LOGINKang Hallim, adalah satu-satunya legenda yang mampu menguasai seribu teknik tarian pedang dari seribu perguruan penyihir yang berbeda, ia adalah satu-satunya penyihir yang bisa mengeluarkan Gulungan Hitam yang berisi rangkaian Teknik Terlarang dari Lembah Hantu terdalam. Namun, suatu hari ia harus mati di tangan Keempat Pemimpin Klan Suci, yang ingin menghancurkan Gulungan Hitam tersebut. 2 Dekade kemudian, Ia bangun di tubuh seorang gadis lemah yang dikenal bodoh di sebuah perguruan penyihir. Ia berusaha mencari kembali Gulungan Hitam itu, namun rencananya selalu digagalkan oleh seorang Tetua Agung yang kebetulan sangat ia kenal. Hallim, "Ya! Bisakah kau berhenti membuatku kesal? Kau pikir dengan siapa kau berbicara?!" Tetua Agung itu menarik pinggang Hallim, hingga tubuh keduanya menempel erat. Di balik topeng rubah emasnya, ia menyeringai. "Tentu saja aku sedang berbicara dengan istriku." Hallim. "...."
View MorePuncak Gunung Yu Rae (Asal Usul), Danau Yong Min (Memendam Rindu).
Malam itu, cahaya bulan tampak memantul di permukaan danau. Ratusan ribu butiran air melayang di udara, membentuk pemandangan megah di atas danau Yong Min.
Seorang wanita berjubah ungu menari di tengah danau, gerakan tangannya gemulai dan langkah kakinya lincah, ia melakukan serangkaian gerakan tarian yang sangat presisi dan anggun. Setiap lambaian tangannya meninggalkan jejak energi sihir berwarna ungu di udara, seluruh tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kaki juga bergerak, seolah-olah memiliki kesadarannya masing-masing.
Mata wanita itu tertutup, namun langkah kakinya tidak memiliki keraguan sedikitpun.
'Kekuatan pedang berasal dari irama ketukan. Sebelum pedang mengenal darah, ia harus mengenal Tuannya.'
'Di daratan Sol ini, ratusan klan dan perguruan penyihir berdiri. Empat yang terhebat, dengan bangga menamai diri mereka menggunakan nama Empat Makhluk Suci Penjuru Langit. Klan Naga Biru, Klan Harimau Putih, Klan Burung Vermilion, dan Klan Kura-kura Hitam. Mereka semua dikenal memiliki teknik tarian pedang yang sangat hebat.'
'Kehebatan mereka tidak diukur dari siapa yang paling banyak mematahkan pedang di dalam pertarungan, melainkan dari seberapa mematikannya teknik tarian pedang yang mereka miliki ... Tanpa tarian, seorang pendekar pedang hanyalah manusia biasa yang memegang besi tua.'
Saat ia berputar, ratusan ribu butiran air yang melayang di sekitarnya juga ikut berputar, mengikuti pola gerakannya, menciptakan bentuk tornado yang mengerikan yang mengelilingi tubuhnya.
Angin berderu kencang, permukaan danau yang awalnya tenang kini mulai membentuk pusaran air.
'Tarian bukan sekadar seni gerak biasa yang hanya dilakukan demi menghibur penonton, namun itu juga merupakan komponen terpenting dalam teknik berpedang. Teknik tarian pedang adalah satu-satunya cara pendekar pedang merayu energi alam yang liar untuk masuk ke dalam tubuh mereka, dan mengubahnya menjadi energi sihir yang mengalir dalam darah mereka sebagai sumber kekuatan pedang.'
Sebuah bola energi muncul dan berkedip di perut wanita itu. Puluhan garis energi dari lingkungan sekitarnya mengalir masuk ke ujung jari kakinya, kemudian naik ke tulang belakangnya, dan berkumpul di dalam bola energi itu, sebelum dengan cepat mengalir deras ke seluruh tubuh dan lengannya.
'Setiap langkah kaki yang menghentak bumi adalah proses menyerap energi alam. Setiap pola putaran tangan adalah cara mengolah energi menjadi kekuatan. Inilah proses mengubah energi alam menjadi energi sihir yang mengalir di dalam tubuh seorang pendekar pedang.'
Wanita itu menghunus pedangnya, dan seketika, pedang itu membara dengan api ungu yang menyala-nyala. Saat ia mengayunkan pedangnya dalam satu tebasan, permukaan danau terbelah menjadi dua.
'Pedang tidak memiliki jiwa, tuannya lah yang memberinya jiwa. Jika tuannya kehilangan irama ketukan dalam tariannya, maka pedang juga akan kehilangan kekuatannya.'
'Di dunia ini ... Siapa yang berhenti menari, maka dia akan mati.'
Wanita itu membuka matanya, tatapan tajamnya seolah menembus apapun yang ada di hadapannya, rambut hitamnya berkibar tertiup angin, menari-nari di udara bersamaan dengan kemunculan empat orang lainnya.
'Para penyihir pasti bisa menggunakan pedang, namun pendekar pedang, belum tentu bisa menggunakan energi sihir. Di dunia ini, seorang pendekar pedang yang mampu menggunakan sihir, disebut dengan nama penyihir, dan mereka adalah keberadaan yang sangat dihormati.'
Uap air masih mengepul dari bekas belahan danau yang baru saja ditebasnya. Di empat titik mata angin, empat sosok berdiri di atas air. Energi mereka menekan permukaan danau hingga air di bawah kaki mereka menjadi cekung.
Kang Hallim, wanita berjubah ungu itu menyarungkan pedangnya dengan bunyi 'klik' yang renyah. Ia berdiri santai, melirik keempat orang yang sangat tidak asing baginya itu, dan tersenyum tipis, sebelum berbicara dengan nada mencibir. "Oh? Mengejutkan sekali, apa yang kita lihat di sini? Keempat Makhluk Suci Penjuru Langit turun dari gunung mereka?"
Hallim menyipitkan matanya sambil mengetuk dagunya dengan jari telunjuknya. "Hmm, apa yang membuat mereka rela meluangkan waktu berharga mereka untuk jauh-jauh datang ke rumahku ini? Sshh, biar kutebak, apakah mereka datang untuk melihat seorang wanita cantik menari? Oh, aku sungguh tidak tahu jika aku yang cantik ini memiliki beberapa penggemar yang lebih tenar dari diriku sendiri."
Park Junsu, pemimpin Klan Harimau putih menggeram pelan, ia menghentakkan satu kakinya hingga menggetarkan permukaan danau. "Cukup dengan omong kosongmu Kang Hallim! Teknik itu tidak seharusnya berada di tanganmu! Kau telah menggunakan teknik terlarang dan telah menempuh jalan sesat, bukankah kau sudah menguasai lebih dari seribu teknik tarian pedang dari seribu klan yang berbeda? Mengapa kau masih begitu serakah?"
Shim Narae, pemimpin Klan Burung Vermilion, mengibaskan kipasnya dengan mata menyipit, jubah merahnya bergoyang pelan oleh angin, yang semakin menambah kesan menawan bagi seseorang terkemuka dari Klan Burung Vermilion. "Itu merupakan teknik terlarang yang bisa merusak aliran energi alam. Gulungan itu harus segera dihancurkan, serahkan gulungan itu pada kami sebelum kami terpaksa memisahkan jiwamu dari tubuhmu."
Hallim tertawa terbahak-bahak, suaranya merdu namun penuh ejekan. Ia merogoh jubah ungunya dan mengeluarkan sebuah Gulungan Hitam dengan segel energi sihir di sekelilingnya, lalu menunjukkannya pada keempat orang itu.
"Ah, ini?" Sambil memutar-mutarnya seperti mainan, ia berkata. "Teknik 'Memberi Surga dan Menerima Neraka?' Sejak tadi kalian terus menyebutnya teknik terlarang ini, teknik terlarang itu, dan berkata akan menghancurkannya, tapi ..."
Hallim menatap keempat orang itu satu persatu sambil mencibir. "Mata kalian menunjukkan sebaliknya ... Hmm, seperti apa ya? Oh, seperti mata yang sangat lapar. Aku bahkan bisa melihat air liur menetes di balik topeng suci kalian itu."
Choi Haejun, pemimpin Klan Naga Biru, maju selangkah, nada suaranya terdengar berat dan berwibawa, namun tatapannya pada Hallim menyiratkan kesedihan. "Hallim, berhenti bermain api, teknik terlarang itu diciptakan untuk merusak keseimbangan dunia, itu tidak akan memberikanmu keuntungan apapun, dan hanya akan menghancurkanmu, kau sadar sudah berapa banyak kekacauan yang terjadi karena teknik itu? Apa kau sadar apa yang telah kau lakukan selama ini? Apa kau tidak tahu sudah berapa banyak nyawa tidak bersalah yang melayang ditanganmu karena teknik itu? Teknik itu telah menghancurkan moralmu Hallim."
Hallim berhenti memutar gulungan itu, lalu menatap Haejun dengan tatapan yang berubah sangat tajam, lalu sedetik kemudian kembali menjadi tatapan yang malas dan nakal.
"Membosankan sekali. Lagipula, bukankah ini sangat lucu? Kalian menyebut diri kalian sebagai 'Empat Makhluk Suci Penjuru Langit', tapi kalian begitu takut pada satu teknik tarian? Mengapa? Apakah kalian takut jika tarian pedangku lebih indah daripada tarian Klan kalian?"
Ia membuka sedikit gulungan hitam itu, dan seketika, energi gelap yang begitu pekat melonjak keluar darinya, membuat suhu di sekitar danau turun drastis.
Es mulai terbentuk di bawah kaki Kelima orang itu.
Lee Yoona, wanita dengan wajah anggun, pemimpin dari Klan Kura-kura Hitam akhirnya angkat bicara. "Nak, kau baru saja menyentuh dasar neraka dengan teknik itu. Itu hanya akan menghancurkan jiwamu secara perlahan sebelum kau sempat menikmati hasilnya. Hanya kami yang tahu bagaimana cara menghancurkan teknik terlarang itu dan menyelamatkanmu dari kehancuran, maka dengarkanlah kami kali ini."
Hallim mendekatkan gulungan itu ke bibirnya dan berbisik seolah-olah berbicara pada benda itu. "Apa kau dengar itu? Mereka begitu ingin menghancurkanmu, haruskah kuserahkan saja dirimu pada mereka?"
Lalu ia menatap kembali keempat pemimpin itu secara bergantian dan menyeringai. "Atau tidak?"
Junsu menarik pedang besarnya dengan emosi yang sudah meledak. "Cukup! Kau benar-benar sudah gila!"
Junsu dengan cepat menerjang ke arah Hallim.
"Junsu!" panggil Haejun, namun Junsu tidak mendengarnya karena sudah diliputi amarah dan niat membunuh.
Hallim melemparkan gulungan hitam itu ke udara, membiarkannya melayang di tengah-tengah mereka berlima. "Baiklah tuan dan puan yang terhormat. Mari kita lihat, siapa di antara kita yang benar-benar layak disebut sebagai penyihir."
Pertarungan pada akhirnya tak terelakkan.
Hallim menghunus kembali pedangnya, dan bergerak sangat cepat seperti kilat, tarian pedangnya menciptakan badai energi yang mementalkan serangan Junsu, sehingga pria itu terlempar dan menabrak batu di sisi danau.
Melihat Junsu terpental, ketiga pemimpin klan lainnya akhirnya ikut menyerang.
Hallim terus menyerbu maju, setiap gerakannya membentuk pola serangan berbahaya yang tajam dan mematikan.
Hallim menyeringai saat ia melakukan serangkaian gerakan tarian yang belum pernah terlihat sebelumnya. Tubuhnya seolah memudar, menjadi ilusi, lalu muncul di belakang Junsu yang baru saja kembali berdiri. Hallim menebas dengan sangat cepat, hingga Junsu hampir tidak sempat menghindar, dan tebasan itu tepat mengenai lengan kanannya.
Darah Junsu memercik di atas permukaan danau yang telah berubah menjadi hamparan es.
Narae di sisi lain hendak mencapai gulungan hitam itu, memanfaatkan kelengahan Hallim, ia segera bergerak. Namun, Hallim segera menyadari niatnya lalu bergerak secepat kilat dan berhasil menggagalkan rencananya. Mereka bertukar puluhan gerakan hanya dalam waktu beberapa detik sebelum akhirnya Narae terpental mundur.
To be continued
Jantung Hallim berdegup kencang hingga telinganya berdenging, sementara tubuh Gwanggyu yang menempel di punggungnya terasa sepanas tungku api."G– Gwanggyu... lepaskan..." bisik Hallim.Ia mencoba memanggil nama asli pria itu untuk mengembalikan akal sehatnya. Namun, ia tidak tahu, justru setelah mendengar namanya dipanggil oleh Hallim, hasrat dalam diri Gwanggyu malah semakin melonjak.Ia semakin mempererat lilitannya di perut Hallim, menarik pinggul perempuan itu hingga pantatnya semakin menempel pada 'miliknya' yang menegang keras, tidak menyisakan celah sedikit pun."Sudah kukatakan, diamlah," geram Gwanggyu dengan suara rendah, parau, dan terdengar berbahaya.Mata pria itu tampak gelap, dipenuhi gairah saat ia menatap leher putih Hallim yang terekspos.Tiba-tiba, ia membenamkan wajahnya di leher itu.Cup... Schlurp... Cup...Hallim tersentak saat merasakan bibir panas Gwanggyu yang menghisap lehernya."Ngh.." Hallim merintih sambil mencengkeram lengan Gwanggyu di perutnya.Gwangg
'Bocah keparat ini,' batin Hallim saat ia menatap tajam Gwanggyu yang tengah membaca sebuah gulungan di hadapannya.Ia masih dibungkam oleh mantra pengikat, sehingga ia tidak bisa mengeluarkan sumpah serapah.Emosi Hallim sudah berada di ubun-ubun.Rencana pelariannya yang brilian hancur lebur karena murid bernama Jinwoo itu terus menahannya. Hingga akhirnya, ia dipaksa untuk kembali ke tempat ini hanya untuk disiksa oleh alat sihir rendahan itu lagi oleh si Tetua Agung ini.Jeohang tampak melayang-layang di depan wajahnya, memancarkan energi sihir yang menekan tubuhnya tanpa ampun. Padahal ia ingin mencoba langkah pertama teknik 'Memberi Surga dan Menerima Neraka' malam ini, namun karena bocah bertopeng rubah ini, ia jadi tidak bisa melakukannya.Dadanya terasa seperti ditindih oleh batu yang beratnya ratusan ton, membuatnya merasa seperti ikan yang dipaksa bernapas di darat."Mengapa kau melakukan ini lagi?" desis Hallim saat mantra pengikat itu akhirnya hilang."Kau sudah bisa bica
Jika tatapan bisa membakar, mungkin leher Hallim sudah terbakar sejak tadi karena tatapan murid itu. 'Apakah bekas lukanya terlihat?' pikirnya waswas. Bekas luka teknik 'Memberi Surga dan Menerima Neraka' masih menjalar dari siku hingga ke punggungnya, dan sebagian merambat ke lehernya. Meskipun masih bisa tertutupi oleh kerah pakaiannya, tetap saja itu bisa terlihat jika tersingkap. Bisa gawat jika ada orang lain yang melihat bekas luka itu. Identitasnya bisa-bisa terbongkar bahkan sebelum ia berhasil kabur dari sini. Ia tidak mau dikejar-kejar lagi oleh keempat pemimpin klan suci seperti di kehidupan sebelumnya. Murid itu menyipitkan matanya dan sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Hallim. "Itu tidak seperti bekas gigitan nyamuk, warnanya merah keunguan, dan bentuknya juga cukup besar. Apakah ada nyamuk sebesar itu di Paviliun Hutan Bambu?" Hallim tertegun. Bekas merah? Ia segera menyentuh area yang dimaksud murid itu dengan jemarinya. 'Tunggu, dia tidak sedang membicaraka
Butiran air meluncur di sepanjang leher Hallim saat ia keluar dari kolam batu. Ia mengambil pakaian ungu itu dan mulai mengenakannya.Kain itu jatuh lembut mengikuti lekuk tubuhnya yang ramping, warnanya kontras dengan kulitnya yang tampak memerah sehabis mandi. Tekstur kainnya terasa sangat halus dan lembut, jauh lebih berkualitas dibanding seragam kasar yang ia kenakan sebelumnya.Setelah mengikat sabuk pinggangnya, ia melangkah keluar sambil jemarinya menyusuri lengan kanannya yang kini terasa lebih halus.'Bagaimana ini bisa menghilang?' pikirnya heran."Apakah ini ada hubungannya dengan kejadian di aula utama waktu itu? Saat aku memusnahkan pencuri jiwa itu?" gumamnya. "Apakah menyelamatkan seseorang menjadi 'bayaran' untuk menghapus luka ini?"Bukan tanpa alasan Hallim berpikir demikian.Teknik tarian pedang 'Memberi Surga dan Menerima Neraka' adalah ilmu yang bermain dengan keseimbangan karma. Jika luka itu adalah wujud dari 'Neraka', maka melakukan perbuatan baik adalah wujud






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews