เข้าสู่ระบบCakra dan Rafael sampai kembali ke desa saat matahari hampir tenggelam.
Cakra masih terengah-engah, tubuhnya lelah tapi ada kepuasan aneh di dadanya. Untuk pertama kalinya, ia merasakan kekuatan Inti Awan yang terkendali, yang bisa ia gunakan tanpa takut hancur. "Kau melakukannya dengan baik," puji Rafael saat mereka berjalan melewati sawah yang mulai hijau kembali berkat hujan kemarin. "Tapi ini baru permulaan. Kultus Dewa Hujan tidak akan menyerah. Mereka akan datang lagi, dengan kekuatan yang lebih besar." "Aku akan siap!" Jawab Cakra. Rafael menatapnya. "Apa kau benar-benar siap? Karena pertempuran berikutnya, mereka tidak akan datang hanya untuk membunuhmu. Mereka akan mengincar Amara. Karena merekalah yang seharusnya mendapatkan kekuatan penyembuhnya di altar itu." Jantung Cakra mencelos. "Mereka takkan kubiarkan menyentuh Amara. Aku bersumpah." "Sumpah saja tidak cukup." Ucap Rafael, berhenti berjalan. "Kau harus tahu kebenaran tentang Amara Kusuma." Cakra berbalik, dahinya berkerut. "Kebenaran apa?" Rafael menghela napas panjang, seperti sedang memikul beban yang berat. "Amara bukan manusia biasa. Energi penyembuhnya, sayap cahayanya, itu semua adalah tanda dari leluhurnya yang tidak sepenuhnya manusia." "Apa maksudmu?" Tanya Cakra serius. "Tiga generasi yang lalu, nenek buyut Amara adalah seorang Bidadari yang jatuh dari Istana Langit. Dia dibuang karena mencintai manusia dan memilih hidup di bumi. Darah spiritual bidadari itu mengalir tipis di keluarga Kusuma, dan Amara adalah yang pertama dalam tiga generasi, dengan kekuatan yang terbangun secara sempurna." Cakra terdiam, mencerna informasi itu. Banyak hal yang tiba-tiba masuk akal. Kenapa energi Amara begitu murni, kenapa makhluk spiritual mengincarnya, kenapa sayap itu muncul. "Lalu kenapa Amara tidak tahu tentang semua ini?" tanya Cakra. "Karena keluarga Kusuma menyembunyikannya," jawab Rafael. "Mereka takut jika Amara tahu, dia akan dicari oleh Istana Langit dan para Bidadari tidak pernah memaafkan pengkhianatan. Mereka akan membunuh Amara untuk menghilangkan NODA dalam garis keturunan mereka." Kemarahan mulai membara di dada Cakra. "Jadi semua orang menginginkan dia mati? Kultus menginginkan kekuatannya. Istana Langit menginginkan darahnya hilang. Pemakan Jiwa menginginkan energinya..." "Dan hanya kau," potong Rafael, "yang menginginkan dia hidup tanpa mengharap imbalan apa pun dari Amara." Kata-kata itu membungkam Cakra. Rafael benar! Ia tidak peduli tentang kekuatan Amara, tentang darahnya, tentang apa yang bisa ia dapat dari gadis itu. Ia hanya ingin Amara hidup, tersenyum, dan bahagia. "Makanya kau harus menjadi lebih kuat," lanjut Rafael. "Cukup kuat untuk melawan semua yang mengincarnya. Cukup kuat untuk mengubah takdir yang sudah ditulis untuk kalian berdua." Cakra menatap langit yang mulai gelap. Bintang-bintang mulai muncul dan untuk pertama kalinya, ia tidak melihat mereka sebagai hiasan indah, tapi sebagai mata yang mengawasi, menilai, dan menunggu kegagalannya. "Aku akan menjadi lebih kuat," ucap Cakra pelan tapi tegas. "Apa pun yang terjadi." --- Cakra mendatangi rumah keluarga Kusuma tepat saat malam sepenuhnya turun. Wulan membukakan pintu, wajahnya terlihat lebih tua dari biasanya, kantung mata yang dalam, garis kekhawatiran terlukis di dahinya. "Amara di dalam," ucap Wulan. "Dia... berubah sejak beberapa hari ini." "Berubah bagaimana?" tanya Cakra, khawatir. Wulan ragu sejenak. "Dia mulai melihat hal-hal aneh. Mendengar suara-suara. Tadi pagi, dia bilang ada seseorang memanggilnya, suara dari langit, katanya. Suara yang menyuruhnya pulang." Jantung Cakra berdebar cepat. Istana Langit sudah mulai memanggil Amara. Ia masuk ke kamar Amara tanpa mengetuk. Gadis itu duduk di tepi tempat tidur, menatap kosong ke arah jendela. Sayap cahayanya muncul sebagian, redup, berkilau lemah, seperti sedang bergumul dengan sesuatu. "Amara," panggil Cakra lembut. Dia menoleh dan Cakra nyaris mundur. Mata Amara berbeda. Bukan lagi coklat hangat yang ia kenal, tapi berpendar keemasan samar, seperti ada sesuatu yang lain memandang melalui matanya. "Cakra," suara Amara juga terdengar aneh seperti ada gema kedua di dalamnya. "Aku... aku tidak tahu apa yang terjadi padaku." Cakra langsung duduk di sampingnya, menggenggam tangannya. Kulit Amara terasa lebih dingin dari biasanya. "Ceritakan padaku," pinta Cakra. Amara menarik napas, tangannya gemetar. "Sejak kejadian di altar itu... sejak sayap ini muncul... aku terus mendengar suara. Suara yang indah tapi menyakitkan. Mereka memanggilku Adhara, katanya itu namaku yang sebenarnya. Mereka bilang aku bukan Amara Kusuma. Aku adalah... Bidadari yang tersesat." Air mata mulai mengalir di pipinya. "Tapi aku tidak ingat apa pun tentang itu. Aku hanya ingat hidup di sini, di desa ini, bersamamu, bersama ibu, bersama semua orang yang kucintai. Kenapa mereka mengatakan itu semua adalah dusta?" Cakra menarik Amara ke pelukan. Amara menangis di dadanya, tubuhnya gemetar. "Dengarkan aku," pinta Cakra, suaranya tegas tapi lembut. "Aku tidak peduli siapa kau sebelumnya. Aku tidak peduli apa yang dikatakan suara-suara itu. Bagiku, kau adalah Amara Kusuma. Gadis yang memberi makan burung setiap pagi. Yang takut petir tapi tetap berani keluar saat aku dalam bahaya. Yang tersenyum meski dunia mencoba menghancurkanmu." Cakra menangkup wajah Amara, memaksa gadis itu menatap matanya. "Dan kau adalah orang yang paling penting dalam hidupku. Itu tidak akan berubah, apa pun yang terjadi." Amara menatap Cakra dan perlahan, pendar keemasan di matanya mulai memudar. Warna coklat hangatnya kembali. Sayap yang setengah muncul perlahan menghilang. "Cakra..." bisik Amara. "Aku takut. Takut suatu hari aku akan menghilang dan menjadi seseorang yang tidak kukenal." "Itu tidak akan terjadi," Cakra bersumpah. "Karena aku akan selalu mengingatkanmu siapa kau sebenarnya. Selalu!" Mereka duduk seperti itu untuk waktu yang lama, hanya berdua, dalam keheningan yang hangat, sementara dunia di luar bersiap untuk menghancurkan mereka. --- Tengah malam, Cakra terbangun dari tidurnya yang gelisah. Ia tidur di lantai kamar Amara. Wulan mengizinkan Cakra tinggal untuk menjaga putrinya. Alunan suara nan halus membuat Cakra terbangun. Dia mendengar suara Amara mengigau dalam tidurnya. Tapi ini bukan suara mimpi biasa... Cakra berdiri, mendekati tempat tidur. Amara masih tertidur, tapi bibirnya bergerak, berbisik dalam bahasa yang tidak Cakra mengerti. Bahasa kuno, penuh dengan nada melodi yang membuat udara bergetar. Dan kemudian, sesuatu yang mengerikan terjadi! Sayap Amara muncul, tapi kali ini sepenuhnya, lebih besar dari sebelumnya, lebih bercahaya. Mereka mengembang memenuhi ruangan, dan dari sayap itu, cahaya mulai merembes keluar, membentuk pola rumit di udara, seperti segel atau mantra. "Adhara... pulanglah... kau bukan milik dunia ini..." Suara itu datang dari sayap itu sendiri, suara wanita yang anggun tapi dingin. Cakra langsung bereaksi. Ia menggenggam tangan Amara. "BANGUN! Amara, bangunlah!" Sayangnya Amara tidak merespon. Tubuhnya mulai terangkat dari tempat tidur, melayang perlahan ke arah jendela yang terbuka. Sayapnya bergerak seperti punya kehendak sendiri, menariknya keluar. "TIDAK!" Cakra menarik Amara kembali, tapi kekuatan dari sayap itu terlalu kuat. Ia hampir terseret juga. Rafael tiba-tiba muncul di ambang jendela, melompat masuk dengan gerakan gesit yang tidak sesuai dengan usianya. "Ini adalah Pemanggilan Istana Langit! Jika dia keluar dari jendela ini, dia akan terbang langsung ke Istana Langit dan tidak akan pernah kembali!" "Apa yang harus kulakukan?!" teriak Cakra, masih mencoba menahan Amara. "Putuskan koneksinya! Gunakan Inti Awanmu, energi langit akan merespon energi langit lainnya. Itu satu-satunya cara!" Cakra tidak ragu. Ia memanggil Inti Awan di dadanya, energi biru terang meledak keluar, mengalir ke tangannya. Ia menekan tangannya di dada Amara, tepat di atas jantungnya. Cahaya biru bertemu dengan cahaya emas! Seketika, sebuah visi menyerang Cakra. Ia melihat Amara, tapi juga melihat sosok yang lain. Sosok cantik dengan sayap megah, berdiri di istana awan yang indah. Tapi wajahnya sedih, karena ia menatap ke bawah, ke dunia manusia, ke seseorang yang ia cintai. Dan kemudian, bidadari itu melompat, memilih jatuh, kehilangan sayap, menjadi manusia, semuanya demi cinta. Amara bukan reinkarnasi Bidadari itu, Cakra mengerti. Tapi Bidadari itu adalah leluhurnya. Dan pilihan itu, cinta itu, mengalir dalam darah Amara. Cakra menarik energinya lebih dalam. "AMARA! Ingat siapa dirimu! Ingat pilihanmu sendiri! Kau bukan Adhara! Kau adalah Amara Kusuma, dan kau memilih tetap tinggal di sini!" Suara dari sayap itu melemah. "Adhara... tidak... kau harus..." "TIDAK!" Teriak Cakra. "Dia bukan milikmu!" Cahaya biru dari Inti Awannya meledak memenuhi seluruh ruangan, menyelimuti Amara sepenuhnya. Koneksi emas yang menariknya ke Istana Langit mulai retak, kemudian hancur berkeping-keping. Amara jatuh kembali ke atas tempat tidur, sayapnya menghilang seketika. Ia terengah, keringat membasahi dahinya, tapi matanya terbuka dan kembali berwarna coklat hangat. "Cakra...?" bisiknya lemah. Cakra memeluk Amara erat. "Kau aman. Kau sudah aman sekarang!" Rafael berdiri di sudut ruangan, menatap mereka dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Kau baru saja memutus Pemanggilan Istana Langit. Itu belum pernah dilakukan oleh siapa pun selama seribu tahun." Rafael terdiam sejenak. "Istana Langit tidak akan memaafkan perbuatanmu. Mereka akan mengirim pemburu." Cakra mendongak, matanya berpendar dengan tekad. "Biarkan mereka datang. Aku akan mengalahkan siapa pun yang mencoba memisahkan kami." Rafael tersenyum tipis, senyuman bangga yang dicampur kesedihan. "Ya. Kau benar-benar penerus tuanku yang dulu." Di luar jendela, langit bergemuruh. Bukan gemuruh biasa, tapi peringatan dari Istana Langit yang tersinggung pada perbuatan Cakra.Indra sendirian bisa menandingi Cakra dalam Sinkronisasi Parsial, berubah menjadi petir murni, menyerang dari mana-mana sekaligus.Dewi Bulan menciptakan ilusi yang begitu sempurna hingga Cakra hampir menyerang Xander beberapa kali.Dewa Bintang memanipulasi gravitasi, membuat setiap gerakan Cakra seperti membawa gunung di punggung.Dewa Matahari membakar dengan panas yang bisa melelehkan batu dan Xander harus terus menyerap serangan ini atau Cakra akan terpanggang hidup-hidup.Dewi Angin mengambil kendali atas angin di Domain Cakra, pertama kalinya ada yang bisa melakukan itu.Dewa Guntur menyambar dengan petir yang jauh lebih kuat dari apa pun yang bisa Cakra ciptakan.Dan Dewi Hujan... ia adalah kebalikan langsung Cakra, mengendalikan air, bukan awan. Setiap tetes hujannya adalah peluru yang mengejar tanpa henti.Lima menit pertama, Cakra dan Xander bertahan dengan susah payah.Sepuluh menit kemudian, Xander
Hari kelima, mereka tiba di Reruntuhan Kuno, tempat di mana katanya Pengendali Awan pertama pernah bermeditasi lima ribu tahun lalu.Reruntuhan itu megah meski hancur, pilar-pilar batu raksasa masih berdiri, diukir dengan rune-rune kuno yang masih berpendar samar. Di tengah, sebuah altar batu dengan ukiran awan yang berputar."Tempat yang tepat untuk pertarungan terakhir," kata Xander, menatap sekeliling.Cakra berjalan ke altar dan saat jari-jarinya menyentuh ukiran itu, Inti Awan beresonansi kuat. Sebuah visi melintas di pikirannya...Pengendali Awan pertama, berdiri di tempat yang sama, menghadapi tujuh Dewa Tertinggi versi lima ribu tahun lalu. Pertempuran yang mengguncang langit dan bumi. Pertempuran yang akhirnya sang Pengendali Awan menang, tapi dengan harga sangat mahal. Ia mati setelah pertempuran, tapi warisannya hidup selamanya.Visi menghilang. Cakra terengah, merasakan beban sejarah yang berat di bahunya."
Ketukan di pintu memecah momen mereka.Xander masuk, wajahnya serius tampak. "Dewan Kota mengadakan pertemuan darurat. Mereka ingin kau hadir."Balai Kota Nusantara penuh sesak, ratusan kultivator senior, pemimpin guild, kepala sekte, dan perwakilan dari berbagai organisasi. Semua duduk dengan wajah tegang.Kaisar Pedang berdiri di podium, menatap Cakra yang baru masuk."Cakra Samudra," katanya dengan suara yang bergema ke seluruh aula. "Kami telah mendengar kabar yang dibawa oleh Pangeran Arkan sebelum ia dan aliansinya pergi. Bahwa Dewan Dewa Tertinggi akan datang dalam dua minggu."Bisikan kalut menyebar di seluruh aula."Dan kami mengadakan pertemuan ini," lanjut Kaisar Pedang, "untuk memutuskan apa yang akan dilakukan Nusantara."Ia menatap sekeliling. "Ada dua pilihan. Pertama, kita evakuasi kota. Semua penduduk pergi, tersebar ke berbagai tempat, biarkan kota ini kosong saat Dewa Tert
Tiga jam kemudian, Cakra akhirnya bisa duduk meski tubuhnya masih terasa seperti dihancurkan dan disusun kembali.Mereka berada di kamp medis sementara yang didirikan di pinggir dataran. Amara tidak meninggalkannya sedetik pun. Gadis itu duduk di sampingnya sambil terus menyalurkan energi penyembuhan dengan lembut.Pangeran Arkan dan kelima penguasa lainnya juga dalam perawatan di kamp terpisah, dijaga ketat. Mereka kalah, tapi masih hidup dan masih berbahaya bagi Cakra.Kaisar Pedang masuk ke tenda Cakra, wajahnya tampak serius."Pangeran Arkan ingin bicara denganmu," katanya. "Sendirian."Cakra menatap Amara yang mengangguk enggan. "Aku akan menunggu di luar. Berteriak lah jika terjadi sesuatu."Pangeran Arkan masuk dengan susah payah, tubuhnya diperban di mana-mana, lengan kanannya di gendongan. Tapi matanya masih menatap tajam, masih penuh dengan kecerdasan.Ia duduk dengan hati-hati di kursi di s
Langit berubah. Awan-awan berkumpul, tidak ratusan, tapi ribuan, menutupi seluruh dataran dalam kegelapan. Petir mulai menyambar, puluhan per detik, masing-masing mengejar keenam Dewa Sejati dengan akurasi sempurna.Hujan turun tapi bukan hujan biasa. Setiap tetes mengandung energi spiritual padat yang meledak saat menyentuh tanah.Angin bertiup kencang membawa pisau-pisau udara tak terlihat yang memotong apa pun yang dilewati.Dan dari awan itu, naga-naga awan raksasa muncul, puluhan naga, masing-masing sebesar gedung, semua menyerang keenam Dewa Sejati bersamaan.Ini bukan lagi pertarungan satu lawan enam... Tapi TAK TERBATAS, melawan Enam Dewa Sejati.Ini adalah seluruh langit melawan enam Dewa Sejati. Dan langit tidak bisa kalah.Menit Pertama...Pangeran Arkan bertahan dengan kesulitan. Tombak Penghakiman Langitnya menangkis petir, tapi terlalu banyak. Beberapa lolos, membakar lengannya, meretakkan armornya.
Mereka menghabiskan sisa malam itu dalam pelukan, tidak bicara, tidak perlu kata-kata. Hanya kehadiran satu sama lain, kehangatan yang mungkin terakhir kali mereka rasakan.Saat fajar mulai menyingsing, Cakra perlahan melepaskan pelukan."Waktunya," bisiknya.Amara mengangguk, mencoba tersenyum meski hatinya hancur. "Aku akan menonton dari kejauhan. Dan aku akan menyembuhkanmu setelah kau menang.""Setelah aku menang," ulang Cakra, sebuah janji pada dirinya dan padanya.Dataran Tak Berujung terhampar luas, area datar yang membentang bermil-mil tanpa satu pohon pun, tanpa satu batu besar pun. Tempat sempurna untuk pertarungan skala besar tanpa kolateral damage.Saat Cakra tiba dengan Xander dan Amara, ribuan kultivator sudah berkumpul di pinggiran dataran, menonton dari jarak aman. Ini akan menjadi pertempuran yang tercatat dalam sejarah, dan semua ingin menyaksikan.Di tengah dataran, enam sosok menunggu.







