LOGIN(book 1) Taika was a little different from other transmigration, she didn't wanted vengeance neither or wealth, she wasn't betrayed by her close ones neither did she get killed by anyone. In fact Taika had a normal peaceful life, a lovely parents and doting siblings and great friends who supported her when she was facing hardship or trouble. Like a bad dream her prefect life shattered one very night, her life took a double turn when she woke up only to find out she is dead and was bond to a transmigration cycle without her consent. She became a life puppet to the system cycle, due to her pure character she had to take twisted classes in order to be a villainess. And it was killing her...no matter how hard she struggled... she could never escape this suffering or tortured it was a cycle which she had to pass through and eventually became them.
View More“Lantai ini harus cukup bersih sampai kau bisa melihat bayangan wajah menjijikkanmu di sana, Revana.”
Revana Jovanka, gadis cantik berusia 24 tahun itu kini tengah bersimpuh dengan lutut gemetar.
Baru seminggu yang lalu dia berdiri tegak dengan toga wisudanya sambil memegang ijazah sarjana dengan mimpi setinggi langit.
Kini, mimpi itu runtuh. Sebagai ganti nyawa Carlo Leonardo yang tewas dalam kecelakaan sabotase yang didalangi ayahnya, Revana harus menanggalkan harga dirinya.
Seragam pelayan yang dikenakannya terasa terlalu tipis, kasar, dan menghina, potongan kain abu-abu kusam yang menandakan kasta terendahnya di rumah ini.
Damian Leonardo berdiri di hadapannya, menjulang seperti malaikat maut dengan setelan jas seharga ribuan dolar. Sepatu pantofelnya yang mengkilap menginjak ujung jemari Revana yang sedang memegang kain pel.
“Kau dengar aku, Revana?” Damian menekan sepatunya hingga membuat Revana meringis tertahan.
“D-dengar, Tuan Damian,” bisik Revana parau. Matanya yang sembap menatap lantai karena tak berani mendongak.
“Bicara lebih keras! Di mana harga diri putri tangan kanan ayahku yang hebat itu?” Damian menjambak rambut Revana dan memaksa gadis itu mendongak hingga lehernya terasa ingin patah.
“Ayahmu membunuh ayahku. Dia mengkhianati kepercayaan keluarga ini demi tumpukan uang Moretti. Dan sekarang, kau adalah cicilan pertama dari utang itu.”
“Ayahku tidak mungkin melakukan itu,” rintih Revana. Air mata jatuh melewati pipinya yang memar. “Dia sangat setia pada Tuan Carlo. Dan Anda pun tahu itu, Tuan Damian.”
Pria berusia 34 tahun itu menyunggingkan senyum sinis lalu menekan bahu Revana dengan keras hingga membuat Revana meringis kesakitan.
“Aturan pertama di rumah ini,” Damian membungkuk dan membisikkan kata-katanya tepat di telinga Revana yang berdenging.
“Kau tidak punya hak untuk membela pengkhianat. Kau tidak punya hak untuk bicara kecuali aku memerintahkannya. Jika kau membuka mulutmu lagi tanpa izin, aku akan memastikan adik SMA-mu, Arkan, tidak akan pernah sampai ke sekolahnya besok pagi.”
Revana tersedak isak tangisnya sendiri. Nama adiknya adalah rantai yang mengunci seluruh keberaniannya. Dia tahu Damian tidak main-main. Keluarga Leonardo menguasai polisi, pelabuhan, dan nyawa di kota ini.
“Maafkan aku, Tuan,” bisik Revana dan tubuhnya gemetar hebat. “Aku akan bekerja sebaik mungkin di rumah ini.”
Damian berdiri tegak lalu merapikan jasnya dengan gestur yang sangat tenang, seolah dia tidak baru saja menyiksa seorang wanita.
“Bagus. Habiskan sisa malam ini dengan membersihkan seluruh koridor sayap barat. Jangan berani-berani tidur sebelum semuanya selesai!”
Langkah kaki berat Damian mulai menjauh, namun suara langkah kaki lain terdengar mendekat. Terlalu santai, tidak seperti langkah Damian yang begitu tegas dan menakutkan.
“Wah, wah. Jadi ini 'pembayar utang' yang kau bicarakan, Damian?”
Sebuah suara yang lebih ringan dan bernada ceria terdengar. Revana tetap menunduk, namun dia bisa melihat sepasang sepatu sneakers mahal berhenti di depannya.
Itu Raphael, si bungsu berdiri dengan tangan terlipat di dada, tengah menatapnya dengan ekspresi yang lebih ceria dibanding Damian.
“Namanya Revana, kan? Cantik juga,” Raphael berjongkok di depan Revana bahkan dia mengabaikan tatapan tajam Damian.
Dia lalu mengulurkan tangannya dan mencoba menyentuh dagu Revana yang kotor. “Hei, manis. Jangan menangis begitu, nanti matamu yang indah jadi bengkak.”
“Jauhkan tanganmu darinya, Raphael,” geram Damian dari kejauhan.
Raphael sontak tertawa kecil, suara tawanya terasa seperti musik yang salah di tempat yang salah.
“Ayolah, Damian. Dia pelayan baru kita, kan? Aku hanya ingin menyapa mainan baru di mansion ini. Siapa tahu dia lebih asyik diajak bicara daripada patung-patung di lorong ini.”
“Dia bukan mainan, Raphael,” ucap Damian dengan nada rendah dan tenang. “Dia adalah peringatan. Peringatan tentang apa yang terjadi pada orang-orang yang mencoba menusuk punggung Leonardo.”
Damian kembali mendekat satu langkah hingga bayangannya menutupi tubuh mungil Revana. “Bersihkan noda-noda sisa kopi itu dari lantai sampai bersih, Revana.”
Revana hanya bisa mengangguk pelan, jemarinya yang gemetar kembali memeras kain pel di ember yang airnya sudah mulai kotor akibat noda kopi yang tumpah di ruang tengah itu.
Damian kemudian berjalan ke arah adik bungsunya, matanya menyipit tidak suka melihat perhatian yang adik bungsunya itu berikan pada Revana. Dia kemudian mencengkeram bahu Raphael dan menariknya menjauh.
“Jangan pernah menganggapnya lebih dari sampah, Raphael,” tegas Damian dengan nada memerintah.
“Dia ada di sini bukan untuk menghiburmu. Dia adalah anak dari pria yang membuat ayah kita terkubur di bawah tanah. Dia pelayan rendahan yang menanggung dosa ayahnya. Perlakukan dia sebagaimana mestinya seorang budak.”
Raphael mengangkat bahunya dan memberikan kedipan mata sekilas pada Revana saat Damian berbalik.
Raphael kemudian melangkah mendekati Revana dan menatapnya dengan tatapan lekatnya. Tangannya terulur pada pucuk kepala Revana dan mengusapnya seperti peliharaan baru di rumah itu.
“Tentu, Bos. Tapi budak pun perlu diberi makan, kan? Kalau dia mati kelaparan, siapa yang akan membersihkan sepatuku?”
“Dia akan makan jika pekerjaannya selesai. Dan sejauh ini, aku belum melihat lantai ini mengkilap,” potong Damian dingin.
Damian kemudian menatap Revana untuk terakhir kalinya malam itu. “Ingat, Revana. Setiap tetes keringatmu adalah penebusan. Jangan coba-coba melarikan diri, atau kau akan menerima potongan tubuh adikmu di depan pintu kamar pelayanmu!”
Takia was wrapped in a blanket and quietly sitting on a corner far from her new parents, Zach.. I mean Drake and Hailey. Gust! She was going to die for embarrassment alright! She doesn't have those thick skin and honey licking tongue to lick her way through the situation and not especially when the press it involved. Damn! this body really screw up one time. Takia tried touching her herself only to realize how sensitive this body was as she could barely hold a moan. What have this villainess been going? A 105 age Takia who was still a virgin and not start the butterflies procedure yet and now stuck in the body a sex fetish person and also have the female lead as a sister and now hiding her red face media and waiting for the system to address her after give her a stupid mission on having vergence on her dignity. Sigh... Why does she and the female lead always related in every world. it wasn't like she could have a link with her in her world? right?! Takia shook her head. How c
( Mission accomplished....... transferring host) The dull yet soft rays of the evening sun falls on the tall balcony pillars. " Hahaha... pass the ball over to me." Kids playing and giggling on the clouds. " Pass it...!" The ball flew pass the intent other and roll hitting a passer-by. " Hm... A ball!!" Small hand pick it, her crimson eyes staring at the ball and then the freaking out children. A smile spread her lips. " Can I join...?!" " it's the snake girl! run ...!" " Everyone run away! Or she going to curse us all!' Huh??! The little girl stared pause at the empty field and sighted; crawling away with the ball. She was born different. crimson eyes, blank hair, horns, and a snake tail. She was completely different from everybody in this place, from her master, father, mother, the villagers. Everyone. The little girl continue to crawl forward but suddenly stop and stared at the suspiciously at the ball. " Huh?!" It was dark clouded and a tiny whirlpool that s
Gore, sexual extinct and mid horror)skip if completely uncomfortable... The striking sound of thunder echo in the background, the lights shone eerie in the deserted wilder land. Honglonglonglong It sounded came a little heavy and it light shone revealing a bloody figure of Adam. His face completely dark and eyes glowing at the old familiar house not far away. His home. Honglonglonglong His steps were slow but fast. The grip of his knife tighten. * Knock knock* The back of view of Maria was showed. Her crimson hair seem dull and pink dress a little wrinkles and old. Gone was the prefect jolly Maria who hum with great cheerful melody in her mouth. Her skin seem dull and she looked older than her age. Her fingers skillfully snitch the cotton ropes in her hands but her eyes seem to be in deep trance. * knock knock!* The door knock seem louder and was quite frightening. * Knock knock...!* Maria jolt back to reality and stare at the door with pause confusion. Her hands gentl
Was it?" Zach was startled and now a little scared. The lighting stroke even angry and it's light reflect on Adam who looked like a demon. His crimson eyes seem to glow and darkness still couldn't hid the munderous light in it. " Was it really jealousy?" Zach stared at his uncle who squat slightly hugging his arms. How was he going to answer that question or was it even a question. He didn't answer but only stared. Maybe it could be funny to say, he felt pity for this crazy psycho in front of him. It's looks so alone and very lonely. " Then it worth it!" Zach pause and staring at the impulsing figure of proudness. This-this wasn't a human but a demon! a demon wrapped in skins, that still can't cover it nature; it nature too deep. " Then it worth every penny of it...!" Adam reply enjoying the shocked then irritated look of Zach that was struggling to stand straight. " How impatient! Uncle never said you could stand up. What naughty boy!" Adam coquettish said flicking his fi
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews