LOGINPetualangan Pendekar Golok Naga Biru.Golok Naga Biru adalah senjata pusaka yang sakti mandraguna. Siapa saja yang memiliki senjata pusaka ini maka bisa dipastikan dia akan menjadi seorang pendekar besar dan dapat menguasai dunia persilatan. Telah banyak jatuh korban dari kalangan pendekar dalam upaya pencarian dan perebutan senjata pusaka tersebut. Seorang petapa tua mengatakan bahwa Golok Naga Biru hanya akan berjodoh kepada seseorang yang mempunyai hati yang bersih dan lurus.
View MoreSepuluh langkah lagi melewati orang tersebut. Tiba tiba terdengar suara sember dan serak.
"Cukup sampai disitu langkahmu Tirtayasa, letakan benda yang kau bawa dan pergilah agar kau bisa meneruskan hidupmu." Orang itu tertawa kemudian berdiri.
"Benda apa yang kisanak maksud?". Jawab Tirtayasa dengan tenang.
"Jangan banyak berkilah Tirtayasa, kami diperintahkan ketua kami Kuda Hitam untuk merebut benda apa saja yang kau bawa.Sebaiknya kau letakan dan pergi dari sini" Tegas orang di depan Tirtayasa.
"Tentu saja hal itu tidak dapat aku lakukan kisanak. Apalagi aku tidak tahu barang yang kau maksud." Tirtayasa menimpali.
"Kau akan menyesal Tirtayasa telah berurusan dengan Bayangan Setan". Setelah berkata orang itu bersiul dan munculah dua orang dari balik pohon bersenjatakan tongkat yang sama dengan Bayangan Setan. Langsung menyerang Tirtayasa dibagian kaki dan kepala.
Tirtayasa yang sudah waspada sejak awal segara mundur untuk menghindari serangan dari orang orang Bayangan Setan.Tapi dua orang itu langsung memburu dengan serangan beruntun. Tapi nampaknya dua orang itu masih jauh dibawah Tirtayasa yang merupakan Ketua Perguruan Golok Khayangan.
Sampai satu waktu Tirtayasa berhasil memukul dada salah satu dari dua orang penyerang sampai terlempar kebelakang sekitar dua tombak. Dan satu orang lagi terkena tendangan di perut hingga tersungkur dan meringis menahan sakit.
Tampak darah mengucur dari mulut mereka menandakan ada luka dalam akibat pukulan dan tendangan yang dilancarkan Tirtayasa.
"Kalian mundurlah,biar aku yang menghadapi tua bangka itu."Teriak Ketua Bayangan Setan kepada dua orang bawahan nya.
Bayangan Setan kemudian meningkatkan tenaga dalamnya hal ini membuat kerikil disekitar Bayangan Setan bergetar. Selain untuk meningkatkan tenaga tempur nya hal ini dimaksudkan untuk mengintimidasi lawan.
Tapi Tirtayasa bukan pendekar kemarin sore. Dia adalah ketua dari perguruan aliran putih yang paling kuat saat ini di wilayah utara tanah Pasundan.
"Apakah hanya itu kemampuanmu Bayangan Setan?" Ucap Tirtayasa sambil tersenyum.
"Diam kau tua bangka." Teriak Bayangan Setan sambil menyerang Tirtayasa. Suara tongkat kepala singa menderu menyerang ke arah kepala dan tubuh Tirtayasa.
Tirtayasa berhasil mengelak dengan kaki mundur selangkah.Tidak cukup disitu setelah berhasil menghindar serangan dari Bayangan Setan. Tirtayasa mencoba untuk menyapu kaki Bayangan Setan. Bayangan Setan langsung berjumpalitan ke belakang kemudian menggenjot kaki ketika menyentuh tanah kembali menyerang Tirtayasa.
"Jurus Tongkat Setan Menggedor Batu Karang."
Tongkat Bayangan Setan yang pada awal nya hanya satu, sekarang tampak seperti tiga tongkat yang mengarah kepala, tubuh dan kaki Tirtayasa. Inilah keunggulan jurus dari Bayangan Setan, pendekar biasa akan kesulitan menentukan tongkat mana yang asli.
"Jurus murahan Bayangan Setan. Hahaha" kata Tirtayasa sambil memutar tangan searah jarus jam.Terlihat seperti perisai keemasan menahan datangnya tongkat Bayangan Setan.
"Blarr"
Beradunya perisai dan dengan senjata Bayangan Setan mengeluarkan suara ledakan yang cukup besar. Gelombang energi seperti riak air terjadi akibat benturan itu. kerikil berhamburan menjauhi keduanya.
Dua orang pembantu Bayangan Setan yang berada sekitar tempat pertarungan itu terkena imbas dari gelombang energi itu, bagaimana tidak tenaga dalam mereka masih belum cukup besar untuk bertahan dan mengakibatkan tubuh mereka ikut terdorong kebelakang dan berhenti setelah membentur pohon yang cukup besar.
"Tak kusangka tua bangka ini berada sekitar dua tingkat diatasku. " guman Bayangan Setan seraya menarik tongkatnya yang tadi berbenturan dengan perisai emas milik Tirtayasa.
"Jangan dulu besar kepala Tirtayasa karena kau berhasil menahan jurusku. Rasakan ini. Hiyaaa!!" Bayangan Setan melesat dengan kecepatan luar biasa.
Tiba tiba Bayangan Setan berada di belakang Tirtayasa. Hal ini tentu saja tidak luput dari penglihatan Tiryasaya yang memang kemampuan diatas Bayangan Setan.
Ketika tongkat hampir mengenai punggungnya. Dalam sekejap Tirtayasa berbalik dan berhasil memegang kepala tongkat. Bayangan Setan kaget tidak menyangka bahwa serangannya akan dengan mudah dimentahkan oleh Tirtayasa. Dia mencoba menarik tongkatnya tapi tidak bisa seakan akan tertancap di batu.
Tirtayasa menyeringai.
"Cukup Bayangan Setan. Aku tidak cukup banyak waktu untuk bermain main." Ucap Tirtayasa kemudian menarik tongkat Bayangan Setan sehingga dia ikut tertarik.
"Bukk". "Aakhh."
Suara tendangan kaki Tirtayasa yang disertai tenaga dalam mengenai dada Bayangan Setan kemudian disertai teriakan nya tubuhnya ikut terlempar empat tombak kebelakang. Napasnya terasa sesak dan pandangan nya sedikit nanar. Dua bawahan Bayangan Setan pun cukup kaget yang sedari tadi melihat kejadian itu dan hanya bisa menelan ludah saja.
"Kalian berdua jangan bengong saja, bodoh. Bantu aku menghabisi tua bangka ini. Gunakan Jurus Setan Menggempur. Bayangan Setan beserta kedua anak buahnya segera mengepung Tirtayasa dari ketiga arah. Inilah jurus yang diciptakan oleh Bayangan Setan. Jurus ini memusatkan lawan berada ditengah-tengah agar tidak dapat melarikan diri pada saat diserang.
Hiyyaa!
Orang sebelah kanan menyerang kaki Tirtayasa dapat dielakan dengan mudah, kemudian disusul serangan bawahan Bayangan Setan sebelah kiri mengarah kepala Tirtayasa.
Tidak sampai disitu Bayangan Setan pun menyerang dari depan. Jual beli serangan pun terjadi tapi tidak ada serangan dari Bayangan Setan dan bawahanya yang mengenai Tirtayasa.
"Cukup sampai disini Bayangan Setan" berkata Tirtayasa. Kemudian dia melenting keatas kemudian bersalto dan menukik bermaksud mengeluarkan Jurus Naga Biru Menggetarkan Bumi.
Dengan telapak tangan kanannya kebawah dan mengerahkan setengah dari tenaga dalam nya membuat ketiga lawan tidak bisa bergerak sama sekali seperti ditahan dengan himpitan tenaga yang besar.
"Kenapa aku tidak bisa bergerak" Berkata Bayangan Setan dalam hati. Dengan wajah pucat ketiga nya hanya pasrah menerima Ajian yang dikeluarkan oleh Tirtayasa.
Ketika tangan kanan Tirtayasa sejengkal lagi mengenai tanah. Tanah di sekitar nya terasa bergetar dan gelombang energi keluar dari tubuh Tirtayasa mengarah pada ketiga lawannya.
Akh!
Ketiga lawannya terlempar kebelakang sejauh sepuluh tombak dan tergeletak diatas tanah. Nampak hanya Bayangan Setan yang masih bernapas tersengal sengal. Dua bawahannya nampak tak bergerak mati terkena gelombang energi yang dilepaskan Tirtayasa.
Uhukk!
Darah segar keluar dari mulut Bayangan Setan. Dengan samar dia melihat Tirtayasa melangkah mendekatinya.
"Bunuh saja aku Tirtayasa" Berkata Bayangan Setan.
"Tidak, aku tidak mempunyai urusan apapun denganmu Bayangan Setan" Tirtayasa menimpali sambil berdiri di samping Bayangan Setan.
"Tolong bunuh saja aku, Ketua Kuda Hitam tidak akan membiarkan aku hidup setelah kegagalan ini. Dia senang menyiksa anak buahnya ketika gagal menjalankan tugas yang dia berikan. uhhukk!"
Tirtayasa kemudian berbalik dan melesat meninggalkan Bayangan Setan yang terbaring di tanah dengan darah yang keluar dari mulutnya. Dia tahu lambat laun orang itu akan mati, entah diserang binatang buas atau mati dibunuh anak buah Kuda Hitam yang tersebar di segala penjuru.
Tanpa membuang waktu keesokan paginya mereka berempat. Dipa,Kanaka, Pariga dan Anjani beranagkat ke Gunung Tangkuban Perahu untuk menemui Nyi Wiwara. Dengan menggunakan ilmu meringakan tubuh perjalanan akan lebih cepat walaupun sedikit menguras tenaga dalam mereka.Mereka tiba dikaki gunung Tangkuban Perahu menjelang malam. Dan akhirnya mereka sepakat untuk meneruskan perjalanan keesokan harinya. Menjelang matahari terbit kabutpun masih tebal ketika mereka berempat memulai perjalannnya kembali.Tepat di puncak Gunung Tangkuban Perahu, disebuah tanah lapang yang cukup asri dengan rumah kayu yang sederhana, nampak kepulan asap tipis membumbung dari cerobong asap yang terdapat dibagian belakang rumah itu. Pepohonan rimbun yang ada disekitar tanah lapang itu semakin membuat suasana yang cukup nyaman untuk orang yang tinggal disana dengan udara sejuk khas pegunungan.Dipa dan ketiga rekannya tiba dipelataran rumah kayu itu tepat tengah hari."Tempat yang cukup nyaman." Anjani bergumam.Kem
Dipa masih terkapar diatas tanah setelah bentrokan itu. Kanaka dan Pariga akhirnya membawa Dipa ke salah satu bangunan yang belum hancur untuk dilalukan pengobatan. Golok Naga Biru masih tergelak di atas tanah tidak ada yang sanggup memindahkannya.Begitupun dengan Serongpati akhirnya tewas setelah terluka cukup parah karena pedang Turangga. Jiwa Anjani begitu terguncang karena tewasnya Serongpati apalagi setelah mendapat kabar bahwa neneknya ibu dari Serongpati pun tewas oleh Turangga.Anggota Kelompok Kuda Hitam pun menyerah kepada golongan putih dan untuk sementara dikumpulkan di salah satu bangunan dengan penjagaan ketat. Anjani ditahan diruangan terpisah namun tetap dalam pengawasan.Diruang pengobatan. Dipa tak sadarkan diri seharian penuh namun kekuatan tubuhnya tetap bekerja menyembuhkan luka luka yang dia alami. Dialam bawah sadarnya dia duduk berhadapan dengan Antamarta naga biru yang bersemayam ditubuhnya."Anta kau tahu mengenai lima orang yang menyerang dan menculik Wira
Serongpati membuka matanya perlahan. Tampak seseorang berdiri membelakanginya dengan gagah dan menggenggam Golok Naga Biru."Anak muda kenapa kau menyelamatkanku?"Ucap Serongpati. Anjani berlari menghampiri Serongpati dan Dipa."Nona tolong bawa ayahmu menjauh." Ucap Dipa kepada Anjani. Anjani mengangguk dan membawa Serongpati kearah pepohonan yang masih utuh."Sial, sudah dua kali kau menghalangiku bocah.Bukankah kau hendak memusnahkan Kelompok Kuda Hitam? Lantas kenapa kau menghalangiku membunuh Serongpati?"Ucap Turangga."Aku memang benci akan Kelompok Kuda Hitam, namun aku lebih benci pengkhianat." Balas Dipa."Hahahaha..kau tidak tahu akan berhadapan dengan kekuatan yang tidak bisa kau tandingi anak muda apabila kau berani menghalangiku. Bagi bangsa kami Serongpati hanya alat untuk tujuan kami. Dia sudah terikat perjanjian yang tidak bisa dia batalkan." Ucap Turangga."Uhuuukk..uhhukk." Turangga terbatuk dan memuntahkan darah yang berwarna hitam.Dia jatuh berlutut, tangan kananny
Dipa dan Serongpati mencoba berdiri dengan menopang ke senjatanya masing masing. Napas mereka tersengal sengal dengan darah yang dari mulut. Bentrokan itu bukan saja mengakibatkan ledakan yang memekakan telinga namun membuat luka dalam.Kerusakan diarea pertarungan pun semakin parah. Seluruh tembok benteng gerbang utara hancur. Beberapa orang bahkan menjadi korban karena riak energi dari pertarungan itu."Hahahaha..sungguh aku tak menyangka pertarungan kita sampai sejauh ini."Ucap Serongpati sambil mencoba berdiri.Kanaka dan Pariga memperhatikan Dipa dari kejauhan."Pariga perlukah kita kesana untuk membantunya?"Tanya Kanaka."Kalian jangan mendekat kesini."Satu suara menggema dalam kepala Kanaka dan Pariga. Rupanya Dipa sempat melirik ke arah mereka dan tahu akan maksud mereka untuk ikut dalam pertarungan dan mengirimkan suara jarak jauh.Kanaka dan Pariga kemudian terdiam tidak ingin menggangu pertarungan Dipa.Disisi lain Wira dan Wulan pun telah tiba di gerbang utara. Segera mere
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.