MasukHelping him was a mistake, forgiving him was naive, but his love was safe, true, and helplessly wild." I took a deep breath "I want to hate him so much, but every time I try to hate him... it feels like I'm falling in love with him even more than before" I notice her disappointed look "Why did you even agreed on that from the beginning" I think I should say the truth cause there's nothing worth hiding "He thought that he'd take me to heaven just by saying those three words. but what he didn't know. He threw me into hell."
Lihat lebih banyakSuara rintihan malam hari di sebuah jalanan yang gelap dengan jurang di salah satu sisi jalan tersebut membuat malam begitu mencekam.
"Bos ..." lirih pria yang memegangi lengan sebelah kanannya yang berdarah, pria itu bermandikan keringat malam dengan bau darah yang mengalih dari lengannya yang tertembak. "Tenanglah," ucap Arga mengikat kain putih di lengan asistennya, dia mengikatnya cukup kencang membuat asistennya yang bernama Domeng berteriak kesakitan, tapi hal itu dilakukan agar pendarahan di lengan Domeng tidak terlalu banyak. "Diamlah, atau kau akan kehabisan darah!" "Bos, tolong ... jangan tinggalkan aku." Domeng merintis seraya memegang lengan Arga yang hendak pergi setelah mengikat lengan Domeng. Wajahnya menunjukan permohonan dan juga ketakutan. Arga menepis tangan Domeng. "Jangan lemah!" Masalahnya mereka sedang berhadapan dengan seseorang yang berusaha membunuh mereka. Domeng berteriak seraya menangis melihat punggung bosnya semakin menjauh, meninggalkannya di balik semak-semak. "ITU DIA!" Dua orang pria langsung menoleh dan segera menodongkan pistol tapi Arga lebih dulu menembaki mereka. DOR DOR Setelah dua pria itu tumbang kini Arga menembak salah satu lengan musuhnya yang tengah merangkak untuk mengambil pistol setelah sebelumnya kaki pria itu berhasil di lumpuhkan oleh tendangan Arga. "Aaaargghh!" jeritan kesakitan sudah menjadi hal biasa ditelinga Arga. Bau darah yang masuk ke indra penciumannya bukan hal yang menganggu untuk pria bernama lengkap Maharga Robinson tersebut. Arga menghela nafas panjang, akhirnya, akhirnya dia berhasil membunuh kelima musuh yang mengikuti mobilnya tadi. Dia hanya menyisakan satu pria yang masih hidup dengan tangan dan kaki yang terluka. Sedetik kemudian, mobil berhenti di belakang Arga dan empat pria keluar dari mobil tersebut. Arga menoleh. "Bawa pria yang masih hidup itu dan bawa Domeng ke Rumah Sakit, dia ada di belakang semak-semak!" "Baik, Tuan," mereka menjawab kompak dan segera mengikuti perintah Tuan nya. **** Kejadian tadi seakan menjadi angin lalu, kini pria jangkung itu kini sedang bersantai, duduk di salah satu meja cafe bersama kakeknya. Dia sesekali meneguk minuman beralcohol di tangannya. "Apa kau akan bertemu dalam keadaan mabuk dengan gadis yang akan menjadi istrimu, Arga?" Arga acuh, tidak menjawab sama sekali, selain memalingkan wajah ke arah lain dengan meneguk minumannya. "Arga!" sang kakek berbicara tegas. Arga mendengus kasar dan menyimpan minumannya dengan kasar di meja. "Aku harus ke Rumah Sakit, Domeng terluka." "Apa Domeng lebih penting dari calon istrimu?" "Menurutmu?" Arga menarik ujung bibirnya tersenyum seraya menaikan satu alisnya. Hal itu membuat sang kakek yang bernama lengkap Federic Robinson salah paham, senyuman Arga membuat Federic ngeri, bagaimana jika ada hubungan khusus antara cucu kesayangannya dan Domeng? Asisten gila, menurut Federic. "J-jangan bilang kau dan Domeng --- Argaaa!!" Belum selesai bicara Federic diharuskan berteriak sebab Arga tiba-tiba pergi meninggalkannya. "ARGA KEMBALI KAU!" Federic sampai berdiri meneriaki cucunya, tapi punggung Arga semakin menjauh dan pergi membuat rahang kakek tua itu menegang kesal. Dia mengusap wajahnya gusar, mengatur nafasnya akibat amarah yang hampir meledak. Arga terlalu keras kepala untuk Federic. Baru saja hendak masuk ke dalam mobil, tangan Arga di pegang oleh seseorang dari belakang, dia pun menoleh. "Tuan, bisakah kau membantuku?" ucap seorang gadis dengan gaun berwarna pink di atas lutut, wajahnya di poles make up yang cukup tebal tapi wajah sedihnya tampak terlihat jelas. Arga langsung menghempaskan tangannya yang di pegang gadis itu. "Siapa kau?" "Tuan, namaku Cherry, aku kesini ---" "Aku tidak punya urusan denganmu!" potong Arga. "Ya, aku tau, tapi aku memohon untuk meminta bantuan." Gadis itu merapatkan kedua tangannya untuk serius memohon kepada Arga. "Bantu aku, aku tidak mau di ---" "Jika kau meminta bantuan agar pergi dari tempat ini, masuk ke mobil sekarang, karena aku tidak punya waktu lagi!" Setelah mengatakan itu pun Arga masuk ke balik kemudi dan gadis bernama Cherry pun segera mengitari mobil, masuk dan duduk di samping Arga. Arga mendengus kasar, kenapa gadis ini harus duduk di depan, kenapa tidak di belakang saja. Tapi karena terburu-buru akhirnya dia membiarkan gadis itu dan mobil pun melaju pergi. "Aku benar-benar berterimakasih kepadamu, Tuan. Aku tadi hendak bertemu dengan pria yang akan menjadi suamiku, aku sangat tidak menginginkan pernikahan ini, ini perjodohan yang tidak diinginkan. Sekarang aku bisa kembali ke rumah dan mengatakan jika pria itu juga tidak mau menikah denganku." Cherry bisa bernafas lega, setidaknya dia tidak bertemu dengan calon suaminya. Gawat jika tadi dia bertemu dan ternyata pria itu ingin menikahi Cherry dan setuju dengan perjodohan ini. Gadis itu mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan kepada kakeknya. Arga mengambil sebotol air di dashboard, dia membuka tutup botol air tersebut. "Siapa nama pria yang menjadi calon suamimu?" tanya Arga lalu meneguk air tersebut. "Maharga Robinson." Uhuk ... uhuk Arga langsung tersedak minumannya sendiri. Apa? Nama dirinya yang disebut? Tidak salahkah gadis ini? Maksud Arga, tidak salahkah kakeknya menjodohkan Arga dengan gadis bermake up tebal ini. "Tuan, apa kau baik-baik saja?" Cherry memberikan tissue kepada Arga, Arga mengambilnya dan membersihkan mulutnya. "Dimana rumahmu?" tanya Arga. "Komplek perumahan Indah kencana." "Aku akan mengantarmu sampai rumah dan katakan dengan jelas kepada kedua orang tuamu, jika Maharga Robinson menolak mentah-mentah perjodohan ini!" "Ya, aku memang akan mengatakan itu," jawab Cherry yang heran saat melihat wajah Arga. Mengapa Arga terlihat sangat kesal ketika mengatakan hal demikian seakan Arga juga tidak suka dengan perjodohan untuk Cherry. Si*l, bagaimana bisa aku menikah dengan gadis berwajah badut ini. Make upnya saja sangat tebal. Perjalanan mereka tidak lancar sama sekali, lagi dan lagi mobil Arga diikuti mobil asing di belakangnya. Cherry tidak sadar, dia bersikap biasa saja, asik menikmati pemandangan di luar mobil. Arga mendengus kasar melihat mobil di belakangnya dari spion. Dia akhirnya menginjak pedal gas dengan kuat membuat Cherry terkesiap kaget. "Eh ... eh ... kok ngebut." Cherry yang panik memegang seatbealtnya dengan erat. "Tuan, ada apa?" "Diamlah!" sentak Arga membuat Cherry terkesiap untuk yang kedua kalinya. Arga mencengkram stir dengan kuat, kedua alisnya mengerut dengan mata yang fokus pada jalanan di depan, suara decitan mobil akibat menyalip mobil yang lain terlalu keras membuat Cherry beberapa kali berteriak. Sangat gila, mobil ini seakan hendak mengantarkan Cherry ke akhirat. "Tuan, aku tidak mau mati." Cherry memohon dengan suara gemetar. "Aku juga bod*h!" sahut Arga. "Diamlah!" Cherry mengigit bibir bawahnya lalu mencoba melihat ke belakang. Sekarang, dia mengerti mengapa mobil ini melaju seperti sedang balapan. Cherry ingin bertanya, siapa yang mengikuti mereka, tapi dia terlalu takut untuk membuka suara. Alhasil dia hanya diam dalam ketakutan dan doa-doa yang dia panjatkan dalam hatinya, semoga dia masih bisa melihat matahari esok pagi. "Si*l!" gerutu Arga melihat seseorang di mobil itu menodongkan pistol, sepertinya dia hendak menembak ban mobil Arga agar oleng. Ciiittt. Semesta mendukung Arga malam ini, untungnya ketika peluru melesat dari mobil di belakang, ada belokan yang membuat Arga langsung membanting stir ke arah kanan dan menginjak pedal gas lebih kuat lagi. Mobil yang membuntuti Arga diisi dua orang pria. Mereka kebingungan, setelah mobil Arga berbelok, mengapa tiba-tiba mobilnya hilang. Pria di balik kemudi memukul stirnya dengan kesal. "Sial! Dia berhasil kabur!" "Harus kemana kita? Kiri, kanan atau lurus?" tanya pria yang lain melihat ada pertigaan di depan. "Kan ---" BRAKHHH Belum selesai pria itu berbicara dari arah kanan mobil Arga menabrak keras bagian kanan mobil musuh yang mengikutinya. Jangan tanya seberapa menjeritnya Cherry, gadis itu bahkan sampai tak sadarkan diri sekarang. Arga menghela nafas beberapa kali melihat mobil musuhnya sangat hancur padahal hanya di tabrak dari samping. Tidak sia-sia dia memodifikasi mobilnya di Amerika, mobilnya menjadi sangat kuat, bagian depannya hanya hancur sedikit. Kini Arga menoleh ke samping dan dia berdecak melihat gadis bermake up tebal itu tak sadarkan diri sekarang. #Bersambung.ANA's pov I looked at myself in the mirror just to make sure I look fine in my white V-neck tank top, and blue jeans well I look good I never really cared about checking myself in the mirror more than once, and putting make-up on Emily would force me to d this stuff. I missed her so much. After I made sure I have everything I need I take my bag and phone and went downstairs. My mum is making breakfast, the smell is yummy. I love it when my mum cook anything I entered the kitchen and say "Good morning Mama" she notices me and says "Good morning Ana, just two minutes and the breakfast will be ready" "Okay!" I sat down and wait for the breakfast
Ana's pov. "Where are you taking me?" I asked panicking but he never answers He takes my hand and pulls me into a room. I think it's his room, it has one big window, TV and big king-size bed everything was black in his room, even the sheets except the walls they were gray. "you thought I will get scarred, after what you saiddon't mess with me.oh, you don't have any idea. About how I'm so scared right now. I tried to release my hand from his grip but that only makes him hold it tighter. he leaned down and whispers in my ear "I know that one day you will be mine. maybe for a week-" that's disgusting "that will be only in your dreams." I screamed in his face without hesitation. "if I want to, you will be the actress starring in my dreams" then I felt his breath on my lips. please don't do it, please don't do it. "don't worry I really want to but not-" the idea came in my head and I kick him again, in the place t
I heard that voice before"Hey, are we staying like this the whole day?" "Ana, did you hear what I was saying " Sara's voice pulls me out of my thoughts " sorry, what were you saying" "Nothing just. cursing that idiot," she said laughing, on this big table that asshole choose to sit in the chair, in front of me and he kept that innocent smile on his face like he just didn't let me fall in the coffee shop and then give me some shit advice like him. I can't take it anymore "can I use the restroom. please," I asked Sara "yeah, it's down the hall on the left." faking a smile. "thank you, excuse me," I said while standing up, then I head to the bathroom. I stayed there for a few minutes to calm myself down. I get out and walk back to the living room, to find myself- Shit. In the same position, with the same person. but not in the coffee shop, in his house this time. he whispers in my ears. "why you don't you listen and open yo
After two weeks we settled down in our new house in New York. I think it is really a big house for two persons but I'm not complaining.We just have three-bedroom. my room is the biggest room, the kitchen is the very important place in the house well the very important thing in the house is the fridgeFor me, but sometimes I enjoy cooking food. Then in the dining room, I don't eat there like normal people I always take my food and eat on my bed because I'm kinda lazy. and I am always alone so who I'm gonna eat with.My favorite place in the house is the yard it has a small table and five chairs I'm planning on studying here it's a good place because there's a lot of flowers and I'm obsessed with flowers. The living room has a big TV and a small coffee table. the couch's more comfortable than the old one we used to have back in our old house. Mum bought new furniture, I think mum wants to forget everything about my dad. well, it's cool with me and I wish i
*Next Morning * "Beeb Beeb" oh god I hate that sound of my alarm. I look at it. it's 9:30 I made my morning routine. I wash my face, brush my teeth and because I'm bored so I'm going to take a quick shower, I head to the bathroom. After I stripped out of my clothe
"No" what? why you idiot said No? if I were you I would never say no. at least because that's so embarrassing- "Ana come here" I heard my mum calling me, AAh why now I want to watch the rest of the movie. I think I'm dying to know why she said no, More than the boy but I need to be patient. I wil












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.