MasukFajar menyingsing dengan warna merah darah...
Cakra berdiri di atas atap rumah Kusuma, memandang cakrawala dengan mata yang tidak lepas dari tidur semalaman. Setelah insiden pemanggilan Istana Langit, ia tidak berani meninggalkan Amara sedetik pun. Rafael pergi sebelum subuh, mengatakan ia akan mencari informasi tentang pergerakan musuh. Di bawah, Amara masih tertidur, tidur yang dalam dan lelah. Wulan menjaganya, duduk di samping tempat tidur sambil berdoa pada dewa-dewa yang bahkan tidak ia yakini masih mendengarkan. Tapi Cakra tahu bahwa kedamaian ini tidak akan bertahan lama. Dan ia benar! Pukul sembilan pagi, kabut merah mulai turun dari langit, bukan dari tanah seperti kabut biasa, tapi dari atas, seperti darah yang mengalir dari luka di langit itu sendiri. Kabut itu bergerak dengan satu tujuan, mengalir langsung menuju desa. Cakra melompat turun dari atap, berlari ke tengah jalan desa. Penduduk mulai panik, berlarian mencari perlindungan. "Masuk ke rumah kalian! Kunci pintu dan jangan keluar!" teriak Cakra. Tapi sudah terlambat. Kabut merah itu datang terlalu cepat, menelan separuh desa dalam hitungan detik. Dan dari kabut itu, mereka muncul... Bukan dua belas seperti kemarin. Kali ini ada lebih dari lima puluh anggota Kultus Dewa Hujan, semua mengenakan jubah merah, topeng iblis, dan membawa senjata yang berpendar dengan energi spiritual yang mengerikan. Di tengah mereka, tiga sosok yang terlihat berbeda melangkah maju. Mereka tidak memakai topeng. Wajah mereka terbuka, pria paruh baya dengan bekas luka bakar di separuh wajahnya, wanita dengan mata yang sepenuhnya hitam tanpa putih mata, dan seorang pemuda yang terlihat tidak lebih tua dari Cakra tapi membawa aura pembunuh yang pekat. Yang di tengah, si pria dengan bekas luka bakar, bicara dengan suara yang menggema. "Aku adalah Agni, Imam Tinggi Kultus Dewa Hujan. Anak muda, kau telah melakukan tiga kesalahan fatal." Ia mengangkat tiga jarinya. "Pertama, kau menghentikan pengorbanan suci yang diminta Dewa Hujan. Kedua, kau membunuh pelayan-pelayan kami. Ketiga, kau mengklaim dirimu sebagai Pengendali Awan, gelar yang hanya boleh dimiliki oleh mereka yang diberkati Dewa Hujan." Cakra berdiri tegak, tidak mundur seinci pun. "Dewa Hujan kalian tidak ada. Kalian hanya pemuja kekuatan yang bersembunyi di balik nama dewa." Wanita bermata hitam tertawa, suara tawa yang membuat kulit merinding. "Tidak ada? Oh, anak muda yang bodoh. Kau tidak tahu apa-apa tentang kekuatan yang kami layani." Pemuda pembunuh itu maju selangkah, tangannya sudah memegang gagang pedang di punggungnya. "Imam Agni, biarkan aku yang membunuhnya. Aku ingin melihat apakah Pengendali Awan palsu ini layak menjadi tumbal." Agni mengangguk. "Baiklah, Surya. Tapi jangan bunuh dia terlalu cepat. Kita perlu darahnya tetap segar untuk ritual." Surya melangkah maju, menarik pedangnya. Bilah hitam yang panjangnya hampir dua meter, diukir dengan rune-rune merah yang berpendar. Energi spiritual yang mengalir dari pedang itu membuat udara di sekitarnya mendidih. "Namaku Surya Kelana," katanya sambil memutar pedang dengan santai. "Aku telah membunuh tiga puluh tujuh kultivator. Kau akan menjadi yang ketiga puluh delapan." Cakra tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mengangkat tangan kanannya, dan Cambuk Awan muncul, tapi kali ini bentuknya berbeda. Cambuk itu lebih padat, lebih tebal, dengan lapisan es di sekelilingnya yang membuatnya bersinar seperti kristal biru. Hasil latihan dengan Rafael mulai terlihat... Surya tersenyum. Senyuman yang tidak mencapai matanya. "Teknik mainan. Mari aku tunjukkan teknik sejati." Surya menghilang! Tidak berlari. Tidak melompat. Dia benar-benar menghilang dari pandangan Cakra dan muncul kembali tepat di belakang Cakra dengan pedang sudah terayun ke arah lehernya. Tapi Cakra bergerak lebih gesit. Langkah Mendung, teknik dasar yang Rafael ajarkan. Tubuh Cakra menguap menjadi kabut sesaat, membuat pedang Surya melewati udara kosong, lalu ia muncul kembali tiga meter ke samping. Surya terkejut, hanya sesaat, tapi itu cukup membuat mentalnya sedikit lemah. Cakra mengayunkan Cambuk Awan secara horizontal. Surya mengangkat pedangnya untuk menangkis dan cambuk itu membelit pedang, menariknya dari genggaman Surya dengan kekuatan yang mengejutkan. Pedang itu terbang, menancap di tanah sepuluh meter jauhnya. "Tidak mungkin!" Surya mundur, untuk pertama kalinya terlihat ragu. Cakra tidak memberi kesempatan. Ia maju, cambuk berubah menjadi tombak es di tangannya. Tombak Awan, teknik yang baru ia pahami kemarin. Ia menusuk langsung menuju ke dada Surya. Tapi Surya adalah kultivator berpengalaman. Ia memutar tubuhnya, menghindari tusukan mematikan itu dengan jarak setara hitungan milidetik, dan cakarnya yang tiba-tiba memanjang dan menghitam menyapu ke arah perut Cakra. SRING! Cakar itu mengenai Cakra tapi tidak melukainya. Kabut Pelindung Cakra otomatis muncul di titik serangan, mengeras menjadi perisai yang menangkis cakar itu. Mereka berpisah, masing-masing mundur beberapa langkah, saling mengukur. Cakra terengah. Pertarungan ini jauh berbeda dari melawan Pemakan Jiwa atau boneka spiritual kemarin. Surya adalah pembunuh sejati, setiap gerakannya diperhitungkan, setiap serangan ditujukan untuk membunuh. Tapi ada sesuatu yang Surya tidak ketahui... Cakra tidak sendirian... Dari rumah Kusuma, cahaya emas mulai memancar. Amara berdiri di ambang pintu, sayapnya muncul sebagian, tidak penuh seperti kemarin, tapi cukup lebar. Tangannya terangkat, dan kelopak lotus cahaya mulai melayang ke arah Cakra. Saat kelopak-kelopak itu menyentuh tubuh Cakra, luka-luka kecil dari cakar Surya menutup seketika. Energi spiritualnya yang terkuras pulih. Dan lebih dari itu, ada kehangatan, ada kekuatan yang datang dari koneksi mereka. Surya menatap Amara dengan mata menyala. "Ah, gadis penyembuh. Itu curang, kau tahu." "Perang tidak ada yang curang," jawab Cakra. "Hanya ada yang menang dan yang kalah. Kalian sendiri? Tiga orang lawan aku sendirian. Lebih curang mana?" Ejek Cakra. Ia melesat maju, lebih cepat dari sebelumnya, diperkuat oleh energi Amara. Tombak Awan di tangannya memanjang, bercabang menjadi tiga di ujung, masing-masing berputar dengan kecepatan tinggi. Surya mencoba menghindar, tapi kali ini Cakra sudah memprediksi gerakannya. Salah satu ujung tombak mengenai bahu kiri Surya, menembus pertahanan energi spiritualnya. Darah menyembur. Surya terhuyung ke belakang dan meringis kesakitan. "Kau... lebih kuat dari yang kukira..." erang Surya. "Tapi ini belum berakhir!" Ia menggigit lidahnya sendiri. Darah segar mengalir keluar dan dia meludahkan ke pedang yang masih menancap di tanah. Pedang itu bergetar, kemudian terbang kembali ke tangannya, kali ini berselimut api merah. "Teknik Terlarang, Nyala Darah Iblis!" teriak Surya, dan ia menyerang dengan kecepatan gila. Puluhan tusukan dalam satu detik. Ratusan ayunan dalam lima detik. Api merah membakar udara, menciptakan jalur kehancuran ke arah Cakra. Cakra bertahan dengan segala yang ia punya. Cambuk Awan bergerak dengan blur, menangkis setiap serangan, tapi beberapa lolos, menggores lengannya, pipinya, dan pahanya. Darah Cakra mulai mengalir. "Cakra!" teriak Amara, cahaya penyembuhannya mengalir lebih deras. Tapi bahkan dengan penyembuhan Amara, Cakra mulai kewalahan. Surya terlalu cepat, terlalu ganas dan energi spiritualnya seperti tidak ada habisnya. 'Aku butuh teknik yang lebih kuat,' pikir Cakra putus asa. Dan Inti Awan merespon... Kenangan lain mengalir dalam visi yang dilihat Cakra. Kenangan tentang Arya Samudra (kultivator Pengendali Awan sebelumnya) berdiri sendirian melawan seratus musuh. Mereka semua menyerang bersamaan, dan Arya hanya mengangkat satu tangan. "Kubah Hujan Es!" Cakra meniru gerakan itu. Ia menghentakkan tombaknya ke tanah, dan langit merespon. Awan turun dengan cepat. Bahkan terlalu cepat untuk dilihat dan meledak menjadi hujan es yang brutal. Tapi bukan hujan es biasa. Setiap kristal es itu sebesar kepalan tangan, tajam seperti pisau, dan jatuh dengan kecepatan peluru. Surya terpaksa berhenti menyerang. Dia menggunakan pedangnya untuk menangkis hujan es yang brutal. Tapi ada terlalu banyak, puluhan bola es mengenai tubuhnya, memotong jubah merahnya, dan melukai kulitnya. Dia terpaksa mundur, berlindung di balik formasi anggota kultus lainnya. Cakra berdiri di tengah hujan es ciptaannya sendiri, tapi es itu tidak menyentuhnya, melainkan mengalir di sekelilingnya seperti air di sekeliling batu. "Sekarang..." kata Cakra dingin, "...aku yang akan menyerang." Cakra melompat tinggi dengan ketinggian yang tidak wajar, didorong oleh angin yang ia kendalikan. Di udara, ia mengangkat kedua tangannya, dan awan-awan di atas berputar lebih cepat. "HUJAN PEDANG AWAN!" Ribuan pedang es terbentuk di langit, jauh lebih banyak dari kemarin dan mereka semua mengarah ke bawah, ke formasi Kultus Dewa Hujan. Agni akhirnya bergerak. "Formasi Pertahanan Tujuh Lapis! SEKARANG!" Lima puluh anggota kultus mengangkat tangan mereka bersamaan, energi spiritual mereka bergabung membentuk kubah merah raksasa yang melindungi mereka semua. Ribuan pedang es menghantam kubah itu. CLANG! CLANG! CLANG! Suara logam bertabrakan menggema ke seluruh pelosok desa. Pertahanan mereka melemah dan retakan-retakan kecil mulai muncul. Cakra menambah tekanan. Ia menarik lebih banyak energi dari Inti Awan, memaksa lebih banyak pedang terbentuk, menambah kecepatan dan kekuatan serangannya. Kubah merah mulai pecah. "MUNDUR!" perintah Agni. "Kita mundur sekarang!"Indra sendirian bisa menandingi Cakra dalam Sinkronisasi Parsial, berubah menjadi petir murni, menyerang dari mana-mana sekaligus.Dewi Bulan menciptakan ilusi yang begitu sempurna hingga Cakra hampir menyerang Xander beberapa kali.Dewa Bintang memanipulasi gravitasi, membuat setiap gerakan Cakra seperti membawa gunung di punggung.Dewa Matahari membakar dengan panas yang bisa melelehkan batu dan Xander harus terus menyerap serangan ini atau Cakra akan terpanggang hidup-hidup.Dewi Angin mengambil kendali atas angin di Domain Cakra, pertama kalinya ada yang bisa melakukan itu.Dewa Guntur menyambar dengan petir yang jauh lebih kuat dari apa pun yang bisa Cakra ciptakan.Dan Dewi Hujan... ia adalah kebalikan langsung Cakra, mengendalikan air, bukan awan. Setiap tetes hujannya adalah peluru yang mengejar tanpa henti.Lima menit pertama, Cakra dan Xander bertahan dengan susah payah.Sepuluh menit kemudian, Xander
Hari kelima, mereka tiba di Reruntuhan Kuno, tempat di mana katanya Pengendali Awan pertama pernah bermeditasi lima ribu tahun lalu.Reruntuhan itu megah meski hancur, pilar-pilar batu raksasa masih berdiri, diukir dengan rune-rune kuno yang masih berpendar samar. Di tengah, sebuah altar batu dengan ukiran awan yang berputar."Tempat yang tepat untuk pertarungan terakhir," kata Xander, menatap sekeliling.Cakra berjalan ke altar dan saat jari-jarinya menyentuh ukiran itu, Inti Awan beresonansi kuat. Sebuah visi melintas di pikirannya...Pengendali Awan pertama, berdiri di tempat yang sama, menghadapi tujuh Dewa Tertinggi versi lima ribu tahun lalu. Pertempuran yang mengguncang langit dan bumi. Pertempuran yang akhirnya sang Pengendali Awan menang, tapi dengan harga sangat mahal. Ia mati setelah pertempuran, tapi warisannya hidup selamanya.Visi menghilang. Cakra terengah, merasakan beban sejarah yang berat di bahunya."
Ketukan di pintu memecah momen mereka.Xander masuk, wajahnya serius tampak. "Dewan Kota mengadakan pertemuan darurat. Mereka ingin kau hadir."Balai Kota Nusantara penuh sesak, ratusan kultivator senior, pemimpin guild, kepala sekte, dan perwakilan dari berbagai organisasi. Semua duduk dengan wajah tegang.Kaisar Pedang berdiri di podium, menatap Cakra yang baru masuk."Cakra Samudra," katanya dengan suara yang bergema ke seluruh aula. "Kami telah mendengar kabar yang dibawa oleh Pangeran Arkan sebelum ia dan aliansinya pergi. Bahwa Dewan Dewa Tertinggi akan datang dalam dua minggu."Bisikan kalut menyebar di seluruh aula."Dan kami mengadakan pertemuan ini," lanjut Kaisar Pedang, "untuk memutuskan apa yang akan dilakukan Nusantara."Ia menatap sekeliling. "Ada dua pilihan. Pertama, kita evakuasi kota. Semua penduduk pergi, tersebar ke berbagai tempat, biarkan kota ini kosong saat Dewa Tert
Tiga jam kemudian, Cakra akhirnya bisa duduk meski tubuhnya masih terasa seperti dihancurkan dan disusun kembali.Mereka berada di kamp medis sementara yang didirikan di pinggir dataran. Amara tidak meninggalkannya sedetik pun. Gadis itu duduk di sampingnya sambil terus menyalurkan energi penyembuhan dengan lembut.Pangeran Arkan dan kelima penguasa lainnya juga dalam perawatan di kamp terpisah, dijaga ketat. Mereka kalah, tapi masih hidup dan masih berbahaya bagi Cakra.Kaisar Pedang masuk ke tenda Cakra, wajahnya tampak serius."Pangeran Arkan ingin bicara denganmu," katanya. "Sendirian."Cakra menatap Amara yang mengangguk enggan. "Aku akan menunggu di luar. Berteriak lah jika terjadi sesuatu."Pangeran Arkan masuk dengan susah payah, tubuhnya diperban di mana-mana, lengan kanannya di gendongan. Tapi matanya masih menatap tajam, masih penuh dengan kecerdasan.Ia duduk dengan hati-hati di kursi di s
Langit berubah. Awan-awan berkumpul, tidak ratusan, tapi ribuan, menutupi seluruh dataran dalam kegelapan. Petir mulai menyambar, puluhan per detik, masing-masing mengejar keenam Dewa Sejati dengan akurasi sempurna.Hujan turun tapi bukan hujan biasa. Setiap tetes mengandung energi spiritual padat yang meledak saat menyentuh tanah.Angin bertiup kencang membawa pisau-pisau udara tak terlihat yang memotong apa pun yang dilewati.Dan dari awan itu, naga-naga awan raksasa muncul, puluhan naga, masing-masing sebesar gedung, semua menyerang keenam Dewa Sejati bersamaan.Ini bukan lagi pertarungan satu lawan enam... Tapi TAK TERBATAS, melawan Enam Dewa Sejati.Ini adalah seluruh langit melawan enam Dewa Sejati. Dan langit tidak bisa kalah.Menit Pertama...Pangeran Arkan bertahan dengan kesulitan. Tombak Penghakiman Langitnya menangkis petir, tapi terlalu banyak. Beberapa lolos, membakar lengannya, meretakkan armornya.
Mereka menghabiskan sisa malam itu dalam pelukan, tidak bicara, tidak perlu kata-kata. Hanya kehadiran satu sama lain, kehangatan yang mungkin terakhir kali mereka rasakan.Saat fajar mulai menyingsing, Cakra perlahan melepaskan pelukan."Waktunya," bisiknya.Amara mengangguk, mencoba tersenyum meski hatinya hancur. "Aku akan menonton dari kejauhan. Dan aku akan menyembuhkanmu setelah kau menang.""Setelah aku menang," ulang Cakra, sebuah janji pada dirinya dan padanya.Dataran Tak Berujung terhampar luas, area datar yang membentang bermil-mil tanpa satu pohon pun, tanpa satu batu besar pun. Tempat sempurna untuk pertarungan skala besar tanpa kolateral damage.Saat Cakra tiba dengan Xander dan Amara, ribuan kultivator sudah berkumpul di pinggiran dataran, menonton dari jarak aman. Ini akan menjadi pertempuran yang tercatat dalam sejarah, dan semua ingin menyaksikan.Di tengah dataran, enam sosok menunggu.







