Uma Cinderela para o Príncipe

Uma Cinderela para o Príncipe

last updateLast Updated : 2023-06-16
By:  Ela FerreiraCompleted
Language: Portuguese
goodnovel16goodnovel
10
6 ratings. 6 reviews
59Chapters
9.7Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

E lá estava Emmy, vestindo sua roupa para se apresentar pela última vez no palco do teatro. Ela não fazia ideia do que haviam preparado para quem usasse aquela fantasia. Ela subiu ao palco, disposta a dar o seu melhor, pois seria sua última vez ali. No entanto, havia uma aposta, algo combinado de forma sórdida e mesquinha, que acabaram envolvendo Emmy e assim, de forma inesperada ela se viu em meio a um noivado com alguém que não conhecia e nem fazia ideia de quem seria. Em troca de manter o teatro aberto e funcionando, ela precisava decidir, afinal, não apenas a vida profissional dela estava em jogo, como a de todos os seus colegas de trabalho. E como situações ruins não acontecem de forma branda, ainda teria que encarar toda uma vida pela qual ela não estava preparada para viver.

View More

Chapter 1

A Cinderela.

Pintu kaca lobi bergeser menutup di belakang Udin, memutus udara dingin AC dan menyisakan uap panas jalanan kota yang langsung menampar wajah. Langkahnya gontai, kepalanya menunduk menatap ujung sepatu pantofelnya yang mulai memudar. Di dalam telinganya, suara melengking Bu Nani masih bergaung liar, membedah habis kesalahannya perihal satu file laporan yang salah alamat. Sebuah kecerobohan kecil yang harus dibayar lunas dengan tiga puluh menit omelan tajam di depan meja divisi.

Helaan nafas panjang lolos dari bibir Udin, berat dan lelah. Sore ini, gedung-gedung tinggi di sekitarnya terasa seolah sedang menunduk, ikut menghakiminya.

Ia butuh jeda. Bukan di kedai kopi benderang yang memutar musik jazz, melainkan sebuah sudut berdebu di mana ia tidak dituntut menjadi karyawan yang sempurna. Warkop Pak Sudirman. Bayangan segelas kopi hitam pekat setengah manis dan kepulan asap kretek tiba-tiba terasa seperti satu-satunya jangkar kewarasan yang tersisa hari ini.

Udin menyeret langkahnya menembus deretan mobil mengkilap menuju sudut paling ujung area parkir. Di bawah bayangan pohon palem yang daunnya layu, terparkir sebuah motor bebek keluaran lama. Cat hitamnya sudah banyak terkelupas pada bagian sayap, digantikan karat kecoklatan yang menjalar seperti urat nadi di sekitar leher knalpot. Orang-orang kantor sering menyebutnya rongsokan, tetapi bagi Udin, mesin tua bernapas parau inilah satu-satunya kawan yang tidak pernah memarahinya saat ia melakukan kesalahan.

Ia merogoh saku celana bahan yang sudah agak kusut, mengeluarkan anak kunci dengan gantungan yang warnanya sudah pudar. Udin melempar tubuhnya ke atas jok yang busanya mulai mengeras dan memutar kunci kontak.

Seperti biasa, mesin itu tidak langsung merespons. Butuh dua kali engkolan keras dengan kaki dan satu tarikan gas panjang sampai akhirnya motor itu terbatuk-batuk, lalu menderu dengan irama kasar yang sudah sangat ia hafal.

Udin memasukkan gigi pertama. Terdengar bunyi klak yang agak kasar. Perlahan, ia membiarkan roda-roda usangnya bergulir meninggalkan pelataran beton gedung kantor. Ia meninggalkan gema suara Bu Nani, meninggalkan tumpukan revisi angka-angka, untuk melarikan diri menuju hangatnya warkop Pak Sudirman yang selalu siap menampung wajah-wajah lelah ibukota.

Deru mesin motor butut Udin mati bersamaan dengan rintik gerimis pertama yang membasahi aspal ibu kota. Warkop Pak Sudirman menyambutnya dengan suasana yang tak pernah berubah, aroma mie rebus bercampur irisan cabai, kepulan asap kretek, dan pendar lampu bohlam kuning yang menyorot remang. Bagi Udin, tempat yang sempit dan berdesakan ini adalah suaka.

Ia menghempaskan tubuhnya di bangku kayu sudut, menaruh helm yang kaca visornya sudah penuh goresan di atas meja.

"Kopi hitam, Pak. Setengah manis, kayak biasa," ucap Udin pelan, suaranya parau oleh kelelahan.

Udin menangkupkan kedua telapak tangan ke wajahnya, memijat pelipisnya keras-keras. Ia mencoba mencuci bersih sisa-sisa suara Bu Nani yang sedari tadi terus merongrong kewarasannya. Rutinitas kota telah menelannya bulat-bulat. Hari-harinya berubah menjadi tumpukan angka, laporan, dan kemacetan. Ingatan tentang dinginnya gunung, tentang kabut, kebebasan, bahkan tentang pertemuan-pertemuan singkat yang magis, rasanya sudah terkubur sangat dalam. Hampir terlupakan.

Sampai sebuah suara menginterupsi udara di sekitarnya.

"Pak, es teh manisnya satu ya. Gulanya dikit aja."

Udin membeku. Tangan yang menutupi wajahnya perlahan turun. Itu bukan suara yang asing, meski diucapkan dengan nada yang begitu santai. Ada tekstur serak yang seketika merobek lapisan ingatan Udin, membawanya melesat kembali ke sebuah sore yang berkabut di lereng Semeru.

Dengan gerakan lambat, seolah takut realitas akan pecah jika ia bergerak terlalu cepat, Udin menoleh ke arah bangku panjang di seberang gerobak mie.

Seorang perempuan duduk disana, menatap rintik hujan di luar warkop. Ia tidak lagi mengenakan jaket gunung tebal atau celana kargo berlumpur. Rambutnya tergerai rapi, sedikit bergelombang di ujungnya. Kemeja linen putih dan celana kulot yang ia kenakan tampak terlalu bersih, terlalu elegan untuk sebuah warkop pinggir jalan yang atap terpalnya sedikit bocor. Sebuah mobil sedan Eropa berwarna hitam terparkir tak jauh di luar, lampu hazard-nya menyala, mungkin sedang berteduh dari hujan yang mendadak turun, atau sekadar mencari pelarian yang sama dengan Udin.

Seolah merasakan ada sepasang mata yang mengunci arahnya, perempuan itu menoleh. Pandangan mereka bertabrakan tepat di tengah ruang warkop yang dipenuhi asap dan uap panas.

Dunia di sekitar Udin mendadak senyap. Suara desis minyak panas di wajan Pak Sudirman, tawa parau bapak-bapak di sudut ruangan, hingga deru klakson jalanan, seakan ditarik paksa ke ruang hampa. Waktu berhenti berdetak.

Mata perempuan itu melebar. Keterkejutan melintas cepat, menyingkirkan ekspresi bosannya, lalu dalam hitungan detik mencair menjadi sebuah senyuman. Senyum yang persis sama seperti saat ia duduk bersandar di bawah akar pohon raksasa dengan kaki terluka.

"Mas Udin?" panggilnya.

Suaranya tidak keras, tetapi gaungnya cukup kuat untuk meruntuhkan tembok tebal yang bertahun-tahun dibangun Udin mengelilingi hatinya.

Bibir Udin mendadak kelu. Ribuan kata tertahan di tenggorokan. Semua ingatan itu kembali menghantamnya tanpa ampun. berat tubuh di punggungnya, tawa di bawah langit penuh bintang, dan percakapan sunyi di tengah malam yang membeku. Nama yang selama ini ia tepis dari kepalanya, kini duduk berjarak lima meter di depannya.

"Me.. Melisa..." gumam Udin, nyaris hanya berwujud hembusan napas.

Di dalam warkop berdebu itu, ditemani gerimis yang memukul atap terpal, takdir menunjukkan selera humornya yang paling brilian. Pertemuan yang Udin sangka hanyalah epilog usang di masa lalu, ternyata baru saja membuka babak pertamanya yang paling nyata.

Tanpa memperdulikan tatapan heran beberapa pengunjung warkop yang lain, Melisa beranjak dari duduknya. Setengah berlari kecil, ia menerobos sempitnya celah antara meja kayu dan etalase kaca gerobak. Sepatu bersihnya melangkah cepat tanpa ragu di atas ubin warkop yang lengket dan kusam, memangkas jarak lima meter itu dalam hitungan detik.

Ia berhenti tepat di sisi meja Udin. Nafasnya sedikit tertahan, sementara matanya memancarkan binar terang yang sanggup mengalahkan sorot lampu jalanan kota yang redup.

"Wahhh... beneran Mas Udin, ya?"

Suaranya meluncur ringan, memuat campuran antara takjub, antusiasme yang meledak, dan secercah kelegaan yang luar biasa. Senyumnya mengembang sempurna. Untuk sesaat, riasan tipis dan pakaian mahalnya seakan memudar, mengembalikan siluet utuh gadis keras kepala yang dulu pernah bersandar lemah di punggung Udin di tengah bekunya lereng Semeru.

Udin masih terpaku. Bibirnya setengah terbuka, mencoba memungut kosa kata yang mendadak berserakan lari dari kepalanya. Namun sebelum lelaki itu sempat merangkai satu suku kata pun untuk menjawab, Melisa menoleh sekilas ke arah luar—menyadari mobil sedan hitamnya yang menyalakan lampu hazard mulai menghalangi laju beberapa motor di pinggir jalan raya.

Perempuan itu kembali menatap Udin. Kali ini ia sedikit menundukkan badan, menatap lurus ke dalam manik mata Udin dengan sorot yang menuntut kepastian.

"Mas Udin tunggu sini, ya. Jangan ke mana-mana," ucapnya cepat. Nadanya terdengar seperti sebuah permohonan tulus, sekaligus perintah yang sama sekali tidak memberi celah untuk bantahan. "Aku mau cari parkiran dulu sebentar."

Tanpa menunggu persetujuan dari lelaki yang masih membatu itu, Melisa memutar tubuhnya. Ia berlari keluar menerobos tirai gerimis yang perlahan menderas, menjadikan kedua tangannya sebagai kanopi kecil di atas kepala. Pintu sedan hitamnya terbuka lalu tertutup dengan bunyi berdebum halus, sebelum kendaraan elegan itu perlahan merayap maju menembus kemacetan untuk mencari celah parkir yang aman.

Di sudut warkop yang sempit, Udin masih kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri.

Bunyi klak terdengar saat Pak Sudirman meletakkan segelas kopi hitam pekat di atas mejanya. Uap panas mengepul dari bibir gelas, membawa aroma tajam robusta yang biasanya ampuh menjinakkan isi kepala Udin. Namun petang ini, jangankan meminumnya, Udin bahkan tidak menoleh pada kopi tersebut.

Tatapannya kosong menembus jalanan yang diguyur hujan. Dada kirinya bergemuruh hebat, memompa darah dengan ritme asing yang sudah bertahun-tahun mati dan ia lupakan. Di tengah kepungan bau tajam bawang putih dan asap kretek yang mengudara di dalam warkop, indra penciuman Udin justru menangkap hal lain. Ada jejak samar aroma parfum floral yang elegan—jejak tak kasat mata yang ditinggalkan Melisa di udara tepat sebelum ia berlari pergi.

Sepuluh menit berlalu, dan kopi hitam di meja Udin mulai kehilangan uap panasnya. Ia baru saja mengira bahwa rentetan kejadian tadi hanyalah halusinasi akibat kelelahan kronis, ketika sosok Melisa kembali muncul dari balik tirai hujan.

Perempuan itu masuk sambil mengibaskan rintik air dari bahu kemejanya. Ia menarik kursi kayu reyot di depan Udin, tidak peduli pada bunyi deritnya yang nyaring, lalu duduk tepat berhadapan dengan lelaki itu. Napasnya masih sedikit memburu, tetapi senyum di wajahnya justru semakin lebar. Mata kecokelatannya menatap Udin dengan intensitas yang membuat lelaki itu nyaris lupa cara bernafas.

"Akhirnya..." Melisa menghembuskan napas panjang, meraup kelegaan yang seolah sudah ia simpan bertahun-tahun. "Akhirnya aku bisa ketemu Mas Udin lagi."

Udin masih membeku. Tatapannya terpaku pada wajah di seberang meja, mencoba mencerna realitas.

Namun, Melisa tidak memberinya jeda untuk berpikir. Tanpa aba-aba, perempuan itu mencondongkan tubuhnya ke depan, membiarkan antusiasmenya meledak menghancurkan kecanggungan warkop.

"Aku kira Mas Udin bukan orang Jakarta, soalnya waktu itu auranya kayak orang daerah mana gitu yang tenang banget. Eh, ternyata perkiraanku salah besar! Mas Udin di sini juga rupanya. Mas gimana kabarnya? Baik? Sehat, kan? Sekarang kerja dimana? Masih sering naik gunung nggak? Terus..."

Udin melongo. Mulutnya sedikit terbuka.

Berondongan pertanyaan itu menghantam telinganya dengan kecepatan tanpa ampun. Kapasitas otak Udin yang sejak siang sudah terkuras habis oleh deretan angka laporan dan jeritan melengking Bu Nani, kini mendadak dipaksa memproses sapaan bertubi-tubi dari kepingan masa lalunya. Dunianya yang sedari tadi abu-abu dan lambat, mendadak berputar terlalu cepat.

Ia mengangkat sebelah tangan, memberikan isyarat agar perempuan itu berhenti bicara. Jari telunjuk dan ibu jarinya memijat pelan pangkal hidungnya yang tiba-tiba berdenyut.

"Mel..." potong Udin dengan suara parau yang nyaris terdengar seperti rintihan.

Melisa seketika menghentikan kalimatnya. Ia mengerjap, menunggu dengan polos.

Udin mengangkat wajahnya yang kusut, menatap Melisa dengan sorot mata lelah yang bercampur kepasrahan total. "Nanyanya satu-satu, ya? Aku pusing."

Hening sejenak menjeda ruang di antara mereka. Hanya ada suara hujan yang memukul atap terpal.

Lalu, tawa itu pecah.

Melisa tertawa. Sangat lepas. Sangat renyah. Tawa yang mengalihkan pandangan beberapa orang di warkop, tawa yang tidak peduli pada betapa suram dan berdebunya tempat mereka berada saat ini. Ia menutupi mulutnya dengan sebelah tangan, sementara matanya menyipit membentuk lengkung sabit yang indah, memancarkan kehangatan yang mendadak menyingkirkan udara dingin di sekitar meja mereka.

Bagi Udin, suara tawa itu terasa seperti mantra penawar. Rasa penat di bahunya, bayang-bayang kantor yang menyiksanya, hingga rasa rendah diri yang selalu menempel pada kemeja lusuhnya, perlahan luruh. Di tengah tawa Melisa, Udin menemukan kembali potongan dirinya yang sempat hilang ditelan kerasnya ibu kota. Dan tanpa sadar, untuk pertama kalinya pada hari yang berat ini, sudut bibir Udin ikut tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman kecil yang tak bisa ia cegah.

Tawa Melisa perlahan mereda, menyisakan senyum simpul di sudut bibirnya. Sepasang mata kecoklatan itu kini memindai Udin lekat-lekat, menyusuri kerah kemejanya yang lecek, lengan bajunya yang digulung sekenanya, hingga ujung kemeja yang sudah keluar dari ikat pinggang.

"Mas Udin baru pulang kerja, ya?" tanyanya pelan.

Udin menunduk sekilas, tiba-tiba dihinggapi rasa salah tingkah melihat penampilannya yang berantakan. "Iya. Kenapa, Mel?"

Melisa menopang dagu dengan sebelah tangan, sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. Tatapannya sama sekali tidak bergeser. "Kelihatan ganteng kalau pakai kemeja."

Untuk kedua kalinya dalam waktu kurang dari lima belas menit, Udin kembali melongo. Matanya mengerjap kaku. Otaknya yang sudah aus dihantam realitas pekerjaan hari ini mendadak konslet, gagal memproses pujian yang dilemparkan dengan nada kelewat santai itu. Di hari ketika atasannya memperlakukannya bak keset kaki, perempuan berpenampilan elegan di depannya ini justru menatapnya seolah ia adalah hal paling menarik di seluruh warkop.

Melihat ekspresi Udin yang mematung konyol, Melisa kembali terkekeh. Kecanggungan yang sempat menggantung di antara mereka menguap tanpa sisa.

Di bawah atap terpal yang bergemuruh ditimpa hujan, ruang dan waktu seolah mengerucut hanya pada meja kayu mereka. Gelas kopi Udin yang sudah dingin tak lagi disentuh, begitu pula es teh manis Melisa yang es batunya telah mencair sempurna. Mereka saling mengisi kekosongan, menyambung benang yang sempat terputus di kaki Semeru.

Melisa bercerita dengan letupan antusiasme. Ia mengisahkan bagaimana setelah kakinya pulih, hari-harinya dihabiskan untuk melacak jejak digital Udin. Ia mengetik segala kombinasi kata kunci di I*******m, menyisir grup-grup pendaki gunung di F******k, hingga memantau utas di forum backpacker. Semuanya buntu. Udin di dunia maya sama tak kasat matanya dengan kabut gunung. Lelaki itu seperti hantu—datang menyelamatkan, lalu lenyap ditelan bumi.

Udin mendengarkan dalam diam. Jari-jarinya memutar pelan bibir gelas kopi.

"Kenapa nyari aku sampai segitunya, Mel?" tanya Udin memecah jeda. Nada suaranya rendah, memuat keheranan yang jujur. Baginya, menolong sesama pendaki adalah insting dasar, bukan piutang yang harus ditagih.

Ekspresi Melisa seketika berubah. Tawa di wajahnya memudar, digantikan oleh kesungguhan yang membuat Udin tanpa sadar menahan napas.

"Aku hutang nyawa sama Mas Udin," ucap Melisa pelan, namun setiap silabelnya terdengar tegas menekan udara. "Waktu aku sampai rumah sepulang dari Semeru, aku ceritain semuanya ke Mama. Tentang teman-temanku yang egois, kakiku yang hancur, dan tentang laki-laki asing yang rela memapahku turun saat kabut tebal."

Melisa menarik napas pendek, menatap lurus menembus benteng pertahanan Udin.

"Mama nangis pas denger itu. Dan beliau ngasih aku satu tugas yang nggak boleh aku tawar: cari Mas Udin sampai ketemu. Mama bilang, keluarga kami pantang melupakan orang yang sudah menyelamatkan nyawa darah dagingnya."

Deru hujan di jalanan aspal perlahan menyusut menjadi rintik gerimis, tetapi gemuruh justru baru saja mengambil alih dada Udin.

Selama bertahun-tahun menjalani rutinitas kota, Udin terbiasa memposisikan dirinya sebagai figuran. Seseorang yang hanya lewat, mudah digantikan, dan tak pernah benar-benar dipertahankan. Ia sudah berdamai dengan kenyataan bahwa tidak ada yang akan mencarinya jika ia menghilang. Namun petang ini, di sudut warkop yang diterangi bohlam kuning murahan, perempuan dari dunia yang jauh berbeda dengannya baru saja membongkar kesunyiannya.

Udin tidak dilupakan. Ia dicari dengan keras kepala. Dan kini, ia telah ditemukan.

Tatapan Udin melembut. Beban dan keriuhan ibu kota yang sejak pagi mengendap di pundaknya perlahan memudar, tersapu oleh kesungguhan di sepasang mata kecoklatan itu. Pandangan Udin kemudian turun, melewati meja kayu yang memisahkan mereka, menembus bayang-bayang di bawahnya.

Ingatannya kembali pada wujud kaki yang bengkak, memar, dan gemetar menahan perih di tengah kepungan kabut Semeru.

"Kakimu... sudah sembuh, Mel?" tanya Udin. Suaranya terdengar lebih pelan, memuat secercah kekhawatiran yang masih tersisa dari masa lalu.

Tanpa canggung sedikit pun, Melisa memundurkan kursinya. Ia sedikit menyingkap ujung celana kulotnya hingga sebatas betis, lalu memiringkan kakinya agar bagian mata kakinya terlihat jelas oleh Udin. Di bawah pendar cahaya bohlam warkop yang kekuningan, tampak sebuah garis luka yang sudah mengering dan memudar, menyatu dengan kulit putihnya.

"Udah," jawab Melisa riang, seraya menurunkan kembali ujung celananya. Ia menatap Udin dengan senyum jahil yang mengembang. "Tapi masih ada kenangannya. Biar aku nggak lupa kalau pernah ceroboh menantang alam, dan... pernah ditolong sama pendaki nyasar yang sok melankolis."

Mendengar itu, Udin tidak bisa lagi menahan diri. Senyumnya mengembang sempurna, tulus dan tanpa beban.

Ia bersandar pada sandaran kursi kayunya, melipat kedua tangan di dada, lalu memperhatikan Melisa lamat-lamat. Gadis di depannya ini benar-benar sebuah anomali. Udin takjub melihat bagaimana energi kehidupan seolah meluap-luap dari setiap inci tubuh Melisa. Ia lincah, ekspresif, dan setiap kata yang keluar dari mulutnya meluncur cepat bak rentetan peluru—tanpa ragu, tanpa filter, tetapi anehnya sama sekali tidak mengganggu telinga.

Ada keberanian yang berapi-api dibalik penampilannya yang elegan.

Di kepala Udin, sebuah pemikiran kecil melintas. Jika biasanya ia selalu memilih diam dan menyingkir setiap kali berhadapan dengan orang yang banyak bicara—termasuk saat menghadapi omelan Bu Nani tadi siang—kali ini instingnya berkata lain. Melisa adalah tipe manusia yang tidak akan mau kalah jika beradu argumen. Kepalanya pasti penuh dengan amunisi kata-kata tajam yang dibungkus dengan tawa renyah.

Orang ini pasti sangat merepotkan, tapi sepertinya akan sangat menyenangkan jika diajak berdebat, batin Udin.

Untuk seorang lelaki yang sudah terlalu lama membiarkan hidupnya berjalan datar tanpa perlawanan, kehadiran sosok berisik dan keras kepala seperti Melisa tiba-tiba terasa seperti angin segar yang menabrak ruangan pengap. Udin mungkin tidak tahu ke mana arah obrolan malam ini akan membawanya, tetapi satu hal yang pasti: ia sama sekali tidak keberatan untuk duduk di warkop ini lebih lama.

Tanpa mereka sadari, waktu telah merampas berjam-jam malam itu. Ketika Udin melirik layar ponselnya yang retak di bagian ujung, deret angka digital telah menunjukkan pukul 21.15. Obrolan yang berawal dari keterkejutan canggung itu telah menjelma menjadi sungai cerita yang mengalir deras, menghapus batasan antara dua orang asing yang sebelumnya hanya diikat oleh satu peristiwa di masa lalu.

Hujan di luar sana telah reda sepenuhnya, menyisakan aspal basah yang memantulkan pendar jingga lampu jalanan ibu kota dan aroma tanah basah yang menguar di udara.

Mereka beranjak keluar dari warkop Pak Sudirman. Di dalam saku kemeja Udin yang kusut, kini tersimpan sebuah kontak baru yang baru saja ia simpan dengan nama sederhana: Melisa. Sederet angka yang kini menjadi jembatan tak kasat mata, menghubungkan dunia Udin yang sunyi dan monoton dengan dunia Melisa yang terang dan penuh warna.

Di area parkir yang sedikit becek, realitas kembali memamerkan jurang pemisahnya. Dua kendaraan yang terparkir berdekatan itu ibarat kanvas yang melukiskan perbedaan hidup mereka. Melisa berdiri di samping sedan hitam Eropa-nya yang mengkilap elegan, menantang malam. Sementara itu, Udin melangkah mendekati motor bebek tuanya yang berkarat, kusam, dan menunduk lesu di bawah bayang-bayang pohon. Namun anehnya, malam ini jurang status sosial itu sama sekali tidak terasa mengintimidasi.

Melisa membuka pintu mobilnya, namun urung masuk. Ia menumpukan kedua tangannya di atas atap mobil, menatap Udin dari seberang genangan air dengan senyum yang belum pudar sejak tadi.

"Hati-hati bawa motornya, Mas Udin. Jangan ngelamun," goda Melisa, suaranya mengalahkan bising kendaraan dari jalan raya. "Awas nyasar lagi."

Udin yang sedang mengaitkan tali helm baretnya hanya mendengus geli. Ia membalas tatapan itu dengan ketenangan yang kini terasa lebih hangat. "Kamu juga. Jangan ngebut. Jalanan licin."

"Siap, Bos!" Melisa memberi gestur hormat yang jenaka, sebelum akhirnya masuk ke balik kemudi.

Mesin sedan mewah itu menyala dengan halus, berbanding terbalik dengan erangan kasar motor Udin saat ia harus mengengkolnya dua kali agar hidup. Kaca jendela mobil hitam itu turun perlahan saat bergerak melewati motor Udin. Melisa melambaikan tangannya, membunyikan klakson pendek yang terdengar riang, lalu meluncur perlahan membelah genangan air, perlahan menyatu dengan lautan cahaya lampu merah lalu lintas Jakarta yang menjauh.

Udin terdiam sejenak di atas jok motornya yang keras. Matanya mengikuti sepasang lampu belakang mobil Melisa hingga menghilang di tikungan. Perlahan, ia menarik tuas gas. Motor tuanya menderu membelah malam. Jalanan yang ia lewati masih sama, udara malam ibu kota masih sama dinginnya, dan motor yang ia kendarai masih sama kasarnya. Namun, saat angin malam menampar wajahnya, ada satu hal yang terasa berubah. Sepi yang biasanya mencekik dada Udin sepanjang perjalanan pulang, kini menguap tak bersisa.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Bem-vindo ao Goodnovel mundo de ficção. Se você gosta desta novela, ou você é um idealista que espera explorar um mundo perfeito, e também quer se tornar um autor de novela original online para aumentar a renda, você pode se juntar à nossa família para ler ou criar vários tipos de livros, como romance, leitura épica, novela de lobisomem, novela de fantasia, história e assim por diante. Se você é um leitor, novelas de alta qualidade podem ser selecionados aqui. Se você é um autor, pode obter mais inspiração de outras pessoas para criar obras mais brilhantes, além disso, suas obras em nossa plataforma chamarão mais atenção e conquistarão mais admiração dos leitores.


reviewsMore

L.F G.F
L.F G.F
adorei mais este livro. sem pessoas para tentar separar todo o tempo. Mas uma história com acontecimentos se encaixando.
2025-01-17 05:42:49
1
0
Marinez Assis
Marinez Assis
Final maravilhoso! Adorei a história! Parabéns, autora!
2023-08-22 08:02:29
1
0
Marinez Assis
Marinez Assis
Adorei o encontro inesperado dos pais da Emmy com o Silas. Ansiosa pela continuação.
2023-07-17 06:55:24
1
0
Marinez Assis
Marinez Assis
A cada capítulo fico mais fissurada na história e ansiosa para saber o que vai acontecer no próximo capítulo.
2023-07-04 22:21:01
1
0
Marinez Assis
Marinez Assis
Eu estou adorando a história. Esse conto de fadas moderno está me deixando sensível e romântica. Posso dizer que voltei à adolescência, quando lia os livros de banca e sonhava acordada. Estou ansiosa pelos próximos capítulos. Parabéns, autora, pela linda história!
2023-07-01 05:31:45
2
1
59 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status