เข้าสู่ระบบSebagai tukang jamu, aku mendapat keberkahan Ibuk yang memaksaku harus menyembuhkan penyakit intim Guruku, sekaligus harus menjalin kedekatan lain dengan para wanita. Setiap interaksi dengan mereka, membuatku mendapat ilham tentang masa depan yang lebih cerah.
ดูเพิ่มเติมSore itu sekolah sudah mulai sepi, menyisakan koridor panjang yang terasa sedikit angker.
Arjuna Dewangga alias Juna, menyeka keringat yang bercucuran deras di dahi menggunakan punggung tangannya yang kasar.
Dia memanggul keranjang plastik berisi sisa botol jamu dagangannya yang beratnya lumayan menguras tenaga.
Untungnya, sinom dan beras kencur buatan Ibu Lastri selalu ludes diborong teman-teman sekolah yang kehausan setelah jam pelajaran selesai.
“Alhamdulillah, kalau laris begini terus, uang obat Ibu buat bulan depan aman,” batin Juna sambil tersenyum kecut mengingat kondisi Ibunya di rumah.
Langkah kaki Juna menggema di koridor lantai dua, melewati deretan kelas yang sudah terkunci rapat.
Entah kenapa, perasaannya mendadak tidak enak saat mendekati lorong toilet guru wanita di ujung selasar.
Lorong itu terkenal sunyi, apalagi lampu neonnya sering berkedip-kedip seperti di film horor murahan..
Satu botol kaca jamu mendadak tergelincir dari tumpukan di keranjang plastik Juna karena pegangannya yang sudah agak longgar.
Duggg….Duggg..Duggg...Klontang…!
Benda itu menghantam lantai, namun tidak pecah, melainkan menggelinding dengan kecepatan penuh ke arah toilet wanita.
"Waduh, mampus! Botol modal ituh…!" umpat Juna dengan suara tertahan.
Dia segera berlari kecil mengejar botol itu yang seolah punya nyawa sendiri.
Celakanya, botol itu menggelinding masuk ke celah pintu bilik paling ujung yang sedikit terbuka.
Juna berhenti tepat di depan pintu toilet guru yang biasanya dilarang dimasuki siswa pria mana pun.
“Aduh, gimana inih? Kalau ketahuan Pak Broto, habis aku dikuliti hidup-hidup,” batin Juna sambil menoleh ke kanan dan kiri dengan waspada.
Rasa takut akan hukuman kalah telak oleh rasa sayang Juna pada barang dagangannya.
Juna menarik napas panjang, lalu menyelinap masuk ke dalam area toilet guru yang beraroma wangi mawar itu.
Dia membungkuk rendah, berusaha meraih botol jamu yang bersembunyi di balik bayangan pintu bilik.
Namun, tepat saat tangannya hampir menyentuh botol, Juna mendengar suara yang membuat jantungnya hampir melompat keluar dari tenggorokan.
"Ahhh... essshhh... sedikit lagihhh...!"
Suara desahan itu terdengar sangat berat, basah, dan penuh tekanan.
Juna membeku di posisi membungkuk, kepalanya tanpa sengaja melewati celah pintu yang terbuka sekitar sepuluh sentimeter.
Di dalam sana, di atas kloset duduk, Ibu Arini Kusuma sedang berada dalam kondisi yang menghancurkan seluruh logika Juna sebagai siswa teladan.
Guru Bahasa Indonesia yang terkenal anggun dan selalu rapi itu kini tampak berantakan.
Rok span hitam ketat miliknya sudah tersingkap sangat tinggi, bahkan melewati batas paha atasnya yang putih mulus.
“Be-Beneran mulusss... lebih mulus dari porselen di toko bangunan!” batin Juna dengan mata melotot liar.
Jari tangan kanan Ibu Arini bergerak ritmis di balik kain tipis yang menutupi area ‘apem tembem’ miliknya.
Wajah Ibu Arini memerah padam, keringat sebesar biji jagung membasahi leher jenjangnya.
Napasnya memburu, menciptakan uap hangat yang terasa memenuhi bilik sempit tersebut.
Juna merasakan suhu tubuhnya mendadak naik drastis seolah dia baru saja menenggak satu galon jamu penguat stamina.
“Gustiii... Ibu Arini lagi mainin anunya sendiri? Di toilet sekolah?” batin Juna sambil menelan ludah dengan susah payah.
Rasanya ada sesuatu yang mengeras di balik celana seragam Juna yang sudah mulai kerasa kekecilan itu.
‘Batangan nakal’ miliknya mendadak bereaksi, menegang kaku seolah mendapatkan sinyal magnetis dari pemandangan di depannya.
Juna yang panik mencoba menarik kembali kepalanya, namun sialnya, kakinya justru tersandung botol kaca tadi.
Takkk…!
Bunyi botol yang membentur keramik terdengar begitu nyaring di ruangan yang sunyi itu.
Ibu Arini tersentak, matanya yang tadi terpejam sayu langsung membelalak lebar.
Dia menunduk dan langsung beradu pandang dengan wajah Juna yang masih membeku di bawah sana.
"Ju-Juna?!" pekik Ibu Arini dengan suara yang pecah karena kaget sekaligus malu.
Juna refleks menutup kedua matanya rapat-rapat menggunakan kedua telapak tangannya.
"A-A-Anu, Bu! S-Sumpah, Juna cuma mau ambil botol yang gelinding!" seru Juna dengan suara bergetar sehebat gempa bumi.
Dia merasa wajahnya terbakar, apalagi dia tahu posisi Ibu Arini masih sangat terbuka di depannya.
“Mampus aku! Habis ini pasti dikeluarkan dari sekolah! Mana beasiswa lagih…!” batin Juna meratap histeris.
Keringat dingin mengalir deras dari pelipisnya, membasahi tangannya yang masih menutupi mata.
"Junaaa... kamuuu... kamu lihat apa saja tadi?" tanya Ibu Arini dengan nada yang aneh, antara marah dan memohon.
"E-Enggak lihat apa-apa, Bu! Gelap semua! Sumpah, mata Juna minusnya nambah mendadak!" bohong Juna sambil gemetaran.
Dia mencoba membalikkan badan, berniat lari sekencang mungkin tanpa mempedulikan botol jamunya lagi.
Namun, sebelum Juna sempat melangkah keluar dari bilik, sebuah tangan yang terasa sangat panas mencengkeram pergelangan tangannya.
Cengkeraman itu begitu kuat, seolah-olah ditarik oleh seorang atlet angkat besi, bukan seorang guru wanita.
Srettt…!
"Masuk ke sini!" perintah Ibu Arini dengan nada rendah namun penuh penekanan.
Juna terseret mundur masuk ke dalam bilik yang hanya berukuran satu kali satu meter itu.
Brakkkk!
Pintu bilik ditendang tutup oleh kaki Ibu Arini yang masih belum menurunkan rok spannya secara sempurna.
Klik!
Suara kunci pintu yang diputar terdengar seperti vonis hukuman mati bagi Juna.
Punggung Juna menghantam dinding keramik yang dingin, namun dadanya justru bersentuhan dengan bahu Ibu Arini yang panas.
Aroma parfum mawar bercampur dengan bau keringat yang sangat tajam dan menggairahkan langsung menyerang hidung Juna.
Ibu Arini menyandarkan kepalanya di dada Juna, bahunya naik turun seiring dengan napasnya yang belum teratur.
"B-Bu... i-iniii… salah paham, Bu. Juna janji nggak akan bilang siapa-siapa kalau Ibu lagiii... anu..." ucap Juna dengan suara mencicit.
Ibu Arini mendongak, menatap Juna dengan mata yang tampak sangat sayu dan dipenuhi gairah yang belum tuntas.
"Saya menderita penyakit langka, Juna. Sesuatu yang hanya muncul jika saya terlalu lama menahannya," gumam Ibu Arini lirih.
Juna semakin bingung, otaknya yang sudah mesum makin sulit diajak bekerja sama.
"Pee…Penyakit apa, Bu? Butuh jamu kunyit asam saya?" tanya Juna dengan polosnya.
Ibu Arini menggeleng, lalu menarik tangan Juna menuju ke arah pinggangnya yang ramping.
"Ini bukan penyakit yang bisa sembuh dengan jamu murahmu itu, Juna."
Wajah Ibu Arini mendekat ke arah telinga Juna, membisikkan sesuatu yang membuat seluruh saraf Juna menegang.
"Tubuh saya mendadak terasa dingin seperti es jika tidak ada yang menyentuhnya... dan kamu, Juna, tubuhmu terasa sangat panas."
Tangan Ibu Arini kini mulai meraba dada bidang Juna, mencari detak jantung pemuda itu yang berpacu gila.
"A-A-Anu... Bu... J-Juna harus pulang," ucap Juna terbata-bata sambil mencoba melepaskan diri.
Namun, Ibu Arini justru semakin merapatkan tubuhnya, membuat Juna bisa merasakan kenyalnya "melon" besar milik gurunya itu menekan dadanya.
Deggg...
Juna merasa dunianya seolah berhenti berputar detik itu juga.
Ibu Arini menatap lurus ke mata Juna, lalu berkata dengan suara yang sangat serius.
"Saya ingin kamu menjadi 'obat' pribadi saya mulai sore ini, Juna."
"Aa... apanya yang diobati, Bu?" tanya Juna dengan keringat dingin yang semakin deras.
Ibu Arini menarik tangan Juna lebih rendah lagi, menuju ke arah kakinya yang masih terbuka lebar.
"Semuanya. Dan jika kamu menolak, saya pastikan beasiswamu dicabut besok pagi."
Juna tertegun, ancaman itu menghantamnya tepat di ulu hati.
Di satu sisi dia ketakutan, tapi di sisi lain, batin mesumnya justru mulai menikmati aroma dan kehangatan tubuh Ibu Arini.
“Sialan... kenapa ini malah jadi kontrak ranjang?!” batin Juna menjerit dalam dilema.
Pintu toilet mendadak terdengar diketuk dari luar dengan keras.
Tok! Tok! Tok!
"Arini? Kamu di dalam?" suara berat Pak Broto terdengar di balik pintu toilet luar.
Juna dan Ibu Arini seketika membeku, saling menatap dengan napas tertahan.
"Mampus... Pak Broto!" bisik Juna dengan wajah yang mendadak pucat pasi.
Ibu Arini segera membungkam mulut Juna dengan telapak tangannya yang harum.
Dia memberi isyarat agar Juna tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
Masalahnya, wajah mereka kini hanya berjarak beberapa sentimeter saja, dan tangan Juna masih tertahan di atas paha mulus gurunya itu.
Ibu Arini menatap pintu bilik dengan tajam, sementara tangan lainnya mulai meraih kunci pintu seolah siap melakukan sesuatu yang nekat.
Sinar mentari pagi keemasan memancar hangat menembus dinding kaca lantai teratas gedung pusat Rumah Sakit Internasional Arjuna Dewangga. Panorama ibu kota membentang luas di bawah sana, memperlihatkan bendera raksasa konsorsium herbal berkibar megah di setiap sudut jalan protokol.Juna berdiri kokoh di balkon ruang kantor kepresidenan mengenakan setelan jas kaisar medis hitam berpadu sulaman naga emas murni.Di ruang tengah yang luas berlapis karpet sutra merah, seluruh aliansi wanita tercantik di jagat raya duduk berkumpul mengelilingi sofa utama.Nyonya Arini Dewangga duduk anggun di singgasana tengah, memangku hasil pemindaian ultrasonografi berkas emas dari laboratorium medis.Sepasang melon montok milik sang permaisuri utama membusung anggun di balik balutan gaun sutra hijau zamrud longgar, memancarkan aura keibuan yang sangat teduh.Clarissa Wijaya bersama Madam Elena berdi
Lampu kristal gantung di kamar pengantin Royal Suite meredup lembut, menyisakan pendar keemasan lilin aromaterapi mawar di atas meja marmer. Ranjang berukuran lima kali lima meter terhampar megah dengan sprei sutra emas bertabur sepuluh ribu kelopak bunga mawar merah.Nyonya Arini Dewangga berdiri di samping tempat tidur, membelakangi cermin rias seraya melepas satu per satu tusuk konde emas dari sanggulnya.Kebaya sutra hijau zamrud yang membalut raga sintal sang permaisuri utama perlahan melorot ke lantai keramik marmer secara satset.Raga molek seputih pualam milik sang guru idola terpampang indah hanya berbalut kain kemben sutra tipis yang nyaris transparan.Sepasang melon montok berukuran padat matang membusung kencang, berguncang halus mengiringi tarikan napasnya yang mulai memburu.Juna melangkah tegap mendekati sang permaisuri, mengenakan celana tidur sutra hitam tanpa se
Lampu sorot keemasan menyorot megah ke arah panggung pelaminan seluas lima puluh meter di ballroom utama Hotel Grand Imperial. Karpet sutra merah dipenuhi jajaran ribuan buket bunga anggrek bulan langka, menyambut kehadiran lima ribu tamu undangan dari kalangan kepala negara, konglomerat dunia, jenderal militer, dan dewan guru besar kedokteran.Juna berdiri gagah di singgasana tengah mengenakan beskap beludru hitam berhias sulaman naga emas murni, memancarkan wibawa Tingkat Dewa Pengasihan yang tiada tanding.Nyonya Arini Dewangga duduk anggun tepat di samping kanan Juna, memancarkan pesona Permaisuri Utama dengan kebaya hijau zamrud berlapis brokat emas.Sepasang melon montok milik sang permaisuri membusung padat dan kenyal di balik kebaya ketat, menonjolkan lekuk panggul sintal yang memikat setiap pasang mata.Di sisi kiri dan kanan singgasana utama, enam kursi beludru emas terisi anggun oleh Clari
Karpet merah tebal berhias taburan kelopak mawar putih dan melati keraton terbentang megah di lorong utama ballroom Hotel Grand Imperial. Lampu gantung kristal berlapis emas memancarkan kemilau cahaya agung, menerangi ribuan tamu kehormatan dari kalangan menteri, jenderal militer, konglomerat, hingga duta besar puluhan negara sahabat.Juna duduk tegak di meja akad marmer putih berukir emas mengenakan beskap pengantin beludru hitam bercorak prada emas khas raja Jawa.Keris pusaka bertahtakan batu mirah delima terselip kokoh di pinggang belakangnya, memancarkan wibawa Tingkat Dewa Pengasihan yang tiada tanding.Ibu Arini Kusuma duduk anggun di sisi kanan Juna mengenakan kebaya pengantin sutra hijau zamrud berpadu brokat emas murni berhias untaian melati ronce.Riasan paes agung keraton membingkai wajah cantiknya yang sangat merona, menonjolkan lekuk sepasang melon montok yang membusung anggun dan padat
Suara manja Mbak Ratna yang bocor melalui speaker ponsel seketika membuat Juna panik sampe keringat dingin. Ibu Arini Kusuma pun mengernyitkan alisnya yang indah, menatap saku celana Juna dengan pandangan menyelidik yang penuh curiga."A-A-Anu Bu... ini... ini panggilan darurat dari konter jamu!" s
Pak Broto terbelalak syok, matanya nyaris keluar melihat kelancangan murid melarat di depannya yang berani merangkul aset berharga sekolah.Clarissa Wijaya pun membeku seketika, napasnya tertahan saat punggungnya menempel pas pada dada bidang Juna yang terasa hangat menembus seragam.Gejolak energi
Siska Anastasya berdiri dengan berkacak pinggang, matanya melotot menatap Juna dan Ibu Arini bergantian. "Kak Juna kok malah berduaan sama Bu Arini di depan toilet sihhh...?" tanya Siska dengan nada manja yang dibuat-buat.Juna menelan ludah kesat, keringat dinginnya mengalir semakin deras melintas
Juna panik setengah mati melihat tubuh Ibu Arini Kusuma yang tergeletak kaku di atas lantai toilet yang sedikit basah.“Duh, Gusti! Kalau beliau mati di sini, aku pasti dituduh melakukan malapraktik atau lebih parah lagi dituduh berbuat mesum sama mayat!” batin Juna dengan keringat dingin yang meng






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็น