehari-harinya pun tak pernah terlupakan. Namun, ada satu hal yang membuat Liliana merasa hidupnya kehilangan warna.Dulu, hampir setiap minggu ia menghabiskan waktu berkeliling pusat perbelanjaan. Melihat etalase butik-butik mewah, mencoba tas keluaran terbaru, membeli sepatu,
Last Updated: 2026-07-23