Share

Part 99: Tulang Belulang

Penulis: Titi Chu
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-02 18:15:52

Sungguh mengejutkan yang muncul adalah Gumi, dia menghambur masuk ketika melihatku sudah duduk tegak.

"You awake?" serunya girang.

Aku tersentak saat dia menyerbu. Dipeluk erat, baru menyadari kalau tubuh Gumi benar-benar seperti tulang belulang.

Dia kurus sekali.

"Aku tahu kamu bloon, tapi ternyata kamu lebih bloon dari yang aku bayangin."

Ghozali meringis. "Gum."

"Yah, sorry my word." Ketika mengurai pelukan matanya memburam, dia mengusap pipinya secara kasar. "Kalau mau kabur dari rumah minimal ke tempat yang penjagaannya ketat, kamu itu masih nggak sadar kalau udah terkenal? Atau memang nggak mau peduli aja?"

Kutelan ludah susah payah. "Kenapa jadi aku yang dimarahin?"

"Harus, mau marahin siapa lagi? Nggak ada yang akan bertanggung jawab sama diri kita selain diri kita sendiri, Sa. Kamu bikin semua orang kelabakan." Meski sok galak, tapi nadanya terdengar serak. Dia tidak bisa membendung air mata dan justru
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (4)
goodnovel comment avatar
Ki-van
Kok ngenes e nasib Marsha Thor Ats kejadian 'itu'..... knp kejujuran Gumi setelah kejadian .. setuju sihgenta sekarat juga siapapun otak kejahatan di hukum berat lhoo Thor... hadehhh ..
goodnovel comment avatar
L_54n954
bagus lah biar Bas tau rasa juga... ahh aku masih marah dg kelakuan Gumi, mamanya, Bas jg mamanya Bas...
goodnovel comment avatar
L_54n954
Indonesia kan gtu kak... heheheee
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Vokalis Culas, Aku Bukan Istrimu   Part 105: Menculik Kamu

    "Mama kerja di Bali.""Iya, Gumi udah bilang.""Mama jadi guide, waktu kabar kamu datang, Mama nggak bisa cepat-cepat pulang karena masih ada kerjaan.""Nggak masalah, Ma.""Lumayan hethic tahun baru ini... Mama sibuk ngurusin rombongan dari Rusia. Ada salah satu cowok yang kami akrab banget, rencananya mau Mama kenalin sama Gumi. Biar dia dapat jodoh, gitu.""Kalau Guminya mau.""Mau, ini cakep banget.""Menikah bukan soal cakep Ma.""Insya Allah bertanggung jawab.""Tanggung jawab nggak bisa hanya dikira-kira, terlalu riskan.""Yah terus maumu apa? Gumi nggak usah menikah lagi seumur hidup gitu?""Menolak satu cowok bukan berarti aku nggak suka Gumi menikah lagi. Dia masih terapi biar sembuh maksimal. Lagian dia cuma belum menikah Ma, bukan jadi gelandangan, jadi jangan kasihanin dia apalagi jodoh-jodohin gitu. Gumi bukan barang reject yang diobral sembarangan."Mama mendesa

  • Vokalis Culas, Aku Bukan Istrimu   Part 104: Over Budget

    "Selesai juga satu minggu ya." Aku meringis mendengar sindiran Prof Daniel yang pedas. "Lebih beberapa hari Pak, kemarin saya udah datang ke sini, tapi Bapak ternyata masih di Surabaya." "Ya makanya kenapa saya suruh kumpul sebelum pergantian tahun. Coba..." Dia membuka laptopnya dan aku tahu betul apa yang sedang beliau lakukan, mengecek hasil tugas analisisku. Padahal di meja sudah ada maket sekaligus hard copynya, di usia dosen seperti Prof Daniel yang biasanya capek kalau terlalu lama menatap komputer, beliau justru ingin semua serba digital. "Wah, nggak banyak yang dikoreksi ya, jadi kamu berpikir bangunan ini sudah oke semua?" tanya beliau tajam. "Kalau untuk kenyamanan pengunjung, Galatikos udah yang paling paten sih Pak. Di sana rapi, dan transisi dari satu ruangan ke ruangan lain itu seru." Dia mengangguk-angguk kecil, lalu menscroll layar yang kuyak

  • Vokalis Culas, Aku Bukan Istrimu   Part 103: Second Time

    "Masalahnya aku juga bodoh Bas, aku nggak percaya kamu sama Gumi dan lebih percaya sama pikiran aku sendiri."Dia mendekapku lebih erat."Aku memang nggak suka kalian akrab. Hari itu, pas kamu bilang kita harusnya bicara aku malah nggak mau dan milih pergi." Kutelan ludah susah payah. "Harusnya aku dengerin kata kamu."Kepalanya terangkat, menatapku lekat, matanya memburam. Dia tidak pernah se-emosional ini sebelumnya, namun saat bicara suaranya terdengar tegas. "Kapan Pj menemui kamu?"Aku berusaha mengingat, kemudian menyebutkan tanggal yang sama beberapa hari sebelum aku pergi dari dorm The Blues. Dia menyipit."Sialan, tim Jerikho berhasil mendapatkan informasi keadaan dia. Orang itu lagi liburan di Yunani selama tahun baru. Kemungkinan dia akan pulang dalam beberapa hari ke depan." Tiba-tiba Bas terdiam seperti memikirkan sesuatu, wajahnya tampak menerawang. Jejak membiru di pipinya perlahan memudar."Kamu ngapain

  • Vokalis Culas, Aku Bukan Istrimu   Part 102: What Should I Do?

    Segala hal terasa sulit.Berhari-hari aku hidup dalam insomnia, menyelidiki satu per satu keterlibatan Mas Pj, walaupun sangat sulit, dan akhirnya setelah penyelidikan yang terjal, Jerikho menemukan bukit bahwa Om Genta sudah membuntutiku semenjak aku masih tinggal di dorm The Blues."Dia masih nggak bisa dimintai keterangan." Begitulah kata advokat Bas. Karena keadaan Om Genta baru melewati masa kritis, belum sepenuhnya sadar. Sesuai dugaan, keluarga pelaku tidak terima, dan malah mengajukan tuntutan, meskipun niat mereka lebih seperti ingin viral, dan nama baik Bas tengkurap.Media meledak.Sampai-sampai aku nyaris menjatuhkan ponsel saat Jihan menghubungi. "Gimana keadaan kamu?" Dia bertanya, suaranya masih sama. Lembut dan sopan. Setelah kabar tentang Ghozali kuberikan. Aku sangat bersyukur, Jihan tidak menganggapku sebagai saingan."Aku lihat di berita," tambahnya, takut aku bingung. "Kamu kena musibah, orang tolo

  • Vokalis Culas, Aku Bukan Istrimu   Part 101: Awak Media

    "Bas!" Matanya kelihatan melebar terkejut ketika aku menyongsongnya dalam pelukan. Dia bergeming sementara aku merangkul lehernya, merasakan detak jantungnya yang menggila di dadaku. Selama beberapa saat dia tidak merespon, lalu kurasakan lengannya merangkul tubuhku erat, bibirnya menghirup ceruk leherku, bernapas berat di sana. "Kenapa kamu di sini?" Dia berkata bingung. Aku memang berlari duluan keluar dari mobil sementara Ghozali masih sibuk mencari tempat parkir. "Sama siapa kamu ke sini?" ulangnya, nada suaranya tajam. Namun dia menekan punggungku, hingga aku makin membusur, mendekapnya lebih erat, seakan kami belum cukup rapat, seakan dia belum cukup yakin aku berada bersamanya. "Marsha..." Astaga. Aku merindukannya! Aku merindukan suaranya yang memanggilku dengan manja. Aku rindu bagaimana caranya menyebutkan namaku seakan dia sangat memujaku. Aku rindu den

  • Vokalis Culas, Aku Bukan Istrimu   Part 100: Egois

    "Nggak mungkin kamu ke sana, kamu masih dalam proses pemulihan." Ghozali langsung menyanggah niatku.Terbiasa dibantah, diabaikan, aku justru semakin keras kepala. Lanjut berdiri, melipat selimut rumah sakit dengan rapi. Ghozali mendengkus pelan."Lagian Bas bukan anak kecil, dia tahu apa yang dia lakukan, dan dia tahu gimana caranya membela diri. Marsha..." Dia menyentuh lenganku karena aku memilih bungkam. "Tolong perhatiin diri kamu sendiri. Kondisi kamu lebih penting.""Aku harus kasih kesaksian, Goz.""Kamu nggak sadar.""Ya nggak pa-pa, aku pasti bermanfaat buat Bas di sana." Kulepas tangannya lembut. "Dia udah bantuin aku, nggak mungkin aku biarin dia sendirian. Bas nggak pantas ditahan, dia nggak salah. Harusnya polisi fokus ke penyelidikan kenapa Om Genta tahu aku ada di rumah itu dan apa motif kejahatannya.""Pasti." Ghozali mengangguk muram. "Polisi pasti akan sampai ke sana Marsha. Tapi sekarang masih dalam penyidikan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status