Chapter: Bab. 118“Nadira atau Cataleya, apa pun nama yang kau gunakan untuk menipu dunia atau menipu dirimu sendiri, kau tetap ancaman bagiku.” Nadira menggeleng lemah, tali yang mengikat pergelangannya menekan semakin dalam. “Aku tidak mengerti … aku bukan siapa pun. Aku bukan Cataleya. Aku—” “Kau pikir aku bodoh?” potong Silvia tajam. Ia tertawa pendek—bukan tawa lucu, tapi tawa seseorang yang pikirannya sudah terpojok lama. “Kau bisa kehilangan ingatan, kau bisa membangun kehidupan baru … tapi wajahmu tidak bisa berbohong.” Nadira menahan napas. Ada gemuruh panik di dadanya, tapi juga kebingungan yang menghantam keras. Rasa sakit di kepala kini kembali hadir memaksa menarik kepingan memori yang terkubur dalam ingatan. Silvia melempar pisau dalam genggaman tangannya ke sembarang arah. Tangannya kini yang berperan, ia mencekik leher putih itu dengan sekuat tenaga. Nadira tercekik, ia berusaha untuk memberontak, namun ikatan di tangan membu
Last Updated: 2026-01-09
Chapter: Bab. 117Hari berlalu begitu cepat. 24 jam telah terlewati begitu saja. Nadira melirik benda kecil yang melingkar di pergelangan tangannya. Jarum kecil itu menunjukan pukul sepuluh malam dan sudah saatnya ia membereskan tumpukan kertas yang sedari tadi menghiasi pemandangannya. Hari ini pekerjaan terasa begitu berat. Perut yang mulai terasa keroncongan membuatnya semakin mempercepat gerakan tangan dan kakinya. Nadira keluar dari gedung tinggi itu menuju lantai bawah di mana ia memarkirkan mobilnya. Suasana parkiran tampak begitu hening padahal belum terlalu larut. Nadira menekan tombol kunci mobilnya, suara beep pelan terdengar memantul pada dinding beton parkiran. Ia mengusap tengkuknya yang pegal, berharap bisa segera pulang, mandi air hangat dan makan apa pun yang bisa mengisi perutnya yang sejak siang kosong. Langkahnya terhenti sepersekian detik ketika angin dingin menyusup dari arah lorong gelap di belakangnya. Lampu neon di parkiran sempat be
Last Updated: 2026-01-03
Chapter: Bab. 116Sesampainya di rumah, Nadira langsung disambut rentetan pertanyaan dari Sartika yang tanpa sengaja melihatnya pulang diantar oleh Nirwan. Wajah wanita paruh baya itu tampak jelas dihiasi kecemasan. “Untuk apa kamu menemuinya?” tanya Sartika, suaranya mengeras karena khawatir. Nadira menghela napas panjang sebelum menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa. Kedua bahunya merosot, seolah seluruh energi yang ia miliki terkuras habis. “Tentu saja untuk mencari kebenaran,” jawabnya lirih. “Aku tidak akan bisa mengembalikan ingatanku jika tidak bertemu dengannya.” “Jauhi dia, Nadira!” seru Sartika spontan. “Nirwan itu bukan lelaki yang baik untukmu. Bukan cuma kamu wanita yang ada dalam hidupnya.” Tatapan Nadira mengeras, menusuk dalam ke arah Sartika. Ada kilatan kecurigaan yang tak bisa ia sembunyikan. “Mama mencaritahu latar belakang Nirwan?” ujarnya pelan namun penuh tekanan. “Tentu saja,” sahut Sartika. “Dan dari semua yang
Last Updated: 2025-12-31
Chapter: Bab. 115 Silvia panik. Begitu pintu rumah kontrakannya tertutup, ia langsung menyandarkan punggungnya ke dinding. Napasnya memburu, tidak teratur, seolah paru-parunya menolak bekerja dengan benar. Dadanya terasa sesak, kepalanya berputar. Pertemuan tadi dan tatapan Nadira, suara Nadira, cara perempuan itu menekan kata Cataleya—semua itu mengguncang stabilitas tipis yang selama ini ia pertahankan dengan susah payah. “Astaga … apa yang kulakukan tadi. Satu masalah belum selesai dan kini aku kembali di hadapkan dengan masalah baru." Silvia meremas rambutnya, tubuhnya gemetar. Ia berjalan mondar-mandir di ruang tamu yang sempit. Setiap langkah seperti menarik napasnya semakin dalam ke jurang kecemasan. Bayangan wajah Nadira muncul di benaknya lagi, tatapan penuh ketenangan yang menghancurkan pertahanannya. Bagaimana jika benar ia Cataleya dan ia ingat semuanya. Hidupku tak hanya akan hancur dan berakhir dalam penjar
Last Updated: 2025-12-31
Chapter: Bab. 114Nirwan menelan ludah. Ruangan itu terasa menyempit, udara seolah menekan dadanya. “Silvia … dia—”“Aku ibu dari anaknya,” potong Silvia cepat, suaranya meninggi. “Atau setidaknya, aku pernah menjadi wanita yang dia janji akan dinikahi dan ditanggung seumur hidup.” Senyum tipisnya sarat kemarahan. “Apa itu juga salah paham?”Nadira bangkit dari duduknya. Gerakannya tenang, namun matanya menyimpan badai. Di tengah kebimbangannya tentang jati diri, Nadira baru saja mulai berusaha membuka dirinya untuk menerima Nirwan. “Aku tidak menyangka ternyata begitu banyak wanita di hidupmu,” ucapnya lirih pada Nirwan. “Dan kamu tidak bercerita padaku soal anak dan wanita ini.”Bintang mendekap Liliana semakin erat, tubuh kecilnya bergetar. Liliana membalas pelukan cucunya dan ikut menatap Silvia dengan amarah yang tak lagi ia sembunyikan. “Cukup, Silvia. Jangan buat keributan di rumahku. Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau, jadi pergilah dari sini.”Liliana dengan tegas
Last Updated: 2025-12-24
Chapter: Bab. 113Silvia mundur-mandir sedari tadi. Ia tampak uring-uringan setelah mendapat informasi bahwa ada beberapa pria yang diduga adalah polisi tengah menggeledah rumah lamanya. “Bagaimana jika mereka menemukannya?” gumamnya panik. Telapak tangannya basah oleh keringat. Ingatannya melayang pada sesuatu yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat—sesuatu yang seharusnya sudah lenyap, terkubur bersama masa lalu. Ia berhenti melangkah, menekan pelipisnya yang berdenyut. Napasnya memburu. “Tidak … tidak boleh. Aku gak mau masuk penjara. Jalan satu-satunya aku harus pergi jauh dari tempat ini, tapi nenek tua itu memberikan uang yang jauh dari kata cukup," bisiknya lirih. Otaknya terasa semakin sakit memikirkan bagaimana caranya agar dirinya bisa mendapatkan uang dalam jumlah yang besar. Silvia berencana kabur keluar negeri sebelum masalah pembunuhan yang telah ia lakukan terbongkar. Sementara itu dirinya tak memiliki uang yang cukup.
Last Updated: 2025-12-24
Chapter: 48. Alasan dibalik ajakan rujuk.Grand opening pembukaan toko rotiku pun akhirnya tiba. Antusias para pengunjung membuat semangatku menyala. Aroma butter yang menguar dari dapur memenuhi seluruh ruangan. Tak hanya di bagian dalam, tetapi di bagian luar pun juga terlihat ramai dengan deretan papan bunga yang berjejer tersusun rapi. "Selamat ya El." Vee memberikan sekuntum besar bunga mawar merah padaku. Dia datang bersama Kak Bian. Lama tak melihat dirinya, ada rasa rindu yang tersirat di hati."Terima kasih." Aku meraih bunga yang diberikannya padaku. Kelopaknya yang segar begitu menggoda mata. "Jangan terima kasih padaku, tapi pada Kak Bian, bunga itu darinya."Aku tersenyum. Hari ini hatiku sedang bahagia. "Terima kasih Kak. Atas bunganya dan juga waktu yang kakak sempatkan untuk datang ke sini.""Sama-sama, El. Lama tidak berjumpa, kamu makin cantik dan sukses saja," pujinya membuat hati ini semakin bahagia. Hari ini seakan begitu banyak kupu-kupu yang bertebaran di dadaku. "Ayo kita ngobrol di dalam sambil me
Last Updated: 2024-11-15
Chapter: 47. Ayo rujuk kembali padaku."Aku benar-benar tak habis pikir, bisa-bisanya kamu bersikap baik sama orang lain yang baru saja kamu kenal, El."Vee terus saja mengomel sepanjang jalan hingga kami sampai di rumah. Caranya mengataiku bodoh seakan aku telah menghilangkan uang ratusan juta saja. "Aku hanya memberikannya sebagian pakaianku yang sudah tidak terpakai lagi. Bukan membiarkannya menempati rumah peninggalan Mama dan Papa. Aku rasa gak perlu dibesar-besarkan seperti ini," jawabku. Aku yang duduk di depan meja rias tengah melepaskan jam tangan dan meletakkannya kembali dalam kotak sebelum membersihkan diri ke kamar mandi. "Tapi kamu juga memberikannya pekerjaan."Aku berbalik menghadap ke arah Vee yang tengah duduk di pinggir ranjang seraya merengut. Tak biasanya dia bersikap kekanak-kanakan seperti ini. "Memangnya ada masalah apa? Kenapa kamu terlihat sensi padanya?" tanyaku lembut. Dalam beberapa hari belakangan ini terasa ada yang berbeda darinya. Vee mengalihkan pandangan matanya dariku. Dia seperti se
Last Updated: 2024-11-14
Chapter: 46. Istana yang terlupakan."Di mana rumahmu, biar kami antar," tawarku yang merasa kasihan dengannya. Aku sudah membawanya ke klinik terdekat, luka-lukanya yang tidak terlalu parah itu pun juga sudah di obati. Hanya saja pergelangan kakinya sedikit terkilir hingga dia terlihat kesusahan saat bergerak.Vee kembali menarik tanganku, sedari tadi dia terus mewanti-wantiku untuk tidak terlalu ikut campur. Kuakui penampilan wanita yang aku ketahui namanya Rani itu terlihat begitu terbuka. "Gak usah Mbak. Saya bisa pulang sendiri, nanti saya pesan ojek online saja," ucapnya segan. Jika dilihat-lihat dia cukup sopan untuk ukuran wanita yang menggunaka pakaian sedikit terbuka. "Gak apa, aku antar saja kamu pulang. Jangan sungkan. Oh ya, kalau aku boleh saran, sebaiknya besok bersepeda gunakan pakaian yang lebih panjang lagi biar kalau jatuh gak parah seperti ini."Aku tak tahu kenapa kalimat itu yang keluar dari mulutku. Jika dipikir-pikir tak ada hak untuk aku mengomentari penampilannya. Sebenarnya pakaian Rani ada
Last Updated: 2024-11-13
Chapter: 45. Memulai usaha baru. Tiga hari aku tak bertemu lagi dengan Kak Bian. Aku yang selalu di rumah layaknya pengangguran kini mulai menyibukkan diri dengan rencana membuka toko bakery dengan seorang partner bisnis yang aku dapati saat ikut kelas baking. "Wah, mantap. Kapan kira-kira toko ini akan buka?" tanya Vee. Matanya menadang takjub pada penataan toko yang sedang dalam tahap finising tersebut. Hari ini dia libur dan ikut denganku untuk kontrol tukang yang menyelesaikan finishing renovasi rukoku ini. Aku memiliki satu deret ruko yang selama ini disewakan, kali ini dua pintu ruko akan aku gunakan untuk toko bakery. "Secepatnya. Tadi aku tanya sama tukangnya dalam seminggu tempat ini akan siap. Kalau tidak ada kendala awal bulan sudah bisa launching." Vee menganggukkan kepala kemudian meninggalkan aku untuk kembali melihat sekeliling. Aku justru memilih berdiskusi dengan Tissya. Wanita muda yang hanya tamatan sekolah menengah atas.Di umurnya yang
Last Updated: 2024-11-10
Chapter: 44. Musim semi.Belum hilang keterkejutanku atas ucapannya, kini aku kembali dikagetkan dengan sebuah cincin berlian yang dia tunjukkan padaku.Aku bahkan tak tahu harus berkata apa. Seluruh tubuhku terpaku dengan lidah yang kelu. "Apa kamu mau menerimaku, El?" Suara lembut pria yang selalu aku anggap sebagai kakak lelaki ketimbang pasangan ini kembali membuyarkan lamunanku. Aku menatap wajahnya lekat. Apa yang kurang dari dirinya? Tak ada. Tapi rasa takut atas kegagalan rumah tangga sebelumnya membuatku tak berani melangkah. Aku menutup kotak merah tersebut."Kenapa?" tanya Kak Bian dengan nada kecewa. Sejak kapan dia memiliki perasaan denganku? Sejak dulu saat kami kerap bersama atau karena kasihan dengan nasibku yang akan menyandang status janda?"Aku baru saja berpisah dengan Mas Galuh dan bahkan palu hakim perceraianku saja belum di ketuk," jawabku jujur. Aku tak ingin kedekatan kami akan menjadi masalah untuk kedepannya. "Aku akan sabar menunggu.""Masih banyak perempuan lain yang pantas un
Last Updated: 2024-11-09
Chapter: 43. Lamaran dadakan.Minggu pagi, udara begitu cerah tapi terasa melelahkan untukku. Hidup di rumah sendiri terasa begitu sunyi sehingga aku yang awalnya hanya ingin menginap sehari dua hari di rumah Vee, justru malah jadi keterusan. Keningku berkerut saat membuka kulkas, tak ada bahan makanan apa pun yang tersisa di sana. Baik aku ataupun Vee jarang sekali memasak di rumah ini, entah kenapa hari ini aku ingin makan siang dengan masakanku sendiri.Jadi di sinilah aku sekarang, di pusat perbelanjaan yang cukup besar di kotaku. Baru masuk pintu moll aku langsung menuju Alfamart yang ada di lantai bawah. Aku suka berbelanja di Alfamart yang ada di moll ini, selain lebih besar dan luas bahan makanan pun dijual lebih lengkap dan juga fress.Ayam, ikan, nugget dan juga telur omega sudah tersusun di dalam troliku, aku kembali berjalan sembari mata melirik ke kiri dan ke kanan untuk melihat-lihat apa lagi yang ingin aku beli dan berhenti di depan rak buah-buahan yang tersusun perkelompok."Wah kebetulan sekali
Last Updated: 2024-11-07