Chapter: Bab. 177Sudah dua hari Liliana menunggu hasil tes DNA yang akhirnya keluar juga. Kini, wanita paruh baya itu duduk di hadapan dokter dengan kedua tangan yang sedikit gemetar. Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah sedang berlomba dengan waktu. Ada harapan besar yang diam-diam ia simpan, tetapi bersamaan dengan itu, terselip pula ketakutan akan kemungkinan bahwa kenyataan yang akan dihadapinya tidak sesuai dengan dugaan."Apa Anda sudah siap melihat hasilnya?" tanya dokter dengan tenang.Liliana menganggukkan kepala pelan. Ia berusaha menguasai dirinya meskipun jemarinya terus meremas ujung tas yang berada di pangkuannya."Silakan, Dok. Saya sudah menunggu hasil ini selama dua hari. Saya ingin tahu kebenarannya."Dokter mengambil sebuah amplop putih dari atas meja, kemudian mengeluarkan selembar kertas yang berisi hasil pemeriksaan. Ia membacanya sekilas sebelum menyerahkan dokumen tersebut kepada Liliana.Dengan napas tertahan, Liliana menerima kertas itu. Matanya
Terakhir Diperbarui: 2026-10-31
Chapter: Bab. 176“Apa yang aku dengar tadi itu benar, Ma?” tanya Devan dengan suara serak.“Memangnya kamu dengar tentang apa, Nak?” Sartika pura-pura tidak mengerti. Ia mendekati Devan, lalu dengan lembut memapah lelaki itu agar kembali ke ranjang.Namun, Devan memilih duduk di pinggir ranjang daripada harus kembali berbaring. Meskipun tubuhnya masih lemah akibat kehilangan banyak darah, ia tetap ingin mendapatkan jawaban atas percakapan yang tanpa sengaja didengarnya tadi.“Jangan bohong padaku. Aku sudah dengar semuanya.”Tatapan Devan menajam ke arah Sartika, seolah menuntut perempuan itu untuk berhenti mengelak.Sartika terdiam sesaat. Ia sama sekali tidak menyangka putranya sudah terbangun dan mendengar percakapannya dengan Liliana. Padahal, ia berusaha keras menyembunyikan rahasia itu agar tidak pernah terungkap, terutama di hadapan Devan sendiri.“Apa yang kamu dengar, Devan?” tanyanya lagi, berusaha mempertahankan ketenangannya. “Kamu baru saja melewati masa kritis.
Terakhir Diperbarui: 2026-10-31
Chapter: Bab. 175"Omong kosong apa yang kamu katakan?"Sartika berusaha menghindari tatapan Liliana yang terus mengintimidasinya. Ia mengalihkan pandangan ke arah lain, berusaha menyembunyikan kegugupan yang mulai terpancar jelas di wajahnya."Tentu saja Devan putra Astrid!" tegasnya, berusaha terdengar meyakinkan. "Jangan asal bicara, apalagi memfitnah orang yang sudah tiada. Apa kamu tidak takut terkena karma?"Liliana terkekeh pelan. Bukannya tersinggung, ia justru semakin yakin bahwa ada sesuatu yang tengah disembunyikan Sartika darinya."Memfitnah?" ulangnya dengan senyum sinis. "Aku bahkan belum menuduhmu melakukan apa pun, Sartika. Aku hanya mengajukan pertanyaan sederhana. Namun, lihatlah bagaimana reaksimu."Liliana melangkah mendekat, memaksa Sartika kembali berhadapan dengannya."Kalau memang kamu begitu yakin Devan adalah putra Astrid, mengapa kamu harus ketakutan seperti ini?"Sartika terdiam. Wajahnya semakin tegang, sementara jemarinya meremas ujung pakaian
Terakhir Diperbarui: 2026-10-29
Chapter: Bab. 174Liliana bukanlah wanita yang mudah menyerah begitu saja. Semakin Sartika berusaha menjauhkan dirinya dari Devan, semakin kuat pula keinginan wanita paruh baya itu untuk mengungkap kebenaran yang selama ini disembunyikan darinya.Malam itu, setelah memastikan Sartika tidak berada di sekitar ruang rawat inap, Liliana kembali melangkahkan kaki menuju kamar Devan. Ia sengaja datang sembunyi-sembunyi tanpa memberi tahu siapa pun.Sesampainya di depan pintu, ia berhenti sejenak. Setelah menarik napas panjang, wanita itu mengetuk pintu perlahan.Tok! Tok!Tidak terdengar jawaban dari dalam. Liliana pun membuka pintu sedikit, lalu mengintip ke dalam.Matanya langsung tertuju pada sosok pemuda yang terbaring di atas ranjang. Berbeda dengan kunjungan sebelumnya, kali ini Devan sudah tidak lagi memejamkan mata. Pemuda itu sedang menatap langit-langit kamar dengan wajah pucat, sementara tangan kirinya masih terpasang selang infus.Liliana menghela napas lega."Devan
Terakhir Diperbarui: 2026-10-29
Chapter: Bab. 173Malam itu, suasana kamar Nirwan dan Nadira terasa begitu tenang. Cahaya lampu tidur yang temaram menerangi ruangan, menciptakan suasana hangat di antara dua insan yang kini kembali merajut rumah tangga mereka setelah melewati begitu banyak kesalahpahaman, luka dan air mata.Nadira berbaring menyamping dengan tubuh menghadap Nirwan. Sementara itu, pria tersebut telentang dengan satu tangan terlipat di bawah kepala dan tangan lainnya berada di atas pinggang sang istri.Sejak tadi, Nadira tampak lebih banyak diam. Sesekali wanita itu menghela napas pelan, kemudian kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri. Bahkan, ketika Nirwan mengajaknya berbicara beberapa kali, jawabannya hanya berupa gumaman singkat.Nirwan yang menyadari perubahan sikap istrinya akhirnya memiringkan tubuh. Ia menopang kepala dengan satu tangan, lalu menatap wajah Nadira lekat-lekat.“Sayang,” panggilnya lembut.Nadira mengalihkan pandangan. “Hm?”“Kamu sedang memikirkan apa?”Pertanyaa
Terakhir Diperbarui: 2026-10-22
Chapter: Bab. 172Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Sartika melirik ke arah Devan yang masih terbaring seakan lelaki itu sedang tertidur nyenyak. Setelah Nadira pulang, Devan sempat sadar beberapa waktu hingga dokter menyuntikkan obat ke dalam selang infusnya, barulah pemuda itu kembali tertidur karena rasa kantung yang mendera. Wanita paruh baya itu mulai merasakan perih di perutnya, ia baru ingat kalau seharian ini ia baru makan satu kali. Itu pun makanan yang diberikan Nadira saat berkunjung siang tadi. "Mama keluar sebentar ya. Kamu tunggu di sini dan jangan berulah," ujar Sartika lembut pada Devan yang pastinya tidak merespon karena belum bangun. Sartika meraih tas dan kunci mobilnya. Barulah ia beranjak perlahan. Baru saja keluar dari pintu kamar rawat inap, ia dikejutkan dengan sosok Liliana yang tengah duduk di bangku panjang yang ada di depan ruangan tersebut. Tatapan mata mereka kembali bertemu untuk kesekian kalinya. Atmosfer seketika berubah menjadi canggung d
Terakhir Diperbarui: 2026-10-21
Chapter: 48. Alasan dibalik ajakan rujuk.Grand opening pembukaan toko rotiku pun akhirnya tiba. Antusias para pengunjung membuat semangatku menyala. Aroma butter yang menguar dari dapur memenuhi seluruh ruangan. Tak hanya di bagian dalam, tetapi di bagian luar pun juga terlihat ramai dengan deretan papan bunga yang berjejer tersusun rapi. "Selamat ya El." Vee memberikan sekuntum besar bunga mawar merah padaku. Dia datang bersama Kak Bian. Lama tak melihat dirinya, ada rasa rindu yang tersirat di hati."Terima kasih." Aku meraih bunga yang diberikannya padaku. Kelopaknya yang segar begitu menggoda mata. "Jangan terima kasih padaku, tapi pada Kak Bian, bunga itu darinya."Aku tersenyum. Hari ini hatiku sedang bahagia. "Terima kasih Kak. Atas bunganya dan juga waktu yang kakak sempatkan untuk datang ke sini.""Sama-sama, El. Lama tidak berjumpa, kamu makin cantik dan sukses saja," pujinya membuat hati ini semakin bahagia. Hari ini seakan begitu banyak kupu-kupu yang bertebaran di dadaku. "Ayo kita ngobrol di dalam sambil me
Terakhir Diperbarui: 2024-11-15
Chapter: 47. Ayo rujuk kembali padaku."Aku benar-benar tak habis pikir, bisa-bisanya kamu bersikap baik sama orang lain yang baru saja kamu kenal, El."Vee terus saja mengomel sepanjang jalan hingga kami sampai di rumah. Caranya mengataiku bodoh seakan aku telah menghilangkan uang ratusan juta saja. "Aku hanya memberikannya sebagian pakaianku yang sudah tidak terpakai lagi. Bukan membiarkannya menempati rumah peninggalan Mama dan Papa. Aku rasa gak perlu dibesar-besarkan seperti ini," jawabku. Aku yang duduk di depan meja rias tengah melepaskan jam tangan dan meletakkannya kembali dalam kotak sebelum membersihkan diri ke kamar mandi. "Tapi kamu juga memberikannya pekerjaan."Aku berbalik menghadap ke arah Vee yang tengah duduk di pinggir ranjang seraya merengut. Tak biasanya dia bersikap kekanak-kanakan seperti ini. "Memangnya ada masalah apa? Kenapa kamu terlihat sensi padanya?" tanyaku lembut. Dalam beberapa hari belakangan ini terasa ada yang berbeda darinya. Vee mengalihkan pandangan matanya dariku. Dia seperti se
Terakhir Diperbarui: 2024-11-14
Chapter: 46. Istana yang terlupakan."Di mana rumahmu, biar kami antar," tawarku yang merasa kasihan dengannya. Aku sudah membawanya ke klinik terdekat, luka-lukanya yang tidak terlalu parah itu pun juga sudah di obati. Hanya saja pergelangan kakinya sedikit terkilir hingga dia terlihat kesusahan saat bergerak.Vee kembali menarik tanganku, sedari tadi dia terus mewanti-wantiku untuk tidak terlalu ikut campur. Kuakui penampilan wanita yang aku ketahui namanya Rani itu terlihat begitu terbuka. "Gak usah Mbak. Saya bisa pulang sendiri, nanti saya pesan ojek online saja," ucapnya segan. Jika dilihat-lihat dia cukup sopan untuk ukuran wanita yang menggunaka pakaian sedikit terbuka. "Gak apa, aku antar saja kamu pulang. Jangan sungkan. Oh ya, kalau aku boleh saran, sebaiknya besok bersepeda gunakan pakaian yang lebih panjang lagi biar kalau jatuh gak parah seperti ini."Aku tak tahu kenapa kalimat itu yang keluar dari mulutku. Jika dipikir-pikir tak ada hak untuk aku mengomentari penampilannya. Sebenarnya pakaian Rani ada
Terakhir Diperbarui: 2024-11-13
Chapter: 45. Memulai usaha baru. Tiga hari aku tak bertemu lagi dengan Kak Bian. Aku yang selalu di rumah layaknya pengangguran kini mulai menyibukkan diri dengan rencana membuka toko bakery dengan seorang partner bisnis yang aku dapati saat ikut kelas baking. "Wah, mantap. Kapan kira-kira toko ini akan buka?" tanya Vee. Matanya menadang takjub pada penataan toko yang sedang dalam tahap finising tersebut. Hari ini dia libur dan ikut denganku untuk kontrol tukang yang menyelesaikan finishing renovasi rukoku ini. Aku memiliki satu deret ruko yang selama ini disewakan, kali ini dua pintu ruko akan aku gunakan untuk toko bakery. "Secepatnya. Tadi aku tanya sama tukangnya dalam seminggu tempat ini akan siap. Kalau tidak ada kendala awal bulan sudah bisa launching." Vee menganggukkan kepala kemudian meninggalkan aku untuk kembali melihat sekeliling. Aku justru memilih berdiskusi dengan Tissya. Wanita muda yang hanya tamatan sekolah menengah atas.Di umurnya yang
Terakhir Diperbarui: 2024-11-10
Chapter: 44. Musim semi.Belum hilang keterkejutanku atas ucapannya, kini aku kembali dikagetkan dengan sebuah cincin berlian yang dia tunjukkan padaku.Aku bahkan tak tahu harus berkata apa. Seluruh tubuhku terpaku dengan lidah yang kelu. "Apa kamu mau menerimaku, El?" Suara lembut pria yang selalu aku anggap sebagai kakak lelaki ketimbang pasangan ini kembali membuyarkan lamunanku. Aku menatap wajahnya lekat. Apa yang kurang dari dirinya? Tak ada. Tapi rasa takut atas kegagalan rumah tangga sebelumnya membuatku tak berani melangkah. Aku menutup kotak merah tersebut."Kenapa?" tanya Kak Bian dengan nada kecewa. Sejak kapan dia memiliki perasaan denganku? Sejak dulu saat kami kerap bersama atau karena kasihan dengan nasibku yang akan menyandang status janda?"Aku baru saja berpisah dengan Mas Galuh dan bahkan palu hakim perceraianku saja belum di ketuk," jawabku jujur. Aku tak ingin kedekatan kami akan menjadi masalah untuk kedepannya. "Aku akan sabar menunggu.""Masih banyak perempuan lain yang pantas un
Terakhir Diperbarui: 2024-11-09
Chapter: 43. Lamaran dadakan.Minggu pagi, udara begitu cerah tapi terasa melelahkan untukku. Hidup di rumah sendiri terasa begitu sunyi sehingga aku yang awalnya hanya ingin menginap sehari dua hari di rumah Vee, justru malah jadi keterusan. Keningku berkerut saat membuka kulkas, tak ada bahan makanan apa pun yang tersisa di sana. Baik aku ataupun Vee jarang sekali memasak di rumah ini, entah kenapa hari ini aku ingin makan siang dengan masakanku sendiri.Jadi di sinilah aku sekarang, di pusat perbelanjaan yang cukup besar di kotaku. Baru masuk pintu moll aku langsung menuju Alfamart yang ada di lantai bawah. Aku suka berbelanja di Alfamart yang ada di moll ini, selain lebih besar dan luas bahan makanan pun dijual lebih lengkap dan juga fress.Ayam, ikan, nugget dan juga telur omega sudah tersusun di dalam troliku, aku kembali berjalan sembari mata melirik ke kiri dan ke kanan untuk melihat-lihat apa lagi yang ingin aku beli dan berhenti di depan rak buah-buahan yang tersusun perkelompok."Wah kebetulan sekali
Terakhir Diperbarui: 2024-11-07