Chapter: BAB 13 Yang Terbangun dari Dasar GunungGuncangan berikutnya datang lebih keras. Lantai Sanggar Sukma bergeser di bawah kaki mereka. Debu berjatuhan dari langit-langit, sementara retakan yang sebelumnya hanya terlihat di sekitar altar kini menjalar ke seluruh ruangan seperti urat hitam yang membelah batu tua.Ratna kehilangan keseimbangan. Wisanggeni segera meraih lengannya dan menariknya menjauh dari bagian lantai yang mulai amblas."Ratna, menjauh dari altar!""Aku baik-baik saja." Ratna berusaha berdiri tegak, tetapi matanya tidak pernah lepas dari Simbar Agni yang masih berada di tangan Wisanggeni. "Yang menjadi masalah bukan lantainya. Lihat ke sana."Wisanggeni mengikuti arah pandangannya. Di balik altar, dinding batu yang sejak tadi tertutup kabut perlahan terbelah. Bukan ka
Last Updated: 2026-08-13
Chapter: BAB 12 Api yang Memanggil JiwaRetakan pada altar semakin melebar. Cahaya merah yang semula hanya muncul sebagai garis tipis kini menjalar ke seluruh permukaan batu, mengikuti ukiran kuno yang mengelilingi Simbar Agni. Dari celah-celah tersebut keluar hawa panas yang bercampur dengan aroma tanah basah dan sesuatu yang sulit dijelaskan, seperti udara dari tempat yang telah lama tertutup.Wisanggeni berdiri beberapa langkah dari altar. Kedua tangannya masih mengepalkan dua api yang berbeda. Api Suci di tangan kanannya menyala dengan warna yang lebih terang, sementara Api Penuntun Jiwa di tangan kirinya berpendar jingga lembut.Keduanya tidak saling bertabrakan justru sebaliknya. Seolah-olah kedua api itu sedang merasakan sesuatu yang sama. Ratna berdiri di sampingnya dengan lonceng perak tergenggam erat. Tatapannya tidak pernah lepas dari Simbar Agni yang perlahan terangkat dari permukaan altar.
Last Updated: 2026-08-12
Chapter: BAB 11 Jejak Sang IbuCahaya itu semakin dekat. Wisanggeni dan Ratna berjalan perlahan menyusuri lorong yang dipenuhi kabut. Tidak ada lagi suara tangisan ataupun bisikan seperti sebelumnya. Seolah seluruh jiwa yang menghuni tempat itu memilih menyingkir, membiarkan mereka melewati jalan yang telah dibuka oleh Api Penuntun Jiwa.Semakin dekat mereka dengan cahaya, semakin jelas pula perubahan yang terjadi pada dinding batu di sekeliling mereka.Relief-relief tua mulai terlihat di balik kabut. Ada gambar para penjaga yang berdiri mengelilingi sebuah api besar. Beberapa di antaranya membawa keris, sementara yang lain tampak mengangkat tangan ke arah langit. Di antara mereka terdapat sosok perempuan yang berdiri dengan kedua telapak tangan terbuka.Api digambarkan mengalir dari tubuh perempuan itu menuju beberapa sosok yang berada di hadapannya.Ratna berhenti. "Wisanggeni, lihat."Ia mendekati dinding dan membersihkan sebagian debu yang menutupi relief. "Ini bukan sekadar gambaran para penjaga."Wisanggeni be
Last Updated: 2026-08-11
Chapter: BAB 9 Penjaga Gunung Agni (2)Tangga batu itu semakin dalam membawa mereka menuju perut Gunung Agni. Udara yang sebelumnya terasa dingin perlahan berubah menjadi hangat. Semakin jauh mereka turun, hawa panas semakin jelas terasa di kulit. Dinding di kedua sisi tangga juga berubah. Batu-batu hitam yang kasar mulai dipenuhi garis-garis tipis berwarna merah, seolah terdapat bara yang mengalir di balik permukaannya.Ratna menyentuh salah satu dinding dengan ujung jarinya, lalu segera menarik tangannya. "Panas."Wisanggeni menoleh. "Jangan disentuh.""Aku hanya ingin memastikan.""Dan sekarang kau sudah memastikan bahwa gunung ini tidak ingin disentuh."Ratna
Last Updated: 2026-08-09
Chapter: BAB 9 Penjaga Gunung AgniCahaya merah di dalam celah batu itu padam begitu cepat hingga Wisanggeni sempat mengira dirinya hanya melihat bayangan yang terbentuk oleh pantulan cahaya pagi. Namun hawa panas yang masih tertinggal di udara membuatnya tahu bahwa apa yang baru saja terjadi bukan ilusi.Ratna berdiri beberapa langkah di belakangnya dengan tangan masih menggenggam lonceng perak. Wajahnya tampak waspada. Matanya terus mengamati celah sempit di antara bebatuan, seolah berharap sesuatu akan kembali muncul dari kegelapan."Wisanggeni, jangan bergerak dulu."Wisanggeni tidak menjawab, tatapannya tertuju pada tanah di hadapannya. Pecahan batu hitam yang tadi tergeletak di sana kini tidak lagi bergerak. Benda itu hanya diam di atas batu, memantulkan cahaya samar yang
Last Updated: 2026-08-08