LOGINMegan Lindsey perempuan berusia 21 tahun yang terpaksa tinggal bersama ibunya dan keluarga baru ibunya. Kehidupannya mendadak berantakan semenjak bertemu dengan kakak tirinya, Benedict Ricky Nelson yang merupakan pemain basket di kampus. Bukankah mereka seharusnya bersikap layaknya kakak adik, lantas kenapa kedekatan mereka terasa aneh dan begitu intens…
View More“Lihat penampilannya. Memangnya ini tahun 90-an?”
“Norak banget. Siapa sih?”
Megan menatap penampilannya di cermin, lalu menunduk melihat pakaian yang ia kenakan.
Sementara itu, segerombolan perempuan yang sedang memandangnya dengan tatapan penuh penghakiman itu masih terus berbisik-bisik di depan bilik toilet.
Gadis itu menghela napas pelan. Bukan salahnya kalau di hari pertama ia hadir di kampus ini, ia harus mengenakan satu stel pakaian lama ibunya lantaran paketnya yang berisi pakaian tertahan di gudang ekspedisi.
Sayang sekali kepindahannya ke sini diawali dengan ketidakberuntungan sejak kemarin. Mulai dari pesawatnya yang delay karena cuaca, sampai jadwal tur kampus yang tiba-tiba maju.
Lalu di hari pertama dia di sini, dia langsung mendapatkan cemoohan dari gerombolan gadis yang tidak ia kenal?
Lebih baik dia pakai baju corak bunga-bunga mentereng ini dibanding dia tidak pakai baju sama sekali!
Megan Lindsey kemudian memutuskan untuk merapikan pakaiannya sembari berjalan keluar toilet. Tidak ingin menciptakan musuh di hari pertamanya di kota ini.
Toh, hari ini tidak mungkin hari ini bisa lebih buruk lagi, kan?
Baru saja dia berpikir demikian, tiba-tiba tubuhnya terdorong ke samping dari arah belakang, membuat tubuhnya membentur pembatas balkon lantai dua.
Brak!
“Ah!” Tanpa bisa dicegah kakinya menyenggol ember berisi air kotor yang entah kenapa ditinggalkan di sana, sehingga–
Byurr!
Sepasang mata Megan membelalak horor saat mendapati air di dalam ember terlontar ke luar dan melewati sela-sela pagar pembatas balkon dan membasahi tubuh seorang pria berambut keemasan pucat berada tepat di bawah balkon.
“Astaga! Maaf!” Megan menggigit bibir bawahnya, gugup. Sementara di bawah, pria itu mendongak dan menatapnya.
Tatapannya begitu tajam dan menusuk.
“A-aku turun!” ucap Megan. Lalu ia buru-buru turun dari lantai dua. “Maaf, aku tidak sengaja.”
Megan memberanikan diri mendongak dan menatap pria yang berada di hadapannya.
Kemeja putih yang digunakan pria itu basah dan membuatnya bisa melihat jelas tubuh pria itu.
Kekar dan dipenuhi oleh otot-otot yang indah.
“Mau melihat tubuhku lebih lama?”
Suara pria itu menyadarkan Megan.
“Ti-tidak!” Megan buru-buru membantah. “Maaf. Aku tidak sengaja, sungguh! Tadi itu–”
Megan menghela napas pelan. “Intinya aku minta maaf dan aku akan bertanggung jawab, aku akan cucikan pakaianmu. Aku juga–”
“Ck. Klasik.” Pria itu menukas, lalu meninggalkannya tanpa mengatakan apa pun.
Megan berkedip mendapatkan respons itu. Apa maksudnya?
“Tunggu!” Megan menghalangi pria itu.
Ia sangat cemas karena sepertinya pria ini kakak tingkatnya. Meski tampan tetapi wajah pria itu sedikit menyeramkan.
Ia tidak mau mencari masalah.
“Aku akan ganti kemejamu,” ucap Megan yang masih bersikukuh untuk bertanggung jawab. “Bagaimana?”\
Pria itu tiba-tiba menatapnya dari atas hingga bawah. lalu menghembuskan napas dengan remeh dan bibirnya membentuk smirk ejekan.
“Pakai uang mungilmu untuk beli baju baru.”
“Apa?” tanya Megan tidak percaya dengan apa yang keluar dari mulut pria itu.
Pria itu menatap Megan lagi. Kemudian berjalan mendekati Megan dengan tubuhnya yang begitu tinggi dan besar. Spontan Megan berjalan mundur dengan perasaan yang was-was.
“Gadis sepertimu banyak di sini. Mau melihat tubuhku lebih jelas, huh?” ucap pria itu, lalu mendengus. “Bermimpilah.”
Pria itu kemudian melenggang masuk ke dalam toilet.
Megan terdiam di depan pintu toilet dengan tatapan tidak percaya.
Apa-apaan sikap soknya itu!?
“Akh!” keluh Megan dan segera berbalik kemudian menjauh. “Aku tidak mau kuliah di sini!”
Kenapa ibunya harus memaksanya pindah ke sini!?
Beberapa tahun yang lalu, orang tua Megan bercerai. Megan tidak mempermasalahkannya, karena toh keduanya lebih sering bertengkar daripada mengasuhnya dengan perhatian.
Waktu itu, ia memilih tinggal bersama sang ayah, karena teman-temannya ada di daerah sana. Sementara itu, ibunya memilih untuk pindah.
Ia tidak pernah mendapatkan kabar dari ibunya secara jelas. Tapi tiga tahun yang lalu, ibunya pernah memberitahunya melalui pesan, ibunya menikah lagi dengan pria baik dan kaya.
Akhirnya Megan terpaksa pindah dari kota kecil kelahirannya ke pusat kota untuk tinggal bersama keluarga ibunya. Megan berharap semuanya lancar sampai ia lulus kuliah dan bisa bekerja.
Kring!
Satu pesan muncul.
[Sudah selesai turnya, Meg? Setelah dari kampus langsung pulang ya. Mama sudah kirim sopir.]
Setelah membaca pesan dari ibunya, Megan langsung pergi.
Sesampainya di rumah ibunya, ibunya datang menyambutnya dengan senyum sumringah. Tetapi Megan hanya membalas dengan senyum ramah biasa.
“Semua lancar, Sayang?” Elena mendekat dan memeluk putrinya. “Tadi Mama sudah urus paketmu yang tersangkut. Hari ini juga dikirim.”
Megan membalas pelukan ibunya pelan. Rasanya canggung meski sebenarnya senang setelah sekian lama bertemu kembali.
“Istirahat dulu, ya? Kamar kamu di atas.”
“Suami Mama di mana?” tanya Megan. “Siapa namanya? Uncle Reuben?”
“Iya.” Elena mengangguk pelan. “Uncle Reuben dan kakak kamu belum pulang. Kamu bisa bersih-bersih dan istirahat di kamar. Nanti kita makan bersama.”
Ada segaris kekecewaan yang Megan rasakan dari raut wajah ibunya saat ia menyebut suami baru wanita itu sebagai ‘uncle’.
Lantas ia harus menyebut orang yang pertama kali ia temui sebagai Dad? Tidak mungkin.
Setelah masuk ke dalam, Megan hanya sebentar mengagumi kamar barunya yang begitu luas dan nyaman. Setelah itu ia merebahkan dirinya dan tertidur.
Tidak tahu berapa lama tertidur, namun suasana kamarnya menjadi gelap. Akhirnya bangkit dan menyalakan lampu setelah itu pergi ke kamar mandi.
Melepaskan satu per satu pakaiannya sampai akhirnya pintu terbuka.
Ceklek!
Megan menoleh lalu mendapati seorang pria berambut keemasan berada di hadapannya.
“AAAA!” teriak Megan begitu kencang.
“Bisa panggilkan Benedict?” tanya Megan ketika berada di depan rumah para atlit kampus.“Ben?” Christ menoleh ke belakang. “Aku panggilkan.”Megan mengeratkan jaketnya, udara semakin dingin namun setelah bekerja ia memutuskan langsung ke sini.Keadaan di kantor sama saja, namun untungnya ia tidak melihat Joseph. katanya pria sedang perjalanan dinas di luar kota selama beberapa hari. Megan sangat bersyukur tidak bertemu pria itu.“Dia sibuk main game, tidak mau diganggu katanya,” balas Chirst kembali ke pintu.Christ mengacak rambutnya pelan. Terlihat bingung sembari menatap Megan.“Katakan padaku, aku akan memberitahunya,” ucap Christ. “Dia sangat sensitif akhir-akhir ini, mungkin karena menjelang pertandingan final.”“Sungguh?” tanya Megan.“Ya, tapi panggil saja jika ingin bicara dengannya,” suruh Christ membuka pintu lebih lebar.Megan memejamkan mata, kemudian berjinjit dan melihat ke dalam. “BENEDICT!” teriaknya.“Bagus!” Christ mundur. “Teriak lagi, dia pasti akan keluar.” Chris
Ting! Ting! Ting!Bunyi bel yang ditekan tidak sabaran membuat Ruby benar-benar kesal, akhirnya membuka pintunya dan mungkin akan mengumpati orang dibalik bunyi bel yang brutal.“Megan?!” Ruby terbelalak ketika melihat Megan berada di hadapannya.Megan menangis dengan tubuh yang dipenuhi oleh salju. Lalu Ruby semakin terbelalak ketika melihat Megan tidak menggunakan alas kaki di tengah hujan badai salju yang saat ini masih berlangsung.“Apa yang terjadi?!” Ruby segera menarik Megan masuk ke dalam apartemennya.“Hei!” Ruby menangkup pipi Megan yang terasa sangat dingin. “Kakimu terluka? Apa yang sebenarnya kamu lakukan?”Ruby berjongkok kemudian menyentuh kaki Megan yang dingin dan beku seperti es balok.“Megan,” panggil Ruby kemudian mendongak.Megan menggeleng, tangisannya semakin deras dan hanya mampu memeluk tubuh Ruby. Malam-malam begini, Megan datang dengan keadaan berantakan di tengah badai dan tidak berhenti menangis.Ada banyak pertanyaan“Aku mencintai Benedict, sungguh. Ak
Berkali-kali Megan berusaha fokus dengan apa yang ia kerjakan sekarang. Namun, lagi-lagi pikirannya mengingat apa yang ia lakukan tadi malam.Akhirnya ia tidak ikut makan siang di kantin dan lebih memilih menghabiskan waktu di rooftop sendirian.Ia membuka ponselnya. Semua pesan yang ia kirim tidak dilihat sama sekali oleh Benedict.[Benedict aku mohon ayo bicara][Aku minta maaf, aku tahu aku salah. Aku mohon maafkan aku][Benedict jangan tinggalkan aku][Maaf tadi malam aku menyusahkan kamu][Tolong pikirkan lagi keputusan kamu ingin putus]Megan mengusap wajahnya pelan dan menatap depan dengan kosong.“Megan!” panggil seseorang dari belakang.Stella dan Vivian berjalan mendekat sembari membawa kopi. “Jika bersedih bilang pada kami,” ucap Stella.“Kami tahu kamu sedih karena sebentar lagi magangmu selesai,” imbuh Vivian kemudian memberikan kopi pada Megan.Megan hanya tertawa. “Aku pasti merindukan kalian,” balasnya.“Kenapa di sini?” tanya Stella. “Aku lihat kamu beberapa hari ini
“Akh!” Benedict mengeluh kerena tiba-tiba mendapatkan usapan di wajahnya saat ia sibuk menatap satu orang perempuan di bawah sana.“Aku bantu membersihkan!” balas Ravin masih mengusap wajah Benedict.Namun beberapa orang melihat mereka dengan aneh, jadi Benedict buru-buru menyingkirkan tangan Ravin dari wajahnya. “Sudah!”Ravin menggeleng pelan kemudian mendekati pagar pembatas lantai dua. Kemudian melambaikan tangan pada Ruby.Tetapi Ruby hanya melambaikan tangan dan mengusir Ravin. Setelah itu Ruby dan Megan berjalan ke arah bartander.“Kamu tidak marah?” tanya Ravin kemudian menoleh ke belakang. namun ia mengernyit melihat Benedict kembali duduk.“Biar saja, dia sudah dewasa,” balas Benedict.Di sisi lain, Megan mengikuti Ruby yang mengajaknya ke bar. Kemudian duduk berdua dan memesan minuman.Ruby memilih minuman yang mungkin akan cocok di lidah Megan. Hingga minuman yang ketiga, Megan sangat menyukainya dan menghabiskan 5 gelas.“Piña Colada,” ucap Megan tertawa sembari mengangka












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews