LOGINArjuna Dewangga alias Juna adalah seorang siswa penerima beasiswa miskin yang bertahan hidup dengan berjualan jamu keliling di sekolahnya. Namun, sebuah insiden di toilet wanita mengubah total garis takdir hidupnya. Juna tidak sengaja memergoki Ibu Arini, guru Bahasa Indonesia yang terkenal anggun, sedang meluapkan gairahnya sendiri akibat sebuah penyakit kutukan langka. Saat penyakit itu mendadak kambuh hingga membuat tubuh Ibu Arini kejang dan sedingin es, ketulusan Juna tanpa sengaja membangkitkan warisan gaib di dalam darahnya. Ternyata, Juna adalah keturunan tabib sakti mandraguna pemilik ilmu kultivasi pengasihan tingkat tinggi. Pengorbanan sang ibu yang menderita lumpuh demi memicu kekuatannya, membuat tubuh Juna kini mengalirkan energi panas penyembuh. Melalui dekapan fisik yang intim, Juna berhasil menjadi penawar bagi Ibu Arini. Terikat oleh rahasia dan kebutuhan medis yang tabu, Ibu Arini menawarkan kontrak rahasia senilai dua puluh juta rupiah per bulan agar Juna bersedia menjadi "obat" pribadinya setiap malam. Sejak energi kultivasinya bangkit, daya pikat maskulin dan aura predator Juna menguar tak terkendali. Hal ini tidak hanya memikat Ibu Arini , tetapi juga mulai menyengat naluri kewanitaan Clarissa Wijaya, sang Ketua OSIS ningrat yang sedingin es , serta memicu gelombang gairah dari Mbak Ratna si pemilik kantin. Langkah Juna kian terjebak dalam lingkaran syahwat dan intrik sekolah ketika dia mengantarkan jamu pesanan Ibu Sarah, guru olahraga yang killer. Di dalam ruang peralatan yang sepi, sebuah ketidaksengajaan membuat Juna menyaksikan keindahan tubuh Ibu Sarah yang agresif. Bukannya menghindar, sang guru olahraga justru mengunci tubuh Juna dan menuntut "jamu" biologis langsung ke dalam tubuhnya. Kini, Juna harus menavigasi kehidupan barunya di antara ancaman fitnah Pak Broto , godaan para wanita dewasa, dan kultivasi magis yang terus menuntut pelepasan energi kejantanannya.
View MoreSore itu sekolah sudah mulai sepi, menyisakan koridor panjang yang terasa sedikit angker.
Arjuna Dewangga alias Juna, menyeka keringat yang bercucuran deras di dahi menggunakan punggung tangannya yang kasar.
Dia memanggul keranjang plastik berisi sisa botol jamu dagangannya yang beratnya lumayan menguras tenaga.
Untungnya, sinom dan beras kencur buatan Ibu Lastri selalu ludes diborong teman-teman sekolah yang kehausan setelah jam pelajaran selesai.
“Alhamdulillah, kalau laris begini terus, uang obat Ibu buat bulan depan aman,” batin Juna sambil tersenyum kecut mengingat kondisi Ibunya di rumah.
Langkah kaki Juna menggema di koridor lantai dua, melewati deretan kelas yang sudah terkunci rapat.
Entah kenapa, perasaannya mendadak tidak enak saat mendekati lorong toilet guru wanita di ujung selasar.
Lorong itu terkenal sunyi, apalagi lampu neonnya sering berkedip-kedip seperti di film horor murahan..
Satu botol kaca jamu mendadak tergelincir dari tumpukan di keranjang plastik Juna karena pegangannya yang sudah agak longgar.
Duggg….Duggg..Duggg...Klontang…!
Benda itu menghantam lantai, namun tidak pecah, melainkan menggelinding dengan kecepatan penuh ke arah toilet wanita.
"Waduh, mampus! Botol modal ituh…!" umpat Juna dengan suara tertahan.
Dia segera berlari kecil mengejar botol itu yang seolah punya nyawa sendiri.
Celakanya, botol itu menggelinding masuk ke celah pintu bilik paling ujung yang sedikit terbuka.
Juna berhenti tepat di depan pintu toilet guru yang biasanya dilarang dimasuki siswa pria mana pun.
“Aduh, gimana inih? Kalau ketahuan Pak Broto, habis aku dikuliti hidup-hidup,” batin Juna sambil menoleh ke kanan dan kiri dengan waspada.
Rasa takut akan hukuman kalah telak oleh rasa sayang Juna pada barang dagangannya.
Juna menarik napas panjang, lalu menyelinap masuk ke dalam area toilet guru yang beraroma wangi mawar itu.
Dia membungkuk rendah, berusaha meraih botol jamu yang bersembunyi di balik bayangan pintu bilik.
Namun, tepat saat tangannya hampir menyentuh botol, Juna mendengar suara yang membuat jantungnya hampir melompat keluar dari tenggorokan.
"Ahhh... essshhh... sedikit lagihhh...!"
Suara desahan itu terdengar sangat berat, basah, dan penuh tekanan.
Juna membeku di posisi membungkuk, kepalanya tanpa sengaja melewati celah pintu yang terbuka sekitar sepuluh sentimeter.
Di dalam sana, di atas kloset duduk, Ibu Arini Kusuma sedang berada dalam kondisi yang menghancurkan seluruh logika Juna sebagai siswa teladan.
Guru Bahasa Indonesia yang terkenal anggun dan selalu rapi itu kini tampak berantakan.
Rok span hitam ketat miliknya sudah tersingkap sangat tinggi, bahkan melewati batas paha atasnya yang putih mulus.
“Be-Beneran mulusss... lebih mulus dari porselen di toko bangunan!” batin Juna dengan mata melotot liar.
Jari tangan kanan Ibu Arini bergerak ritmis di balik kain tipis yang menutupi area ‘apem tembem’ miliknya.
Wajah Ibu Arini memerah padam, keringat sebesar biji jagung membasahi leher jenjangnya.
Napasnya memburu, menciptakan uap hangat yang terasa memenuhi bilik sempit tersebut.
Juna merasakan suhu tubuhnya mendadak naik drastis seolah dia baru saja menenggak satu galon jamu penguat stamina.
“Gustiii... Ibu Arini lagi mainin anunya sendiri? Di toilet sekolah?” batin Juna sambil menelan ludah dengan susah payah.
Rasanya ada sesuatu yang mengeras di balik celana seragam Juna yang sudah mulai kerasa kekecilan itu.
‘Batangan nakal’ miliknya mendadak bereaksi, menegang kaku seolah mendapatkan sinyal magnetis dari pemandangan di depannya.
Juna yang panik mencoba menarik kembali kepalanya, namun sialnya, kakinya justru tersandung botol kaca tadi.
Takkk…!
Bunyi botol yang membentur keramik terdengar begitu nyaring di ruangan yang sunyi itu.
Ibu Arini tersentak, matanya yang tadi terpejam sayu langsung membelalak lebar.
Dia menunduk dan langsung beradu pandang dengan wajah Juna yang masih membeku di bawah sana.
"Ju-Juna?!" pekik Ibu Arini dengan suara yang pecah karena kaget sekaligus malu.
Juna refleks menutup kedua matanya rapat-rapat menggunakan kedua telapak tangannya.
"A-A-Anu, Bu! S-Sumpah, Juna cuma mau ambil botol yang gelinding!" seru Juna dengan suara bergetar sehebat gempa bumi.
Dia merasa wajahnya terbakar, apalagi dia tahu posisi Ibu Arini masih sangat terbuka di depannya.
“Mampus aku! Habis ini pasti dikeluarkan dari sekolah! Mana beasiswa lagih…!” batin Juna meratap histeris.
Keringat dingin mengalir deras dari pelipisnya, membasahi tangannya yang masih menutupi mata.
"Junaaa... kamuuu... kamu lihat apa saja tadi?" tanya Ibu Arini dengan nada yang aneh, antara marah dan memohon.
"E-Enggak lihat apa-apa, Bu! Gelap semua! Sumpah, mata Juna minusnya nambah mendadak!" bohong Juna sambil gemetaran.
Dia mencoba membalikkan badan, berniat lari sekencang mungkin tanpa mempedulikan botol jamunya lagi.
Namun, sebelum Juna sempat melangkah keluar dari bilik, sebuah tangan yang terasa sangat panas mencengkeram pergelangan tangannya.
Cengkeraman itu begitu kuat, seolah-olah ditarik oleh seorang atlet angkat besi, bukan seorang guru wanita.
Srettt…!
"Masuk ke sini!" perintah Ibu Arini dengan nada rendah namun penuh penekanan.
Juna terseret mundur masuk ke dalam bilik yang hanya berukuran satu kali satu meter itu.
Brakkkk!
Pintu bilik ditendang tutup oleh kaki Ibu Arini yang masih belum menurunkan rok spannya secara sempurna.
Klik!
Suara kunci pintu yang diputar terdengar seperti vonis hukuman mati bagi Juna.
Punggung Juna menghantam dinding keramik yang dingin, namun dadanya justru bersentuhan dengan bahu Ibu Arini yang panas.
Aroma parfum mawar bercampur dengan bau keringat yang sangat tajam dan menggairahkan langsung menyerang hidung Juna.
Ibu Arini menyandarkan kepalanya di dada Juna, bahunya naik turun seiring dengan napasnya yang belum teratur.
"B-Bu... i-iniii… salah paham, Bu. Juna janji nggak akan bilang siapa-siapa kalau Ibu lagiii... anu..." ucap Juna dengan suara mencicit.
Ibu Arini mendongak, menatap Juna dengan mata yang tampak sangat sayu dan dipenuhi gairah yang belum tuntas.
"Saya menderita penyakit langka, Juna. Sesuatu yang hanya muncul jika saya terlalu lama menahannya," gumam Ibu Arini lirih.
Juna semakin bingung, otaknya yang sudah mesum makin sulit diajak bekerja sama.
"Pee…Penyakit apa, Bu? Butuh jamu kunyit asam saya?" tanya Juna dengan polosnya.
Ibu Arini menggeleng, lalu menarik tangan Juna menuju ke arah pinggangnya yang ramping.
"Ini bukan penyakit yang bisa sembuh dengan jamu murahmu itu, Juna."
Wajah Ibu Arini mendekat ke arah telinga Juna, membisikkan sesuatu yang membuat seluruh saraf Juna menegang.
"Tubuh saya mendadak terasa dingin seperti es jika tidak ada yang menyentuhnya... dan kamu, Juna, tubuhmu terasa sangat panas."
Tangan Ibu Arini kini mulai meraba dada bidang Juna, mencari detak jantung pemuda itu yang berpacu gila.
"A-A-Anu... Bu... J-Juna harus pulang," ucap Juna terbata-bata sambil mencoba melepaskan diri.
Namun, Ibu Arini justru semakin merapatkan tubuhnya, membuat Juna bisa merasakan kenyalnya "melon" besar milik gurunya itu menekan dadanya.
Deggg...
Juna merasa dunianya seolah berhenti berputar detik itu juga.
Ibu Arini menatap lurus ke mata Juna, lalu berkata dengan suara yang sangat serius.
"Saya ingin kamu menjadi 'obat' pribadi saya mulai sore ini, Juna."
"Aa... apanya yang diobati, Bu?" tanya Juna dengan keringat dingin yang semakin deras.
Ibu Arini menarik tangan Juna lebih rendah lagi, menuju ke arah kakinya yang masih terbuka lebar.
"Semuanya. Dan jika kamu menolak, saya pastikan beasiswamu dicabut besok pagi."
Juna tertegun, ancaman itu menghantamnya tepat di ulu hati.
Di satu sisi dia ketakutan, tapi di sisi lain, batin mesumnya justru mulai menikmati aroma dan kehangatan tubuh Ibu Arini.
“Sialan... kenapa ini malah jadi kontrak ranjang?!” batin Juna menjerit dalam dilema.
Pintu toilet mendadak terdengar diketuk dari luar dengan keras.
Tok! Tok! Tok!
"Arini? Kamu di dalam?" suara berat Pak Broto terdengar di balik pintu toilet luar.
Juna dan Ibu Arini seketika membeku, saling menatap dengan napas tertahan.
"Mampus... Pak Broto!" bisik Juna dengan wajah yang mendadak pucat pasi.
Ibu Arini segera membungkam mulut Juna dengan telapak tangannya yang harum.
Dia memberi isyarat agar Juna tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
Masalahnya, wajah mereka kini hanya berjarak beberapa sentimeter saja, dan tangan Juna masih tertahan di atas paha mulus gurunya itu.
Ibu Arini menatap pintu bilik dengan tajam, sementara tangan lainnya mulai meraih kunci pintu seolah siap melakukan sesuatu yang nekat.
Suara ketukan pintu depan yang sangat keras menghancurkan seketika atmosfer intim di dalam kamar. Bunyi hantaman mendadak itu membuat kelopak mata Ibu Arini terbuka lebar, langsung dipenuhi oleh kepanikan luar biasa yang merusak suasana magis.Wanita anggun itu buru-buru mendorong dada Juna menjauh, lalu menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh moleknya yang masih bergetar hebat. Sisa kenikmatan dari sentuhan batin barusan masih terasa sangat kental, apalagi area sensitif milik gurunya itu sudah terlanjur basah kuyup oleh cairan hangat alami.Suhu tubuh Ibu Arini kini sudah sepenuhnya kembali normal, memancarkan rona merah sehat di kedua pipi dan dadanya. Pemulihan fisik yang sangat instan ini terjadi berkat transfer hawa panas dari ilmu kultivasi pengasihan tubuh jantan muridnya."Juna, pakai baju kamu sekarang! Ada orang nekat di depan, suaranya seperti mengancam kita!" bisik Ibu Arini parau sambil menarik kancing kemeja batiknya dengan jari gemetar.
Suara pecahan kaca dari ruang tamu depan bener-bener membuat seluruh bulu kuduk Juna berdiri tegak. Juna menahan napasnya di atas tubuh Ibu Arini, sementara batinnya langsung dirundung rasa panik yang luar biasa hebat.'Gusti... si kumis beracun Pak Broto bener-bener nekat ngerusak rumah orang sore-sore begini! Tapi posisi hamba udah kepalang nanggung di atas kasur!' batin Juna overthinking setengah mati."Arjuna... f-fokus pada tubuh saya... jangan biarkan bajingan di luar itu merusak terapi kita," rintih Ibu Arini dengan suara serak yang bergetar menahan gigil magis.Berat tubuh Juna menindih ringan separuh badan Ibu Arini di atas seprai putih, merasakan sensasi luar biasa dari gesekan kulit mereka berdua yang saling mencari kehangatan. Juna mencoba membuang rasa takutnya, lalu memusatkan seluruh sisa energi kultivasi pengasihan kuno ke ujung jari-jemarinya.Telapak tangan pemuda itu bergerak turun menyusuri leher jenjang gurunya, memijat lembut area tu
Suara gedoran brutal Pak Broto di luar pagar rumah membuat atmosfer di dalam kamar tidur utama Ibu Arini terasa semakin mencekam. Juna membeku di tempat, keringat dinginnya meledak mengucur deras melintasi pelipis akibat overthinking memikirkan nasib beasiswa miskin miliknya yang terancam dicabut total.Brakkkk! Brakkkk!"Juna, abaikan guru gila itu, dia tidak akan bisa masuk karena kunci pagar halaman rumah saya sangat kuat," bisik Ibu Arini parau, meremas pundak Juna demi mempertahankan fokus terapi penyembuhan mereka."A-A-Anu Bu, ta-ta-tapi kalau Pak Broto nekat manggil warga kompleks dan dobrak pintu depan gimana? Su-Su-Sumpah, Juna panik banget ini Bu!" seru Juna gagap dengan mata melotot memandangi pintu kamar yang masih tertutup.Udara di dalam kamar tidur utama Ibu Arini memang terasa sangat pengap, penuh dengan uap dari mesin pemanas ruangan yang sengaja dinyalakan pada suhu maksimal. Menariknya, wanita dewasa itu tetap melipat kedua le
Kain jubah mandi yang longgar itu terbuka di bagian atas, membuat sepasang "melon" besar milik gurunya yang polos tanpa sehelai benang pun langsung menekan dada Juna dengan sangat lekat dan padat.Juna tersentak mundur satu tapak, menahan berat tubuh Ibu Arini yang mendadak lemas total seperti kehilangan seluruh tulang penyangganya.Deggg...Aroma wangi mawar bercampur hawa dingin yang menusuk dari kulit putih mulus Ibu Arini langsung menyengat seluruh indra penciuman Juna."J-Juna... dingin... tolong bawa saya ke kamar tidur utama," rintih Ibu Arini dengan bibir yang bergetar hebat di sela ceruk leher Juna."A-A-Anu Bu, i-iya Bu! S-Su-Sumpah, badan Ibu udah kayak balok es dari dalam freezer!" seru Juna gagap setengah mati sambil buru-buru membopong tubuh gurunya masuk ke dalam rumah dan menendang pintu jati hingga tertutup rapat.Brakkkk!Juna melangkah cepat menuju kamar tidur utama, merebahkan tubuh lemah Ibu Arin






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.