Share

8. Masalah Lagi.

Penulis: Suzy Wiryanty
last update Tanggal publikasi: 2026-07-09 10:40:55

Tia baru saja turun dari mobil saat suara riuh rendah menyambutnya dari arah gerbang sekolah.

"Woho! Keren banget lo, Tia. Ratu sekolah kita sudah datangbteman-teman ayo beri jalan... beri jalan!"

Tia mengangkat sebelah alisnya.

Di belakang gerbang, belasan siswa sudah berkumpul seperti sedang menunggu artis besar.

Clara dan Desy bahkan berdiri paling depan.

Begitu melihat Tia, keduanya langsung mengacungkan dua jempol tinggi-tinggi.

"Gokil lo, Tia!" teriak Clara. "Nggak kaleng-kaleng!" sambung Desy heboh. "Habis teler langsung check in hotel! Lo emang cegil sejati. Ratu dugem se-Harapan Bangsa!" 

Tepuk tangan semakin riuh. Teman-teman yang lain ikut bersorak. Beberapa orang membuat gerakan menyembah ala tren media sosial yang sedang viral.

"Hormat kepada Ratu Sky Light!"

"Salam kepada Penguasa Hotel Paramount!"

"Hidup Justitia Rahmadsyah!"

Tia meringis. Pasti foto-fotonya sudah tersebar di dunia maya. Namun ia tak menganggap itu masalah. Dengan santai ia tersenyum jumawa dan melambai-lambaikan tangan ke kanan dan kiri ala miss universe.

"Terima kasih, rakyatku." Tia melemparkan ciuman ke udara. 

Sorakan makin pecah.

"Astaga dia sombong banget tapi gue suka!"

"Ratu cegil emang beda!"

"Kepada kalian para rakyatku. Istirahat nanti silakan ke kantin. Gue traktir makan siang kalian semua!"

"Asikkk. Ratu sudah bersabda! Kita semua bakalan makan enak!"

Suasana semakin riuh. Tak lama, suara tegas seorang guru terdengar dari belakang.

"Masuk kelas semuanya. Jangan membuat keributan!"

Kerumunan langsung buyar. Para siswa berlarian menuju gedung kelas sebelum terkena hukuman.

Tia masih sempat melambaikan tangan sekali lagi sebelum melangkah masuk.

Begitu membuka pintu kelas, suara tepuk tangan langsung menyambutnya.

"Selamat datang!"

Tony yang duduk di bangku belakang berdiri paling cepat.

"Selamat datang ratu hatiku. Mari kita tos!" Tony mengajak Tia tos high five. Tia melayaninya asal-asalan. Tony tampak sangat bersemangat.

"Gue akuin. Level kenakalan lo naik satu tingkat lagi."

Ia meletakkan tangan di dada.

Tia menjatuhkan tasnya ke meja.

"Oh ya? Kenapa gitu?"

Tony merangkapkan tangan ke dada. 

"Karena dulu lo cuma ratu tawuran dan ratu rokok. Tapi sekarang," Tony menunjuk Tia penuh hormat.

"Lo nambah gelar jadi Ratu Dugem Harapan Bangsa."

Satu kelas langsung tertawa.

Tony kemudian menurunkan tubuhnya dan membuat gerakan menyembah berlebihan.

"Hamba bersujud pada Yang Mulia Ratu."

Anak-anak lain ikut-ikutan.

"Yang Mulia Ratu Dugem!"

"Penguasa Dance Floor Club Sky Light!"

Tia meringis. Pasti teman-temannya sudah melihat foto-fotonya di dunia maya.

Tony lalu mendekat dan berbisik genit. 

"By the way, lo mau check in sama gue nggak?"

Tony mengedipkan sebelah matanya. Beberapa anak laki-laki langsung bersiul.

Tia menatapnya datar.

"Lihat nanti."

Mata Tony langsung berbinar.

"Serius?"

"Iya. Kalo kencing lo udah lurus."

Tawa seisi kelas meledak.

"Hahahaha!"

"Anjir!"

"Mampus lo, Ton!"

Tony sendiri malah tertawa paling keras. 

"Tenang aja!" 

Ia menunjuk dirinya sendiri.

"Gue rela melakukan apa pun demi cinta. Kencing lurus juga gue usahain."

Gelak tawa kembali memenuhi kelas. Anak-anak laki-laki memang menyukai Tia. Bukan karena cantiknya saja. Tetapi karena keberaniannya yang tidak dimiliki kebanyakan siswi lainnya.

Masih tersenyum tipis, Tia akhirnya duduk di bangkunya.

Namun senyum itu perlahan menghilang.

Pandangannya tertuju pada dua meja di dekat jendela.

Kosong. Meja Airin dan meja Amira tidak ada pemiliknya.

Tia menyipitkan mata. Tumben.

Biasanya dua sahabatnya itu datang paling pagi. Mereka selalu punya bahan gosip baru setiap hari. Hari ini justru menghilang.

Tia menyandarkan tubuhnya. Ia makin yakin. Mereka takut bertemu dengannya.

Bagus. Dengan begitu mereka dengan sendirinya mengaku bersalah.

Tepat saat sedang berpikir demikian, sebuah buku tiba-tiba muncul di depan wajahnya.

Tia mendongak. 

Azzam.

Si kutu buku berkacamata tebal.

Ketua kelas yang selalu terlihat seperti guru magang.

"Ini."

Tia melirik buku itu.

"Apa?"

"Catatan pelajaran kemarin."

Tia mengernyit.

"Ngapain lo ngasih gue catatan lo?"

"Karena lo nggak masuk kemarin."

Azzam mendorong bukunya lebih dekat pada Tia.

"Lo bisa nyalin dari catatan gue."

Tia menatap Azzam datar.

"Ngapain lo ngurusin gue?"

Azzam terlihat sedikit gugup.

Namun tetap menjawab.

"Biar lo nggak ketinggalan pelajaran." 

Tia menopang dagu. Menatap Azzam lurus-lurus.

"Kenapa lo peduli?"

Azzam terdiam sesaat. Lalu menjawab serius.

"Gue nggak mau ada anak bodoh di kelas yang gue pimpin."

Hening. 

Tony yang sejak tadi mendengar langsung berdiri.

"Apa lo bilang?"

Kursinya berdecit keras.

"Lo mau bilang kalau  Tia bodoh?"

Tony menggulung lengan seragamnya. Siap menghajar sang ketua kelas yang culun.

Azzam mundur satu langkah.

Namun tetap berdiri tegak.

"Gue cuma bilang—"

"Lo cari mati, heh!"

Tony melangkah maju.

Namun Tia langsung menarik lengan Tony.

"Duduk, Ton."

"Tapi dia—" Tony menunjuk Azzam geram.

"Duduk gue bilang!" bentak Tia keras.

Tony akhirnya mendengus kesal lalu kembali ke tempatnya.

Tia menoleh pada Azzam.

"Terima kasih."

Azzam tampak sedikit terkejut.

"Tapi lain kali nggak usah ngurusin gue."

Tia menyodorkan kembali buku itu.

"Lo cuma ketua kelas. Bukan orang tua gue. Kenali kapasitas lo."

Azzam menerima bukunya kembali. Wajahnya tetap datar.

"Gue emang bukan orang tua lo. Gue cuma menjalankan tugas."

Jawaban itu membuat Tia mendecak. Dasar manusia aneh.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Azzam berbalik lalu kembali ke mejanya. 

Beberapa saat kemudian bel pelajaran berbunyi. Kelas pun mulai belajar seperti biasa.

Sekitar satu jam berlalu. Pak Aziz, guru BP yang terkenal galak, tiba-tiba muncul di depan kelas.

Semua siswa langsung diam.

Pak Aziz menyapu ruangan dengan pandangan tajam.

Lalu berhenti tepat pada Tia.

"Justitia Rahmadsyah."

Tia yang sedang menulis mengangkat kepala.

"Ya, Pak?"

"Ikut saya ke ruang BP."

Satu kelas langsung heboh.

"Waduh."

"Mampus."

"Pasti soal hotel."

Tony menatap Tia khawatir. Tia sendiri hanya mengangkat bahu. Semakin banyak masalah, semakin sering ia bertemu dengan orang tuanya. Dan itu yang ia idam-idamkan.

Ia pun berdiri dengan semangat.

Namun saat berjalan melewati barisan bangku belakang, Ronald yang baru masuk setelah izin ke toilet tiba-tiba mencondongkan tubuh. Suaranya sangat pelan.

Hampir seperti bisikan.

"Tia."

"Hm?"

Ronald melirik ke arah Pak Aziz yang sudah menunggu di depan pintu. Lalu kembali menatap Tia.

Wajahnya terlihat tegang.

"Yang mau ketemu lo..."

Tia mengernyit.

"...polisi."

Langkah Tia langsung terhenti.

Untuk pertama kalinya pagi itu, senyum santainya benar-benar menghilang. Ia paling malas berurusan dengan para polisi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Iin Iin
suka nih sama sifat Tia,ga ada baper" ny, selow orang ny..
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   88. Pengorbanan.

    Di luar restoran, situasi semakin ramai. Polisi terus memeriksa TKP dan menghalau warga yang beramai-ramai mendekati lokasi. Garis polisi pun dipasang.Seorang perawat mendekati dan mengobati luka-luka goresnya. Tia mengamati para rekannya juga sudah mulai diobati. Beberapa waiter yang mengalami luka lebih berat segera dibawa ke rumah sakit. Yang ringan sementara diobati di tempat. Menunggu ambulans-ambulans lain datang.Tia melirik Riffat yang terus saja menelepon sambil sesekali melihat ke arahnya. Seolah memastikan kalau ia tetap berada di tempat. Sebuah mobil berhenti di depan restoran. Charles turun lebih dulu. Tak lama kemudian Togar menyusul. Keduanya langsung berlari masuk dan membantu proses evakuasi. Sebuah mobil lain berhenti. Pak Khalid turun. Di belakangnya ada Pak Martin dan Alex.Begitu melihat kondisi restoran, Pak Khalid menarik napas panjang.Tatapannya mencari-cari seseorang. Saat menemukan orang yang membuat jantungnya berdebar sepanjang perjalananan, air mukany

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   87. Selamat.

    Tia terbaring di jalanan. Riffat mendekapnya erat di atas aspal yang bergetar. Telinganya berdenging, sementara pandangannya mengabur tertutup tirai asap. Udara mendadak beracun oleh aroma mesiu serta material dapur yang hangus terbakar.Tia menoleh ke samping. Asap tampak memenuhi sebagian jalan dekat restoran. Bau hangus bercampur dengan aroma tajam membuat dadanya terasa sesak."Kamu tidak apa-apa, Tia?"Riffat perlahan bangkit dari atas tubuh Tia.Wajahnya terlihat tegang. Debu menempel di rambut dan pakaiannya. Darah tampak mengalir dari luka di lengan dan sisi bahunya.Namun, hal pertama yang dilakukannya bukan memeriksa lukanya sendiri. Ia malah membungkuk dan memeriksa keadaan Tia."Kamu terluka?" Riffat membantu Tia bangun dan memapahnya ke pinggir jalan tak jauh dari restoran. Untunglah mereka dan para staf sempat keluar.Tia menggeleng."Sepertinya saya tidak apa-apa, Pak. Cuma masih syok saja," jawab Tia linglung."Kamu tunggu di sini," ucap Riffat sambil memandangi keada

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   86. Nyaris!

    Tia bekerja dengan perasaan tidak tenang. Sedari pagi hingga shiftnya akan berakhir sebentar lagi ia belum mendapat kabar dari Riffat, Azzam, maupun Pak Khalid. Padahal setelah kejadian semalam, ia berharap setidaknya salah satu dari mereka menghubunginya.Namun, ponselnya belum memunculkan notifikasi. Kegelisahan itu semakin bertambah ketika ia mendengar kasak-kusuk dari beberapa staf.Ia beberapa kali melihat mereka berkumpul dan berbicara dengan suara pelan. Ia ingin bertanya, tetapi tidak mungkin. Selama bekerja di hotel, ia memang selalu menjaga jarak. Ia datang untuk bekerja, menyelesaikan tugas, lalu pulang. Tidak banyak ikut bergosip atau mencampuri urusan orang lain.Karena itu, ia hanya bisa bersabar menunggu shift sore. Karena hari ini Mbak Lita masuk sore. Biasanya, Mbak Lita lebih cepat mendapatkan informasi dari staf lain.Tia baru saja mengambil beberapa botol minuman yang ditinggalkan tamu ketika telinganya menangkap percakapan Manda dan Silvi."Beneran, Man?""Ya bene

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   85. Luruh.

    Setelah Riffat, Bu Rini dan Alex meninggalkan rumah, Pak Khalid segera mengambil alih situasi."Charles, amankan seluruh area. Jangan ada yang menyentuh apa pun sebelum polisi datang."Charles mengangguk."Baik, Pak.""Togar, hubungi ambulans dan kepolisian."Togar langsung mengeluarkan ponsel."Katakan ada korban penembakan. Kondisinya sudah tidak sadarkan diri.""Bukankah Pak Husein bukan hanya tidak sadarkan diri, tetapi sudah mati?" tanya Togar bingung."Mati tidaknya dia, biar pihak rumah sakit yang memberikan keterangan," tegas Pak Khalid.Togar mengangguk lalu menjauh untuk melakukan panggilan.Pak Khalid kemudian menoleh kepada Pak Martin."Pastikan tidak ada orang yang keluar-masuk ruangan sebelum petugas datang.""Baik."Pak Martin kembali memeriksa keadaan Husein meskipun sebelumnya sudah memastikan pria itu tidak memiliki denyut nadi.Sementara itu, Tia masih berdiri di dekat ruang utama. Matanya sesekali tertuju pada Azzam.Pemuda itu masih berjongkok di samping tubuh aya

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   84. Rekonsiliasi.

    Ruangan mendadak sunyi.Tia berdiri terpaku. Ia memandang tubuh Husein tanpa suara. Tidak ada rasa lega.Tidak ada pula keinginan untuk marah. Yang tersisa hanya kekosongan.Di sisi lain, Azzam mematung.Wajahnya kehilangan warna. Ia menatap tubuh ayahnya beberapa detik sebelum akhirnya berjongkok."Ayah..."Tangannya mengguncang bahu sang ayah."Ayah, bangun!" panggilnya serak.Tidak ada jawaban."Ayah!"Kali ini suara Azzam pecah. Ia memeluk tubuh ayahnya sambil menangis.Tia memalingkan wajah. Bagaimanapun muaknya dirinya pada Pak Husein, tetap saja ia adalah ayah kandung Azzam. Pemandangan ini pasti menyakitkan bagi Azzam."Saya akan menyerahkan diri kepada polisi," ucap Bu Rini tegas.Semua mata beralih kepadanya."Namun sebelumnya saya ingin bicara dengan Pak Khalid dulu." Charles melirik Pak Khalid. Menunggu arahan. Ketika Pak Khalid mengangguk, barulah Charles melepaskan Bu Rini. Pak Khalid lalu membawa Bu Rini ke ruang kerja. Setiba di sana Pak Khalid mempersilakan Bu Rin

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   83. Pengorbanan Seorang Ibu.

    Tia mengamati Pak Martin yang sedang mengobati luka-luka luar di tubuh Bu Rini. Bu Rini terlihat sangat lemah. Pakaiannya kotor dengan beberapa bagian robek. Jilbabnya juga sudah tidak beraturan. "Luka bagian dalam nanti kita tunggu Dokter Sarah saja, ya," ujar Pak Martin sambil memeriksa luka di lengan Bu Rini.Bu Rini mengangguk."Kamu sekarang sudah berhijrah. Mungkin kurang nyaman diperiksa oleh dokter laki-laki. Besok saya akan menghubungi Dokter Sarah pagi-pagi sekali."Bu Rini kembali mengangguk."Dokter Sarah itu putrimu yang dulu pernah liburan di rumah ini, bukan?"Pak Martin tersenyum kecil."Iya. Saya tidak menyangka kalau kamu masih mengingatnya."Bu Rini balas tersenyum tipis."Dulu saya sering bermain dengannya kalau kamu sedang sibuk merawat anak-anak yang terluka."Tia menyimak percakapan itu dalam diam. Dari potongan-potongan pembicaraan tersebut, ia menyadari bahwa Bu Rini dan Pak Martin ternyata sudah saling mengenal sejak lama.Namun, sebelum mereka sempat berbic

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status