LOGIN"Bhai… you can't act aggressive here. You love her and want to marry her. But she doesn't and you need to understand this. She doesn't even know you are the same man she used to talk with before", Sammy tries to reasonify. "Then what do you want me to do, huh? What should I do? Should I just leave from here and wait till the day she would be ready fully. It's been a goddamn fucking 2 years I'm looking for her. And now that I finally found her, she declines to marry me just like that", he says, seething. "But she doesn't know you are the one. She knows you as a guy fixed by her and our parents and even before seeing her you knew the same. Then why be angry with her", he says in a calmed tone making him agree. "Fine then. Let's wait and watch till she says yes because I-Am-Not-Going-Anywhere-From-Here. She has to marry me today or whatever the date mom decides", he says and fixes Sammy's shirt with a big smile. "But.. bhai..", he stops as Karan shows his palm to him. Crazy, He has lost it!!, he mutters internally looking at Karan. ************* Dia is an independent girl whose career was her first priority and wishes to never fall in love. While Karan the cold hearted dominant guy falls for her gradually and tries to make her his. He didn't want her for his one time lust, but for the rest of his life. He wanted her to be with her always and entitle her as his 'Wife'. But what he didn't know was the upcoming storm which was ready to destroy his marriage. Will he be able to save his married life? Or will lose her till the end?
View MoreLidia, sedari kecil yang hidupnya selalu dikelilingi banyak harta dan juga orang-orang yang ia sayangi, tiba-tiba saja kehilangan sebagian hidupnya dan dipaksa untuk bertahan sendirian. Saat baru saja masuk ke jenjang SMA, ia kehilangan kedua orangtuanya karena kecelakaan yang mereka alami saat pergi ke luar negeri untuk perjalanan bisnis. Lidia remaja yang mau tidak mau harus menjalani kejamnya kehidupan itu berusaha dengan begitu keras, ia juga harus kehilangan masa remaja dan masa mudanya untuk mewujudkan perintah dan wasiat-wasiat dari orangtuanya sebelum mereka meninggal.
Orangtua Lidia sadar, bahwa pekerjaan mereka yang sering kali keluar negeri dan juga memiliki banyak pesaing bisnis, bisa saja beresiko tinggi bagi nyawa mereka di saat yang sama sekali tidak terduga. Akhirnya, mereka memutuskan untuk mengurus semua surat-surat wasiat dan juga semua yang harus ditanggung oleh Lidia jika saja orangtua Lidia tiba-tiba telah tiada.
Di saat hari di mana Lidia kehilangan orangtuanya pun, orang utusan kepercayaan ayahnya langsung menjelaskan atas semua yang telah disiapkan oangtuanya untuknya. Semua terasa terlalu terburu-buru. Belum hilang rasa berdukanya, namun ia harus dihadapkan dengan semua kenyataan yang akan terasa lebih sulit yang tak pernah terbayangkan olehnya. Ia sama sekali tidak memiliki waktu untuk berduka dan waktu untuk pulih dari semua luka. Tidak sempat menangis tersedu sambil menatap jenazah kedua orangtuanya, tidak ada perpisahan terakhir, maupun bunga mawar untuk makam kedua orangtuanya.
Penjelasan panjang lebar tentang perintah orangtuanya, serta wasiat-wasiat yang ia terima melalui orang kepercayaan ayahnya dapat diterima akal sehat Lidia. Namun, sebenarnya hatinya sangat berat dan juga masih tidak bisa menerima. Apa daya, ia tidak memiliki waktu untuk memikirkan apa yang harusnya bisa dia lakukan sebagai seorang anak yang tengah berduka saat ini, ia hanya memiliki waktu untuk menganggukkan kepala serta menyetujui semuanya saja. Setidaknya, hanya itulah yang bisa ia lakukan untuk almarhum kedua orangtuanya untuk membalas semua kasih sayang telah ia terima selama ini.
Dengan sangat berat hati dan juga hati yang masih teriris-iris, Lidia mulai memahami semuanya dengan perlahan dan melaksanakan semua hal yang orangtuanya telah tinggalkan kepadanya satu persatu. Ia yang baru saja masuk ke sebuah SMA ternama di kotanya, harus pindah ke SMA biasa yang terletak di desa kecil dan pindah rumah ke daerah sana. Ini merupakan perintah pertama yang diberikan padanya. Ia harus meninggalkan segalanya, semua teman dan kemewahan yang selama ini selalu mengelilinginya. Ia harus berusaha sekuat tenaga untuk menerima semuanya, dengan perlahan.
Di desa baru tempat tinggalnya tersebut, ia hidup bersama seorang nenek di sebuah rumah sederhana. Nenek tersebut yang akan selalu mengurus kebutuhan Lidia, dari makan, hingga kebutuhan sehari-hari lainnya.
Lidia juga telah didaftarkan ke sekolah terdekat oleh orang utusan ayahnya, serta telah mengurus semua keperluan sekolahnya. Sehingga, ia bisa masuk ke sekolah kapan saja ia mau.
Di tempat barunya, Lidia pun harus mengikuti pelatihan bela diri oleh guru yang telah dibayar untuknya. Setiap hari ia harus berjalan menuju ke tempat guru tersebut, untuk menjalani pelatihan rutin.
Belum lagi pelajaran tambahan khusus untuk bisa mengelola perusahaan. Ia mempelajari semua dari dasar-dasarnya, sehingga saat kuliah nanti ia tidak akan memakan terlalu banyak waktu dan bisa segera mengurus perusahaan milik keduaorangtuanya.
Satu minggu pertama di desa tersebut, Lidia memutuskan untuk tidak masuk ke sekolahnya terlebih dahulu. Ia menginginkan beberapa waktu luang sebelum benar-benar menjalani kehidupan yang akan sangat padat dan juga menyesakkan nantinya. Ia hanya akan pergi ke pelatihan bela diri dan juga melaksanakan pelajaran tambahan khususnya saja.
Pertemuan petama Lidia untuk pelatihan bela dirinya terbilang kurang lancar, karena ia masih belum bisa beradaptasi dengan semua hal yang berbau tentang kekerasan dan pekerjaan yang berat. Ia sama sekali tak tahu mengenai dasar-dasar bela diri dan seberat apa hanya untuk pemanasannya saja.
Di tempat pelatihannya ini, sebenarnya ada sekitar tiga orang lain yang juga berlatih bela diri dengan guru tersebut. Tapi nampak sekali, bahwa murid-murid tersebut tingkatan beladirinya sudah sangat tinggi. Bahkan ada yang terlihat masih sangat muda, mungkin seumuran dengan Lidia. Namun, kemampuannya sudah sangat luar biasa.
Lidia berjalan pulang dengan rasa letihnya, ia benar-benar merasa kesulitan di saat awal-awal seperti ini. Ia sama sekali tidak yakin apakah dia bisa melewati semuanya sampai akhir nanti atau tidak.
Setelah sampai di rumah dan beristirahat sebentar, Lidia pun langsung melanjutkan kegiatannya untuk belajar dalam pelajaran tambahan yang telah dijelaskan padanya sebelumnya. Ada seorang dosen yang akan mengajarinya secara khusus privat. Banyak sekali yang harus ia pelajari juga dalam hal ini. Ia pun selalu menyelesaikan pelajaran tambahannya hingga larut malam setiap hari.
Satu minggu tidak terasa telah berlalu, Lidia pun harus mulai masuk ke sekolah barunya. Ia tidak begitu bersemangat, namun juga tidak terlalu merasa terbebani. Ia mulai terbiasa dengan semua hal berat baru yang akan ia tanggung.
Semenjak kehilangan kedua orangtuanya, Lidia memang tiba-tiba berubah menjadi anak yang sangat pendiam. Ia benar-benar menjalani semuanya tanpa banyak ekspresi. Bahkan di sekolah barunya, ia selalu diam dan menyendiri sehingga sama sekali tak memiliki seorangpun teman. Orang-orang di sekitarnya pun menjadi tidak nyaman berada di dekatnya, karena ia selalu diam dan tidak banyak menanggapi sekitarnya.
Namun, mungkin karena Lidia memiliki wajah yang sangat cantik dan mempesona, sehingga ia banyak disukai oleh para kaum adam. Tapi, tak ada seorangpun dari mereka yang dapat meluluhkan hati Lidia yang telah membatu sejak lama ini.
Karena Lidia banyak disukai oleh laki-laki di sekolah tersebut, banyak anak perempuan di sekolahnya menjadi sangat tidak suka padanya. Jadi, hingga naik ke kelas dua belaspun, Lidia sama sekali tidak memiliki teman dan bahkan ia banyak mendapat gangguan dari anak-anak perempuan sekolahnya.
Namun, hal tersebut sama sekali tidak mengganggu dirinya karena ia cerdas dan juga pandai bela diri. Sehingga, ia bisa mengatasi semua masalahnya sendiri dengan sangat baik.
Selama hampir dua tahun ini, Lidia menjalani kehidupan sulitnya tersebut dengan terbiasa. Ia terbiasa tidak tidur dan juga tidak memiliki banyak waktu untuk bersntai. Sehingga, ia sering kali tiba-tiba mimisan saat benar-benar merasa kelelahan. Namun, seiring berjalannya waktu, pada akhirnya ia juga terbiasa dengan darah yang sering mengalir dari hidungnya tersebut.
Hingga saat tahun pembelajaran kelas dua belas dimulai, ada seorang anak laki-laki bernama Gio, yang Lidia ingat ia merupakan anak dari kelasnya itu, mengungkapkan bahwa ia menyukai Lidia dan mengajaknya berkencan. Namun, dengan tegas Lidia menolaknya dan mengatakan bahwa ia sama sekali tidak menyukai anak tersebut.
Gio yang bisa dikatakan anak paling populer dan tampan di sekolah itupun tidak terima dengan penolakan Lidia, sehingga ia terus mengganggunya. Bahkan beberapa kali berusaha untuk melakukan kekerasan fisik, namun dengan mudah Lidia mengatasinya karena ia sudah bisa melakukan bela diri.
Hingga suatu pagi di jam olahraga, tiba-tiba guru bela diri Lidia yaitu Guru Kevin, datang dan mengatakan bahwa ia adalah guru pengganti yang akan mengajar kelas mereka. Lidia menatap gurunya tersebut dengan tatapan biasa, karena memang Guru bela dirinya tersebut pernah mengatakan bahwa ia akan mengajar olahraga di sekolahnya, saat di tempat pelatihan beberapa hari yang lalu.
Gio sedari awal jam olahraga yang dilakukan di lapangan sekolah ini dimulai terus menatap Lidia dengan seringai di wajahnya. Karena, hari ini apapun yang terjadi, Gio akan mencelakai Lidia bagaimanapun caranya.
Dan benar saja, saat kelas mereka memainkan permainan bola tangkap, Gio berhasil menjegal kaki Lidia hingga jatuh tersungkur. Karena lari Lidia tadi cukup kencang, dan kakinya terlebih dahulu mendarat di atas tanah, lututnya pun terluka cukup parah. Ditambah lagi, siku dan telapak tangannya sedikit tergores hingga mengeluarkan darah, namun tidak sebanyak darah di lututnya.
"The swears you took, the heart you broke,will all be buried with me"~~~~~~Two days laterKaran and Riya were having a registered marriage inside the Kundra Mansion with her friends as witnesses. Because Kabir refused to show up while Shalini showed up physically for the sake of her child's upcoming child but didn't take part in it. Ira and Sammy were absent as she left back for her college denying to be there even for a second while Sammy left the house.Riya was cheerful and so was Karan, and they signed the papers officially becoming husband and wife.Champagne bottles get opened and they celebrate their first day of marriage. Riya was on cloud nine and before she even drank a drop of it she was feeling high. When her friends pour drinks for everyone she takes a glass for herself too. But Shalini stops her saying a pregnant lady should not drink and she should not to do as well, with a cold face. Riya rolled her eyes at her comment and Shalini left from there with a glare. Kar
Author's POV Dia laughs, staring at the divorce papers in her hands and on her destiny which gave this betrayal in exchange for all her love while Avni feels shattered and falls on the ground. She gave him a chance though she could see everything crystal clear but still he broke her trust and confidence on him. He betrayed her again and this time it's no going back.She couldn't believe something like this happened to her most bright child and that was because of her other daughter. She was in a blizzard wondering what was wrong with her upbringing in both of her children that today one sister was the enemy of her other sister's happiness, she snatched everything from her at one time, leaving her shattered in pieces.So, many things happened in a queue in just one day, and so many things revealed that now she has no words left for saying any of them. And secondly, she doesn't even know what to say to whom, because nor can she console or scold. It seems all her fucking fault and that
Concern laced at everyone's face and they came a step closer to her. Avni rushed to her and held her in arms asking what's written in it, what happened but she just stared at Riya with teary eyes making her giggle."See… I told you it will snatch land from your feet", she said casually.Dia was in a shock state as well as denial. She didn't want to believe what her eyes saw or read. But the smile her sister held was saying it's true. It was damn true and even what she concluded was true!!"You are kidding.. right? It's a joke.. it's a damn joke, right?", Dia yelled.Riya laughed seeing her losing her sanity and Dia lost it. She jerks her mother and pushes Riya, making her staggered. She glares at Dia but then again laughs seeing her temper lost. She yelled, "I'm loving this!!""This can't be true… this can never be true. You are a liar, cheat, and fraudster. You want to destroy my relationship but I won't let you do that", Dia stays dragging Riya with her."Just get out of my house,
"Time is never someone's own, coz it can change anytime, anywhere for anyone and you won't be able to do anything"Night 8:45 pmThe party time had already passed by 15 minutes and should have started already. The birthday girl was almost ready, decoration, party attendee and cake everything was in its place. But the one who actually organised the party and made this plan to celebrate was still missing. When Dia was getting down with a smile she didn't notice the silence and gloomy face of the people standing in the hall. Everyone was tense as Karan was not answering their call and now it says switch off. While on the other side an uninvited guest interrupting and jinxing their happiness crashed their party. Reaching downstairs she was fixing something on her dress and walked toward the hall. When reached she called Ira to fix it and before she could reply she looked up and then at her dress and again back to the scenario. Her eyes scrutinised seeing the unwelcomed person sitting a
"At times, we need to make tough choice though accepting it is like cutting yourself into pieces"Gazing at the bright stars in the sky with few new stars lighting in blue colour were adorning the big sky. They looked like jewels and the pearls were sparkling and dangling on the cloth of the sky. The
Author's POV As Dia sips on the drinks after that lady leaves she gets drowned in that day when she thought to spend some time with him and also plan another child. But things didn't go as planned and everything turned out to be something else and painful.(Few days ago)Flashback Dia was returning ho
It was now a month that the incident occured in their life and turned their lives upside down, leaving a great impact behind. The scars were deep and brutal but they are healing slowly with time. Incidents like such are indeed heartbreaking and wreck a person but to overcome it we all need to move o
It was dark, very dark making her vision impossible to see anything while cold chilly vibes brushing her skin sending goosebumps all over her body. She was walking just walking in hope of light bluntly, with no idea or equation in mind going ahead. The more she goes the more the darkness consumes he












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ratings
reviewsMore