ログイン"Mas ini ada undangan" ucap Fika diujung pintu kamarku
Aku bingung ada apa sebenarnya Dinda tiba-tiba mengirim chat seperti ini?Me : Iya din,Setelah beberapa saat Dinda membalas
____
"Mas mau dianterin ngga?" tanya seorang perempuan itu padaku"Ah, ndak usah ngrepotin mba. Ini saja udah ngrepotin banget" jawabku ngga enak"Lumayan jauh lho mas, nanti kalo kenapa-kenapa di jalan gimana?" jawab perempuan itu padaku
"Mas.. Mas, bangun mas" ucap seseorang di telingaku.Ku buka mata perlahan menatap ke langit-langit."Alhamdulillah udah sadar.." ucap seseorang
Melihat sepasang mata yang penuh kebingungan dan kesedihan dihadapanku sekarang ini membuatku merasa tak baik-baik saja."Udah kamu nanti coba ketemu dulu sama pacar kamu, kamu ceritain semuanya tentang perjodohan ini. Nanti respon pacar kamu kayak gimana itulah jadi patokan langkah kaki kamu selanjutnya Din." ucapku menenangkan Dinda yang masih bercucuran air mata.
Mentari kali ini bersinar dengan sangat cerah, layaknya sebuah sinar bohlam dimalam hari kala ku kecil dulu.Tiba-tiba aku teringat ucapan Bapak kala itu."Le, benda apa yang tidak bisa dimusnahkan oleh api?" tanya
‘Hai Adit, aku tahu hari ini adalah hari terberatmu.Jangan bersedih tentang Putri, suatu saat pasti kamu akan mengetahui sebenarnya yang terjadi, dan dari perempuan yang kamu temui hari ini, ingatlah dia dan belajarlah dari dia.’Tunggu, bagaimana bisa si pengirim surat ini tahu tent
Tidak ada yang disebut luka abadi,semua akan bahagia pada waktunyaMenyedihkan ternyata melihat kenyataan bahwa aku tak tau kalau jatuh cinta akan semenyakitkan ini, dia yang selalu kupuja di depan Tuhan adalah bom waktu yang membuatku mati seketika.“Maaf Dit, oran
Pagi telah datang membawa sedikit harapan untukku, menjujung tinggi mimpi yang telah lama ku pendam sendiri. Aku harus tetap berjuang dan terus berjuang, meskipun tanpa kamu, Putri.“Dit” sapa Doni dari ujung pintu di tempatku bekerja“Tumben nyapa, kayaknya lagi bahagia banget deh” j
“Move on dulu aja, Dit” saran Doni sambil memainkan HPnya“Iya Don, ini lagi aku coba, semoga aja aku bisa benar-benar lupa sama Putri.” Jawabku dengan seriusDoni pun merespon dengan tersenyum kearahku.Jam sudah menunjukkan angka 17.00 sedangkan Doni masihlah menema







