I Became the Villainess in My Own Novel

I Became the Villainess in My Own Novel

last updateLast Updated : 2026-08-09
By:  Arta PradjintaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
8Chapters
20views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Helia baru memulai puncak kesuksesan dihidupnya sebagai penulis novel ternama berkat karya novelnya yang melenjit naik daun. Helia tak pernah tahu jika hidupnya harus berakhir tragis di tangan fans fanatiknya. Setelah itu Helia hidup kembali namun berada dalam tubuh seorang Lady Bangsawan cantik jelita namun bersifat keji. Helia berada dalam tubuh Michelia Avestry Andraste yang menjadi tokoh antagonis dari novel buatannya. Helia pun memulai hidup sebagai Michelia dengan berbekal pengetahuannya dia bertekad untuk merubah takdir tokoh antagonis yang seharusnya ada dalam bad ending. Saat itu pula Michelia malah tak sengaja menarik perhatian Second Main Lead dari novelnya sendiri, masalahnya Pria ini terkenal dingin dan tak memiliki hati. Mampukah Michelia bertahan dan merubah takdirnya sendiri?

View More

Chapter 1

ARC I {Bagian 1 : Sang Penulis}

“Kita sambut Peraih Best seller tahun ini… Helia!”

Panggung gemerlap yang disorot berbagai lampu pijar itu menampaki seorang wanita menaiki anak tangga secara perlahan menuju puncak panggung. Seorang wanita muda yang saat ini sedang melenjit namanya berkat kepopulerannya menulis sebuah buku Romansa Fantasi berjudul The Hidden Luna. Senyumannya merekah manis dan sepasang mata kenarinya berbinar menatap tamu dari Acara Nominasi Bergengsi yang disiarkan langsung melalui televisi.

Namanya Helia, masih belia. Gadis muda yang secara ajaib populer di kalangan generasi muda berkat bukunya. Ia yang sedang naik daun bahkan bisa kaya raya berkat usaha kerasnya itu. Selain jadi Penulis Populer, Helia juga seorang Mahasiswi Kedokteran yang masih aktif kuliah.

Tangan kanannya memegang microphone yang diberikan padanya.

“Terima kasih semuanya, berkat kalian The Hidden Luna tidak akan bisa sesukses ini,” ucap Helia haru.

Wanita muda itu langsung membawa pulang penghargaan utama malam ini diiringi tepuk tangan yang riuh.

“Selamat Helia, tapi besok sore kamu harus hadir dalam Meet and Greet di Mahayu Plaza,” ucap seseorang pria sembari menghampiri Helia yang baru menuruni panggung itu.

Helia menghela napas cukup panjang.

“Kerja, kerja, tipes!” celetuk Helia yang berjalan cukup cepat sambil mengangkat ujung gaunnya.

“Mau mengeluh juga percuma bukan? Fans-mu itu fanatik semua, bagaimana sih novel seperti itu jadi banyak digilai,” ujar pria itu berkomentar.

“Kak Chris itu tidak tahu saja jika novelku itu mantera ajaib. Niscaya saja, jika masuk ke dalam buku itu pasti seru,” sahut Helia sambil menjulurkan lidahnya.

Si Manajer hanya bisa menggeleng sembari menghela napas.

“Kalau benar kejadian, kau jadi orang pertama yang menyesal bisa masuk ke buku mu sendiri,” ucap Chris, sang Manajer.

Hari pun sudah beranjak besok. Helia menjalani aktivitas seperti biasanya. Dia tetap pergi ke Universitas untuk berkuliah, kemudian sepulang kuliah langsung bersiap lagi untuk menghadiri Meet and Greet dari bukunya itu. Saat hari menjelang petang, Helia baru tiba di Mahayu Plaza. Helia sudah melihat antrean para pembaca yang menantikan kehadirannya.

“Helia, aku baru dikabari oleh Kantor Penerbitan jika tadi pagi ada seseorang yang mencoba mencarimu. Ini bukan kabar baik karena mungkin saja itu penguntit,” ujar Chris berbisik pada Helia yang sudah menduduki bangku panggung acara Meet and Greet itu.

Raut wajah Helia seketika cemas. Ia baru menyadari akhir-akhir ini sering diberi teror dari fans fanatiknya dari berbagai social media.

“Aku baru teringat kemarin sempat di-DM dari I*******m dengan akun seseorang. Dia menyumpahiku dan mengancamku karena membuat buku yang jelek,” sahut Helia yang juga berbisik pada Chris.

Namun acara Meet and Greet sudah dimulai. Sementara itu Helia mulai meladeni setiap pembacanya yang mengantre bertemu dengannya itu dan menandatangani buku-buku dari para penggemar.

Helia tak pernah tahu jika ia sedang diikuti oleh marabahaya. Helia yang berjam-jam dirundung kesibukan meladeni para pembaca membuatnya lupa dengan teror itu. Helia yang tak waspada itu berjalan kaki usai keluar dari Mahayu Plaza di malam hari yang larut. Helia terlalu lelah mengabaikan seseorang yang sedari tadi mengikutinya berjalan di pinggiran trotoar.

Sebuah tangan memegang pundak Helia. Helia yang tidak memiliki prasangka buruk itu segera menoleh menghadap seseorang ber-hoodie hitam yang memakai masker menutupi wajahnya. Helia diam mematung.

“S-siapa kau?” tanya Helia ketakutan.

“Kau mengabaikan setiap kritikku dari email bahkan semua social media-mu. Sekarang terimalah kematianmu, Penulis Arogan!” bentak si wanita misterius sembari menghunuskan pisau pada perut Helia.

Helia langsung ambruk seketika. Tubuhnya tergeletak tak berdaya di pinggiran jalan trotoar. Sementara itu rasa nyeri dari luka di perutnya menjalar ke sekujur tubuhnya.

“T-tolong… aku,” ucap Helia lirih dan tak berdaya.

Helia bisa menyaksikan si penguntit yang berlari terbirit-birit meninggalkannya seorang diri itu.

“Apakah aku akan mati?” tanya Helia membatin seorang diri.

Helia merasakan tubuhnya semakin lemas sementara cairan merah dari lukanya itu sudah menggenangi jalanan trotoar. Malam yang hening dan sepi itu menghantarkan Helia pada ajalnya sendiri.

“Tuhan, berikan aku kesempatan agar hidup kembali, apa pun itu takdirku,” ucap Helia sembari menatap langit malam yang dingin itu.

Semakin lama kedua mata Helia kehilangan cahaya kehidupan dan ia tewas mengenaskan seorang diri.

.

.

.

Mentari pagi menyingsing menaiki hari. Kicauan burung yang berisik di pagi hari dari luar jendela sebuah mansion keramik putih gading itu berhasil membangunkan sosok perempuan muda dari tidur lelapnya. Sepasang kaki jenjang menuruni ranjang kasur, kemudian tubuh ramping dan mungil itu meregangkan kedua tangannya sembari menguap cukup lebar.

“Sudah pagi ya?” gadis itu berucap sambil mengucek sebelah matanya.

Kedua mata gadis itu membelalak sempurna kemudian menyingkap piyama tidurnya untuk melihat perut putih datarnya itu.

“Tidak mungkin, pisau tajam itu menusukku di bagian ini, aku sudah mati!” teriak gadis itu ketakutan.

Ia buru-buru berlari ke kamar mandi yang ada di dalam kamar tidur megah ini kemudian berdiri di hadapan cermin kaca.

“Tubuh siapa ini?” tanya gadis itu sembari meraba wajah cantik jelitanya.

Sepasang iris mata lembut seperti kelopak lavender yang tersapu embun, paras cantik jelita yang menawan, kulit putih bersih, dan rambut hitam pekat yang bergelombang seperti langit malam tanpa bintang.

Tok… tok…

“Lady Michelia, apakah Anda baik-baik saja?” tanya seseorang dari luar kamar mandi.

Gadis itu menatap horor dirinya sendiri sembari menepuk-nepuk kedua pipi gempalnya. Ia memandangi sosok dirinya saat ini.

“Deskripsi tubuh ini, kenapa seperti Michelia Avestry Andraste, karakter dari novelku sendiri?” tanya gadis itu seorang diri.

“Lady Michelia, apakah Anda terluka?” tanya seseorang dari luar kamar mandi itu lagi.

Gadis itu langsung beranjak ke pintu kamar mandi kemudian membuka pintu itu. Gadis itu hanya menatap diam sang pelayan muda yang langsung menunduk ketakutan pada dirinya itu. Padahal dia belum berkata apa pun.

“Ampun! M-maafkan ketidaksopanan saya, Lady!” sang pelayan langsung membungkuk sambil gemetaran di hadapan si gadis.

“Siapa namaku?” tanya gadis itu pada si pelayan.

“Anda Lady Michelia Avestry Andraste, Nona Muda dari Klan Andraste, pewaris sah Klan ini,” jawab si pelayan.

Michelia langsung menepuk dahinya sendiri sambil menghela napas cukup panjang.

“Ya Tuhan, pasti Kau bercanda padaku.”

Michelia mengeluh sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Ia kembali menatap pelayan itu. Tentu Michelia mengetahui semua jalan, isi cerita, bahkan karakter dalam novelnya itu.

“Dari seluruh karakter yang ada kenapa malah Michelia. Tuhan, Kau pasti mengujiku lagi,” ucap Michelia dalam batin.

Ironisnya, Helia malah berada dalam tubuh Michelia, karakter antagonis yang pendengki, pendendam, dan arogan itu.

“Angkat wajahmu, Amelia,” perintah Michelia.

Pelayan muda itu mengangguk sambil mengangkat wajah ketakutannya. Ia malah kembali bersujud di hadapan Michelia sembari memelas.

“Ampuni aku, Lady, jangan hukum aku lagi,” ucap Amelia memohon.

Michelia tersentak kaget tapi tak lama menghela napas.

“Michelia, kenapa aku bisa menciptakan karakter antagonis ini. Lihatlah, saking kejamnya sampai pelayan ini ketakutan,” ucap Michelia dalam batin.

“Amelia, sudah… aku tidak marah,” sahut Michelia lembut.

Amelia membelalakkan kedua matanya terkejut. Ia sampai terperanjat kaget menatap Michelia yang hanya terdiam sambil tersenyum lembut itu.

“A-apa yang terjadi padamu, Lady?” celetuk Amelia, tapi setelah itu memohon maaf lagi.

“Sudahlah, bantu aku bersiap karena aku harus sarapan pagi bersama di ruang makan, bukan?” Michelia sengaja bertanya untuk mengalihkan keterkejutan dari Amelia padanya. Michelia tahu ketakutan pelayan pribadinya, Amelia, itu karena sikap kejam dari Michelia sendiri.

“B-baik, Lady,” sahut Amelia.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status