LOGIN(Mature content 21+) Sophia Russell, 27 tahun, punya segalanya—karier mapan, tunangan ideal, dan masa depan yang tampak sempurna. Tapi di balik semua itu, ada satu hal yang tak bisa dia kendalikan: tubuhnya. Sejak trauma masa lalu, Sophia tak bisa merasakan gairah, bahkan pada calon suaminya sendiri. Atas saran tunangannya, dia menemui Dr. John Maxwell—psikolog seksual muda yang terkenal sabar dan penuh empati yang tak lain adalah masa lalunya yang sudah dia lupakan. Namun, semakin lama terapi berlangsung, semakin kabur batas antara profesional dan pribadi. Ketika hati mulai bergetar untuk orang yang seharusnya tak boleh dia cintai, Sophia dihadapkan pada pilihan: menikah demi kewajiban atau mengikuti hasrat yang baru saja dia temukan.
View More“Buka mulutmu, Sophia.”
Sophia Russell, 27 tahun, tengah duduk di pinggir tempat tidur mewahnya bersama Mike Myers—tunangan yang semua orang bilang sempurna dan tengah menatapnya dengan penuh hasrat.
Pria itu tampan, berkelas, dan berpendidikan. Setelan kemeja putihnya sudah terbuka di dua kancing atas, memperlihatkan kulit dada yang hangat dan sedikit berotot.
“Sayang, kita sudah terlalu sering menunda,” ucap Mike dengan suara rendah, serak namun menggoda.
Tangannya menyentuh pipi Sophia dengan lembut tapi dengan intensitas yang membuat udara di antara mereka menegang.
Sophia mengangguk dengan pelan, meski dalam dadanya bergejolak rasa takut yang sama seperti setiap kali pria itu mendekat. Ia lalu mencoba tersenyum. “Aku tahu.”
Mike menarik tubuh Sophia ke dalam pelukannya lalu bibirnya mendarat di bibir Sophia.
Ciuman itu seharusnya membuatnya bergetar, seharusnya menghadirkan desir hangat di seluruh tubuhnya.
Tapi yang dia rasakan hanyalah dingin. Dingin seperti batu. Tubuhnya menegang, tak ada satu pun otot yang mau menuruti perintah otaknya untuk merespons.
Mike memperdalam ciumannya, tangannya kini merayap ke belakang leher Sophia, namun tak ada respons.
Mata Sophia menatap kosong ke arah bahu Mike. Napasnya tak beraturan, tapi bukan karena gairah, melainkan panik yang kian menekan dadanya.
“Sayang?” suara Mike terdengar berat dan kecewa. Dia akhirnya melepaskan ciuman itu dan menatap Sophia lama, dengan tatapan nyaris tak percaya. “Kau bahkan tak bergerak sama sekali.”
Sophia terdiam, bibirnya bergetar. “Aku—aku sudah mencoba, Jo. Sungguh. Aku mencoba untuk—”
“Untuk apa?” potong Mike dengan tajam sembari menarik diri dari pelukannya. “Untuk membuatku merasa seperti sedang mencium patung?”
Ucapan Mike barusan cukup membuat Sophia sakit hati. Namun, dia tidak mau memperlihatkan itu di hadapan sang tunangan. “Maaf, aku tidak tahu kenapa aku tidak bisa ….”
Mike menghela napas panjang lalu beranjak dari duduknya dan memijat pelipisnya karena frustrasi.
“Setiap kali kita mencoba, kau selalu begini. Membeku. Menolak tanpa menolak. Apa aku begitu menjijikkan untukmu, Sophia?”
“Tidak! Aku hanya … aku takut, aku tidak tahu kenapa—”
“Sudah cukup,” potong Mike dengan nada dinginnya. Ia lalu meraih jaketnya yang tergantung di kursi, lalu berjalan menuju pintu. “Aku butuh udara. Aku tidak bisa terus seperti ini.”
Pintu menutup dengan bunyi keras dan meninggalkan Sophia sendirian di kamar yang kini terasa lebih sunyi dari sebelumnya.
Ia lalu menunduk sambil menatap tangannya yang gemetar di atas selimut. Lagi-lagi dia gagal lagi.
Ciuman yang seharusnya menjadi ungkapan cinta justru selalu berakhir dengan ketakutan.
Air mata akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan. Apa yang salah denganku?
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, Sophia keluar dari apartemennya.
Dengan rambut bergelombang panjang dan wajah elegan, dia masih tampak memukau meski mata sembab dan senyumnya palsu.
Bar kecil di sudut kota London itu tampak hangat oleh cahaya kuning temaram yang memantul di dinding bata ekspos. Aroma lemon dan alkohol tipis bercampur dengan suara musik jazz yang lembut.
Di sudut ruangan, Bianca Adams sudah menunggu dengan dua gelas margarita di depan meja. Ia melambai ketika melihat Sophia datang, wajahnya langsung menampilkan ekspresi prihatin begitu melihat sahabatnya itu.
“Sophia, kau tampak berantakan,” ucap Bianca tanpa basa-basi, alisnya terangkat.
Sophia tertawa kecut, lalu duduk dan melepaskan mantel panjangnya. “Terima kasih atas pengingatnya. Aku tahu aku bukan pemandangan yang menyenangkan malam ini.”
“Bahkan lebih parah dari terakhir kali,” gumam Bianca sambil menyerahkan gelas margarita.
“Jadi?” Ia mencondongkan tubuh ke depan. “Bagaimana malammu dengan Mike? Katamu ingin mencoba lagi.”
Sophia menatap cairan bening di gelasnya, mengaduk pelan dengan sedotan. “Gagal lagi,” katanya lirih.
Bianca terbelalak. “Gagal lagi? Maksudmu—”
“Bahkan sebelum kami benar-benar memulai.” Sophia meneguk minumannya sedikit lalu mengembuskan napas panjang.
“Dia menciumku, tapi aku tidak merasakan apa-apa. Tidak ada debaran, tidak ada gairah. Hanya... takut. Tubuhku kaku. Aku seperti membeku.”
Bianca menatapnya dengan tatapan lembut namun khawatir. “Sophia, ini sudah kesekian kalinya. Kalian sudah setahun bersama, dan setiap kali kau mencoba, kau selalu ... pingsan, demam, atau panik. Ini bukan hal sepele, sayang. Ada sesuatu yang salah.”
Sophia menatap meja kosong di antara mereka. “Aku tahu. Tapi aku tidak tahu kenapa. Aku mencintainya, Bianca. Tapi tubuhku ... menolak. Mike mulai kehilangan sabar. Aku takut dia menyerah.”
Bianca diam sejenak, lalu menatap sahabatnya dalam-dalam. “Mungkin sudah waktunya kau bicara dengan seseorang yang bisa membantu.”
“Bicara dengan seseorang?” Sophia mengerutkan dahi. “Maksudmu siapa? Aku sudah bicara denganmu.”
“Aku bukan ahli terapi, Sophia.” Bianca menghela napas pelan, lalu menautkan jemarinya di atas meja. “Aku bicara tentang ... psikolog. Atau lebih tepatnya, terapi seksual.”
Sophia menatapnya, nyaris tersedak margarita. “Terapi seksual? Tunggu ... memang ada yang seperti itu?”
John menyunggingkan senyum mendengarnya. “Baiklah. Kalau itu yang kau inginkan.”Dalam jarak di antara mereka, waktu terasa memanjang. Detik-detik menjadi benang emas yang menari, menjerat, dan menggiring mereka kembali pada ritme yang dulu pernah begitu mereka kenal.Tanpa kata lagi, jemarinya terangkat hanya sepasang jari, namun getarannya seolah mampu mengubah arah angin.Dia menyentuh pipi Sophia dengan sangat perlahan, seolah menyentuh kelopak bunga yang sudah lama dia rindukan aromanya.Sophia menutup mata sejenak dan membiarkan sentuhan itu merembes ke sela-sela napasnya.Dalam diam itu, tubuhnya seolah melakukan tarikan napas bersama malam, menyerap kehangatan dan melepaskan segala kerinduan yang selama ini ia tekan.Ketika dia membuka mata kembali, tatapannya bertemu dengan tatapan John dan dalam sekejap, seluruh ruang seolah meleleh, mencair menjadi satu warna yang nyaris seperti emas cair.“Aku merindukanmu,” ucapnya dengan kalimat sederhana yang terasa seperti pengakuan ya
Malam itu Sophia kembali ke apartemen John setelah lama berpikir panjang.Di dalam lift yang tengah bergerak naik, Sophia menatap angka-angka yang berubah dengan cahaya kuning redup.Setiap lantai yang terlewati membuat jantungnya berdebar sedikit lebih cepat. Rasanya aneh bahkan menegangkan karena dia tahu ke mana dia akan pergi dan untuk apa dia kembali ke sana.Ketika pintu lift terbuka, lorong lantai apartemen John langsung menyambutnya dengan keheningan yang nyaris menggema.Sophia menarik napas panjang sebelum melangkah. Dia berhenti tepat di depan pintu yang sudah begitu dikenalnya. Tangannya terangkat pelan dan mengetuk tiga kali. Lembut, tapi cukup jelas.Tak butuh waktu lama, pintu itu terbuka. John berdiri di sana dengan kemeja lengan panjang warna hitam yang lengannya digulung sampai siku, wajahnya tampak lelah namun matanya terbuka lebar dan berbinar, seakan kedatangannya adalah hal terbaik yang terjadi sepanjang hari.“Sophia,” ucap John seraya menghela napas lega karena
“Jadi ….” Bianca memulai dengan nada yang dibuat-buat dramatis. “Pada akhirnya kau kembali pada John juga.”Sophia menghela napas panjang, menatap permukaan minumannya. “Bukan begitu maksudku—”Tawa Bianca meledak kecil hingga membuat beberapa staff dan pelanggan menoleh.“Ayolah, Soph! Jangan menyangkalnya. Cerita yang kau sampaikan barusan jelas sekali.”Bianca menirukan nada Sophia dengan dramatis, “Aku mabuk, lalu aku bangun di apartemen John, lalu dia membuat sarapan, lalu dia bilang dia akan memihakku apa pun yang terjadi.”Bianca kemudian mengangkat kedua alisnya dan wajahnya penuh menggoda. “Itu bukan sekadar kembali, itu takdir.”Sophia memutar bola matanya. Namun, ketika dia menatap Bianca, ada keraguan yang jelas terselip di balik garis matanya. “Apa kau seyakin itu?”“Yakin,” jawab Bianca cepat sambil mengangguk berulang kali. “Yakin seratus persen. Tidak perlu tes DNA untuk memastikan takdir kalian berdua.”“Tuh, kan. Kau mulai ngomong sembarangan lagi,” gumam Sophia samb
Raka berdiri di depan pintu klinik John dengan wajah tegang. Napasnya tampak berat, langkahnya mantap namun sarat kemarahan yang hanya menunggu waktu untuk meledak.Begitu pintu kaca klinik terbuka, dia masuk tanpa menunggu izin, membuat beberapa pasien yang sedang duduk menoleh kaget.Staff di meja resepsionis berdiri tergesa. “Selamat pagi, Tuan. Ada yang bisa dibantu?”“Aku ingin bertemu John,” potong Raka dingin.Tanpa menunggu jawaban dari staff itu, Raka sudah berjalan menuju pintu ruang konsultasi yang sedikit terbuka dan John keluar, mengenakan jas dokternya.Dia sempat terkejut melihat ayahnya di sana, apalagi dengan ekspresi sekeras itu.“Pa?” John berjalan mendekat. “Ada apa lagi kali ini?”Raka tidak menjawab. Dia hanya memutar tubuhnya dan berkata, “Masuk ke ruanganmu.”Nada suaranya tidak memberi ruang untuk dibantah.John menghela napas pendek, lalu mempersilakan ayahnya masuk. Begitu pintu tertutup, suasana berubah drastis.Raka berdiri tegak di tengah ruangan, kedua t






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews