Home / Fantasi / Wisanggeni : Api Dari Langit / BAB 4 : RATNA DARI CANDI TUA

Share

BAB 4 : RATNA DARI CANDI TUA

Author: Ana Aulia
last update publish date: 2026-07-04 21:00:41

Fajar belum sepenuhnya merekah ketika Ratna sudah sibuk di ruang dalam candi. Tas kain sederhana sudah tergeletak di atas tikar, berisi bekal makanan kering, gulungan naskah pilihan, botol air, dan beberapa ramuan penyembuh. Ia bergerak dengan cepat namun efisien, setiap gerakannya penuh ketenangan yang lahir dari tahun-tahun hidup sebagai penjaga tempat suci. Namun di balik ketenangan itu, ada getaran halus kegelisahan yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang terbiasa membaca tanda-tanda alam. Sedangkan Wisanggeni menunggu di pelataran candi, menatap langit timur yang perlahan berubah dari hitam menjadi ungu, lalu jingga pucat.

Pikirannya masih penuh dengan kata-kata ayahnya semalam. “Keberanian tanpa kebijaksanaan adalah bencana.” Apakah keputusannya membawa Ratna ikut dalam perjalanan ini adalah bijaksana? Atau justru egois? Ia tahu bahaya yang mengancam, tahu Batara Kala tidak akan berhenti. Tapi di sisi lain, Ratna adalah satu-satunya orang yang memahami sejarah api suci, satu-satunya yang bisa membantunya menemukan jawaban.

“Sudah siap?” suara Ratna terdengar dari belakangnya. Wisanggeni menoleh melihat Ratna berdiri di pintu candi, mengenakan pakaian perjalanan sederhana. Kain panjang warna abu, ikat pinggang kulit, dan syal tenun yang menutupi sebagian rambutnya. Di bahunya, tergantung tas yang sama dengan yang ia siapkan tadi.

“Aku juga sudah siap. Tapi…” Wisanggeni ragu. “Apakah kau yakin ingin ikut? Ini bukan perjalanan biasa, Ratna. Ini mungkin perjalanan tanpa kepulangan.”

Ratna tersenyum kecil, senyum yang mengandung keteguhan baja. “Candi ini telah ku jaga sejak aku masih remaja, Wisanggeni. Aku telah membaca setiap naskah, merapalkan setiap mantra, menjaga setiap api persembahan. Tapi semua itu terasa seperti menunggu. Menunggu sesuatu yang lebih besar. Dan sekarang, ketika kau jatuh dari langit tepat di depan candi ini, aku tahu kalau ini bukan kebetulan. Ini adalah panggilan.”

“Panggilan untuk apa?”

“Untuk terlibat. Selama ini, aku hanya penjaga yang menyaksikan dari jauh. Tapi sekarang, aku punya kesempatan untuk menjadi bagian dari sejarah yang selama ini hanya kubaca.” Ratna melangkah mendekat, matanya berbinar dengan keyakinan. “Jadi ya, aku yakin. Dan aku tidak akan menyesal, apapun yang terjadi.”

Wisanggeni mengangguk, rasa bersalahnya sedikit terobati. “Baik. Tapi kita harus berangkat sebelum warga desa bangun. Aku tidak ingin mereka mencoba menghentikan kita.”

Mereka meninggalkan candi Gunung Arum melalui jalan belakang, menyusuri jalan setapak kecil yang jarang digunakan. Kabut pagi masih tebal, menyelimuti pepohonan dan bebatuan. Suara alam perlahan bangun dengan kicau burung, desir daun, gemericik sungai kecil di kejauhan. Sepanjang perjalanan, Ratna bercerita tentang candi yang ditinggalkannya. “Candi Gunung Arum dibangun lima ratus tahun yang lalu oleh seorang rishi yang bernama Begawan Mintaraga. Konon, ia adalah keturunan langsung dari salah satu dewa kecil Kahyangan yang memilih untuk tinggal di bumi. Ia membangun candi itu tepat di atas titik temu energi langit dan bumi, sebagai tempat menjaga keseimbangan.”

“Dan kau adalah penjaga berikutnya?”

“Aku diambil oleh pendeta sebelumnya ketika aku masih bayi. Ditinggalkan di pintu candi dengan secarik kain bertuliskan namaku, Ratna, yang berarti permata. Mereka membesarkanku, mengajariku membaca naskah, merapalkan mantra, memahami tanda-tanda. Aku tidak pernah tahu siapa orang tuaku yang sebenarnya, tapi candi itu adalah rumah satu-satunya yang kukenal.”

Wisanggeni mendengarkan dengan seksama. Ia teringat pada dirinya sendiri. Anak dari dua dunia, tidak sepenuhnya diterima di salah satunya. Mungkin itulah yang membuatnya merasa terhubung dengan Ratna. Mereka berdua adalah orang-orang yang berada di antara, tidak sepenuhnya milik satu tempat.

“Apakah kau pernah merasa kesepian?” tanyanya tanpa sengaja.

Ratna memandang ke arah jalan di depan. “Kadang. Tapi kesepian itu mengajarkanku untuk mendengar. Mendengar suara angin, suara air, suara bumi yang bernapas. Dan dalam kesendirian itu, aku merasa terhubung dengan sesuatu yang lebih besar.”

Mereka berjalan dalam keheningan yang nyaman beberapa saat, sebelum Ratna bertanya balik, “Bagaimana denganmu? Hidup di Kahyangan, sebagai anak dari Gatotkaca, apakah sulit?”

Wisanggeni menghela napas. “Sulit adalah kata yang lunak. Aku selalu menjadi yang ‘lain’. Para dewa memandangku dengan curiga karena darah ibuku dari kaum raksasa. Manusia di bumi, jika mereka tahu, akan memandangku dengan takut karena kekuatanku. Aku tidak memiliki tempat yang sepenuhnya menjadi rumah.”

“Mungkin itu sebabnya kau diutus ke sini. Bukan untuk dihukum, tapi untuk menemukan rumah yang sebenarnya. Rumah yang tidak dibatasi oleh langit atau bumi.”

Perkataan Ratna terasa seperti biji yang ditanam di benak Wisanggeni. Mungkin benar. Selama ini, ia selalu berusaha menjadi sesuatu yang diharapkan oleh orang lain. Menjadi dewa yang sempurna di Kahyangan, atau menjadi manusia yang rendah hati di bumi. Tapi mungkin, jawabannya adalah menjadi keduanya, sekaligus menjadi sesuatu yang baru.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Wisanggeni : Api Dari Langit   BAB 7 – Jalan Menuju Gunung Agni

    Langit timur perlahan berubah jingga. Malam yang dipenuhi kobaran api mulai menyerah pada cahaya fajar, tetapi Desa Wukir Sari belum benar-benar terbebas dari luka. Asap masih mengepul dari sisa-sisa rumah panggung yang hangus. Bau kayu terbakar bercampur dengan tanah basah memenuhi udara, sementara suara tangis dan rintihan terdengar dari berbagai penjuru desa.Beberapa warga sibuk memadamkan bara yang masih menyala menggunakan ember-ember bambu. Sebagian lain berusaha mengangkat balok-balok kayu yang roboh, berharap masih ada anggota keluarga yang dapat diselamatkan.Wisanggeni berdiri mematung di tengah halaman desa. Tatapannya menyapu setiap sudut yang porak-poranda. Seorang anak kecil menangis sambil memeluk tubuh ibunya yang terluka. Di sisi lain, beberapa lelaki berusaha memperbaiki kandang ternak yang runtuh. Tidak jauh dari sana, seorang kakek terduduk lemas di depan rumahnya yang kini hanya menyisakan tiang-tiang gosong.Semua pemandangan itu seakan be

  • Wisanggeni : Api Dari Langit   BAB 6 : BARA DALAM DADA

    Malam di dalam gua terasa panjang dan penuh kegelisahan. Wisanggeni terbaring di atas hamparan daun kering yang Ratna kumpulkan, tapi matanya tidak bisa terpejam. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, kilasan-kilasan pertempuran dengan prajurit bayangan muncul kembali. Pedang cahaya, cambuk api hitam, dan tali bayangan yang mencabik-cabik dadanya. Yang paling mengganggu adalah api biru yang muncul tanpa ia panggil. Api itu terasa asing, seperti suara dari masa lalu yang berbisik dalam bahasa yang tidak ia mengerti.Ratna duduk bersila di dekat mulut gua, menjaga tirai cahaya keperakan yang ia ciptakan. Matanya sayu, tapi ia berusaha keras untuk tetap terjaga. Di pangkuannya, lonceng perak kecil yang ia gunakan tadi sudah mulai kehilangan kilaunya. Menggunakan alat suci seperti itu dua kali berturut-turut dalam waktu singkat hampir menguras seluruh cadangan energi spiritualnya.“Kau tidak perlu berjaga sendirian,” suara Wisanggeni terdengar dari dalam gua. “Aku bisa bergantian.”Ratn

  • Wisanggeni : Api Dari Langit   BAB 5 : RATNA DARI CANDI TUA (2)

    Mereka telah berjalan beberapa jam ketika matahari mulai tinggi. Kabut telah menyusut, memperlihatkan pemandangan hutan yang luas di sekeliling mereka. Di kejauhan, Gunung Agni terlihat samar-samar, puncaknya diselimuti awan putih.“Kita akan beristirahat sebentar di sana,” kata Ratna, menunjuk ke sebuah gua kecil di sisi bukit. “Ada mata air di dalamnya, dan tempat itu cukup tersembunyi.”Mereka masuk ke dalam gua yang sejuk dan gelap. Ratna menyalakan lentera kecil dari tasnya, menerangi dinding batu yang basah oleh tetesan air. Di bagian dalam, memang ada mata air kecil yang mengalir jernih.Saat Wisanggeni minum, ia tiba-tiba merasakan getaran aneh di dadanya. Api suci berdenyut lebih cepat, seperti peringatan.“Ada yang tidak beres,” katanya, berdiri tegak.Ratna juga merasakannya. “Energinya berat. Seperti ada sesuatu yang mengintai.” Ucapnya dengan waspada.Dari luar gua, terdengar suara langkah kaki yang banyak dan berat. Lalu suara yang serak dan dingin, yang jelas bukan bera

  • Wisanggeni : Api Dari Langit   BAB 4 : RATNA DARI CANDI TUA

    Fajar belum sepenuhnya merekah ketika Ratna sudah sibuk di ruang dalam candi. Tas kain sederhana sudah tergeletak di atas tikar, berisi bekal makanan kering, gulungan naskah pilihan, botol air, dan beberapa ramuan penyembuh. Ia bergerak dengan cepat namun efisien, setiap gerakannya penuh ketenangan yang lahir dari tahun-tahun hidup sebagai penjaga tempat suci. Namun di balik ketenangan itu, ada getaran halus kegelisahan yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang terbiasa membaca tanda-tanda alam. Sedangkan Wisanggeni menunggu di pelataran candi, menatap langit timur yang perlahan berubah dari hitam menjadi ungu, lalu jingga pucat.Pikirannya masih penuh dengan kata-kata ayahnya semalam. “Keberanian tanpa kebijaksanaan adalah bencana.” Apakah keputusannya membawa Ratna ikut dalam perjalanan ini adalah bijaksana? Atau justru egois? Ia tahu bahaya yang mengancam, tahu Batara Kala tidak akan berhenti. Tapi di sisi lain, Ratna adalah satu-satunya orang yang me

  • Wisanggeni : Api Dari Langit   BAB 3 : ANAK DARI DUA DUNIA

    Hari-hari berlalu dengan lambat di candi Gunung Arum. Wisanggeni perlahan pulih, meski kekuatannya masih jauh dari normal. Api di dadanya kini stabil, berdenyut dengan ritme yang teratur seperti detak jantung, tetapi warnanya masih pucat. Campuran antara oranye dan abu-abu, seolah masih mencari bentuk yang sebenarnya. Ratna sibuk merawatnya sekaligus meneliti naskah-naskah kuno yang tersimpan di ruang bawah candi. Ruangan itu gelap, penuh dengan debu dan aroma apek kertas usang. Di sana, ia menemukan gulungan-gulungan lontar yang menceritakan sejarah Kahyangan dan Naraloka dalam bahasa yang hampir punah. Bahasa Dewa Bisa, bahasa yang hanya dipahami oleh para pendeta tinggi.Suatu pagi, ketika kabut masih menyelimuti hutan di sekitar candi, Ratna duduk di samping Wisanggeni dengan sebuah gulungan terbuka di pangkuannya. Wajahnya tampak sangat serius. “Aku menemukan sesuatu,” katanya, suaranya bergetar sedikit. “Tentangmu, Wisanggeni. Tentang mengapa kau berbe

  • Wisanggeni : Api Dari Langit   BAB 2 : KEPUTUSAN KAHYANGAN

    Langit di atas Bale Sidang Kahyangan masih berwarna jingga gelap, seperti bekas luka bakar raksasa yang belum sembuh seutuhnya. Pusaran api suci Simbar Agni telah padam, tapi sisanya masih berserakan di udara. Percikan cahaya merah yang perlahan mendingin dan jatuh seperti salju api. Para dewa belum beranjak sedikit pun, mereka masih duduk dalam formasi melingkar, wajah-wajah mereka disinari cahaya temaram dari lampu-lampu angkasa yang menggantung di langit-langit ruangan sidang.Batara Guru masih duduk di singgasananya, kedua tangannya memegang erat tongkat suci Kayu Kalimasada. Matanya tertutup, tapi semua yang hadir tahu bahwa pikirannya sedang melesat jauh, menimbang, menganalisis, meraba konsekuensi dari keputusan yang baru saja dijatuhkan. Di sisinya, Batara Narada berdiri dengan tubuh sedikit membungkuk, gulungan kitab suci terbuka di tangannya, tapi matanya menatap kosong ke arah tempat Wisanggeni berdiri tadi.Gatotkaca masih berada di posisinya, di sisi barat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status