Share

Tragedi di Hutan Timur

Author: Auphi
last update Last Updated: 2025-12-16 13:00:08

Hutan sebelah timur merupakan tempat berburu kerajaan. Sebuah panggung besar sudah berdiri di sana, dikelilingi oleh perkemahan para pejabat.

Orang-orang yang diundang adalah para putri, pangeran, kerabat kerajaan, serta pejabat kelas satu. Tahun ini, perdana menteri absen karena masih dalam masa hukuman.

"Yang mulia, anda terlihat bugar. Chenqie (hamba) jadi senang."

Selir Shu yang duduk di sebelah kanan kaisar berbisik lirih. Matanya feniks-nya mengerling indah.

Permaisuri hanya bisa menahan cemburu. Selir Shu lebih muda sepuluh tahun. Selain itu merupakan wanita paling berbakat yang sudah lama dikagumi kaisar. Mana bisa dibandingkan dengan dirinya, perempuan dari keluarga biasa.

"Yang mulia, apakah anda akan ikut berburu?"

Sayup-sayup suara selir Shu yang lembut menusuk telinga permaisuri.

"Kenapa? Apa aifei (istri tercinta) sedang mengkhawatirkan zhen?"

"Tentu saja. Kalau baginda sampai terluka, bagai
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Waspadalah, Nyonya Tak Sudi Lagi Ditindas   Akhir Bagi Semua Orang

    TIGA TAHUN KEMUDIAN... Ming Lan tengah menyulam sebuah baju hangat sambil memperhatikan si kembar dari kejauhan. Tak terasa kedua anaknya sudah besar, bahkan mulai belajar menulis kanji sederhana. "Xiangye, bukankah terlalu cepat Wen'er dan Heng'er belajar menulis? Lihat, tangan mereka masih kesulitan memegang kuas." "Selagi mereka suka, kenapa harus dihalangi." Fei Yang menyahut enteng. Di hadapannya tumpukan dokumen kerja seakan tak habis diperiksa. Ming Lan kembali mengalihkan tatapan pada kedua putranya. Mereka sedang bermain-main dengan tinta, menciptakan tulisan yang lebih mirip cakar ayam ketimbang kanji. Kalau hanya di kertas, masih tak mengapa. Si bungsu Jing Heng malah mencoret muka kakaknya sambil tertawa-tawa. Wajah serius Jing Wen jadi terlihat aneh. "Sebaiknya kau jangan cari masalah. Nanti kalau d

  • Waspadalah, Nyonya Tak Sudi Lagi Ditindas   Kematian Selir Agung Shu

    Hanya dalam waktu tiga hari, Nan Feng menyeret biarawati yang menyebut dirinya Hong Jie. Meski rambutnya sudah digunduli dan memakai jubah kuning kedodoran, mana mungkin keluarga Chu tak mengenal sosok ini. "Yan yiniang." Suara Fei Yang begitu dingin. "Kukira setelah sekian lama, kau akhirnya bertobat. Ternyata malah semakin menjadi."Menyadari tak ada lagi tempat bersembunyi, wajah penuh welas asih sang biarawati retak berganti dengki. Telunjuknya mengarah pada Ming Lan. "Kalau bukan karena wanita itu, aku juga tak akan jadi begini. Kalian yang membuatku jadi manusia penuh dendam.""Omong kosong!" seru Fei Yang tidak terima. "Sikap serakah yang membuatmu hancur. Jangan suka menyalahkan orang lain."Nyonya tua yang ikut hadir dalam persidangan keluarga, cuma menangis sesenggukan menyaksikan keponakannya yang sudah mirip orang gila. "Yan Yan, kenapa jadi begini? Dulu kau wanita penurut dan baik budi"Penurut dan baik b

  • Waspadalah, Nyonya Tak Sudi Lagi Ditindas   Pembawa Bencana

    Sebulan kemudian... Peringatan satu bulan si kembar diadakan. Ketika acara berlangsung, orang-orang memadati xiangfu. Senyum lebar tak lepas dari wajah nyonya tua. "Sayang sekali, ini akan jadi acara terakhir yang kalian adakan di xiangfu," ujarnya sedih. Setelah perayaan ini, Fei Yang sekeluarga akan pindah ke kediaman besar yang di anugerahkan kaisar. Hanya karena tubuh Ming Lan terlalu lemah selama nifas, mereka belum pindah. "Ibu, kita pergi juga tidak jauh. Masih bisa sering-sering berkunjung."Walau menantunya berkata demikian, hati nyonya tua masih sedih. Apa lagi setelah menyadari hubungan mereka tidak begitu baik selama ini. "Maafkan ibu kalau selama ini ada yang salah. Semua yang terjadi juga karena kelalaianku sebagai orang tua."Ming Lan memegang tangan nyonya tua. Dia hanya mau hidup tenang, melupakan hal buruk di belakang. "Ibu, saya sudah melupakan semua. Mari hidup dengan baik. Yakinlah, kami akan se

  • Waspadalah, Nyonya Tak Sudi Lagi Ditindas   Mengakui Satu Sama Lain

    Musim semi di tahun berikutnya, adalah waktu bagi Ming Lan untuk bersalin. Subuh- subuh perutnya sudah melilit, tetapi sampai siang pembukaan rahim belum sempurna untuk mengejan. Dua persalinan sebelumnya, tidak sesulit ini. "Furen, anda harus bertahan." Xiaoting yang menjadi tabib utama memberi semangat. Dia meletakkan sepotong ginseng di mulut Ming Lan. "Persalinan saya kemarin juga sulit. Kita semua pasti bertahan."Ming Lan menyahut tak jelas sementara peluh sudah membanjiri punggung dan wajahnya. Rasa sakit yang luar biasa membuatnya mulai pesimis. Di luar ruang bersalin, Fei Yang tak kalah panik. Dia berjalan lalu lalang seperti orang linglung. Ming Lan bersalin di usia tidak muda. Sungguh takut terjadi apa-apa. Nyonya tua geleng-geleng kepala sambil menguap. "Kenapa kau begitu panik? Waktu Ming Lan melahirkan Jieyu dan Jiayi, kau masih sempat ikut rapat.""Itu berbeda, Bu.""Apanya yang beda? Masih rasa sakit

  • Waspadalah, Nyonya Tak Sudi Lagi Ditindas   Rongle Masuk Perangkap

    "Kau sepertinya lapar." Tuoba Rui berkata sambil menoleh ke arah putri Rongle yang tanpa sadar sudah melahap dua kue beras. "Benar-benar tidak seperti seorang putri."Kesan baik yang dimiliki Rongle tentang Tuoba Rui lenyap berganti murka. Pangeran sinting ini sungguh tak tertolong. "Kau juga tidak seperti pangeran. Lebih mirip bocah kecil. Bisanya cuma marah-marah dan mengejek orang.""Aku anak kecil?" Tuoba Rui mengarahkan telunjuknya pada Rongle. "Justru kau yang seperti bocah. Apa tak sadar juga kenapa kaisar sampai memarahimu?"Rongle sangat tersinggung. Tadi ayahnya, sekarang pangeran Tuoba. Putra mahkota abai terhadapnya, sementara pria yang dia sukai, mati mengenaskan karena berkhianat. Kesedihan kembali mencekik perasaan Rongle. Putri yang angkuh itu menunjukkan sisi rapuhnya untuk pertama kali di hadapan orang asing. "Kenapa anda suka sekali mengatakan hal buruk tentang orang lain," ujarnya berlinang air mata. "Memangnya kenap

  • Waspadalah, Nyonya Tak Sudi Lagi Ditindas   Plesiran Kaisar

    Besoknya, Fei Yang harus kembali menemani tamu kerajaan untuk plesiran ke pemandian air panas kerajaan atas saran kaisar. Alasannya sudah bisa ditebak. Untuk mendekatkan diri dengan putri Moyu Xin. Penampilan Kaisar terlihat enerjik, berbanding terbalik dengan dirinya yang sakit-sakitan belakangan. Didampingi permaisuri yang berwajah acuh tak acuh, beliau bicara lemah lembut pada calon selir baru. "Putri Xin, beginilah pemandangan di negara Ning. Kita punya pegunungan, persawahan, bahkan sumber air panas.""Ya, indah sekali yang mulia."Jawaban putri Xin singkat dan tanpa minat.Iring-iringan kereta begitu panjang. Paling depan ada Fei Yang, Nanping Shizi, dan beberapa pejabat yang menunggang kuda. Setelah itu kereta yang membawa Kaisar, permaisuri, putri Moyu Xin dan dayang-dayang. Di belakang mereka adalah putra mahkota, putri Rongle, pangeran Tuoba, dan beberapa putri pejabat. Selanjutnya para prajurit yang dipimp

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status