LOGIN*Beberapa jam yang laluRuby berjalan menuju apartemennya, namun ia sangat gelisah karena Megan tidak kunjung mengabarinya. Akhirnya ia menelepon Megan, sempat berdering namun tiba-tiba memanggil.“Aku takut terjadi sesuatu padanya. Aku harus memastikan dia sudah pulang atau belum.” Akhirnya Ruby memutar tubuhnya dan pergi ke kediaman Nelson.Sesuai dengan kecemasannya, Megan belum pulang. Dan akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke rumah para atlit kampus.“Di mana Ben?” tanya Ruby pada Ravin, pacarnya.Mereka berada di ambang pintu. Ravin terlihat kebingungan. “Dia di dalam, kenapa? Kamu ada urusan dengannya?”“Iya, aku ingin bicara dengannya.”“BEN! RUBY MENCARIMU!” Ravin berteriak, kemudian membuka pintu lebih lebar.Benedict baru turun dari tangga, kemudian menatap Ruby sebentar. “Aku tidak mau diganggu.” Kemudian berjalan pergi begitu saja.Ruby mendengus kemudian berjalan mengikuti ke mana Benedict pergi. “Aku ingin bicara sesuatu, ini tentang Megan.”Benedict melirik Ruby sekila
Pandangan mulai buram, Megan tidak tahu apa yang terjadi dengannya karena perlahan kesadarannya mulai turun. Ia menggeleng pelan, lalu ketika melihat ke depan.Ia menyadari bahwa Joseph menjebaknya. Ada sesutu di dalam anggur yang ia minum.“Kamu sakit,” ucap Joseph kemudiang bangkit dan membantu Megan berdiri.Tubuh Megan tidak berdaya, sekuat tenaga berusaha menepis tangan Joseph dari tubuhnya tetapi tidak bisa.“Tolong!”“Sayang, kita pulang sekarang, kamu sedang tidak sehat.”Tepisannya hanya seperti tepukan ringan yang tidak berarti. Lalu tubuhnya dibimbing untuk berjalan.Hingga masuk ke dalam lorong yang memiliki banyak pintu.Megan menggeleng, ia berusaha mendorong Joseph, kedua tangannya menghempaskan tangan pria itu yang meraih pinggangnya.Namun pada akhirnya tubuhnya di dorong hingga masuk dan terjatuh di sebuah kamar hotel.“Tolong!” Megan berusaha mengeluarkan suaranya sekeras mungkin. Tetapi, tidak ada orang yang mendengar, sekalipun mendengar mereka tidak peduli.Sikap
“Bisa panggilkan Benedict?” tanya Megan ketika berada di depan rumah para atlit kampus. “Ben?” Christ menoleh ke belakang. “Aku panggilkan.” Megan mengeratkan jaketnya, udara semakin dingin namun setelah bekerja ia memutuskan langsung ke sini. Keadaan di kantor sama saja, namun untungnya ia tidak melihat Joseph. katanya pria sedang perjalanan dinas di luar kota selama beberapa hari. Megan sangat bersyukur tidak bertemu pria itu. “Dia sibuk main game, tidak mau diganggu katanya,” balas Chirst kembali ke pintu. Christ mengacak rambutnya pelan. Terlihat bingung sembari menatap Megan. “Katakan padaku, aku akan memberitahunya,” ucap Christ. “Dia sangat sensitif akhir-akhir ini, mungkin karena menjelang pertandingan final.” “Sungguh?” tanya Megan. “Ya, tapi panggil saja jika ingin bicara dengannya,” suruh Christ membuka pintu lebih lebar. Megan memejamkan mata, kemudian berjinjit dan melihat ke dalam. “BENEDICT!” teriaknya. “Bagus!” Christ mundur. “Teriak lagi, dia pasti
Ting! Ting! Ting!Bunyi bel yang ditekan tidak sabaran membuat Ruby benar-benar kesal, akhirnya membuka pintunya dan mungkin akan mengumpati orang dibalik bunyi bel yang brutal.“Megan?!” Ruby terbelalak ketika melihat Megan berada di hadapannya.Megan menangis dengan tubuh yang dipenuhi oleh salju. Lalu Ruby semakin terbelalak ketika melihat Megan tidak menggunakan alas kaki di tengah hujan badai salju yang saat ini masih berlangsung.“Apa yang terjadi?!” Ruby segera menarik Megan masuk ke dalam apartemennya.“Hei!” Ruby menangkup pipi Megan yang terasa sangat dingin. “Kakimu terluka? Apa yang sebenarnya kamu lakukan?”Ruby berjongkok kemudian menyentuh kaki Megan yang dingin dan beku seperti es balok.“Megan,” panggil Ruby kemudian mendongak.Megan menggeleng, tangisannya semakin deras dan hanya mampu memeluk tubuh Ruby. Malam-malam begini, Megan datang dengan keadaan berantakan di tengah badai dan tidak berhenti menangis.Ada banyak pertanyaan“Aku mencintai Benedict, sungguh. Ak
Berkali-kali Megan berusaha fokus dengan apa yang ia kerjakan sekarang. Namun, lagi-lagi pikirannya mengingat apa yang ia lakukan tadi malam.Akhirnya ia tidak ikut makan siang di kantin dan lebih memilih menghabiskan waktu di rooftop sendirian.Ia membuka ponselnya. Semua pesan yang ia kirim tidak dilihat sama sekali oleh Benedict.[Benedict aku mohon ayo bicara][Aku minta maaf, aku tahu aku salah. Aku mohon maafkan aku][Benedict jangan tinggalkan aku][Maaf tadi malam aku menyusahkan kamu][Tolong pikirkan lagi keputusan kamu ingin putus]Megan mengusap wajahnya pelan dan menatap depan dengan kosong.“Megan!” panggil seseorang dari belakang.Stella dan Vivian berjalan mendekat sembari membawa kopi. “Jika bersedih bilang pada kami,” ucap Stella.“Kami tahu kamu sedih karena sebentar lagi magangmu selesai,” imbuh Vivian kemudian memberikan kopi pada Megan.Megan hanya tertawa. “Aku pasti merindukan kalian,” balasnya.“Kenapa di sini?” tanya Stella. “Aku lihat kamu beberapa hari ini
“Akh!” Benedict mengeluh kerena tiba-tiba mendapatkan usapan di wajahnya saat ia sibuk menatap satu orang perempuan di bawah sana.“Aku bantu membersihkan!” balas Ravin masih mengusap wajah Benedict.Namun beberapa orang melihat mereka dengan aneh, jadi Benedict buru-buru menyingkirkan tangan Ravin dari wajahnya. “Sudah!”Ravin menggeleng pelan kemudian mendekati pagar pembatas lantai dua. Kemudian melambaikan tangan pada Ruby.Tetapi Ruby hanya melambaikan tangan dan mengusir Ravin. Setelah itu Ruby dan Megan berjalan ke arah bartander.“Kamu tidak marah?” tanya Ravin kemudian menoleh ke belakang. namun ia mengernyit melihat Benedict kembali duduk.“Biar saja, dia sudah dewasa,” balas Benedict.Di sisi lain, Megan mengikuti Ruby yang mengajaknya ke bar. Kemudian duduk berdua dan memesan minuman.Ruby memilih minuman yang mungkin akan cocok di lidah Megan. Hingga minuman yang ketiga, Megan sangat menyukainya dan menghabiskan 5 gelas.“Piña Colada,” ucap Megan tertawa sembari mengangka







